"Ayo bercerai setelah anak ini lahir"
laki-laki itu hanya diam, tapi keterdiaman itu membuat semuanya semakin jelas kalau ia menginginkan hal yang sama
Belasan tahun hanya cintanya yang terus terpupuk, keajaiban yang ia harapkan suatu hari nanti tak kunjung terjadi. Pada akhirnya, berpisah adalah satu-satunya jalan atas takdir yang tak pernah menyatukan mereka dalam rasa yang sama.
"Selamat jalan Kalanza, aku harap kamu bahagia dengan pilihan hatimu"
Dari sahabat sampai jadi suami istri, Ishani terlalu berpikir positif akan ada keajaiban saat Kalanza tiba-tiba mengajaknya menikah, harapannya belasan tahun ternyata tak seindah kisah cinta dalam novel. Kalanza tetaplah Kalanza, si laki-laki keras kepala yang selalu mengatakan tak akan pernah bisa jatuh cinta padanya.
"Ishani, aku ingin melanggar janji itu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa jawabannya?
Sahkah perceraian itu saat Kalan bahkan tak tau kalau yang ia tanda tangani adalah surat cerai?. Orang yang baru tersadar dari koma dan masih linglung langsung diminta menandatangani hal yang tak ingin ia lakukan. Tapi siapa yang percaya itu kebohongan kalau tanda tangannya sudah terbubuh diatas kertas itu?
Dari matahari terbit sampai meninggi karena hari yang semakin siang, Kalan tak beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya termenung diatas pasir melihat deburan ombak dan aktivitas orang-orang yang datang untuk berlibur. Ditengah keramaian ini ia justru merasa sendiri.
"Hahaha aku juga suka melihatnya, itu kenapa aku senang berada disini"
Kalan segera menoleh saat suara yang amat ia kenali itu terdengar, Ishani sedang berjalan dengan seorang laki-laki disebelahnya. Laki-laki asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Saat Kalan ingin berdiri menghampiri, laki-laki itu keburu melambaikan tangannya pada Ishani sebagai tanda perpisahan
"Ishani" Kalan mendekatinya saat perempuan itu ingin berbalik pulang
"Kalan? Kamu masih disini?. Aku pikir kamu sudah pulang dari beberapa hari lalu" Laki-laki itu memang menghilang, tapi ia hanya berdiam diri di villa yang ia sewa. Puas menyalahkan dirinya sendiri dan kemudian berusaha menyusun rencana baru
"Tidak, aku ada di villa"
"Pekerjaanmu disini belum selesai?"
"Sebenarnya sudah tapi aku ingin berlibur sebentar"
"Sendirian?"
"Ares sudah lebih dulu pulang kemarin karena ada pekerjaan"
"Pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya, Ares membantu ayah mengurusnya sedangkan Nichol masih ingin menyelesaikan studinya"
"Lalu kenapa kamu ada disini? Apa Om Dion tidak akan marah?"
"Aku tidak pernah libur, jadi dia memberikanku waktu lebih lama disini" itu hanya sebuah kebohongan tentu saja, Kalan memilih melepas sementara tanggung jawab itu sejak kondisinya hampir gila karena kehilangan istrinya
"Ishani"
"Kalan"
Mereka saling memanggil bersamaan
"Kamu duluan" Kalan mempersilahkan Ishani berbicara lebih dulu. Mereka memutuskan duduk kembali di tepi pantai, melihat deburan ombak yang memanjakan mata
"Apa kamu berhasil menikahi kekasihmu?" Kalan tersentak sejenak, berusaha menormalkan eskpresinya agar tetap tenang
"Aku pernah menikah, tapi aku sudah bercerai karena kesalahanku sendiri. Aku menyakiti hati istriku karena seseorang dari masa lalu yang kuanggap lebih baik" ia mengatakan itu sambil menatap Ishani dengan mata yang seolah ingin mengatakan langsung didepan wanita itu kebenarannya
"Kenapa kamu masih memakai cincin pernikahanmu?" Ishani menunjuk jari manisnya. Cincin yang selalu ia pakai justru disaat ia mengira istrinya sudah pergi
"Aku masih mencintainya" Kalan menunduk saat mengatakan itu
"Beruntung sekali wanita itu, kamu laki-laki baik aku yakin dia pasti akan segera menyadari perasaannya"
"Apa kamu mau tau rahasiaku?" Ishani kembali bertanya, Kalan tentu saja mengangguk dengan semangat
"Aku pernah mencintaimu Kalan" Ishani mengatakan tanpa menatap wajah itu sama sekali, ia hanya fokus menatap laut didepan sana
