Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Siapa pria itu?
Langit mulai berubah jingga ketika suasana di markas utama Xavier kembali sunyi. Ruangan kerja yang luas itu hanya diterangi cahaya lampu meja dan sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca.
Di balik meja kerja besar berwarna hitam, Xavier duduk tenang sambil membuka sebuah berkas tebal. Berkas itu bukan laporan bisnis ataupun misi.
Melainkan seluruh identitas mengenai Lyko. Halaman demi halaman berisi riwayat hidup gadis itu sejak kecil.
Mulai dari tempat ia dibesarkan, sekolah dasar yang pernah ia tempati, guru-guru yang mengajarnya, teman-teman masa kecilnya, hingga kehidupan Lyko saat memasuki Kampus Rylance.
Semua informasi mengenai Lyko tersusun begitu rapih. Bukan hanya itu. Di halaman berikutnya bahkan terdapat kebiasaan-kebiasaan kecil Lyko.
Makanan favorit : Chocolate Cake dengan full coklat.
Minuman favorit : Hot Chocolate dengan marshmallow yang lumer.
Warna favorit : Warna pastel.
Hobi : Membaca buku, menggambar, mendengarkan musik klasik, merawat tanaman kecil, dan bermain dengan hewan.
Hal yang ditakuti : Tempat gelap, suara yang terlalu keras ditelinga, tempat dengan ramai orang.
Xavier membaca semuanya tanpa melewatkan satu kalimat pun. Tatapannya tetap datar, namun kini akhirnya terlihat jelas mengapa Xavier bisa mengetahui hampir semua tentang Lyko.
Ia memang telah meminta Felix menyelidiki seluruh identitas gadis itu, tetapi bukan karena rasa penasaran semata.
Melainkan kebiasaan Xavier yang ingin selalu memastikan setiap orang yang akan masuk ke dalam hidupnya benar-benar sesuai.
Tak lama kemudian ia membalik halaman berikutnya. Di sudut kanan atas tertulis, pertemanan dekat Lyko. Nama pertama yang muncul adalah Kelly, lalu disusul oleh Ruby.
Dan kemudian saat membalik halaman lagi, terlihat nama Zergan muncul. Xavier sedikit mengerutkan kening saat membaca nama itu.
Nama : Zergan.
Profesi : Polisi.
Status keluarga : Memiliki ibu tiri.
Riwayat pendidikan : Akademi Kepolisian.
Catatan : Memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat dengan Lyko sejak mereka masih kecil.
Tatapannya berhenti cukup lama ketika membaca bagian identitas Zergan itu.
"Ibu tiri..." gumamnya pelan.
Ia kembali membaca lebih teliti. Hubungan keluarga Zergan ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Beberapa konflik keluarga juga tercatat di dalam laporan itu. Xavier menutup mata beberapa detik.
“Heh... menarik..." gumamnya lagi dengan sedikit senyuman khusus
Xavier merasa sedikit tertantang, karena bagaimanapun juga Zergan adalah seorang polisi. Dan Xavier tidak pernah meremehkan aparat penegak hukum.
Namun yang ia pikirkan saat ini adalah... tentang bisnis keluarganya.
Karena masih ada beberapa bisnis ilegal milik Xavier yang keberadaannya belum pernah diketahui publik maupun pihak kepolisian.
Selama ini semuanya berjalan sangat rapi. Hampir tidak pernah meninggalkan jejak. Tetapi tetap saja sorang polisi selalu layak diwaspadai.
Dan di saat Xavier masih membaca laporan itu suara notifikasi tiba-tiba terdengar dari laptopnya.
DREETTT!
Layar monitor menyala. Sebuah panggilan video masuk. Nama yang muncul membuat Xavier berhenti membaca, karena itu adalah, Kak Nacyla.
Ia memandang layar selama beberapa detik. Lalu menekan tombol hijau dilaptop. Video call pun terhubung.
Di layar langsung muncul seorang gadis cantik mengenakan hoodie putih. Rambut pino lurusnya dibiarkan tergerai. Wajahnya tampak segar dan tampak manis.
Begitu melihat adiknya. Ia langsung melambaikan tangan lebar-lebar. "Halo, Kutub. Apa kabar?"
Xavier langsung menghela napas pelan. "Bisa kau ganti nama panggilan itu? Dasar menyebalkan."
Nacyla justru tertawa semakin keras. "Tentu saja tidak bisa, sudah bertahun-tahun kupanggil kau begitu... kalau tiba-tiba diganti nanti rasanya aneh."
Xavier hanya menggeleng kecil dan tampak memicingkan bola matanya malas. Benar-benar tidak ada gunanya berdebat dengan kakaknya itu, karena keduanya sama sekali tidak mau kalah.
Nacyla lalu memperhatikan wajah Xavier beberapa saat. Senyumnya perlahan memudar menjadi lebih lembut. "Kakak dengar... kamu sudah mau menikah, benarkah begitu?”
Xavier mengangguk pelan. "Iya... kakak tahu dari mama?”
Nacyla mengangguk kemudian ia kembali menatap adiknya dengan sedikit tatapan khawatir. "Lalu... kondisimu sekarang bagaimana? Sudah membaik?”
Xavier menundukkan pandangannya. Beberapa detik ia terdiam. "Sudah lebih baik, tapi...” Xavier berhenti sejenak. "Aku masih khawatir... dan takut... dia datang dan menghancurkan pesta pernikahanku.
