NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - Istri Pajangan

Hari-hari setelah pernikahan itu berjalan pelan, tetapi terasa panjang bagi Alyssa, seolah setiap jam memiliki beban sendiri yang harus ia lalui. Rumah keluarga Wijaya tetap megah seperti pertama kali ia lihat, dengan lorong luas dan ruangan yang tertata tanpa cela, namun semakin lama ia tinggal di sana, semakin terasa bahwa tempat itu bukan rumah, melainkan bangunan besar yang dipenuhi jarak yang tak terlihat.

Setiap pagi, Alyssa bangun hampir di waktu yang sama tanpa perlu alarm, seakan tubuhnya sudah menyesuaikan diri dengan ritme baru yang hening. Ia merapikan tempat tidur dengan rapi, mandi, lalu memilih pakaian yang sederhana namun pantas sebelum turun ke ruang makan. Meja selalu sudah terisi makanan yang tersusun rapi, disiapkan oleh pelayan dengan ketelitian yang sama setiap hari, tetapi kursi di seberangnya selalu kosong tanpa perubahan sedikit pun.

“Pak Daren sudah berangkat sejak subuh, Nona.”

Suara itu datang dari pelayan yang berdiri tidak jauh, ketika Alyssa tanpa sadar menatap kursi itu sedikit lebih lama dari biasanya. Ia mengangguk pelan, menarik pandangannya kembali ke piring di depannya.

“Iya.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan, karena ia tahu jawabannya akan selalu sama. Hari berikutnya, situasi itu terulang tanpa perbedaan, dan hari setelahnya juga begitu, seolah waktu berjalan dalam lingkaran yang tidak memberi ruang untuk perubahan.

Alyssa makan sendirian setiap pagi, menghabiskan sarapan dengan gerakan pelan dan hati-hati. Kadang ia mencoba membuka ponselnya, membaca berita atau sekadar melihat hal-hal acak untuk mengalihkan pikirannya, tetapi suasana di sekitarnya tetap terasa kosong. Suara sendok yang menyentuh piring menjadi satu-satunya bunyi yang menemani, dan bahkan suara itu terasa terlalu jelas di telinganya.

Ia mencoba membiasakan diri dengan keadaan tersebut, meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah fase yang harus ia lewati. Ia berusaha menerima bahwa hidupnya kini berbeda, bahwa pernikahan ini tidak akan memberikan hal-hal yang dulu sempat ia bayangkan meski hanya sebentar. Namun semakin ia mencoba, semakin terasa bahwa penerimaan itu tidak datang dengan mudah.

Suatu siang, Alyssa memutuskan untuk tidak menghabiskan waktunya hanya di kamar. Ia berjalan menuju dapur, tempat para pelayan sibuk dengan aktivitas mereka, berharap setidaknya bisa melakukan sesuatu yang membuatnya merasa tidak sepenuhnya terasing. Begitu ia masuk, suasana berubah sedikit, bukan karena suara berhenti, tetapi karena ada kesadaran bahwa ia hadir di sana.

Beberapa pelayan melirik sekilas, lalu kembali bekerja seperti biasa. Alyssa berdiri di dekat meja, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Boleh aku bantu?”

Salah satu pelayan yang lebih tua menoleh, wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan. “Tidak perlu, Nona. Ini sudah tugas kami.”

“Aku tidak ada kegiatan lain,” lanjut Alyssa dengan nada pelan namun tulus. “Aku hanya ingin belajar.”

Pelayan itu saling berpandangan dengan rekannya, seolah menimbang apakah permintaan itu harus diterima atau tidak. Salah satu dari mereka bergumam pelan, cukup terdengar oleh Alyssa.

“Tidak biasa Nyonya rumah turun ke dapur.”

Alyssa tetap tersenyum kecil, berusaha tidak menunjukkan bahwa ia mendengar komentar itu. “Aku tidak masalah.”

Akhirnya, pelayan yang lebih tua mengangguk pelan. “Kalau begitu, Nona bisa bantu memotong sayur.”

Alyssa langsung mendekat, mengambil pisau dengan hati-hati, mencoba menyesuaikan gerakannya dengan apa yang biasa dilakukan orang lain. Tangannya tidak terlalu terampil, beberapa potongan terlihat tidak rata, bahkan ada yang terlalu tebal.

