Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Xin Lan mulai menggeliat, namun tubuhnya terasa bagai terpaku di ranjang . Setiap ototnya seolah menolak untuk digerakkan, mengirimkan sengatan nyeri yang menusuk. Matanya mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya remang yang menyusup melalui celah jendela. Bau obat herbal yang pahit menusuk indranya, bercampur dengan aroma debu dan kelembapan yang khas dari ruangan itu.
Yu Zhang, yang baru saja tiba, segera menghampiri Xin Lan begitu menyadari gadis itu siuman. Pemuda yang terkenal dingin tanpa ekspresi itu dengan cekatan membantu Xin Lan memposisikan tubuh gadis itu agar nyaman. Sentuhan tangannya yang besar dan hangat terasa begitu kontras dengan tatapan matanya yang sedingin es.
"Kau sudah sadar rupanya," ucap Yu Zhang, suaranya datar namun tersirat nada lega yang tersembunyi.
Xin Lan mencoba menoleh ke arah Yu Zhang, namun kepalanya terasa begitu berat. "Di... di mana aku?" lirihnya dengan suara serak.
Yu Zhang menyesuaikan letak bantal di belakang kepala Xin Lan. "Kau berada di Paviliun Obat. Astaga! Hei! Jangan terlalu banyak bergerak, kau memang tidak tahu konsep rasa sakit, ya?" oceh Yu Zhang saat melihat gadis itu memaksakan diri untuk bergerak.
Namun, Xin Lan sepertinya tidak mempedulikan ocehan Yu Zhang. Ia mengerutkan kening, berusaha keras mengingat sesuatu. Paviliun Obat? Bukankah seharusnya ia berada di dalam kabut? Mengapa ia bisa sampai di sini?
"Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa berada di sini?" Xin Lan berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran, namun yang ada hanyalah kabut tebal yang menyesakkan.
Yu Zhang menjawab dengan santai sambil mencoba mengganti perban yang membalut luka gadis itu. "Kau terluka parah saat berduel dengan Penatua Feng Tian," akhirnya ucapnya singkat. "Ketua Sekte menyuruhku untuk membawamu kemari."
Xin Lan menghela napas tenang. "Rupanya begitu, ya," ucapnya pelan.
"Ah... itu, tentang Penatua....." Pertanyaan Yu Zhang menggantung di udara, tak berani ia teruskan.
Xin Lan mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Setelah merasa cukup baik , Kau diminta menghadap Ketua Sekte," ucap Yu Zhang.
Xin Lan terdiam sejenak, hatinya berdebar tak karuan. "Begitu ya...., Terimakasih sudah memberitahu ku."
"Aku akan membantumu menghantarkan mu kesana, tapi untuk sementara ini, kau beristirahatlah. Kau masih lemah," ujar Yu Zhang, berusaha mengalihkan perhatian Xin Lan dari pikirannya yang berkecamuk. "A...aku membuatkanmu sup herbal, ini cobalah."
Yu Zhang menyodorkan perlahan sesendok sup ke Xin Lan. Tangannya yang besar dan kasar terlihat sedikit gemetar, seolah ia tidak terbiasa melakukan hal semacam ini.
Deg!
Deg!
Xin Lan terdiam sejenak melihat tingkah Yu Zhang yang tidak pernah ia lihat. Pemuda dingin dan tanpa ekspresi ini tiba-tiba berubah menjadi begitu perhatian dan canggung. Ada perasaan hangat yang menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Deg!
Deg!
Dengan ragu, Xin Lan membuka mulutnya dan menerima suapan dari Yu Zhang. Ekspresi Xin Lan meringis saat merasakan pahitnya obat.
"Pahit?" tanya Yu Zhang, khawatir.
Xin Lan mengangguk lemah. "Sangat."
Yu Zhang tersenyum tipis. "Minumlah, agar kau cepat sembuh."
Xin Lan kembali membuka mulutnya dan menghabiskan sup herbal itu hingga tetes terakhir. Setelah selesai, ia menghela napas lega. Tubuhnya terasa sedikit lebih segar.
