"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Besi
"Em, enak banget. Oh, semoga aku mimpi begini terus!" Mika mengicau sambil meremas dada kekar Arlan.
Saat sadar tangan kecil itu semakin merambat ke mana-mana. Arlan langsung menggenggam tangan itu.
Mika pun terbangun. "Aaaaaaaaaaaaa—" Spontan Mika berteriak.
"Nga—ngapain kamu di sini?" tanyanya gugup.
Arlan menyipitkan matanya. Memegang dagu Mika dan berkata, "Yang semalam nggak mau lepasin tanganku, siapa?!"
Mika langsung teringat. Seketika memorinya muncul. Di dalam mimpi pun Arlan hadir sebagai tokoh yang ia dambakan.
"Em ... itu nggak sengaja," jawabnya gagap.
"Oo ... nggak sengaja, ya?! Kamu lihat ini apa?" Arlan geram ia sambil menunjuk sudut bibirnya yang berdarah.
Mika langsung melotot. "I—itu ... kenapa?"
Tok!
Arlan mengetuk kening Mika cukup keras. "Menurutmu ini karena apa?" ketusnya.
Arlan pun berdiri. Sebelum pergi ia berkata, "Lain kali nggak usah nunggu aku pulang!"
Mika mengangguk ragu. Tak lama ia berberes untuk pergi ke sekolah. Saat sarapan, Arlan memberinya kotak kado.
"Hari ini bukan ulang tahunku."
Arlan menghela napas. "Ini bukan untuk ulang tahunmu!" jawabnya kesal. "Keluarga Pradana ngajak kita dinner, dan kamu harus ikut!"
"Aduh, mending nggak usah, deh!"
"Nggak ada protes atau negosiasi. Aku bilang kamu ikut ya, ikut. Cepat sarapanmu, aku antar ke sekolah!" ucap Arlan tegas, membuat Mika tak berkutik.
Tak lama kemudian, Arlan pun mengantar Mika. Namun, sekitar satu kilometer dari sekolah, Mika meminta untuk turun.
"Kenapa nggak di depan sekolah langsung?" tanya Arlan.
Mika menyipitkan matanya, sedikit ragu untuk bicara. "Aku nggak mau, dianggap nempel sama orang seperti Tuan Arlan. Nanti reputasi Tuan, akan hancur jika mereka lihat jalan sama wanita kayak aku," katanya sambil tertunduk.
Arlan tak bisa berkata apa pun. Mika turun dari mobil dan bergegas lari menuju gerbang sekolah. Ketika sudah hampir dekat dengan gerbang, Mika didatangi oleh laki-laki berseragam sekolah.
"Siapa anak itu? Kenapa akrab banget? Oh, ternyata karena nggak mau ketahuan aku, dia dekat sama cowok lain? Berarti alasan tadi palsu?" Arlan geram. Lebih tepatnya pikiran over thinkingnya kembali muncul.
Duk!
Arlan memukul setir mobilnya, kesal. "Lihat nanti di rumah!" Arlan pun pergi.
Sementara Mika sudah berada di kelas dan memulai untuk belajar.
"Anak-anak dua hari lagi ujian Nasional, Bapak harap kalian sehat dan jangan bolos kalau mau lulus. Untuk Mika, meski nilaimu bagus, tapi ada beberapa tugas yang belum kamu selesaikan. Bapak minta hari ini terakhir kamu kumpulkan tugas!" ucap Pak Guru tegas.
"Baik, Pak. Tugasnya udah mau selesai," jawab Mika.
"Bagus, Bapak nggak meragukan itu!" puji Pak Guru.
Teng! Teng!
Bel sekolah berbunyi, waktu istirahat pun tiba. Nurma langsung memegang pundak Mika, menatap dalam.
"Ada apa?" tanya Mika heran.
"Mika, kamu beneran akan nikah sama Tuan Arlan?" bisiknya.
"Sssttt, aku juga belum tau," balasnya ragu.
Nurma mengerutkan keningnya. "Kamu suka sama dia?"
Deg!
Mika langsung melamun. Ia jelas mulai tertarik dengan pria arogan dan tidak berperasaan itu.
"Hei, jawab!" Senggol Nurma. "Bye the Way, aku makasih banget sama dia, udah menyelamatkan aku dari para pembully!" Tatapnya kosong.
Mika memegang tangan Nurma dengan penuh perhatian. "Nurma, mulai sekarang jangan pernah takut sama siapa pun yang menginjak harga dirimu!" kata Mika.