Pelayan di sebelahnya menghela napas pelan sebelum berkata, “Bukan seperti itu caranya.”

Ia mengambil alih sebentar, menunjukkan teknik yang lebih cepat dan rapi, lalu mengembalikan pisau itu pada Alyssa. Alyssa memperhatikan dengan serius, mencoba mengingat setiap gerakan yang diperlihatkan.

“Oh, seperti itu ya.”

Ia mencoba lagi dengan lebih hati-hati, memperbaiki cara memegang pisau dan mengatur tekanan tangannya. Kali ini hasilnya tidak terlalu buruk, meski masih jauh dari sempurna.

“Lumayan,” komentar pelayan itu singkat.

Alyssa tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia merasakan sesuatu yang sedikit lebih ringan di dalam hatinya. Hal sederhana seperti itu ternyata cukup berarti, karena setidaknya ia melakukan sesuatu, setidaknya ia tidak hanya menjadi bayangan yang berjalan di antara dinding rumah ini.

Hari-hari berikutnya, Alyssa mulai terbiasa datang ke dapur, membantu hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Ia belajar memotong bahan dengan lebih rapi, menata piring dengan lebih teratur, bahkan mulai memahami ritme kerja para pelayan di sana. Tidak semua orang menerima kehadirannya, tetapi ada beberapa yang mulai berbicara lebih santai, meski tetap menjaga jarak.

Suatu sore, ia melihat salah satu pelayan muda kesulitan membawa nampan berisi beberapa cangkir teh. Tanpa berpikir panjang, Alyssa mendekat dan menawarkan bantuan.

“Biar aku bantu.”

Pelayan itu terlihat ragu, seolah tidak yakin apakah ia boleh menerima bantuan tersebut. “Tidak apa-apa, Nona—”

“Aku pegang satu saja,” kata Alyssa sambil mengambil salah satu cangkir dengan hati-hati.

Pelayan itu akhirnya mengangguk, dan mereka berjalan bersama menuju ruang tamu. Setelah selesai, pelayan itu menunduk sedikit.

“Terima kasih, Nona.”

Alyssa tersenyum lembut. “Sama-sama.”

Ia tidak tahu apakah hal kecil itu berarti bagi orang lain, tetapi bagi dirinya, itu cukup untuk membuatnya merasa masih memiliki peran. Ia masih bisa menjadi seseorang yang membantu, bukan hanya seseorang yang ada tanpa arti.

Namun ketika malam tiba, perasaan itu perlahan menghilang. Alyssa sering duduk di ruang makan saat waktu makan malam, meja sudah disiapkan seperti biasa dengan porsi untuk dua orang, tetapi kursi di seberangnya tetap kosong tanpa pengecualian.

Pada awalnya, ia mencoba menunggu, duduk lebih lama dari yang seharusnya, berharap pintu akan terbuka dan seseorang akan datang. Waktu berlalu tanpa terasa, satu jam berubah menjadi dua, hingga akhirnya pelayan mendekat dengan suara hati-hati.

“Nona, makanannya nanti dingin.”

Alyssa tersenyum tipis, meski hatinya tidak benar-benar ringan.

“Iya.”

Sejak saat itu, ia berhenti menunggu terlalu lama. Ia makan sendiri, perlahan, tanpa terburu-buru, seolah mencoba mengisi waktu yang sebenarnya terasa kosong. Kadang ia menyalakan televisi setelah makan, tetapi suara dari layar itu tidak pernah benar-benar mengisi keheningan yang ada.

Suatu malam, ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas, Alyssa masih duduk di kursi dekat jendela di kamarnya. Ia membuka buku di pangkuannya, tetapi matanya hanya bergerak tanpa benar-benar memahami isi halaman.

Suara pintu utama terbuka terdengar dari bawah, cukup untuk membuatnya mengangkat kepala. Ia tahu siapa yang baru saja pulang tanpa perlu melihat.

Alyssa berdiri, ragu sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Ia berjalan pelan menuju tangga, langkahnya hampir tidak terdengar, seolah ia sendiri tidak ingin menarik perhatian.

