Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
...🎵 0X1\=LOVESONG [I Know I Love You] feat. Seori...
...Arti lagunya sad tapi musiknya asik bagus banget buat yang suka galau sambil ngreok. ...
Happy reading ...
...Jika aku bisa memilih untuk lahir di keluarga mana, maka aku akan memilih untuk tidak lahir ke dunia ini. ...
...~astralaksana~ ...
.......
........
.........
........
.......
Arutala Astralaksana nama yang memiliki makna indah, Arutala yang bisa di artikan dalam bahasa sansekerta sebagai rembulan. Arutala Astralaksana berarti rembulan yang bersinar terang di langit.
Namanya indah namun membawa luka yang amat dalam untuknya. Seperti rembulan yang selalu bersinar di tengah kegelapan malam, dia juga ingin bersinar seperti itu. Namun ... Apakah dia bisa?
Dia terus memandangi pintu kaca itu dengan air mata yang mengalir di pipi lembutnya, bibirnya bergetar dengan luka di dahinya yang belum sempat ia obati.
Tubuh mungilnya menggigil, telinganya berdengung, para dokter dan suster berlarian dengan tergesa-gesa menuju ruangan itu. Tatapannya beralih pada sepasang manusia dewasa yang tengah menangis dengan pilunya di depan ruang ICU.
Tangan kecilnya terulur menyentuh tangan wanita dewasa itu, namun bukan sambutan baik yang dia dapat melainkan sentakan keras yang membuat tubuh mungilnya terhempas menabrak lantai dingin itu.
"Dasar pembunuh! Pergi kamu dari sini!!! ... " serunya dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.
"M-mama ... "
"Diam kamu! Mas usir dia dari sini aku nggak mau liat wajahnya lagi!" pintanya pada sang suami.
Lengan ringkih anak itu di cekal dengan kuat lalu di seret keluar dari sana, "Pak Tito antar dia pulang dan kunci di gudang, jangan buka sebelum saya kembali!" perintahnya pada sang anak buah.
Pak Tito menatap anak yang tengah di seret oleh tuannya, "T-tapi tuan muda ..."
"Jangan membantah! Lakukan saja perintah saya!" serunya menghempaskan tubuh anak itu.
Pak Tito mengangguk dengan takut lalu membawa tuan mudanya kembali ke rumah sesuai permintaan tuannya.
"P-papa aku takut gelapp!" raungnya memukul-mukul kaca mobil yang perlahan meninggalkan area rumah sakit.
Gelap!
Sunyi!
Sesak!
Heg!
Tubuhnya tersentak dengan nafas memburu, keringat dingin membasahi wajah tampannya. Dia pukul dadanya yang terasa sesak, berharap sesuatu yang mengganjal di sana cepat menghilang.
"Lo kenapa Tra?" tanya Bumi sembari mendudukan dirinya di sofa samping pemuda itu.
Astra menggelengkan kepalanya dengan pelan namun masih berusaha menetralkan deru nafasnya.
"Gue liat tadi lo tidur gelisah banget, mimpi buruk?"
"Hem, sangat buruk."
"Bang Sat! Balikin maomao guee!" seru Arka melengking sembari mengejar Satya ke dalam markas.
Satya mengangkat satu kaki hewan pengerat kecil yang sedang dia pegang, "Nih ambil kalo bisa,"
"Anying! Jangan lo pengang gitu setan, nanti mati!" serunya histeris melihat hewan kesayangannya di perlakukan buruk oleh Satya.
"Gue kentutin aja mati ni hewan Ar,"
"Ya jangan lo kentutin bangsat!"
Brukk ...
Gedubrakk ...
"SATYA SETAN MAOMAO GUE!" serunya saat melihat Satya tersungkur karena tersandung kakinya sendiri.
Arka langsung berlari mencari di mana maomao nya berada, "Huhh, untung Lo gak gepeng maomao," ujarnya lega lalu membawa hewan kecil itu ke pelukannya.
"Lo nggak bantuin gue?"
"Bangun aja sendiri, jangan manja!" sinisnya.
Astra memijat pelipisnya pusing lalu mengambil kunci motornya beranjak dari sana, "Mau kemana lo?" tanya Satya.
