ini adalah kelanjutan cerita dari Dinda dan sistem,,dimana ini tentang kehidupan akhir bahagia wanita yang bernama Dinda Kirana,,setelah banyak rintangan dalam hidupnya,, akhirnya dia menemukan cinta yang benar-benar dia harapkan.
jangan lupa mampir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam pertama dan tangisan perpisahan
Di dalam kamar yang terlihat remang-remang, di sana hanya ada satu cahaya yang berasal dari cahaya lilin. Bayangan keduanya menari-nari di dinding, menambah suasana yang hangat sekaligus tegang.
Sedangkan Nathan yang baru saja membuka pintu kamar merasa heran melihat kamar yang gelap gulita, dan dia mencium aroma yang memabukkan, perpaduan vanila dan mawar, yang membuat sang komandan semakin kebingungan.
"Tumben sekali istriku mematikan lampu kamarnya," gumamnya dan menutup pintu. Setelah itu dia menghidupkan lampu kamar. Tapi tiba-tiba napasnya tercekat.
Deg.
Matanya melotot saat melihat seorang wanita cantik sedang duduk di atas ranjang, dengan pencahayaan temaram yang membuat siluetnya terlihat samar namun menggoda. Di sana dia melihat istrinya yang sedang menatapnya dengan cantik, apalagi pakaian yang dikenakan istrinya membuat Nathan menelan ludah. Gaun tipis berwarna hitam dengan detail renda, yang menurutnya terlalu terbuka. Sedangkan Dinda menatap suaminya dengan tersenyum menggoda sambil memperlihatkan bahu mulusnya.
"Suamiku, kemarilah. Aku ingin merasakan sentuhanmu malam ini," suara Dinda yang terdengar sayu membuat sang komandan merasakan panas dingin menjalar dari tengkuk sampai ke ujung kaki.
Dengan keringat dingin membasahi wajahnya, dia berjalan ke arah ranjang. Sesekali dia membuang mukanya, tidak tahu harus menatap ke mana.
"Istriku... itu kenapa kamu mengenakan pakaian jaring ikan malam ini?" ucapnya dengan gugup, matanya tidak fokus.
Senyuman di wajah Dinda sontak membeku. Dia duduk dengan wajah datarnya dan menatap suaminya dengan tajam.
"Apa kamu bilang jaring ikan? Aku bersusah payah mencari baju dinas malam untuk malam pertama kita, tapi kamu malah mengatakan baju yang aku kenakan ini jaring ikan? Suamiku, kenapa kamu tidak ada romantisnya sama sekali? Aku sangat kesal padamu," ucap Dinda dengan geram melihat tingkah suaminya yang dingin. Di hatinya dia mengomel, _dasar komandan kulkas, tidak peka_.
Nathan meringis. Dia ingin menyentuh pundak istrinya untuk menenangkan, tapi karena gugup tangannya malah salah arah dan tidak sengaja menyentuh bagian lain. Matanya melotot, jantungnya berdebar kencang seperti mau lepas.
"Istriku itu... maafkan aku, aku tidak sengaja menyentuhnya. Aku bersumpah yaaa aku tidak sengaja," ucapnya dengan suara bergetar, wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
Dinda ingin sekali menghajar suaminya karena terlalu polos dan lugu, tapi melihat wajah panik Nathan, dia malah jadi gemas. Dinda berdiri dan menatapnya dengan tajam lagi.
"Jika kamu memang tidak mau menghabiskan malam bersama denganku, lebih baik aku mencari suami baru saja!!!" ucapnya dengan mengancam, sengaja memancing emosi Nathan. Setelah itu dia berjalan ke arah pintu, tapi bajunya ditarik oleh sang komandan.
Nathan merasa terkejut mendengar ucapan istrinya, dan dengan refleks dia menarik baju Dinda yang membuat baju itu robek di bagian atasnya. Suara kain sobek terdengar jelas di keheningan kamar.
Ruangan menjadi sunyi. Dengan tangan mengepal Nathan memeluk istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Dia menatap Dinda yang kini terlihat lebih rentan.
