Deva, seorang gadis petakilan yang menjadi anggota bodyguard di salah satu perusahaan ternama. Meski tingkahnya sering kali membuat rekannya pusing, namun kinerja Deva tak bisa di ragukan. Pada suatu malam, Deva yang baru selesai bertugas membeli novel best seller yang sudah dia incar sejak lama.
Ketika dia sedang membaca bagian prolog sambil berjalan menuju apartemennya, sebuah peluru melesat tepat mengenai belakang kepalanya dan membuatnya tewas.
Hingga sebuah keajaiban terjadi, Deva membuka mata dan mendapati dirinya menjadi salah satu tokoh antagonis yang akan meninggal di tangan tunangannya sendiri. Akankah kali ini Deva berhasil mengubah takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Siang telah berganti malam, di tengah malam yang gelap di sebuah ruang bawah tanah yang di penuhi asap rokok dan aroma alkohol, pemimpin mafia dunia bawah, Raka Agnesia duduk di kursi besar dengan tatapan tajam.
Di sekelilingnya, para bawahannya berbisik merasakan ketegangan yang menyelimuti ruangan. Sebuah berita buruk baru saja sampai ke telinganya satu menit yang lalu.
"Tuan muda Haikal... dia terluka parah di kampusnya, dan... dan saat ini tuan muda sudah berada di rumah sakit."
Salah satu bawahannya, Arif, memberanikan diri melaporkan keadaan Haikal meski dengan nada suara yang bergetar. Tidak ada yang tahu persis latar belakang pemuda bernama Haikal itu, karena sejak awal pemuda itu menutupi identitasnya.
Raka menatapnya dengan mata yang menyala marah, "Apa yang kamu katakan? terluka? kenapa ini bisa terjadi!"
Arif mencoba menjelaskan, "Kami... kami sudah mengawasinya sesuai instruksi Anda, tapi ada orang yang tidak di kenal... Dia menyerang tanpa peringatan."
"Tanpa peringatan?" Raka berdiri, ia menendang meja hingga bergetar. "Kamu bilang kamu bisa melindunginya! dia adalah keponakanku! dia tidak seharusnya berada dalam bahaya! bagaimana kalian bisa bodoh begini hah?" bentak Raka, amarahnya menguar tanpa bisa di cegah.
Suasana semakin tegang. Semua orang di ruangan itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Raka melangkah mendekati Arif, wajahnya memerah oleh kemarahan.
"Maafkan saya, Tuan. Kami sudah berupaya sebaik mungkin, tapi kami gagal melindungi Tuan muda."
"Siapa yang kamu sebut melindunginya? kamu? atau timmu yang payah itu?"
Raka berteriak, suaranya menggema di dinding ruangan. "Kamu telah mengecewakan aku!"
Dengan satu gerakan cepat, Raka melayangkan tinjunya ke wajah Arif. Suara benturan itu membuat semua bawahannya terkejut.
Arif terjatuh, darah mengalir dari sudut bibirnya, namun ia tetap berusaha berdiri.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak... tidak bisa memprediksi serangan itu," Arif terengah, berusaha menjelaskan.
Raka tidak peduli. "Tidak ada alasan! dia adalah harapan kita! Kakakku menitipkan putranya padaku sampai dia bisa memimpin organisasi ini, dan sekarang dia terluka karena kebodohan kalian semua! jika sesuatu terjadi padanya, aku akan pastikan semua orang yang terlibat merasakan akibatnya!"
Dia berbalik, mengamati para bawahannya dengan tatapan penuh kebencian.
"Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? siapa yang seharusnya mengawasinya? aku ingin nama-nama mereka berada di atas mejaku, sekarang!" sentak Raka tak terbantahkan.
Ruang itu sunyi sejenak, semua orang terdiam, menahan napas. Raka kembali menatap Arif, rasa marahnya belum juga reda.
"Bawa aku ke tempat kejadian. Kita harus memastikan ini tidak akan terjadi lagi. Dan jika Haikal terluka lebih parah... kamu tahu apa yang akan terjadi padamu, kan!"
