NovelToon NovelToon
Wild, Wicked, Livia !!!

Wild, Wicked, Livia !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Gadis nakal / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Livia hidup dengan satu aturan: jangan pernah jatuh cinta.
Cinta itu rumit, menyakitkan, dan selalu berakhir dengan pengkhianatan — dia sudah belajar itu dengan cara paling pahit.

Malam-malamnya diisi dengan tawa, kebebasan, dan sedikit kekacauan.
Tidak ada aturan, tidak ada ikatan, tidak ada penyesalan.
Sampai seseorang datang dan mengacaukan segalanya — pria yang terlalu tenang, terlalu dewasa, dan terlalu berbahaya untuk didekati.

Dia, Narendra Himawan
Dan yang lebih parah… dia sudah beristri.

Tapi semakin Livia mencoba menjauh, semakin dalam dia terseret.
Dalam permainan rahasia, godaan, dan rasa bersalah yang membuatnya bertanya:
apakah kebebasan seindah itu jika akhirnya membuatnya terjebak dalam dosa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Malam itu, Livia sengaja berdandan lebih dari biasanya. Ia mengenakan slip dress berwarna merah yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, dibalut blazer hitam yang tersampir di bahu. Ia telah menyetujui ajakan Reno untuk pergi ke sebuah lounge eksklusif di Jakarta Selatan. Ia ingin membuktikan pada Narendra dan pada dirinya sendiri bahwa ia bukan tawanan perasaan.

​Reno sudah menunggu di lobi apartemen. "Lo cantik banget, Liv. You okay?" tanya Reno, menyadari ada kilat pemberontakan di mata sahabatnya itu.

​"Gue mau senang-senang, Ren. No drama, just drinks," jawab Livia sambil tersenyum paksa.

​Namun, Livia tidak tahu bahwa sejak ia menginjakkan kaki di lobi, sepasang mata sudah mengawasinya dari dalam mobil SUV hitam yang terparkir di sudut gelap. Narendra tidak pernah benar-benar pulang. Obsesinya telah berubah menjadi pengawasan yang nyaris gila. Melihat Livia masuk ke mobil Reno membuat amarahnya yang tertahan sejak di rooftop tadi mendidih kembali.

​Di lounge yang remang dan bising oleh musik jazz-funk, Livia mencoba menikmati minumannya. Reno sedang pergi ke toilet sebentar, meninggalkan Livia sendirian di meja pojok. Saat itulah, sebuah tangan yang sangat ia kenal mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

​Livia tersentak, menoleh, dan menemukan wajah Narendra yang mengeras dalam kemarahan yang dingin.

​"Ikut aku," perintah Narendra. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh musik, tapi penuh otoritas yang tak terbantahkan.

​"Naren! Lepasin! Gue lagi sama Reno—"

​"Aku nggak peduli kamu lagi sama siapa. Kita pergi sekarang, atau aku akan buat keributan di sini dan membuat kekacauan pada Reno," ancam Narendra tepat di telinga Livia.

​Livia tahu Narendra tidak main-main. Pria ini sedang kehilangan akal sehatnya. Sebelum Reno kembali, Narendra sudah menarik Livia lewat pintu keluar darurat di belakang bar. Dengan gerakan cepat, ia memaksa Livia masuk ke dalam mobilnya. Pintu dikunci secara otomatis.

​Narendra menginjak gas, membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang membuat jantung Livia berpacu.

​"Kamu gila, Naren! Kamu mau bawa aku ke mana?!" teriak Livia, mencoba meraih gagang pintu yang terkunci.

​Narendra tetap bungkam. Wajahnya lurus menatap jalanan, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia tidak membawa Livia kembali ke apartemen. Ia justru memacu mobilnya keluar dari pintu tol, menuju arah selatan, menanjak ke arah daerah perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

​Dua jam perjalanan dalam keheningan yang mencekam berakhir di sebuah gerbang kayu besar yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Sebuah villa pribadi milik keluarga Narendra yang jarang diketahui orang, bahkan mungkin oleh Veronica. Villa itu berdiri di tepi tebing, menghadap ke lembah yang gelap dengan lampu-lampu kota yang terlihat kecil di kejauhan.