"Keluar," balasnya tanpa menoleh.
Satya mengembuskan napasnya pelan, kenapa dengan sahabatnya, dia merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan dari mereka. Wajahnya serius memikirkan sesuatu namun tangannya terangkat menyentil hewan kecil yang tengah di elus-elus oleh Arka.
"Satya setan! Mau mati Lo hahh!" serunya, sedangkan sang pelaku sudah berlari ke arah taman belakang.
Satya mendudukan tubuhnya di samping Jaya yang tengah duduk melamun sembari menatap pohon Mangga yang buahnya mulai menguning, "Lo ada masalah?"
"Gue capek Sat hidup di tengah keluarga yang rusak," lirihnya.
"Gue ngga tau gimana caranya nyemangatin orang, tapi gue harap Lo nggak bunuh diri, inget dosa Lo masih banyak."
Jaya melirik Satya sinis, "Ck, Lo pikir gue sebodoh itu buat mati di tangan sendiri?!"
Satya menggedikan bahunya lalu menarik sebatang rokok dan menyalakan nya, "Siapa tau Lo khilaf."
"Terus gimana sama Lo?" ucapnya sembari tersenyum mengejek ke arah Satya.
"Gue mah rangers merah, tahan banting nggak akan mati semudah itu," kelakarnya sembari menghembuskan asap dari mulutnya.
...****************...
Suasana yang dingin mengelilingi kedua manusia itu, tatapannya saling beradu seolah berperang melalui tatapan mata.
Sebuah gedung kosong menjadi titik pertemuan yang sudah di janjikan sebelumnya, "Apa maksud Lo?"
"Gue mau Lo terima perasaan adik gue!"
Pemuda di hadapannya mengernyitkan dahinya dengan alis yang terangkat, "Gue nggak bisa!" balasnya tanpa ragu.
Rahang Brayen mengetat menatap Astra tajam, "Lo harus mau!"
"Gue nggak peduli!" balasnya ingin langsung pergi dari sana.
"Lo nggak lupakan sama adik kesayangan Lo yang tunduk dibawah kaki gue?" ujarnya dengan wajah congkaknya nya.
Perkataan itu langsung menghentikan langkahnya, mengepalkan tangannya kuat. Membalikan kembali tubuhnya menatap Brayen.
"Jangan pernah Lo sentuh adek gue sialan!"
"Gue nggak akan sentuh adek kesayangan Lo, tapii .... Lo harus mau penuhin permintaan adek gue!"
"Gue ngga bisa terima Vio,"
"Lo harus bisa, kalo Lo mau adek kesayangan Lo tetap aman." ujarnya tepat di samping telinga Astra.
Astra menutup matanya sebentar mencoba menghilangkan keraguan di dalam hatinya.
'Abang tau ngga Calya lagi jatuh cinta?'
'Calya suka sama Kak Brayen,'
'Bang liat, kak Brayen beliin Calya boneka,"
Astra kembali membuka matanya menatap Brayen dengan tajam, "Oke, gue bakal lakuin semua yang Lo minta! ... Tapi. Jangan. Pernah. Lo. Sentuh. Adek gue!" ujarnya dengan penuh penekanan.
Brayen mengangguk dengan wajah penuh kemenangan, "Selama Lo buat adek gue bahagia, maka adek Lo aman,"
Astra langsung melenggangkan kakinya pergi dari sana, dia membutuhkan sesuatu yang membuat amarahnya mereda.
Si brengsek Brayen itu menggunakan adiknya untuk mengancam, Astra tau adiknya menyukai lelaki bajingan itu sejak smp karena dulu waktu dia berada di London, Brayen pernah mengikuti pertukaran pelajar dan pas sekali di sekolah Calya. Alhasil adiknya menyukai Brayen yang merupakan kaka kelasnya.
...~TBC~ ...
...Maaf yah kalo agak gak nyambung 😭 ...
...Dan dari sini bakal banyak flashback" tentang kehidupan Astra. Untuk teror, akan aku bahas juga di chapter mendatang bsbayy~ ...
...Sampaikan pesan kalian untuk? ...
...Astra? ...
...Satya, Bumi, Arka, Jaya? ...
...Brayen, Vio? ...
...Atau aku:)? ...