Arif mengangguk, rasa takut menyelimuti wajahnya. "Baik, Tuan. Besok kami akan segera berangkat."
Raka menghela napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan amarahnya. "Bagus, kita akan menunjukkan kepada mereka bahwa keluarga kita tidak bisa di rusak begitu saja."
Dengan langkah mantap, Raka kembali duduk di kursinya ia menunggu asisten kepercayaannya membawakan nama-nama bodyguard yang bertugas mengawasi Haikal.
Beberapa saat kemudian, asistennya muncul dengan memegang kertas yang di minta oleh Raka.
"Apa lima orang ini yang kamu tugaskan untuk menjaga keponakanku?" Raka menggeram, suaranya terdengar serak dan menggema di ruangan itu.
Arif, yang berdiri di sampingnya, menelan ludah. "Ya, Tuan. Mereka adalah tim terbaik yang kita miliki."
" Tim terbaik?" Raka berdiri dengan gerakan cepat, melempar daftar itu ke lantai. "Mereka tidak lebih dari sekumpulan pengecut! jika Haikal terluka, itu semua karena keteledoran mereka!"
" Maafkan saya, Tuan. Kami akan..." Arif mencoba membela diri, tetapi Raka sudah tidak ingin mendengar alasan.
"Tidak ada alasan! aku ingin mereka di bawa ke ruang bawah tanah, sekarang!" Raka melotot, suaranya seperti guntur yang menggelegar. "Bawa kelima bodyguard itu ke dalam ruangan eksekusi. Mereka harus menerima hukuman atas kegagalan mereka."
Arif mengangguk, meski wajahnya tampak pucat. "Baik, Tuan. Saya akan segera memanggil mereka."
Raka berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju ruang bawah tanah, setibanya di sana ia mondar-mandir, menunggu dengan sabar namun penuh amarah.
Setiap langkahnya menciptakan ketegangan di dalam ruangan itu. Ia membayangkan wajah Haikal yang terluka dan itu membuatnya semakin marah.
Tak lama kemudian, kelima bodyguard di bawa masuk, wajah mereka terlihat tegang dan ketakutan. Mereka tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya di sana.
"Jadi, kalian ini yang di tugaskan menjaga keponakanku?"
Raka memandang mereka dengan tatapan tajam, suaranya dingin dan penuh ancaman. "Apa kalian tidak merasa malu? kalian gagal melindungi dia!"
Salah satu bodyguard, Andi, berani maju sedikit. "Tuan, kami tidak bisa memprediksi serangan itu. Kami..."
"Diam!" Raka memotong, langkahnya semakin mendekat.
"Kamu tidak layak untuk berbicara. Kalian seharusnya melindungi dia dengan nyawa kalian sendiri! jika Haikal terluka lebih parah, itu akan menjadi kesalahan kalian sampai mati!"
Kedua tangan Raka mengepal, dan ia merasakan dorongan untuk menghukum mereka secara fisik.
"Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Kalian harus merasakan akibat dari keteledoran kalian."
Arif berusaha menengahi, "Tuan, mungkin kita bisa memberi mereka kesempatan untuk menjelaskan..."
" Kesempatan? kesempatan apa?" Raka berteriak, suaranya menggema.
" Mereka tidak pantas mendapatkannya! bawa mereka ke ruang eksekusi sekarang. Aku ingin mereka merasakan ketakutan yang sama seperti yang di rasakan Haikal saat di serang!"
Dengan ketegangan yang memuncak, kelima bodyguard saling berpandangan, menyadari bahwa nasib mereka kini berada di tangan Raka yang kejam.
gk sadar diri👎
siapa yg nyerang dev dikamar?
koq gk dibahas🤔🤧
agak membingungkan
alur'a suka, tp ada yg gk nyambung gini bikin agak males lanjut
eh, itu org yg nyerang dev dikamar apa sdh diselidiki siapa dia? 🤔🤔🤔