“Itu yang terus kupikirkan," ucap Xavier.
Mendadak sekeliling menjadi hening.
Nacyla memahami siapa sosok "dia" yang dimaksud Xavier oleh Xavier. Ia tidak bertanya lebih jauh. Sebaliknya, ia justru tersenyum menenangkan. "Soal itu biarkan kakak yang urus."
Xavier mengangkat pandangan.
Nacyla melanjutkan. "Aku belum pernah mengambil cuti sejak debut, jadi kali ini aku akan mengambil cuti,” katanya. “Dan kebetulan jadwalku juga tidak terlalu padat, jadi aku akan datang ke pesta pernikahanmu."
Xavier sedikit terkejut, namun ia segera memasang wajah datarnya lagi. "Kau serius?”
Nacyla mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja, masa di momen bahagia adikku aku tidak datang? Kakak macam apa aku?”
Xavier menganggukkan kepala kecil. "Terima kasih."
Namun beberapa detik kemudian ekspresi jahil Nacyla kembali muncul. "Oh iya, ngomong-ngomong... siapa nama calon istrimu? Apa dia cantik?” katanya sambil menaik turunkan alisnya dengan jahil.
Xavier yang terlihat sudah menebak pertanyaan kakaknya itu. "Namanya Lyko. Kalau soal cantik... aku tidak tahu standar cantik orang-orang, tapi menurutku... dia lumayan."
Nacyla langsung menutup mulutnya menahan tawa. "Kalau adikku bilang 'lumayan'... berarti dia pasti cantik."
Xavier tidak menanggapi namun ia menaikkan satu alisnya.
Nacyla kembali bertanya. "Kalau sifatnya? Bagaimana?"
Xavier terlihat berpikir lebih lama. "Dia gadis yang introvert, lemah lembut, dan... menurutku dia juga mudah salah tingkah."
Nacyla terlihat langsung terdiam dan mengedipkan mantannya beberapa kali. "He? Kamu... memilih gadis seperti itu?"
Xavier mengangguk.
Nacyla masih terlihat sulit percaya. "Padahal... kamu bergaul saja jarang. Bagaimana ceritanya kamu bisa mendapatkan gadis seperti itu?"
Xavier hanya mengangkat bahu. "Ceritanya panjang, nanti kalau kau sudah datang... akan kuceritakan."
Nacyla langsung mengerucutkan bibir. "Pelit sekali, masa sedikit saja tidak boleh?"
Xavier menggeleng. “Tidak, lagipula aku malas kalau bercerita sekerang.”
Nacyla akhirnya menghela napas pasrah. "Baiklah, baiklah... tapi kamu janji, nanti saat aku datang... kau harus cerita semuanya, nanti kau justru sibuk bermesraan dengan istrimu.”
Sudut bibir Xavier bergerak tipis. "Kau ini memang aneh, aku tidak pernah bermesraan di depan keluarga."
Lalu entah mengapa wajah Xavier kembali berubah datar. Ia menatap kosong ke arah luar jendela. "Mungkin... pernah. Tapi aku tidak ingin mengingatnya lagi."
Nacyla langsung memahami maksud kalimat itu. Ia tersenyum kecil. "Sudahlah yang terpenting sekarang... semoga semuanya berjalan sesuai rencana,” kata Kak Nacyla.
"Kakak ingin melihatmu akhirnya dapat bahagia, maaf ya... selama perjalananmu sampai di titik ini... kakak tidak pernah selalu ada di sisimu,” lanjut Kak Nacyla.
Xavier menggeleng pelan. "Tidak apa-apa tidak perlu meminta maaf Kak,” katanya. "Lalu bagaimana dengan bisnismu? Lancar?"
Nacyla yang sedang membuka minuman kaleng langsung mengangguk. "Tentu saja, bahkan teman-teman satu grupku tidak tahu soal bisnis itu."
Xavier hanya mengangguk.
Lalu Nacyla tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya kamu tahu tidak?” katanya.
Xavier menaikkan satu alisnya. “Tahu apa?”
"Ada hal aneh tahu akhir-akhir ini,” ucap Kak Nacyla sambil menatap adiknya dilayar.
"Apa?"
Nacyla membuka cup ramyeonnya sambil berbicara. "Beberapa hari lalu... ada seorang polisi datang ke tempatku disana, dia membeli banyak sekali pistol... aku tidak tahu untuk apa.”
"Padahal daerah disana bukannya hampir tidak pernah ada kasus besar ya? Lagipula polisi juga tidak akan sampai bertindak kekerasan. Bagimu bagaimana?”
Xavier langsung mengernyit. "Seorang polisi membeli banyak senjata..." gumamnya pelan. "Itu tidak biasa."
Nacyla mengangguk. “Benar kan? Itulah yang kupikirkan."
Xavier kembali bertanya. "Kau tahu siapa orang itu?"
Nacyla menggeleng. "Tidak, tapi kata anak buahku, dia datang sendirian. Wajahnya tertutup topi, dan setelah transaksi selesai dia langsung pergi."
Xavier menundukkan kepalanya. Jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan meja. Tatapannya perlahan berubah tajam.
Seorang polisi yang diam-diam membeli banyak senjata tanpa identitas yang jelas.
Insting Xavier mengatakan. Ada sesuatu yang sedang bergerak di balik layar. Dan entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa kejadian itu mungkin bukan sekadar kebetulan.