NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C007: Kemarahan Sang Pewaris & Bisikan Racun

...Selamat Baca...

Malam itu, udara di kediaman utama keluarga Sterling terasa lebih dingin dari biasanya, meski lampu-lampu kristal di aula utama masih menyala terang menerangi sisa-sisa pesta yang mulai sepi.

Alistair Sterling berdiri di tengah ruangan, memegang gelas wiski setengah penuh. Matanya yang agak merah karena alkohol menyipit,

Mengamati kerumunan tamu yang mulai satu per satu pulang. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di dadanya, sebuah perasaan aneh yang jarang ia rasakan.

"Sudah larut," gumamnya pelan. "Kenapa aku merasa ada yang kurang?"

Ia menoleh ke sekeliling, mencari sosok yang seharusnya ada di sisinya sebagai istri sah pertama.

Sosok yang biasanya duduk diam di sudut, menjadi pajangan statis yang bisa ia abaikan.

"Liana..." panggilnya, suaranya datar.

Tidak ada jawaban. Hanya hening.

Alistair mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat-ingat. Kapan terakhir kali ia melihat Liana? Saat dia masuk ke ruang rias? Sudah hampir dua jam yang lalu.

"Di mana Nyonya Muda Liana?" tanya Alistair pada pelayan yang lewat, nadanya mulai naik nada ketidaksabaran.

Pelayan itu menunduk takut-takut. "Maaf, Tuan Alistair. Saya... saya tidak melihat Nyonya Liana sejak beliau masuk ke sayap timur tadi sore."

Alistair mendengus kesal. "Sayap timur? Ruangan rias lama? Untuk apa dia berlama-lama di sana?"

Rasa kesal itu berubah menjadi amarah kecil. Baginya, Liana adalah miliknya. Bahkan jika ia sudah tidak peduli, bahkan jika ia sudah memiliki Seraphina,

Liana tetaplah properti keluarga Sterling yang harus tetap berada di tempatnya, patuh, dan terlihat saat dibutuhkan.

Ketidakhadirannya tanpa izin dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan.

"Alistair, sayang..."

Sebuah tangan halus mendarat di lengannya. Seraphina De Vaux, dengan gaun mewahnya dan perut yang mulai membuncit, tersenyum manis namun matanya tajam.

"Jangan marah-marah, nanti buruk untuk bayi kita," bisik Seraphina lembut, menarik perhatian Alistair sepenuhnya.

"Mungkin Liana hanya lelah. Kamu tahu kan, dia memang lemah dan sering pusing. Mungkin dia tertidur di kamarnya."

Alistair menatap istrinya yang hamil itu, amarahnya sedikit mereda digantikan oleh rasa bangga memiliki wanita yang "sempurna" seperti Seraphina.

"Kamu benar. Dia memang lemah. Tidak berguna."

"Tapi..." Seraphina menambahkan dengan nada ragu-ragu, seolah sedang berpikir keras,

"Aku tadi sempat melihat Paman Alexander juga menghilang ke arah sayap timur. Apakah... apakah mereka bersama?"

Kalimat itu seperti percikan api di dalam bensin.

Mata Alistair membesar. "Alexander? Paman yang antiwanita itu?"

"Mungkin saja," Seraphina menekan tombol hasutan dengan halus.

"Aku hanya khawatir, Sayang. Liana mungkin merasa kesepian, dan Paman Alexander... well, dia pria yang sangat berkuasa."

"Siapa yang tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup itu? Aku tidak ingin nama baik keluarga kita ternoda jika ada gosip aneh-aneh."

Wajah Alistair memerah karena marah. Egoisnya tersinggung bukan main. Bayangan pamannya yang dingin bersama istrinya yang "tidak berguna" membuat darahnya mendidih.

Bukan karena cemburu dalam arti cinta, tapi karena merasa kepemilikannya dilanggar.

"Dia berani..." geram Alistair. "Menipu aku di rumahku sendiri?"

Tanpa pikir panjang, Alistair meletakkan gelasnya kasar di meja, lalu bergegas meninggalkan aula,

Diikuti oleh Seraphina yang tersenyum tipis di belakangnya—senyum kemenangan yang tak terlihat oleh siapa pun.

Alistair berjalan cepat menyusuri lorong sayap timur. Langkah kakinya berat, napasnya memburu.

Ia langsung menuju kamar tidur utama pasangan mereka—kamar yang dulu pernah ia bagi dengan Liana,

Namun sekarang lebih sering ia gunakan sebagai gudang kenangan masa lalu atau tempat istirahat singkat ketika malas kembali ke kamar Seraphina.

Pintu kamar itu tertutup rapat.

Alistair tidak mengetuk. Dengan kasar, ia mendorong pintu itu.

"Buka!" bentaknya.

Namun, pintu itu terkunci.

Alistair semakin marah. Ia menggertakkan gigi, lalu mengeluarkan kunci cadangan dari saku jasnya—kunci yang seharusnya bisa membuka semua pintu di mansion ini.

Ia memasukkan kunci itu ke lubang, memutar dengan kuat.

Klik.

Pintu terbuka.

Alistair menerobos masuk, siap melabrak siapa pun yang ada di dalam. "Liana! Alexander! Keluar kalian—"

Suara itu terhenti di tenggorokannya.