"Terima kasih," ucap Xin Lan tulus.
Yu Zhang mengangguk singkat.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Xin Lan menatap langit-langit Paviliun Obat, pikirannya melayang jauh ke desa Luoyang. Ia teringat akan keluarga Yun.
"Yu Zhang," panggil Xin Lan pelan.
"Ya?"
"Aku rindu Keluarga Yun," ucap Xin Lan lirih. "Seperti apa ya kira-kira keadaan mereka di sana?"
Yu Zhang terdiam sejenak. Ia tahu betapa Xin Lan sangat menyayangi keluarga Yun.
"Aku juga," lanjut Yu Zhang dengan Reflek mengelap bibir gadis itu yang sedikit belepotan bubur. Yu zhang yang tersadar dengan apa yang ia lakukan, hal itu membuat pipi yu zhang sedikit merona.
Yu Zhang menatap Xin Lan dengan tatapan lembut. Ia mengerti betul perasaan gadis itu. Ia juga merindukan rumahnya sendiri, meskipun ia tidak pernah mengungkapkannya.
"Tenang saja," ucap Yu Zhang, berusaha menghibur Xin Lan. "Setelah semua ini selesai, setelah kerja sama kita berhasil, kita akan pergi ke desa Luoyang. Kita akan mengunjungi keluarga Yun."
Xin Lan tersenyum mendengar ucapan Yu Zhang. Senyuman Gadis itu membuat Yu Zhang tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat gadis itu tersenyum bebas. Wajahnya yang biasanya dingin tanpa ekspresi kini terlihat lebih manis. Jantung Yu Zhang berdegup kencang, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
"Oh ya, bagaimana perkembangan penyelidikanmu tentang pergerakan Permaisuri Ning?" tanya Xin Lan, mengalihkan perhatian Yu Zhang.
Xin Lan mengerutkan keningnya melihat Yu Zhang yang tampak linglung. "Yu Zhang? Xiao Zhang?" Panggilan Xin Lan membuat Yu Zhang tersadar dari lamunannya.
"Ah... Heem.., Ma..maafkan aku, heem.., kita akan berada di sekte ini selama tiga tahun," jawab Yu Zhang.
"Pergerakan Permaisuri Ning sangat sulit dideteksi saat ini," jelas Yu Zhang. "Kita membutuhkan waktu untuk mengumpulkan informasi dan menyusun rencana yang matang."
"Ah, begitu rupanya."
"Sudahlah! Selain itu, bukankah ini kesempatan yang bagus untuk meningkatkan kekuatan kita?" ucap Xin Lan dengan semangat.
Apa yang dikatakan Xin Lan benar. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum menghadapi musuh yang sangat kuat.
"Kau benar," ucap Yu Zhang, mengangguk setuju. "Kita akan berlatih bersama, saling membantu, dan saling melindungi. Kita akan menjadi tim yang tak terkalahkan."
Mata Xin Lan berbinar mendengar ucapan Yu Zhang. Ia merasa lebih termotivasi untuk berlatih dan menjadi lebih kuat.
"Aku tidak sabar untuk melihat seberapa kuat kita bisa menjadi," ucap Xin Lan dengan senyum penuh semangat.
Yu Zhang tersenyum tipis melihat semangat Xin Lan. Ia merasa bangga memiliki rekan seperti Xin Lan.
"Tapi sebelum itu, kau harus benar-benar pulih," ucap Yu Zhang. "Jangan sampai kau memaksakan diri."
Xin Lan mengangguk patuh. "Baiklah, aku akan istirahat dengan baik."
Yu Zhang mengangguk puas. Ia kemudian berdiri dan merapikan peralatan makan.
"Aku akan pergi sekarang," ucap Yu Zhang. "Jika ada sesuatu, panggil saja aku."
"Baik," jawab Xin Lan.
Yu Zhang berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Xin Lan dan berkata, "Selamat beristirahat."
Setelah Yu Zhang pergi, Xin Lan kembali berbaring di ranjang. Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Namun, pikirannya terus melayang pada Yu Zhang.