​Narendra mematikan mesin. Suasana seketika sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin pegunungan yang dingin.

​"Turun," ucap Narendra pendek.

​Livia keluar dengan napas memburu. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menahan dingin karena gaunnya yang tipis. "Kenapa kita di sini? Kamu nggak bisa terus-terusan nyulik aku kayak gini setiap kali kamu nggak suka sama pilihanku!"

​Narendra berjalan mendekat, langkahnya mantap di atas rumput yang basah oleh embun. Ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke bahu Livia, namun Livia menepisnya.

​"Aku melakukan ini karena kamu nggak mau dengar aku!" suara Narendra meninggi, menggema di sunyinya malam. "Kamu sengaja pergi sama Reno buat manas-manasin aku, kan? Kamu mau lihat sejauh mana aku bisa bertahan melihat kamu sama laki-laki lain?"

​Livia tertawa getir, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku cuma mau hidup, Naren! Hidup tanpa bayang-bayang kamu yang posesif tapi nggak bisa memberi status! Kamu punya rumah untuk pulang, sedangkan aku? Aku cuma punya sahabat-sahabatku!"

​Narendra menarik Livia ke dalam pelukannya secara mendadak. Kali ini, bukan hanya gairah yang terasa, tapi ada rasa frustrasi dan ketakutan akan kehilangan. Ia membenamkan wajahnya di leher Livia, menghirup aroma wanita itu dalam-dalam.

​"Di sini... nggak ada Reno, nggak ada Daffa, kita bukan lagi di kantor, dan nggak ada Veronica," bisik Narendra, suaranya bergetar. "Cuma ada kita. Aku cuma mau kamu sadar, Liv, kalau dunia ini nggak akan pernah cukup luas buat aku kalau aku nggak punya kamu."

​Livia mencoba memberontak, namun kekuatan Narendra terlalu besar. Akhirnya, ia luruh di pelukan pria itu. Kehangatan tubuh Narendra di tengah dinginnya udara pegunungan adalah ironi yang menyakitkan. Ia membenci betapa ia sangat mencintai pria yang juga merupakan sumber penderitaannya.

​Narendra mengangkat dagu Livia, menatap wajah yang kini basah oleh air mata itu di bawah cahaya bulan yang remang. "Malam ini, jangan pikirkan apa pun. Anggap saja dunia sudah berhenti berputar."

​Ia menunduk, mencium bibir Livia dengan lembut, sebuah permohonan maaf yang bisu. Di villa yang terisolasi itu, di tengah kesunyian yang mencekam, mereka berdua kembali terjebak dalam pusaran cinta yang salah, semakin jauh dari jalan keluar, dan semakin dalam masuk ke dalam pengkhianatan yang tak berujung.

Narendra baru saja hendak menyesap aroma di ceruk leher Livia saat suara dering ponsel yang nyaring membelah kesunyian kamar villa yang remang itu. Cahaya layar ponsel yang berkedip di atas nakas menampilkan nama "Reno".

​Narendra menggeram rendah, rahangnya mengeras. Ia tidak menjauh, justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Livia, seolah ingin menegaskan dominasinya bahkan di tengah gangguan itu.

​Livia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia meraih ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tahu Reno tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban.

​"Aku harus angkat telepon," bisik Livia pelan, menatap mata Narendra yang berkilat tidak suka.

​Narendra tidak melepaskannya. Ia justru membenamkan wajahnya di bahu Livia, membiarkan napas panasnya menerpa kulit wanita itu saat Livia menggeser tombol hijau.

​"Halo, Ren?" suara Livia terdengar sangat tenang, sebuah kemampuan akting yang luar biasa mengingat posisi tubuhnya saat ini.

