Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Oh my god, ini seriusan kan?" seru Yohana saat mendapatkan sebuah undangan dari Binar.
Binar mengangguk, "Serius lah, kan udah kamu pegang sendiri undangannya"
Yohana menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menyangka kau benar - benar akan menikah"
Yohana mengacak pinggang menatap Binar, "Kamu inu baru masuk kerja setelah cuti sakit, eh pas masuk malah nganterin undangan nikahan. Gila sih"
Rutuk Yohana.
Binar terkekeh, "Yah mau gimana lagi, udah ketemu jodohnya" sahut Binar.
Yohana kembali duduk di samping Binar lalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau sedang tidak hamil kan?" tanyanya dengan mimik serius.
Binar hampir saja meluapkan tawanya jika saja tidak ditahan oleh Yohana.
"Kamu ini ngomong apa sih, ya enggak lah"
"Aneh saja, tiba - tiba kalian akan menikah. Apalagi Fakta jika kalian selama ini tinggal satu atap semakin menguatkan" ucap Yohana lirih.
Binar mencubit perut Yohana, "Aku tidak hanya tinggal berdua sama Angkasa yo, ada mbok Sri dan suaminya. Lagi pula kami tidur di kamar yang berbeda. Aku tidak mungkin berbuat seperti itu."
Yohana terkekeh, "Iya …. Iya aku percaya kok, hmmm cuman mau mastiin aja hehehe"
Binar berdecak, "Kamu ini, gimana kalau ada yang denger trus jadi gosip?"
Yohana mengibaskan tangannya, "Netizen mah gak perlu dipikirin, toh kalau gosip orang juga bakal tau ya gak" ucapnya santai.
"Belum ngerasa sih digosipin" seru Binar dan Yohana langsung membesarkan matanya.
"Udah ah, ngomong - ngomong apa aja yang udah aku lewati di kantor"
Yohana menghela nafas, "Banyak, kau tau tugasmu sudah menumpuk di meja dan bersiap untuk rekap akhir bulan"
***
Hadrian menatap layar komputernya, deretan huruf yang terpampang di sana tak satupun yang masuk ke otaknya.
Pikirannya melayang, memikirkan kehidupan yang dijalaninya hampir lebih dari dua puluh tahun ini. Kehidupan yang tak pernah terpikirkan olehnya, bagaimana dia harus beradaptasi dengan dunia bar hingga keluarga baru.
Hadrian kecil dulu tak pernah memikirkan jika kehidupannya akan begitu rumit dan penuh konflik seperti saat ini. Dia hanya menginginkan kehidupan biasa yang tenang bersama kedua orang tuanya tak lebih, dia tidak pernah menginginkan kehidupan glamor penuh uang ataupun kedudukan yang tinggi.
Tapi sekarang dirinya dituntut untuk semua itu, hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat satu tahun setelah kematian ayahnya. Sejak saat itu, saat ibunya menikah lagi dengan seorang konglomerat bernama Burhan Baskoro yang juga baru saja kehilangan istrinya satu tahun.
Hadrian tersenyum kecut, "Bahkan aku tak pernah berniat sedikitpun untuk berada di posisi atas, menginjakkan kakiku di perusahaan ini pun tak pernah terlintas di otakku. Dan sekarang semua orang menatapku seakan - akan aku adalah penjahat sesungguhnya." gumamnya lirih.
Akhir - akhir ini selalu diselenggarakan rapat antar pemilik saham membahas tentang susunan kepemimpinan perusahaan yang menurut mereka mulai kacau.
Darahnya yang sama sekali tidak terhubung dengan keluarga Baskoro menjadi masalah utama, hingga rumor yang menyebutkan jika dirinya memang berambisi menguasai perusahaan dan mengambil alih seluruh tatanan keluarga Baskoro. Sementara Angkasa, kandidat yang paling diidamkan oleh mereka tak sedikitpun menunjukkan minat di perusahaan dan memilih berkarir di dunia penerbangan membuat mereka semakin resah. Rapat diadakan untuk mendesak Burhan Baskoro ayah tirinya agar segera membuat langkah tepat dengan mengumumkan pemimpin yang baru untuk menggantikannya mengingat kesehatannya yang semakin memburuk.
Hadrian menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menghela nafas dalam lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jika bukan karena ibuku aku juga tidak akan bertahan di sini" gumamnya.
***
"Minggu ini?" tanya Jack setelah.membaca undangan yang diberikan Angkasa.
Angkasa mengangguk dan meminum Red punchnya, "Sudah tertera disana kan?" ucapnya menunjuk undangan berwarna kuning emas itu.
"Wah aku hampir tidak percaya, ternyata kau akan menikah juga"
"Kau pikir aku apa, aku juga butuh pendamping" ucap Angkasa.
Jack mengangguk, "Jadi kau memintaku untuk mengantarkan undangan ini pada Tamara"
"Titip, kau kan dekat dengannya"
Jack memutar bola matanya, "Kau juga, bahkan sangat dekat mungkin ibarat perangko. Nempel terus" sela Jack.
Angkasa mengangkat bahunya, "Itu kan dulu, intinya aku titip itu dan berikan pada dia nanti"
"Kenapa tidak berikan secara langsung?"
"Malas" jawab Angkasa singkat.
"Mending gak usah diundang sekalian kalau gitu" gumam Jack.
"Jadi kamu gak mau dititipin ini?"
Jack tersenyum lebar, "Mau, akan ku berikan nanti"
Angkasa mengangguk, "Terima kasih"
Jack pun menghela nafas lega.
"Hmmm ngomong - ngomong Binar itu seperti apa?maksudku kepribadiannya sampai kamu berniat menikahinya" tanya Jack.
Angkasa melirik Jack sekilas lalu menghela nafas pelan, "Dia itu… murni, segala hal dalam.dirinya membuatku tertarik" jawab Angkasa.
"Hanya itu? Maksudku tidak ada yang lebih spesifik. Misalnya tidak pernah marah atau sangat penurut"
Angkasa terkekeh, "Tidak ada, aku tidak akan menikahi orang hanya karena dia penurut atau tidak pernah marah. Aku menikahi orang yang bisa menemaniku sampai akhir usia tidak peduli dia sering marah ataupun bukan penurut selama dia selalu disampingku dan mau untuk terus bersamaku dalam susah dan senang itu cukup" jelasnya.
Jack menggelengkan kepalanya,"Ternyata kau ini bijaksana sekali" ucapnya lirih.
Tbc.
Sebel deh lihat nya