Ia tidak bisa mengerti mengapa Yu Zhang tiba-tiba menjadi begitu perhatian padanya. Apakah Yu Zhang menyukainya? Pikiran itu membuat jantung Xin Lan berdegup kencang.
Xin Lan menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Ia tidak boleh terbawa perasaan. Ia dan Yu Zhang hanya rekan kerja. Tidak lebih dari itu.
Namun, semakin ia mencoba untuk melupakan Yu Zhang, Xin Lan merasa akan ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
...
Yu Zhang berjalan menuju dapur untuk mengembalikan nampan berisi mangkuk sisa sup herbal yang tadi ia berikan pada Xin Lan. Pikirannya masih melayang pada Senyuman Xin Lan.
Langkah Yu Zhang menjadi tidak terarah. Ia tidak fokus pada jalan yang ada di depannya. Hingga tanpa disadari, kakinya tersandung batu kecil yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Yu Zhang hampir terjatuh, nampan di tangannya terlepas dan nyaris menghantam lantai.
"Awas, Tuan Muda!"
Dua sosok pengawal tiba-tiba muncul dari balik pilar, menangkap nampan yang melayang di udara dan membantu Yu Zhang berdiri tegak. Mereka adalah pengawal setia Yu Zhang yang selalu siaga mengawalnya ke mana pun ia pergi.
"Tuan Muda tidak apa-apa?" tanya salah seorang pengawal dengan nada khawatir.
Yu Zhang terdiam. Ia masih terpaku pada kejadian beberapa saat lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena hampir terjatuh, melainkan karena Senyuman Xin Lan yang terus terbayang di benaknya.
"Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" tanya pengawal yang lain, memastikan.
Yu Zhang tersadar dari lamunannya. Ia berdeham pelan, berusaha menutupi kegugupannya. "Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat.
"Tapi, Tuan Muda, tadi Anda hampir terjatuh," sanggah pengawal pertama. "Apa yang sedang Anda pikirkan?"
Yu Zhang kembali terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan pada para pengawalnya bahwa ia sedang memikirkan senyuman seorang gadis. Itu akan sangat memalukan.
"Heem...Bagaimana pergerakan Permaisuri?" tanya Yu Zhang, mengalihkan pembicaraan.
Kedua pengawal itu saling bertukar pandang. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Tuan Muda mereka. Biasanya, Yu Zhang selalu tenang dan fokus pada tugasnya. Tapi kali ini, ia tampak linglung dan gelisah.
"Pergerakan Permaisuri masih sulit diprediksi, Tuan Muda," jawab salah seorang pengawal. "Kami masih terus mengumpulkan informasi."
Yu Zhang mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk fokus pada laporan para pengawalnya, tapi pikirannya tetap saja melayang pada Xin Lan.
Salah seorang pengawal menyadari sesuatu yang aneh pada diri Yu Zhang. Telinga Tuan Mudanya itu tampak memerah. Ia saling pandang dengan rekannya, lalu berdeham pelan.
"Tuan Muda, apa, Tuan Muda sedang sakit? Telinga Anda tampak memerah."ucap pengawal itu hati-hati
Yu Zhang terkejut mendengar pertanyaan pengawalnya. Ia segera menyentuh telinganya dan merasakan panas yang menjalar di sana. Ia semakin gugup dan salah tingkah.
"Tidak, aku tidak sakit," jawab Yu Zhang cepat. "Aku hanya sedikit lelah."
"Kalau begitu, sebaiknya Tuan Muda beristirahat," saran pengawal yang lain. "Kami akan terus memantau pergerakan Permaisuri."
Yu Zhang mengangguk setuju. Ia merasa tidak mungkin melanjutkan pembicaraan dengan para pengawalnya dalam kondisi seperti ini.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku," ucap Yu Zhang. "Laporkan padaku jika ada perkembangan terbaru."
Kedua pengawal itu membungkuk hormat. "Siap, Tuan Muda."