Ruangan itu kosong.

Tempat tidur besar dengan seprai sutra putih terlihat rapi, tidak ada bekas orang tidur di sana. Lampu kamar mati, hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela besar.

Alistair berkeliling ruangan dengan napas yang masih memburu. Ia memeriksa kamar mandi—kosong.

Ia memeriksa lemari pakaian—masih penuh dengan gaun-gaun Liana yang tampak usang dan jarang dipakai.

"Tidak ada siapa-siapa," gumam Alistair bingung.

Kemarahannya bercampur dengan kebingungan. "Kalau mereka tidak di sini, di mana mereka?"

Ia berjalan menuju meja rias Liana. Di atasnya, tergeletak secarik kertas. Surat itu.

Alistair mengambil surat itu, membacanya sekilas. "Saya pergi sebentar... Jangan dicari..."

"Pergi sebentar?" Alistair tertawa sinis, suara tawanya echoing di ruangan kosong yang dingin itu.

"Dia pikir dia siapa? Istri yang bisa pergi sesuka hati? Dia lupa siapa yang memberinya makan, atap, dan nama besar?"

Rasa egonya yang terluka membuatnya buta. Dia tidak melihat surat itu sebagai tanda kelelahan mental Liana,

Tapi sebagai penghinaan terhadap otoritasnya sebagai kepala rumah tangga (de facto).

"Seraphina!" teriak Alistair ke arah pintu.

Seraphina muncul di ambang pintu, wajahnya pura-pura kaget. "Ada apa, Sayang? Mereka... tidak ada di sini?"

"Dia kabur," kata Alistair dingin, meremas surat itu hingga kusut.

"Atau mungkin dia bersembunyi. Cari dia! Perintah semua pelayan, semua pengawal! Cari Liana Varella di seluruh sudut rumah ini!"

"Jika dia bersembunyi, aku akan menghajarnya!"

Seraphina mendekat, meletakkan tangan di dada Alistair. "Tenang, Sayang. Mungkin dia hanya pergi ke taman."

"Atau mungkin... dia pergi menemui seseorang di luar?"

"Di luar?" Mata Alistair menyipit berbahaya. "Dengan kunci gerbang? Mustahil. Pengawal jaga ketat."

"Kecuali..." Seraphina berbisik, matanya berkilat licik,

"Kecuali ada orang dalam yang membantunya. Orang yang punya akses penuh. Orang yang tidak bisa dilarang oleh pengawal biasa."

Alistair terdiam. Wajahnya pucat, lalu memerah lagi. Pikirannya langsung terhubung ke satu nama.

Alexander.

"Paman..." desis Alistair. "Jika benar dia membantu Liana kabur... jika benar mereka berselingkuh di belakang punggungku..."

Alistair mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Rasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri, ditambah rasa malu karena istrinya "dicuri" oleh pamannya yang lebih tua,

membuat racun kebencian mengalir deras di venanya. "Aku akan membuktikan ini," kata Alistair dingin.

"Aku akan membongkar topeng suci Paman Alexander itu. Dan Liana... dia akan menyesal telah lahir ke dunia ini."

Sementara itu, di lantai dasar, di ruang kendali keamanan dan pos penjagaan para staf, suasana jauh berbeda dari kepanikan Alistair.

Seorang kepala pelayan tua, Bapak Hendra, menerima telepon dari nomor pribadi yang hanya diketahui oleh segelintir orang.

"Ya, Tuan Alexander," jawab Bapak Hendra dengan suara rendah dan hormat, matanya tidak lepas dari layar monitor CCTV yang menunjukkan Alistair mengamuk di kamar Liana.

"Biarkan dia mencari. Biarkan dia marah. Jangan berikan informasi apa pun tentang pergerakan Nyonya Liana setelah pukul 20.00."

"Jika ditanya, katakan bahwa sistem kamera di sayap timur sedang maintenance dan mengalami glitch data."

"Siap, Tuan. Semua staf di bawah komando saya sudah diberi instruksi. Kami adalah mata dan telinga Tuan, bukan keluarga utama."

"Bagus. Jaga rahasia ini sampai Nyonya Liana aman di tempat tujuan. Setelah itu, kirimkan laporan kepadaku."

Telepon dimatikan.

Bapak Hendra menoleh kepada dua pengawal muda yang berdiri tegak di sampingnya. Keduanya adalah mantan anggota pasukan khusus yang direkrut langsung oleh Alexander Sterling,

Bukan oleh keluarga besar Sterling. Loyalti mereka bukan pada nama "Sterling", tapi pada Alexander personally.

"Dengan hormat," kata salah satu pengawal,

"Apakah kita perlu menghentikan Tuan Alistair jika ia mencoba merusak properti atau melakukan kekerasan pada staf?"

Bapak Hendra menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Tidak perlu. Biarkan dia lelah sendiri. Tuan Alexander sudah memperhitungkan semuanya."

"Malam ini, Nyonya Liana sudah jauh dari jangkauan mereka. Dan besok... besok akan menjadi hari yang sangat menarik bagi Tuan Alistair."

Di kegelapan malam, mesin-mesin kekuasaan Alexander Sterling bekerja dengan sunyi dan efisien, melindungi wanita yang dicintainya dari badai ego sang pewaris yang buta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!