NovelToon NovelToon
Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Marlyn_2309 Lyna

"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.

"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.

Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.

Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Liar Najwa

Malam itu, ruang kerja Rasyid hanya diterangi oleh lampu meja yang meredup.

Di atas meja jati yang dingin, Rasyid meletakkan sebuah ponsel model lama—sebuah perangkat yang layarnya sudah sedikit tergores namun mesinnya masih tangguh.

“Ambil ini,” ucap Rasyid pelan. Suaranya serak, matanya yang biru menatap lekat pada Shanum.

“Aku tidak ingin kamu keluar tanpa bisa kuhubungi. Gunakan ini jika terjadi sesuatu. Di dalamnya sudah ada nomorku dan Zaki.”

Shanum menerima ponsel itu. Saat layarnya menyala, ia melihat sebuah foto tersimpan di galeri. Itu adalah foto seorang anak kecil berusia sepuluh tahun.

Gambarnya sangat buruk, penuh noise, dan wajahnya nyaris tidak dikenali karena efek blur dari kamera tua. Namun, aura kesedihan dari anak itu menembus layar yang retak.

“Itu foto yang dikirim Zaki. Sangat tidak jelas, bukan?” Rasyid mendesah, menyisir rambutnya dengan jemari albinonya yang tampak gemetar.

“Zaki bilang anak itu kunci, tapi identitasnya dihapus secara paksa. Simpan ponsel itu, Shanum. Itu rahasia kita.”

Shanum mengangguk, namun di dalam kepalanya, rencana lain sudah tersusun. Ia tidak akan menunggu Rasyid atau Zaki menemukan jawaban.

Ia akan menggunakan insting jalanannya untuk mencari tahu siapa Najwa sebenarnya.

Penyelidikan itu dimulai dengan kebohongan. Shanum mulai sengaja melewatkan jam makan bersama di rumah utama.

Ia beralasan masih merasa tidak enak badan, namun begitu Rasyid berangkat ke masjid untuk mengimami pengajian, Shanum menyelinap keluar.

Ia berdiri di balik pepohonan rindang yang membatasi asrama santriwati. Matanya terkunci pada jendela kamar Najwa.

Di sana, sang “bidadari” tampak sedang membaca kitab dengan sangat khusyuk. Namun, Shanum menangkap detail kecil yang luput dari mata orang suci: cara Najwa memegang jemari, gerakan gelisah kakinya, dan bagaimana ia sesekali melirik ke arah luar seolah sedang menunggu aba-aba.

Malam itu, Rasyid pulang ke joglo dan menemukan Shanum sedang mencuci kakinya yang penuh lumpur di teras belakang.

“Dari mana kamu?” tanya Rasyid. Wajah albinonya memerah, napasnya berat. Ada aroma kecemburuan yang tajam di suaranya.

“Hanya mencari udara segar, Mas Kyai,” jawab Shanum singkat tanpa menoleh.

Rasyid mencengkeram lengan Shanum, tidak keras, namun menuntut penjelasan.

“Tiga jam, Shanum. Kamu hilang tiga jam saat aku sedang berjuang menjelaskan pada pengurus pondok kenapa istriku tidak hadir di pengajian. Jangan buat aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa yang dilakukan istrinya sendiri.”

Shanum hanya diam, membiarkan Rasyid tenggelam dalam kegusarannya sendiri.

Ketegangan di rumah joglo semakin mencekam. Rasyid mulai uring-uringan.

Ia sering kedapatan duduk di kursi kerja sambil menatap ponsel lamanya, menunggu sinyal atau pesan dari Shanum yang tak kunjung datang. Ia merasa istrinya sedang membangun dinding raksasa di antara mereka.

Shanum, di sisi lain, berhasil menemukan sebuah petunjuk penting. Ia menemukan sebuah tas kecil yang disembunyikan Najwa di balik tumpukan kayu bakar di gudang asrama.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu identitas dengan nama yang berbeda, serta sebuah botol obat tanpa label.

Insting Shanum berteriak. Ia mengenali botol itu. Itu adalah obat yang sering digunakan para wanita di rumah bordil untuk menghentikan kehamilan secara paksa.

Sore harinya, saat ia kembali ke joglo, ia mendapati Rasyid sedang memeriksa laptopnya sendiri dengan wajah kalut.

“Apa yang kamu cari di laptopku tadi siang?” tanya Rasyid tiba-tiba saat Shanum masuk.

“Aku hanya ingin belajar membaca berita internasional, Mas,” dusta Shanum.

Rasyid berdiri, mendekati Shanum dengan langkah predator. “Kamu menghapus riwayat pencariannya. Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu bertingkah seperti mata-mata, Shanum! Kamu membuatku merasa seperti sedang hidup dengan orang asing!”

Rasyid hampir saja meledak, namun ia menahan diri. Ia hanya memalingkan wajah, menyembunyikan mata birunya yang mulai berkaca-kaca karena rasa tidak percaya yang amat sangat.

Malam puncak itu tiba. Rasyid memutuskan untuk melakukan ronda malam sendiri, hatinya tidak tenang karena Shanum kembali menghilang setelah Isya.

Sementara itu, di asrama belakang yang sunyi, Shanum merangkak di semak-semak. Bau amis yang menyengat menusuk hidungnya. Ia menempelkan telinga ke dinding kayu kamar mandi asrama Najwa.

“Ugh... shhh... sakit...”

Rintihan itu bukan suara orang suci. Itu adalah suara hewan yang terluka. Shanum mengintip melalui celah ventilasi bawah.

