NovelToon NovelToon
Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Permainan Kematian / Percintaan Konglomerat / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rijal Nisa

Ardian, seorang pengusaha muda yang tampan dan mapan. Ia memiliki seorang kekasih yang bernama Karina, kisah cinta mereka cukup rumit karena adanya orang ketiga. Belum lagi kehadiran orang ketiga yang memiliki tujuan untuk menghancurkan keluarga Ardian. Semuanya perlahan terungkap saat Vino datang, lelaki yang tak lain adalah kakak dari kekasihnya, Karina. Tidak hanya Ardian, Karina ternyata juga memiliki sebuah rahasia besar tentang keluarganya. Setelah hubungannya mengalami kerenggangan dengan Karina, Ardian pun mencoba memperbaiki hubungan itu. Mampukah Ardian merebut kembali hati Karina yang sudah terlanjur dibuat terluka oleh sikapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rania Adalah Emilia

"Rania," gumam Karina dengan ekspresi kaget di wajahnya.

"Kamu kenal dia?" tanya Ardian.

Ardian menaruh kembali makan siangnya saat Rania datang.

"Iya, dia karyawan baru kan?"

"Permisi, Pak." Rania masuk, dia tersenyum ramah dengan pandangan sedikit menunduk. "Ini beberapa berkas tentang proyek yang akan kita kerjakan," ucap Rania seraya menaruh berkas-berkas itu.

Gadis itu, Emilia—yang kini menyandang nama Rania, dia mulai memperkenalkan siapa dirinya, dan apa statusnya di sana.

"Maaf mengganggu waktu makan siang Anda, Pak Ardian," ucap Rania dengan suara yang jernih dan terkontrol, nyaris tanpa ada kegugupan. "Saya Rania, sekretaris baru Anda."

Ardian dan Karina bertukar pandang, kebingungan tergambar jelas di wajah mereka.

Ardian mengerutkan kening, tidak ingat pernah mendengar tentang penunjukan sekretaris baru.

"Sekretaris baru?" tanya Ardian, ada nada terkejut dalam ucapannya.

Rania mengangguk tipis. "Ya, Pak. Saya ditugaskan langsung oleh pak Seno. Beliau meminta saya segera menyerahkan berkas-berkas ini," katanya seraya menunjuk berkas-berkas yang baru saja ia letakkan di atas meja kerja Ardian. "Tentang proyek pembangunan gedung baru yang akan segera Anda kelola," lanjutnya kemudian.

Mata Rania sejenak melirik ke arah Karina, sebuah pandangan sekilas yang tajam, sebelum kembali tertuju pada Ardian.

Senyumnya semakin tipis, nyaris tak terlihat, namun bagi Karina, kehadiran Rania di sana terasa seperti hembusan angin dingin yang tiba-tiba menyusup ke dalam kehangatan ruangan, mengancam untuk meruntuhkan momen kebersamaan mereka yang baru saja dimulai.

Ardian, di sisi lain, masih mencoba mencerna informasi mendadak ini, tak menyadari bahwa badai telah merasuk dalam hubungan mereka lagi.

"Benar, kamu sekretaris yang ditunjuk pak Seno untuk menemani Ardian dalam pembangunan proyek ini?" tanya Karina.

Dia masih tidak percaya dengan Rania, tidak mungkin pak Seno menunjuk sembarang orang untuk menjadi sekretaris Ardian.

"Benar, Bu. Kalau masih kurang yakin, Ibu bisa tanyakan langsung sama pak Seno," jawab Rania tenang.

Karina melirik Ardian lagi, dan Ardian hanya mengangguk pelan. Lalu, dia memberi isyarat kepada Rania untuk segera pergi dari sana, karena dia sedang tidak ingin diganggu.

Rania memutar tubuhnya, langkahnya kini tak lagi tergesa, melainkan penuh perhitungan.

Dendam, yang dulu hanya berupa bara kecil di dasar hatinya, kini telah menjelma menjadi api yang berkobar, membakar setiap sel dalam dirinya.

"Kebahagiaanku juga sudah kalian rebut semuanya," bisiknya, suaranya nyaris tanpa emosi, namun sarat akan kepahitan yang mendalam. "Tidak cukup membuat ibuku dan aku hancur, sekarang malah berusaha memisahkan aku dari ibuku sendiri."

