Raka seorang guru di salah satu SMA Swasta di ibukota, sekaligus pemegang saham terbesar di sekolah tersebut. tidak ada yang tahu jika keberadaan Raka sebagai guru baru adalah awal dari petaka bagi Raya. Raka sudah lama obsesi pada Raya, hingga Raya harus berusaha melarikan diri ke ibukota. kini karna pertemuan tak disangka, Raka berhasil menemukan Raya, dan ingin memiliki Raya.
Raya, siswi peraih beasiswa di SMA swasta yang terpaksa harus menjadi tawanan seorang guru yang posesif Raka, harus tetap bertahan demi pendidikan nya kesenjang yg lebih tinggi..
dimana Raya berada, Raka pasti mengawasi nya.. seperti seekor pemangsa yg mengintai mangsanya..
"jangan berharap kau bisa lepas dariku Raya, karna itu adalah hal yang mustahil. kau milikku, dan akan tetap menjadi milikku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghiburan 2
Raya baru saja keluar dari pintu ajaibnya, dia melangkah menghampiri mobil yang sudah di sediakan Raka. Dia tidak tahu kekacauan apa yang telah dilakukan Anastasia di balik pintu itu.
Di dalam mobil dia duduk termenung, tiba-tiba ponsel yang berada di dalam tas nya bergetar.
Ddrrttt...
Raka.
Dia tersenyum senang melihat nama yang tertera di sana. Kerinduannya sudah tak bisa di abaikan lagi.
" Halo.."
" Halo sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Raka yang sama-sama didera rindu.
" Aku baik Raka, bagaimana denganmu? "
" Aku menderita sayang." Keluh Raka diujung sana.
" Menderita? Apa yang terjadi disana?" tanya Raya, suaranya bergetar menahan sedih. Dia tak melihat di sebrang sana, Raka tersenyum lebar mendengar kekhawatiran nya.
" Aku menderita, karna tak bisa mencumbu mu beberapa hari ini."
Raya tercengang mendengarnya, rona merah kembali merambat di kedua pipinya. Ah, rasanya lama sekali pipi itu tak berona. Dan kini hanya mendengar rayuan picisan dari Raka, rona itu hadir kembali.
" Raka! Dasar menyebalkan. Aku sungguh-sungguh mencemaskanmu." Raya mendengus sebal.
Mobil yang dinaiki Raya berjalan pelan atas keinginan Raya. Dia ingin lama mendengar kelakar Raka sebelum sampai di rumahnya.
Raka terkekeh mendengar kekesalan Raya.
" Bagaimana harimu di sekolah sayang? " tanyanya kemudian.
Raya sejenak terdiam. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah dia akan mengatakan perihal Kevin atau tidak.
" Sayang.. " panggilan Raka membuyarkan lamunannya.
" Ah ya, maaf Raka. Sebenarnya... " Raya sedikit ragu untuk mengatakannya.
" Ada apa sayang? " tanya Raka lagi.
" Kevin, temanmu itu... Dia datang ke sekolah menemuiku." ucap Raya pelan
" Lalu? " tanya Raka
Kemudian keluarlah cerita tadi siang di ruang BP dari mulut Raya. Dia memang tidak ingin merahasiakan apapun dari Raka. Menurutnya, lebih baik dia menerima kemarahan Raka dari pada harus berbohong. Karna pada dasarnya, suatu hubungan tidak akan berjalan baik jika salah satu pihak sudah berbohong.
Raya terus bercerita, dia menceritakan setiap detail kejadian di ruang BP sampai ucapan apa pun yang keluar dari mulut Kevin. Dia tidak tahu, diseberang sana Raka sedang mengepalkan tangannya erat ingin memukul sesuatu.
" Raka, apa kau marah?" Raya bertanya hati-hati.
" Tidak sayang, aku tidak marah." tentu saja Raka berbohong.
Demi apapun, yang saat ini ingin dia lakukan adalah menghajar habis-habisan temannya itu. Dia sudah berani melewati batas, dengan menyentuh miliknya. Sebenarnya sebelum Raya bercerita, Raka sudah tahu kabar Kevin menemui Raya dari pak Mamat. Namun karna Raya dan Kevin berbicara di ruang BP, pak Mamat tidak bisa memastikan apa yang terjadi.
" Raka, bagaimana kondisi disana? Aku lihat terjadi unjuk rasa di perusahaanmu." Raya mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Yah, memang sayang.. Mereka berunjuk rasa disana. Mereka ingin aku muncul dan meminta maaf di hadapan media." Raka memijat pelipisnya.
" Lalu apa yang akan kau lakukan?"
" Jika kondisinya mendesak, mungkin akan aku turuti keinginan mereka."
" Jika kau menampakkan diri, apa itu artinya kau tidak akan menjadi guru lagi? "
" Yah, tapi aku akan tetap kesana jika aku mau."
" Kenapa?"
" Hey, apa kau lupa aku memiliki kekasih disana? Jika aku ingin menemuimu disana, maka aku akan kesana sayang."
" Tapi aku malu Raka."
" Hal apa yang membuatmu malu? " tanya Raka heran.
" Itu... Itu.. Pandangan or.. " Raya teringat ucapan Kevin tadi mengenainya.
Raka langsung memotong ucapan Raya.
" Sayang, dengarkan aku.. Tidak ada yang mesti kau pikirkan mengenai pendapat orang lain. Aku yang mengejarmu, aku yang mencintaimu lebih dulu. Persetan dengan omong kosong orang lain tentangmu. Kau milikku, dengan atau tanpa omongan orang lain. Kau akan selalu menjadi milikku. Kau tak usah merasa malu." Raka seolah tahu apa yang menjadi kekhawatiran Raya.
" Raya.. Kau disana?" tanya Raka karna tak terdengar sautan apapun dari bibir Raya.
" Ya. Aku mendengarkan." Suara Raya tiba-tiba berubah menjadi serak dan berat.
" Sayang, apa kau menangis?" tanya Raka terkejut.
" Oh My God! Gadis kecilku...." Ucap Raka tak percaya jika ucapannya membuat Raya menangis.
" Aku tidak menangis!" gerutu Raya sambil menghapus kasar air matanya. Entah mengapa sejak Raka pergi, Raya menjadi lebih sensitif. Dia menjadi mudah menangia bahkan untuk hal-hal yang remeh.
Raka terkekeh mendengarnya.
" Oh baby, tunggu aku pulang oke?! Aku tak sabar ingin mencumbumu." goda Raka.
" Maka dari itu cepatlah pulang!" ucap Raya setengah berteriak kemudian langsung mematikan ponselnya.
Raka tercengang menatap ponselnya. Hatinya dilanda badai asmara, dia terlalu senang mendengar tuntutan Raya yang menginginkannya kembali.
Senyuman terulas jelas dibibirnya. Dalam resonansi getar rindu yang sama, kedua manusia ini berharap waktu berbaik hati memberikan pertemuan sakral untuk melepas segala kerinduan di jiwa.
Oh Venus yang Agung, kembalikan lah musim semi Raka dan Raya. Biarkan mereka mereguk manisnya kerinduan yang tertunda. Bergelut dalam jiwa yang saling mendamba.