Di sana, Najwa sedang berjongkok. Darah merembes di antara sela-sela ubin. Najwa sedang mengalami kontraksi hebat. Janin berusia delapan bulan itu dipaksa lahir karena obat yang ia minum.

Shanum segera mengeluarkan HP lama pemberian Rasyid. Tangannya gemetar, namun ia berhasil menekan tombol rekam.

Di dalam sana, sebuah pemandangan biadab terjadi.

Sebuah nyawa kecil lahir prematur, menangis lirih sekali sebelum Najwa—dengan wajah dingin tanpa air mata—menenggelamkan bayi itu ke dalam bak mandi yang penuh air.

Tak ada penyesalan di wajah itu, hanya ada ketakutan akan aib.

Najwa kemudian membungkus jasad itu dengan kain, lalu menyeret langkahnya yang lunglai menuju halaman belakang yang gelap.

Di bawah pohon bambu, ia menggali tanah dengan tangannya yang berlumuran darah.

“Mati kamu... mati...” bisik Najwa kasar. Dialeknya berubah total menjadi bahasa jalanan yang kasar, sangat mirip dengan pelacur-pelacur yang dulu pernah menjadi teman Shanum.

Shanum menyadari satu hal: Najwa bukan pelacur yang dipaksa. Dia adalah wanita yang terjun secara sukarela ke dunia malam karena pertemanan yang salah, lalu menggunakan identitas suci ini untuk menutupi hutang-hutangnya.

Dialah yang menyebarkan berita kematian “Putri Turki” lima belas tahun lalu demi mendapatkan uang dari bos rumah bordil.

Shanum segera mematikan rekaman itu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mati saat itu juga. Ia harus pergi. Ia harus menunjukkan ini pada Rasyid.

Saat ia baru saja melangkah mundur, kakinya menginjak sebuah dahan kering.

KRAK!

“Siapa di sana?!” teriakan Najwa melengking di kegelapan.

Shanum berbalik untuk lari, namun jalur pelariannya tertutup oleh sesosok bayangan tinggi yang tiba-tiba muncul dari balik pohon beringin.

Sebelum Shanum bisa berteriak, sebuah tangan yang dingin, besar, dan putih pucat langsung membekap mulutnya dengan keras.

Tubuh Shanum ditarik paksa ke dalam kegelapan yang lebih pekat. Ia meronta, namun tenaga pria itu tak tergoyahkan. Aroma kayu cendana yang sangat ia kenal segera memenuhi indra penciumannya.

Rasyid.

Rasyid melepaskan bekapannya di balik tembok gudang yang jauh dari jangkauan Najwa. Wajah albinonya tampak sangat pucat di bawah sinar bulan, mata birunya berkilat penuh amarah dan kekecewaan yang mendalam.

“Sudah kubilang, jangan keluar malam-malam,” desis Rasyid. Suaranya rendah namun bergetar hebat.

“Aku mencarimu ke seluruh pondok seperti orang gila, Shanum! Dan sekarang aku menemukanmu sedang mengintip di sini? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?! Kamu mau menghancurkan dirimu sendiri, atau mau menghancurkan aku?!”

Rasyid mencengkeram bahu Shanum, menatapnya dengan pandangan yang sangat menusuk. “Katakan padaku sekarang... atau aku tidak akan pernah bisa mempercayaimu lagi.”

Shanum terengah-engah, matanya berkaca-kaca menatap suaminya yang sedang hancur karena salah paham. Di tangannya, ia menggenggam erat HP lama yang berisi seluruh kebenaran menjijikkan tentang bidadari mereka.

1
Dwiwinarni
saya suka karya author ini sangat menarik dari luar biasa....
Dwiwinarni: lanjut kakak😃
total 4 replies
Dwiwinarni
kebusukan najwa terbongkar juga, bidadari palsu🤭
Dwiwinarni
cantik iya wajahnya tapi hatinya tidak🤭
Dwiwinarni
rasyid jaga baik2 shanum banyak mengincarnya...
Dwiwinarni
ternyata shanum seorang putri dari turkey
Dwiwinarni
akhirnya muncul juga tuan bajak laut...
Dwiwinarni
masih jadi misterius simbol2 ditubuh shanum...
Dwiwinarni
shanum telah jatuh cinta sama mas kyai...
Dwiwinarni
mas kyai tidak fokus shanum tiba-tiba menciumnya🤭
Dwiwinarni
meraka hanya bisa menghakimi shanum aja...
Dwiwinarni
jahat banget saudaranya rasyid...
Dwiwinarni
cie-cie mas kyai bisa cemburu juga ya🤭
Dwiwinarni
mas kyai dah mulai bersikap baik...
Dwiwinarni
Mereka datang untuk menjemputmu shanum😃
Lyynn: bisa jadi tuhh
total 1 replies
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarangan mungkin anak horang kaya...
Dwiwinarni: wkwkwkwk🤣🤣🤣
total 2 replies
Dwiwinarni
kasian bingit nasibmu malang bingit shanum...
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarang kayaknya...
Dwiwinarni
Bagus rasyid sangat gercap menyelidiki Siapakah dalangnya, yg membuat shanum mabuk berat sampai nyasar kekamar rasyid..
Dwiwinarni
ibunya rasyid lagi berjuang antara hidup dan mati, rasyid menyalahkan shanum...
Dwiwinarni: pasti kakak semuanya terkejut...
total 2 replies
Dwiwinarni
Shanum kamu sudah terikat pernikahan sama rasyid...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!