Senyum sinis merekah di bibirnya yang tipis. Senyum itu tak menampilkan kehangatan, justru mengukir garis-garis dingin di wajahnya yang kini tampak sempurna.

Di balik topeng ketenangan itu, otaknya merangkai rencana-rencana rumit, menyusun strategi untuk membalas setiap tetes air mata dan setiap luka yang ia rasakan.

Ardian dan Karina mungkin tidak tahu, bahwa musuh yang mereka ciptakan di masa lalu, kini telah bangkit dari abu, lebih kuat dan jauh lebih berbahaya. Emilia akan memastikan, kebahagiaan mereka akan menjadi target utamanya.

"Ar, kenapa papa nyariin kamu sekretaris baru? Dan kenapa harus cewek?"

"Aku juga bingung, Kar. Papa kadang suka seperti itu, bertindak tanpa meminta persetujuan dari aku dulu. Proyek ini terlalu rumit dan harus diselesaikan dalam waktu singkat, mungkin inilah sebabnya papa jadiin dia sekretaris baru buat aku."

Karina tetap saja tidak setuju dengan keputusan calon mertuanya itu, meski sudah baikan dengan Ardian. Namun, kejadian pahit di masa lalu masih saja belum bisa ia lupakan sepenuhnya.

"Aku enggak peduli siapa pun orang yang dipilih papa, tapi... kenapa harus dia?"

"Nanti aku bicarakan hal ini sama papa," ucap Ardian, "ayolah, jangan cemberut gitu! Kita makan dulu ya, aku sudah laper dari tadi." Ardian menenangkan sambil membelai lembut pipi Karina.

Karina berusaha tersenyum meski hatinya diliputi kegelisahan saat itu.

Matanya tak luput dari pintu ruangan Ardian, sosok Rania mampu mengacaukan isi pikirannya.

Selesai makan siang dengan durasi yang cukup singkat itu, Karina masih setia menunggu di sisi Ardian.

Ia ingin pulang bersama Ardian, dia akan menunggu sampai pekerjaan Ardian selesai.

Apa yang pernah terjadi di masa lalu, tak akan pernah dia biarkan terulang lagi.

"Rania, jangan sampai dia menjadi pengganti Emilia di masa lalu," bisik hatinya.

**

Rumah tampak begitu sepi, Ardian memarkirkan mobilnya di teras depan.

Karina turun lebih dulu, dia tersenyum senang begitu tiba di rumahnya.

Ardian menghela napas lega, dia ingin beristirahat sejenak di rumah Karina.

"Pulang sama siapa?" tanya Vino yang kebetulan baru keluar dari dalam rumah.

"Tuh!" tunjuk Karina dengan mata melirik ke arah Ardian yang berjalan di belakangnya.

"Oh." Vino cuek saja, dia hanya mengangguk pelan, dan kemudian menarik sebuah kursi, menghempaskan tubuhnya di sana..

Ia duduk bersandar, dan mulai menikmati secangkir kopi panas buatannya sendiri.

"Eh, ada Kak Vino. Apa kabar, Kak?"

Mendengar sapaan ramah yang terlontar dari mulut Ardian, membuat Vino sedikit tersenyum.

"Cih, tumben bener kamu manggil aku kak. Enggak usah dibaik-baikin, percuma, aku juga enggak bakalan lepasin Karina gitu aja. Selama Karina belum jadi istri kamu, selama itu aku akan terus memantau hubungan kalian berdua." Vino memberi isyarat dengan menggunakan jari telunjuknya dan jari tengah, dengan menunjuk ke matanya Ardian. "Awas kalau macam-macam!" lanjutnya memperingati.

"Aku enggak bakalan macem-macem, Kak."

"Aku enggak mau denger omong kosong, aku perlu bukti!"

"Oke, kita lihat aja nanti ke depan," ucap Ardian mantap, dia merasa ditantang. Kali ini, ia akan berusaha untuk menjaga dengan baik hubungannya dengan Karina, dia tidak mau ucapan Vino tentang dirinya menjadi benar. Kalau dirinya memang tidak bisa dipercaya.

"Kak, Kak Vino!" teriak Karina, dia berlari kecil menghampiri kakaknya dan Ardian yang duduk di teras depan.

"Ada apa, Kar? Kayak ngeliat setan aja," ucap Vino.

Ardian mengalihkan pandangannya ke arah Karina, sedangkan Vino masih asik santai dengan memainkan ponsel di tangannya.

