Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan, Rem, dan Tatapan yang Tak Sama
Langit sore itu berwarna abu-abu, seolah kota telah kehabisan harapan sejak pagi. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti raksasa dingin yang tak peduli pada manusia kecil di bawahnya. Di antara riuh klakson dan langkah kaki yang tergesa, hujan mulai turun—perlahan, lalu deras, seperti sesuatu yang tak bisa lagi ditahan.
Di lantai 35 sebuah gedung kaca megah, seorang wanita berdiri menghadap jendela.
Arsenia Valen.
Namanya cukup untuk membuat ruang rapat berubah sunyi. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh perhitungan. Ia bukan hanya CEO—ia adalah pengendali. Setiap keputusan yang ia buat bisa menyelamatkan atau menghancurkan banyak kehidupan.
Dan hari ini, ia baru saja melakukan keduanya.
“Batalkan kontrak itu.”
Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak rendah. Tapi cukup untuk membuat pria di hadapannya menelan ludah.
“Ma—maaf, Nona Arsenia… tapi perusahaan itu sudah bekerja sama dengan kita selama—”
“Aku tidak peduli berapa lama,” potongnya tanpa melihat. “Mereka membuat satu kesalahan. Itu cukup.”
Ruangan kembali hening. Tidak ada yang berani membantah.
Arsenia berbalik, mengambil tasnya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Langkahnya tegas, terukur, seolah dunia selalu bergerak sesuai ritmenya.
Bagi Arsenia, hidup itu sederhana.
Entah kau menguasai… atau dikuasai.
Tidak ada tempat untuk keraguan. Tidak ada ruang untuk perasaan.
—
Di luar gedung, hujan sudah berubah menjadi badai kecil. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sementara mobil-mobil mewah berlalu dengan angkuh, membelah genangan air.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu utama.
Sopir segera membuka pintu, tapi Arsenia mengangkat tangan.
“Aku yang menyetir.”
Sopir itu ragu sejenak. “Tapi, Nona—”
“Aku tidak suka mengulang.”
Singkat. Tegas. Tidak terbantahkan.
Akhirnya, ia mundur.
Arsenia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan melaju tanpa ragu, seolah hujan bukanlah halangan, melainkan gangguan kecil yang tak layak diperhitungkan.
—
Di sisi lain kota, di jalan sempit yang dipenuhi warung kaki lima dan lampu temaram, seorang pria berdiri di bawah atap seng yang bocor.
Raka Aditya.
Kemejanya basah setengah, rambutnya berantakan, dan tangannya menggenggam plastik berisi makanan sederhana. Ia baru saja selesai bekerja—atau lebih tepatnya, bertahan hidup hari ini.
“Besok datang lagi ya, Ka,” kata pemilik warung.
Raka tersenyum kecil. “Kalau masih dikasih kerjaan, pasti datang, Bu.”
Tidak ada keluhan dalam suaranya. Tidak ada pahit. Seolah hidup yang keras hanyalah bagian biasa yang harus diterima.
Ia melangkah keluar ke tengah hujan.
Tanpa payung.
Tanpa tergesa.
Seolah ia sudah terlalu sering basah untuk peduli lagi.
—
Jalanan mulai licin. Lampu-lampu kota memantul di genangan air, menciptakan ilusi yang menipu mata.
Arsenia mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Pikirannya masih dipenuhi angka, kontrak, dan strategi. Dunia baginya adalah papan catur, dan ia selalu satu langkah di depan.
Sampai—
Seseorang tiba-tiba muncul di depan mobilnya.
Refleks.
Rem diinjak keras.
—
SUARA DECITAN BAN.
—
Mobil berhenti hanya beberapa sentimeter dari tubuh seorang pria.
Hening.
Hanya suara hujan yang tersisa.
Arsenia menatap ke depan, rahangnya mengeras. Napasnya stabil, tapi matanya… dingin seperti biasa.
Perlahan, ia membuka pintu dan keluar dari mobil.
Hujan langsung membasahi rambutnya, tapi ia tidak peduli.
Di depannya, Raka berdiri. Terdiam. Tapi tidak terlihat takut.
Mereka saling menatap.