Nurma mengangguk patuh. "Em—"
"Eh, pulang sekolah temani aku ke Mall, yuk. Ada yang pengen aku beli," ajak Mika dengan senyum.
Nurma pun membalas dengan gembira. Ia bersyukur memiliki teman seperti Mika. Begitu pula Mika, ia juga bersyukur bisa mendapatkan teman seperti Nurma.
Meski Nurma anak yang sederhana, berpenampilan yang jauh dari murid lainnya, Mika tidak pernah melihat hal seperti itu. Menurut Mika, Nurma teman yang baik dan pintar.
Sementara Arlan yang berada di kantor, seperti biasa melakukan banyak pekerjaan. Di temani dengan Vino yang juga ikut andil dalam project yang diambil Arlan.
"Lan, Adek ku udah siapkan acara dinner malam ini," kata Vino saat selesai kerja.
"Iya. Aku juga udah siapkan hadiah!" sahut Arlan.
Vino pun menuang segelas teh ke cangkirnya. Menyeruput dengan pelan, lalu berkata, "Lan, bawa cewek yang kamu taksir nggak?"
"Bawa. Memang kenapa? Kayaknya dari kemarin penasaran banget?" Arlan bertanya dengan curiga.
"Ya, jelas aku penasaran, wanita mana yang bisa meluluhkan tembok besi kayak kamu!" ledek Vino sambil tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, Asisten Arlan muncul. "Selamat siang, Tuan."
Arlan pun terkejut. "Kenapa kamu nggak ngomong kalau udah boleh pulang?"
Asisten tersenyum riang. "Nggak perlu, Tuan Arlan. Saya tau Anda pasti sibuk," sahutnya. "Kemarin Nona Mika sempat menjenguk. Saya udah bilang, mungkin dia lupa kasih tau Tuan."
"Hm, pantas dia nungguin aku pulang ... ternyata mau ngomong ini."
"Ya, udah. Coba kamu cek berkas yang ada sama Citra, kemarin aku suruh dia siapkan untuk keberangkatan besok ke utara!" perintah Arlan.
Asisten menunduk patuh. "Siap, Tuan." Ia pun pergi.
Bep! Bep!
Ponselnya berbunyi. Panggilan Mika terdengar. Saat diangkat oleh Arlan. Suara lembut itu enak di telinganya.
"Tuan Arlan, aku mau ke Mall habis pulang sekolah, ada yang mau aku beli, jangan jemput aku!" katanya di ujung telepon.
"Mall di mana?"
"Lumina Center, Tuan. Ya, udah, bye!" Panggilan itu terputus.
Vino mengerutkan keningnya. "Siapa? Cewek itu?"
"Iya, izin mau ke Lumina," jawab Arlan.
"Wah, hari ini kan kita ada mau ke sana juga," sahut Vini cepat.
Arlan menyipitkan matanya. Alisnya terangkat satu. "Emang mau ketemu siapa di sana? Aku kok, nggak tau?"
"Hadeh, kamu ini gimana sih, pas rapat tadi pagi kan kita ada janji mau ketemu Tuan Kamil di sana, bicarakan project pembangunan sekolah itu!" ucap Vino cukup tegas.
Tanpa bicara apa pun. Arlan langsung menutup laptopnya. Membereskan dokumen yang lumayan berserakkan. Lalu, menyeruput teh dengan tergesa-gesa.
"Ayo."
"Hei, tunggu!"
Arlan melangkah cepat, sambil merapikan jasnya. Mobil sudah disiapkan. Mereka membawa kendaraan masing-masing.
Ketika tiba di dalam Mall, Pak Kamil sudah menentukan tempat pertemuan mereka. Restoran sushi andalan Pak Kamil.
"Silakan duduk, Tuan Arlan!" Pak Kamil mempersilakan. "Lama kita nggak ketemu!"
"Perkenalkan ini Vino!" kata Arlan.
Vino pun mengulurkan tangan dan menjabat tangan Pak Kamil. "Salam kenal, Pak." Sambil tertunduk hormat.
Mereka pun memulai pembicaraan. Pak Kamil melihatkan beberapa design gedung yang akan dilaksanakan. Bahkan beberapa item yang perlu diperhatikan.
Tanpa sadar perbincangan itu sudah tiga jam lamanya. Waktu juga menunjukkan jam lima sore. Tak lama kemudian, Arlan melihat Mika di ujung jalan.
"Belum ganti baju, udah ke Mall!"