Dari atas, ia melihat Daren masuk dengan langkah tenang, melepas jasnya dan menyerahkannya pada pelayan, lalu berjalan menuju tangga tanpa melihat ke sekeliling. Sikapnya membuat rumah itu terasa seperti tempat singgah, bukan tempat tinggal.

Alyssa berdiri di ujung tangga saat Daren mulai naik. Ketika pandangan mereka bertemu, hanya ada satu detik yang terasa lebih lama dari biasanya.

“Sudah makan?” tanya Alyssa pelan.

Daren berhenti sebentar, lalu menjawab singkat tanpa perubahan ekspresi.

“Sudah.”

Padahal meja makan tadi masih utuh tanpa tersentuh. Alyssa mengangguk pelan, menerima jawaban itu tanpa memperpanjang percakapan.

“Oh, baik.”

Daren melanjutkan langkahnya, melewati Alyssa tanpa berhenti atau menoleh lagi. Alyssa tetap berdiri di sana beberapa saat, menatap punggungnya yang semakin menjauh sebelum akhirnya kembali ke kamarnya.

Malam berikutnya, kejadian yang sama terulang, dan malam setelahnya juga tidak berbeda. Alyssa mulai memahami bahwa itu bukan kebetulan, melainkan pilihan yang sengaja dilakukan.

Suatu hari, Alyssa mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Ia datang lebih awal ke dapur dan berbicara dengan koki serta pelayan.

“Hari ini aku ingin memasak sendiri untuk makan malam.”

Koki itu terlihat terkejut, matanya sedikit melebar. “Nona yakin?”

Alyssa mengangguk dengan keyakinan yang ia kumpulkan dari sisa keberaniannya. Ia ingin mencoba, ingin melakukan sesuatu yang mungkin bisa mengubah sedikit saja dari rutinitas yang ada.

Prosesnya tidak mudah, ia beberapa kali salah langkah dan harus dibantu, tetapi akhirnya hidangan itu selesai. Tidak sempurna, tetapi cukup layak untuk disajikan.

Alyssa menata meja makan sendiri, memastikan semuanya rapi dan sesuai. Ia duduk di kursi, menatap hasil usahanya dengan harapan kecil yang ia simpan diam-diam.

Malam itu, ia menunggu lagi, meski ia tahu hasilnya mungkin tidak berbeda. Waktu berjalan perlahan, jam menunjukkan pukul delapan, lalu sembilan, hingga sepuluh, sementara makanan di meja perlahan kehilangan kehangatannya.

Alyssa tetap duduk, tangannya terlipat di pangkuan, matanya sesekali melirik ke arah pintu yang tidak kunjung terbuka. Hingga akhirnya pelayan mendekat dengan suara pelan.

“Nona, apakah makanannya ingin dipanaskan kembali?”

Alyssa terdiam sejenak, menatap meja di depannya sebelum menggeleng perlahan.

“Tidak perlu.”

Ia berdiri dengan gerakan tenang, meski ada sesuatu yang terasa runtuh di dalam dirinya.

“Mungkin nanti saja.”

Ia tahu kalimat itu tidak memiliki arti, tetapi tetap mengucapkannya seolah itu bisa membuat semuanya terasa lebih ringan. Ia berjalan kembali ke kamar dengan langkah pelan, meninggalkan meja yang masih rapi tetapi tidak pernah digunakan.

Malam itu, ia tidak menangis seperti sebelumnya. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan, membiarkan pikirannya mengalir tanpa arah.

Segala usaha kecil yang ia lakukan terasa sia-sia, bukan karena salah, tetapi karena tidak pernah sampai pada orang yang ia tuju. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba tetap bertahan meski tidak ada yang benar-benar mendukungnya.

Semakin hari, semakin jelas bahwa tidak ada tempat untuk dirinya menjadi apa adanya di rumah itu. Ia bukan istri yang diharapkan, bukan anggota keluarga yang diterima, dan bukan seseorang yang benar-benar diperhatikan.

Ia hanya ada, hadir secara fisik tanpa benar-benar dianggap.

Alyssa menunduk, tangannya menggenggam ujung selimut dengan erat, mencoba menahan sesuatu yang perlahan mengendap di dalam dirinya.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!