Yu Zhang berbalik dan berjalan meninggalkan dapur. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menjauh dari para pengawalnya secepat mungkin. Ia merasa malu dan tidak tahu harus berbuat apa.
Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Yu Zhang terus memegangi telinganya yang terasa semakin panas. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bersikap seperti ini. Ia adalah seorang pemuda yang dingin dan tanpa ekspresi. Tapi mengapa hanya karena senyuman seorang gadis, ia bisa kehilangan kendali atas dirinya sendiri?
Yu Zhang menghela napas panjang. Ia tahu bahwa ia harus segera mengendalikan perasaannya. Ia tidak boleh membiarkan perasaannya mengganggu tugasnya. Ia harus tetap fokus pada tujuan utamanya, yaitu mengungkap kejahatan Permaisuri Ning dan melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Yu Zhang mengakui bahwa ia tidak bisa berhenti memikirkan Xin Lan. Gadis itu telah berhasil mencuri perhatiannya, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
...
Qiong Xiao duduk bersandar di pilar batu dekat kamarnya, kedua tangannya terlipat di depan dada. Angin sore yang berhembus dari arah lembah tidak mampu mendinginkan hatinya yang tengah membara. Kejadian di arena beberapa jam lalu terus berputar di benaknya, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang.
Matanya menyipit, mengingat dengan jelas bagaimana Yu Zhang, kakak seperguruan yang sangat ia kagumi, dengan sigap menggendong seorang gadis. Gadis bernama Xin Lan, seperti yang ia dengar dari bisik-bisik para murid lain. Qiong Xiao tidak bisa melihat jelas wajah gadis itu karena posisinya yang berada di kursi paling atas arena, namun ia bisa merasakan aura kelembutan dan keanggunan yang terpancar dari sosok tersebut.
"Xin Lan..." desisnya pelan, nama itu terasa pahit di lidahnya. Cemburu? Tentu saja. Sejak kecil, Yu Zhang selalu menjadi sosok pelindung baginya. Mereka berlatih bersama, makan bersama, bahkan tidur pun seringkali di ruangan yang sama saat mereka masih kecil. Qiong Xiao selalu merasa memiliki tempat istimewa di hati Yu Zhang, namun kehadiran Xin Lan seolah mengancam posisinya.
"Apakah aku sudah berada di tahap akhir akan kehilangan senior yu zhang selamanya?!"
"Kudengar gadis bernama Xin Lan itu bahkan dapat melewati Gerbang Lembah Tongtian dan mengalahkan tetua Jiang dan Senior Tian yi di hari pertamanya masuk sekte, Dilihat dari pertarungan nya melawan Penatua, dia pasti termasuk dalam jajaran petarung terhebat sekte."Gumam Qiong Xiao panik.
Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya.
"Tapi, Aku tidak bisa menyerahkan senior yu zhang begitu saja! "Mendengus kesal ." Bagaimanapun juga ,Akulah adik kesayangannya senior yu zhang Dan aku juga yang sudah bertahun tahun yang menemani senior! Jika suatu saat si Xin Lan itu melabrak ku dan membahas kedudukan di dalam hati senior yu zhang, Aku juga belum tentu kalah dari dia, Kan?" Gerutunya kesal.
Tiba-tiba, Qiong Xiao teringat sesuatu, beberapa hari yang lalu setelah pertandingan di arena, ia melihat Yu zhang keluar dari Aula utama. dan tidak sengaja menguping pembicaraan seniornya dengan tetua, Tetua itu meminta yu zhang untuk membawa Xin lan pergi ke Aula Utama setelah Xin Lan sembuh untuk menghadiri rapat penting dengan para tetua sekte.
"Aku harus pergi ke sana," gumamnya, matanya memancarkan tekad yang kuat. "Aku tidak membiarkan si Xin Lan itu merebut hati kakak yu zhang ku!."
Tanpa membuang waktu, Qiong Xiao bangkit dari tempat duduknya dan berjalan cepat menuju Aula Utama. Ia terlihat tidak ingin terlambat dan kehilangan kesempatan.
...
lanjut thor