Dua dunia yang bertabrakan dalam satu detik.
“Kau tidak punya mata?” suara Arsenia tajam, menusuk.
Raka berkedip sekali, lalu menatap mobil itu, kemudian kembali ke wanita di depannya.
“Saya punya,” jawabnya tenang. “Tapi sepertinya yang nyetir mobil ini yang lupa pakai.”
Sunyi.
Itu bukan jawaban yang biasa Arsenia dengar.
Biasanya orang-orang akan meminta maaf. Membungkuk. Bahkan gemetar.
Tapi pria ini?
Dia… melawan?
Tatapan Arsenia berubah sedikit. Bukan marah—lebih ke… tertarik, tapi dengan cara yang tidak ia sadari.
“Kau hampir mati,” katanya dingin.
Raka mengangkat bahu. “Dan mobil Anda hampir kena penyok. Kita impas.”
Jawaban itu membuat sesuatu dalam diri Arsenia… terganggu.
Bukan karena kata-katanya.
Tapi karena cara dia mengatakannya.
Tanpa takut. Tanpa hormat. Tanpa basa-basi.
Seolah Arsenia bukan siapa-siapa.
Dan itu… tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Kau tahu siapa aku?” tanya Arsenia, suaranya lebih rendah sekarang.
Raka menatapnya sebentar, lalu menggeleng.
“Enggak. Dan sejujurnya… saya juga enggak terlalu perlu tahu.”
Sesuatu dalam udara berubah.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama… Arsenia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Biasanya, dunia tunduk padanya.
Tapi pria ini?
Dia bahkan tidak mencoba.
—
Hujan semakin deras.
Orang-orang mulai memperhatikan dari kejauhan.
Sopir Arsenia yang tadi berdiri di dekat gedung kini berlari mendekat.
“Nona! Anda tidak apa-apa?!”
Arsenia tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada Raka.
“Pergi,” katanya akhirnya.
Tapi bukan pada sopirnya.
Pada Raka.
Namun Raka tidak langsung bergerak.
Ia justru menatap Arsenia sekali lagi. Lebih dalam kali ini.
“Ada satu hal,” katanya pelan.
Alis Arsenia sedikit terangkat.
“Kendaraan mahal itu… bukan berarti Anda boleh ngeremehin orang lain.”
Hening.
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa… terasa seperti tamparan.
Bukan karena isinya.
Tapi karena itu datang dari seseorang yang… tidak punya apa-apa.
Raka lalu berjalan pergi.
Tanpa menunggu jawaban.
Tanpa melihat ke belakang.
Meninggalkan Arsenia berdiri di tengah hujan… dengan sesuatu yang asing dalam dadanya.
Sesuatu yang tidak bisa ia kontrol.
—
Malam itu, di apartemen mewahnya, Arsenia duduk sendirian.
Lampu kota berkelap-kelip di luar jendela.
Di tangannya, segelas wine yang belum ia sentuh.
Pikirannya… tidak tenang.
Wajah pria itu terus muncul.
Tatapannya.
Nada suaranya.
Keberaniannya.
Dan yang paling mengganggu—
ketidakpeduliannya.
“Dia bahkan tidak tahu siapa aku…”
gumamnya pelan.
Untuk pertama kalinya, itu bukan hal yang menyenangkan.
Itu… menjengkelkan.
—
Keesokan paginya.
Di ruang kerjanya yang luas dan dingin, Arsenia berdiri di depan asistennya.
“Cari orang ini.”
Ia meletakkan sketsa wajah kasar di meja.
Asistennya mengerutkan kening. “Siapa dia, Nona?”
Arsenia terdiam sejenak.
Lalu menjawab dengan satu kalimat pendek.
“Seseorang yang… terlalu berani untuk tidak aku kenal.”
—
Dan di tempat lain di kota itu…
Raka sedang tertawa bersama teman-temannya di warung kecil.
Seolah pertemuan kemarin…
tidak berarti apa-apa.
—
Tapi mereka berdua tidak tahu satu hal.
Bahwa hujan kemarin bukan sekadar kebetulan.
Itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah hidup mereka—
secara perlahan…
dan menyakitkan.