"Aku pernah mencintaimu saat waktu-waktu sekolah, bahkan mungkin saat kita kuliah"
"Lalu bagaimana dengan sekarang?" Ishani hanya tertawa menanggapinya
"Tidak, aku sadar kalau perasaan itu hanya sebuah rasa nyaman karena kita selalu bersama. Itu bukan cinta, kamu tidak perlu khawatir" Ishani mengatakannya dengan santai, tapi Kalan tidak demikian
"Oh ya, kamu tadi ingin mengatakan sesuatu?" Kalan berusaha mengatur ekspesi wajahnya kembali
"Aku sempat ingat kemarin kamu bilang kita sudah lama tak bertemu karena aku menghilang setelah wisuda. Boleh aku tau saat itu apa yang kau lakukan?" Kalan ingin melihat sejauh mana ingatan itu terhapus agar ia bisa memperbaikinya dari sana
"Aku juga tidak tau Kalan. Aku mencoba mengingatnya, tapi setiap mengingatnya kepalaku sakit sekali. Aku merasa seolah-olah ada yang memukulku begitu keras. Rasanya sakit sekali" Ishani meremas rambutnya dan mulai menutup telinga saat suara-suara asing mulai masuk dan berbisik
"Ishani, kamu baik-baik saja?" Kalan panik, ia menggenggam tangan wanita itu yang menutup telinganya untuk ia pegang erat
"Aku seperti melihatmu Kalan, tapi bayanganmu samar. Tidak mungkin itu dirimu kan?. Laki-laki itu kejam sekali" setelah mengatakan itu tubuh Ishani tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri. Kalan panik, ia segera mengangkat tubuh wanita yang ia cintai itu menuju tempat tinggalnya
"Kalan! Apa yang kau lakukan pada adikku" baru sampai di gerbang, ia langsung bertemu Rehan yang sepertinya bersiap keluar, terlihat dari pakaiannya yang rapi
"Berikan ia padaku"
"Tidak!" Kalan menolak, walaupun laki-laki itu saudara tiri Ishani, ia tak rela Ishani digendong laki-laki lain saat ia ada disana. Ia memilih menerobos masuk dalam bangunan itu
"Letakkan ia di sofa" Kalan menuruti karena ia juga tak tau dimana kamar Ishani
"Sekarang kamu boleh pergi dari sini"
"Aku tidak akan pergi sebelum aku memiliki jawaban atas apa yang terjadi barusan"
"Kamu tidak akan memperoleh jawaban apapun karena kamu sendiri sudah tau jawabannya"
"Biarkan aku melihatnya sampai ia sadar"
"Tidak, lebih baik kamu pergi. Itu adalah cara terbaik yang bisa kamu lakukan untuk membantunya"
"Apa maksudmu mengatakan itu? Siapa kamu yang berhak mengatakan itu?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu" Rehan dan Kalan tidak mau mengalah. Tanpa mereka sadari sepasang kaki kecil mendekat dan tiba-tiba menarik pelan celana kain yang digunakan Rehan
"Ayah, aku mau minum susu"
Dua laki-laki itu terdiam, wajah keduanya nampak terkejut. Rehan terkejut karena ia tak menyangka aksinya barusan terlihat dan Kalan lebih tak menyangka saat melihat wajah itu. Wajah itu adalah miliknya, dengan mata Ishani.
"Ayo ayah buatkan susu" Rehan mengangkat tubuh kecil itu dan menggendongnya. Ia sengaja menutupi wajah balita itu
"Pergi dari sini sekarang juga Kalan" Kalan baru tersadar dari keterkejutannya, saat ia ingin menyusul Rehan untuk meminta penjelasan lebih lanjut, Ayah Agra datang membuka pintu
"Kalan, apa yang kamu lakukan dirumahku?"
"Ayah, apa yang kalian sembunyikan dariku?" Kalan balik bertanya, namun suara dari Rehan yang memberi tau kondisi putrinya membuat laki-laki paruh baya itu melewatinya begitu saja menuju sofa
"Pergilah Kalan! Urusanmu sudah selesai dengan putriku"
"Katakan padaku anak siapa itu?"
"Tentu saja anakku, apa kamu tidak dengar dia memanggilku ayah?"
"Aku tak pernah mendengar berita pernikahanmu dan dimana istrimu kalau memang itu anakmu?"
"Kamu tidak perlu tau semuanya tentang keluarga kami, pergi dari sini sebelum aku memanggil penjaga untuk mengusirmu" Kalan melihat kondisi Ishani sejenak yang sedang diberikan obat secara perlahan oleh ayahnya, sepertinya kondisi ini sering terjadi terlihat dari lihainya pria paruh baya itu walaupun Ishani sedang tak sadarkan diri
"Aku akan mencari jawabannya sendiri" Kalan pergi setelah mengatakan itu, ia pasti akan menemukan jawabannya
bengkak ini mata kayanya🤣
masih mengandung bawang