​"Liv! Lo di mana?! Gue cariin ke mana-mana, lo nggak ada. Gue tanya sekuriti lounge, mereka bilang lihat lo keluar buru-buru. Lo nggak apa-apa? Lo diculik?" Suara Reno di seberang sana terdengar penuh kecemasan dan amarah yang tertahan.

​Livia memejamkan mata sejenak, merasakan tangan Narendra yang mulai bergerak nakal di pinggulnya, mencoba menguji konsentrasinya. Livia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengerang.

​"Maaf banget, Ren. Tadi... gue tiba-tiba ingat ada urusan mendadak yang mendesak banget. Gue harus pergi buru-buru sampai nggak sempat pamit sama lo," ucap Livia, nada suaranya dibuat se-kasual mungkin, seolah ia baru saja meninggalkan pesta karena urusan kerja.

​"Urusan apa jam segini, Liv? Lo aman kan? Gue samperin lo sekarang, lo di mana?"

​"Gak usah, Ren. Gue aman. Gue benar-benar baik-baik aja," Livia menekankan kalimatnya sambil menepis tangan Narendra yang semakin berani. "Gue lagi di tempat yang tenang. Gue cuma butuh waktu sendiri sebentar buat nyelesein ini. Lo balik aja, istirahat. Maaf ya udah ngerusak acara kita."

​Ada jeda cukup lama di seberang telepon. Reno bukan orang bodoh, ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi ketenangan suara Livia membuatnya sulit untuk mendebat.

​"Oke... kalau itu mau lo. Tapi kalau ada apa-apa, lo harus janji telepon gue detik itu juga. Gue nggak peduli jam berapa."

​"Iya, Ren. Gue janji. Thanks ya," ucap Livia sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.

​Begitu ponsel diletakkan kembali, Livia berbalik menghadap Narendra yang kini menatapnya dengan senyum miring yang penuh kemenangan.

​"Pintar sekali berbohong demi aku, hmm?" sindir Narendra rendah.

​Livia menatapnya tajam, meski dadanya masih berdegup kencang. "Aku tidak berbohong demi kamu, Naren. Aku melakukannya agar sahabatku tidak perlu menghajar kamu malam ini."

​Narendra terkekeh, suara tawanya terdengar berat dan seksi di ruangan yang sunyi itu. Ia menarik Livia kembali ke dalam dekapannya, kali ini tanpa ada gangguan lagi.

​"Setidaknya sekarang dia tahu kamu aman denganku," bisik Narendra sebelum kembali menyambar bibir Livia, menenggelamkan wanita itu dalam keintiman yang semakin dalam di tengah dinginnya malam pegunungan. Di luar, angin pinus berdesir, menjadi satu-satunya saksi bisu pengkhianatan yang kian tak terkendali di villa terpencil itu.

...🥂...

...🥂...

...🥂...

...Bersambung......

1
Forta Wahyuni
sbenarnya gk suka baca novel perselingkuhan, apalagi pemeran utamanya n tidak ada alasan apapun selingkuh tetap selingkuh. jadi klu bisa thor pertegas status narendra agar livia tdk buruk dipandang masyarakat. krn sep nya bangga dgn berselingkuh sedangkan dia terpuruk krn diselingkuhi dan dikasari padahal baru status pacaran.
falea sezi
jangan jd pelakor
septi fahrozi
semakin penasaran jadinya ngapain mereka... 🤣🤣
Priyatin
ho ho ho kok semakin rumit hubungannya othor😰😰😰
Priyatin
lama kali nunggu up nya thor.
lanjut dong🙏🙏🙏
Wita S
kerennn
Wita S
ayoo up kak...ceritanya kerennnn
Mian Fauzi: thankyou 🫶 tp sabar yaa...aku masih selesain novelku yg lain hehe
total 1 replies
Siti Naimah
ampun deh...belum apa2 Livia sudah mendapat kekerasan dari dimas.sebaiknya sampai disini saja livia.gak usah diterusin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!