"Aku akan memberikan pelajaran kepadamu malam ini karena telah berani mengancam ku," ucap Nathan dengan napas memburu. Entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Aroma di ruangan ini, tatapan Dinda, semuanya membuat pertahanannya runtuh.
Dinda tersenyum licik melihat perubahan wajah suaminya. Dia memang sengaja meletakkan aroma wangi yang bercampur dengan pengharum ruangan khusus untuk relaksasi. Tapi sepertinya efeknya terlalu kuat untuk sang komandan yang lugu.
"Baiklah Mas Komandan, aku akan melihat sampai di mana kegagahan suamiku ini," ucap Dinda dengan mengelus dada bidang suaminya, menantang.
Nathan mendesis. Dia langsung mendekat dan mencium bibir istrinya dengan napas memburu, ciuman yang awalnya kaku lama-lama menjadi dalam dan penuh perasaan. Tentu saja Dinda membalasnya. Setelah merasakan bagian bibirnya, Nathan mencium tengkuk dan leher jenjangnya dengan lembut, membuat Dinda menggigit bibir menahan suara.
"Hhhh..." terdengar suara lirih yang keluar dari bibir Dinda.
Nathan semakin bersemangat. Dengan hati-hati dia mendekap istrinya, sentuhannya yang dulu kaku kini berubah menjadi lembut namun pasti.
"Hhhh sayang, ini..." ucap Dinda dengan suara tercekat.
Nathan menatap istrinya yang menurutnya terlihat seksi berkali-kali lipat, rambutnya terurai, matanya berkaca-kaca menahan haru dan bahagia.
"Aku akan melakukannya dengan pelan," ucapnya dengan suara serak. Terlihat matanya sudah dipenuhi emosi yang membara, bukan lagi komandan dingin, tapi seorang suami yang mencintai istrinya.
Dinda mengangguk. Melihat itu Nathan dengan hati-hati memulai malam mereka. Dan terjadilah malam yang penuh cinta di malam itu. Itu adalah malam pertama Nathan dengan Dinda yang sesungguhnya, bukan hanya status, tapi juga hati.
Terdengar suara bisikan mesra dan napas yang saling memburu di dalam kamar itu, diselingi tawa kecil dan janji-janji yang terucap di antara deru napas.
*_**_**
Keesokan harinya. Dinda dan Nathan pagi ini akan kembali ke luar negeri. Saat ini kedua pasangan suami istri itu sedang duduk di ruang tamu bersama dengan keluarganya.
Verick menatap keduanya dengan tersenyum bahagia, apalagi melihat tanda kemerahan samar di bagian leher putrinya itu sudah menjadi pertanda baik baginya. Sebagai ayah, dia tahu arti tanda itu.
"Semoga saja aku bisa secepatnya mendapatkan cucu yang banyak, agar aku bisa menghabiskan masa tuaku bersama dengan semua cucuku," gumamnya dalam hati melihat keduanya dengan raut wajah bahagia.
Sedangkan Dewi dan Morgan saling memandang. Kemudian mereka tersenyum saat melihat Dinda dan Nathan yang sedang sibuk dengan kopernya, tapi tangan mereka tidak lepas bergandengan.
"Sayang, aku yakin sebentar lagi keluarga kita akan menjadi ramai karena suara tangisan bayi," bisik Morgan pada istrinya.
Dewi mengangguk tersenyum dan menatap Dinda yang sudah menyatukan cintanya dengan laki-laki yang ada di sampingnya. Dulu dia khawatir Dinda akan kesepian, sekarang dia lega.
"Kamu benar suamiku. Dan aku yakin Ayah akan kewalahan menjadi kakek satu-satunya untuk cucu-cucunya nanti," ucap Dewi dengan pelan.
Morgan mengangguk dan terkekeh. Dia menatap kedua pasangan itu dengan tersenyum penuh kasih.