"Ibu ke mana? Kok enggak ada di rumah?"

"Lihat yang bener, mungkin di dalam kamarnya."

"Enggak ada! Kenapa ibu pergi tanpa pamit sama kita?"

Karina gelisah, dia takut kalau bu Hanna kembali ke yayasan pak Arsyad.

"Serius? Ibu enggak ada?" tanya Vino, dia langsung meletakkan ponselnya, tatapannya beralih ke arah Karina dengan rasa khawatir.

"Mungkin ibu pergi keluar," ucap Ardian berasumsi.

Karina terdiam, dia tahu kalau bu Hanna tidak mungkin kembali ke tempat pak Arsyad.

"Di dalam sudah ada makanan, dan itu disiapkan ibu. Enggak mungkin ibu pergi gitu aja kan?" Karina masih tidak yakin.

Vino masuk ke dalam, dia mengambil kunci mobil dengan langkah buru-buru.

"Ayo cari ke mana ibu pergi!" ajaknya seraya memakai jaket kesayangannya, sore itu langit menjadi mendung. Tak dapat dipungkiri kalau hujan bisa turun kapan saja, Karina menutup pintu dan mengikuti kakaknya.

"Kamu enggak mau barengan sama aku?" tanya Ardian. Dia juga berniat untuk mencari keberadaan bu Hanna.

"Enggak usah, mending kamu pulang aja! Aku bisa cari ibu sama kak Vino, nanti aku kabarin kamu lagi ya." Karina berjalan mendekati Ardian.

"Ya udah, kalau terjadi sesuatu hubungi aku ya!" ucap Ardian.

Lama keduanya saling tatapan, hingga panggilan Vino menyadarkan mereka berdua.

"Ya elah! Malah asik pacaran kalian berdua, niat nyariin ibu enggak? Sebentar lagi hujan loh, Kar." Vino menoleh keluar jendela mobil, dia sudah bersiap-siap di balik kemudi, namun untuk sesaat harus sabar menunggu adiknya dan Ardian bicara.

Setelah berpamitan, Ardian langsung pulang. Karina dan Vino juga mulai meninggalkan pekarangan rumah mereka.

Mereka berjalan beriringan mengikuti mobil Ardian, jalannya searah, tiba di persimpangan jalan barulah mereka berpisah.

***

1
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
keliatan banget kalo alisha suka sama bayu /Facepalm/
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
sebenernya pak seno ini punya rencana apa sih 🤔
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Wajah Ardian bikin Bu hana flasback /Frown/
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Jatuh dan hanyut kesungai, kok bisa nyampe Swiss itu siEmil 🤔🤔
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
persepsi Ardian lumayan juga, setidaknya tidak seperti pak seno yg terlalu naif
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Ini awal mula pertemuan bayu sma alisha sungguh kesan pertama yg tak terduga 🤭🤭🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
apakah ibu hana kabur
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
walaupun emil ganti wajah, tpi masa engga kenal sih sama suara emill 🤔🤔
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Jangan" gadis misterius itu emil 🤔🤔
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: lah, emang../Slight/
total 1 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Ibu Hana terlalu banyak mikir yg seharusnya engga perlu difikirin , ehh kok kek orang itu ya.
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: ihhhh, 😭🤣 org siapa itu
total 1 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
mungkin ini yg dimaksud dengan prinsip tabur tuaii, selamat maya, kini km sedang menuaii hasil dari perbuatan mu dulu .
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Emang agak aneh sih sikap Bu Hana
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
keputusan yg karina ambil kali ini sangat beresiko ..
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
udah sayang sayangan lagi aja karina /Facepalm/
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
kalau meninggal , setidaknya tubuh nya pasti di temukan .
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
ardian kok bisa tau karina di sekap dimana 🤔
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: Liat pakek mata batin
🏃🏽‍♀️🏃🏽‍♀️🏃🏽‍♀️
total 1 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Vino kerja apaan coba,nyampe tengah malam kok belum pulang
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
karina padahal mau tapi pura" Jaim 🤣🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
mamam tuh ardian 🤣🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ 🐲⃞⃟🅔ˣᵒ
Cinta Cinta mulu /Facepalm/
karina jadi bego gara" cinta
emilia jadi stress gara" cinta
ibu nya emil gangguan jiwa gara"?? sama aja kan, Cewek emang ya /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!