"Adik, aku yakin dia adalah jodoh terakhirmu. Dan dia sama persis seperti yang kamu butuhkan, tegas tapi penyayang. Semoga keluarga kalian bahagia sampai kalian menua bersama," gumam Morgan dalam hati.
Setelah melihat koper mereka sudah beres, Dinda dan Nathan duduk dan menatap semua keluarganya.
"Ayah, hari ini kami akan terbang ke luar negeri dan kalian jaga kesehatan, Ayah! Juga Kakak Ipar dan Adik Iparku, perhatikan kesehatan Ayah karena kalian tinggal bersamanya. Aku mempercayakan kesehatan Ayah pada kalian semua yang ada di sini. Dan Ayah, jika Ayah sudah merasa lelah dengan pekerjaan di kantor, istirahatlah dan serahkan pekerjaan itu pada Kakak," ucapnya dengan serius, matanya berkaca-kaca.
Mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan Dinda. Morgan menatap ayahnya dengan yakin.
"Benar, Ayah. Aku sanggup mengurus perusahaan itu. Lebih baik Ayah menghabiskan waktu bersama dengan cucu Ayah di rumah. Ayah sudah terlalu lama bekerja," ucap Morgan dengan serius. Dia juga tidak boleh terlalu egois dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan istrinya. Kini dia harus memperhatikan kesehatan ayahnya.
Verick tersenyum tulus, matanya berkaca-kaca. Dia jadi mengingat kehidupannya yang dulu, masa-masa sulit membesarkan anak-anaknya seorang diri setelah istrinya tiada. Jika saja dia tidak kuat, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan mereka.
"Terima kasih, Nak. Kalian membuat Ayah merasa bahagia dan Ayah sangat beruntung memiliki anak yang baik seperti kalian semua. Putriku, jaga dirimu di sana. Dan Nathan... sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Erlangga. Mulai sekarang panggil aku Ayah, dan jagalah putriku di sana. Jangan pernah sakiti dia karena... karena hiks... karena dia putri kesayanganku, dia adalah permata hatiku. Jika kamu menyakitinya, itu sama saja kamu menyakiti perasaanku, yaitu perasaan seorang ayah," isak Verick dengan menutup wajahnya agar tidak terlihat menangis, tapi terdengar suara tangisan terdengar di ruang tamu itu.
Mereka semua yang mendengar itu ikut menangis. Terlihat mata Nathan juga ikut berkaca-kaca. Dia berdiri dan menghampiri Verick, lalu berlutut di hadapan ayah mertuanya.
"Ayah... aku berjanji padamu!! Aku akan menjaga permata hati Ayah dengan baik!! Aku akan menjadi suami seperti yang diinginkan oleh istriku dan juga putrimu. Dan aku tidak akan pernah sanggup menyakiti perasaan istriku, karena dia adalah wanita yang sangat aku cintai!!" ucapnya dengan suara bergetar, tapi tegas. Untuk pertama kalinya, semua orang melihat sisi emosional dari Nathan.
Verick mengangguk dan menatap Nathan dengan lekat, kemudian dia memeluknya dengan erat, sambil menangis terisak.
"Hiks... terima kasih, Nak. Terima kasih. Hanya itu yang Ayah minta padamu, Ayah tidak membutuhkan yang lain," ucapnya.
Nathan tertegun karena merasakan pelukan hangat ayah mertuanya, pelukan seorang ayah yang tulus. Dia membalasnya dengan tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk punggung ayah mertuanya dengan lembut.
"Itu sudah jadi kewajiban aku menjadi seorang suami, Ayah," ucapnya. Verick menguraikan pelukannya dan menatap putrinya yang sedang menangis, mengusap air matanya sendiri.
Dengan tangan terbuka lebar, dia menatap putrinya dengan tersenyum lembut, mengisyaratkan pelukan terakhir sebelum mereka berangkat.
berbagai peran dan kisah di ceritakan menjadi 1 dengan peran yang tegas dan sakti..
suka banget sama ceritanya, recommended deh pokoknya..
dan aneh nya aku menyukai tingkah mereka 🤣
apa kah dia sudah beranak-pinak
semangat thor