Pendahuluan:
Seorang pemuda yang tidak bisa berkultivasi dengan normal, seorang pemuda yang bahkan tidak layak disebut sampah, orang yang sia-sia.
Itulah yang selalu orang katakan saat melihatnya, tapi sekarang?
Apakah dia manusia? Ataukah Dewa? Mungkinkah dia Iblis?
Dengan satu tangan membawa perdamaian dan tangan lainnya membawa pembantaian, itulah yang selalu mereka katakan.
Saat dia hadir semua keberadaan akan tertekan, Langit dan bumi ada dalam genggamanya.
Dia adalah seorang pria yang menaklukan hati setiap orang hanya dengan tatapannya,
membuat semua orang rela mati hanya karena ucapannya.
Pria yang bangkit hanya untuk menjadi penguasa - Jiang Chen
Legenda mengatakan:
Jiang Chen adalah seorang revolusioner perang yang muda dan berbakat, tapi ketika dia marah bahkan langit akan terbelah dan bumi akan berguncang ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizki Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Sejarah Jiu Long
Jiu Long tekesan dengan jawaban Jiang Chen yang sangat bijak dan dia pun tambah tertarik dengannya "Maafkan keegoisanku, aku tidak menyangka bahwa dendamku akan memakan hati nuraniku dan ini sungguh memalukan untuk diingatkan oleh anak muda sepertimu"
Jiang Chen mengangguk dan tersenyum "Walaupun aku tidak mengetahui dendammu, aku tahu bahwa kau bukan orang yang jahat, aku hanya bisa berharap kau bisa segera menemukan pewaris yang cocok untukmu dan maafkanlah aku karena tidak bisa menerimanya, maka aku akan pergi sekarang, karena aku yakin bahwa saudaraku sedang menungguku"
Jiu Long bergumam, tapi dari nadanya dia terdengar sangat sedih "Saudara ya... Aku juga memiliki mereka, tapi sangat di sayangkan bahwa dunia ini sangat kejam dan tidak ada yang namanya kesetian mutlak di dunia ini"
Jiang Chen tersenyum dan menjawab "Kau benar, dalam persaudaraan tidak ada yang namanya kesetiaan mutlak, tapi kau juga salah"
Jiu Long bingung "Hm... Apa yang salah?"
Jiang Chen tersenyum tulus "Dari awal Persaudaraan memang tidak memberikan sebuah Kesetiaan, tapi sebuah Kepercayaan, kepercayaan yang bisa membuatmu menitipkan punggungmu tanpa ada sedikitpun keraguan padanya dan itulah yang disebut sebuah kepercayaan tanpa syarat"
Jiu Long terkejut dengan jawaban JiangChen, dan berkata dengan bahagia "Kepercayaan yah, aku sepertinya sudah gagal dari awal"
Jiang Chen tersenyum dan tidak menjawab, tapi saat dia hendak berbalik untuk pergi tiba-tiba ada sebuah cahaya yang memasuki dirinya.
Woooshh!!!
Setelah cahaya itu memasuki tubuhnya, Jiang Chen merasa bahwa kesadarannya mulai memudar dan tubuhnya pun mulai lemas, Jiang Chen yang marah, karena merasa dirinya telah dikhianati, berteriak dengan marah "Kamuuu..."
Jiu Long menjawab dengan sedikit rasa bersalah "Tenanglah, aku sedang mencoba mengirimkan ingatanku padamu dan anggapalah ini sebagai hadiah kecilku untukmu karena telah menemani saat-saat terakhirku, tapi kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan memaksamu lagi untuk membalasakan dendamku"
Mendengar itu, Jiang Chen pun mulai tenang dan berkata tergesa-gesa "Apa yang kau lakukan"
Jiu Long berkata dengan bahagia "Kau telah membuka mataku, tapi ini sangat di sayangkan bahwa aku tidak bisa menjadi saudaramu, dan aku harap hadiahku bisa membantumu di masa depan, sungguh bertemu denganmu adalah kebahagian dan kesedihanku"
Jiang Chen merasakan kesedihan dari lubuk hatinya, walaupun mereka baru bertemu, mereka merasakan keakraban khusus dari masing-masing, seperti telah bertemu dengan teman lama, JiangChen berkata dengan sedih "Setelah semua kita adalah saudara, tidak peduli hidup dan mati kita akan tetap menjadi saudara, kau akan tetap menjadi saudaraku, saudara Jiang Chen untuk selamanya"
Tiba-tiba sebuah bayangan keluar dari dalam patung, dan itu membentuk sesosok pria muda yang berumur 11 tahunan, dia memiliki wajah yang penuh kesedihan dan penyesalan, tapi saat dia tersenyum pada JiangChen, semua kesedihannya menghilang dan digantikan dengan kebahagiaan murni, pria itu pasti adalah Jiu Long yang masih muda.
Jiu Long tersenyum bahagia "Aku sungguh bahagia bisa memiliki saudara sepertimu di akhir hidupku, Selamat tinggal saudaraku. jagalah dirimu dan janganlah terlalu cepat menyusulku"
Setelah itu bayangan Jiu Long pun hancur dan berubah menjadi sebuah percikan cahaya kecil yang memasuki tubuh Jiang Chen.
Namun, Jiang Chen tidak melihatmya karena dia telah pingsan, tepat setelah Jiu Long menyelesaikan ucapannya.
Ketika pingsan Jiang Chen tiba-tiba memasuki sebuah ingatan, dimana dia dapat melihat seorang pria muda berumur 15 tahunan yang sedang berlatih pedang di sebuah gua, pria itu memainkan dua pedang di tangannya dengan sangat mahir setiap gerakan yang dia tunjukan sangatlah tajam dan mematikan, lalu setelah beberapa saat dia pun akhirnya berhenti dan berjalan keluar dari dalam gua.
Setelah itu pemandangan pun berganti di sebuah medan perang, dimana seorang pria remaja berumur 18 tahunan dengan gagah berani maju dan langsung menerjang ke dalam lautan musuhnya, dan itu adalah pria yang sama dengan pria yang sedang berlatih pedang di gua tadi.
Pemandangan pun berganti lagi, dan sekarang menunjukan sebuah puncak bukit, dimana disana ada seorang pria remaja yang sedang memeluk seorang wanita dengan bahagia, mereka terlihat sangat menikmati saat-saat indah ini.
Pemandangan pun berganti lagi, dimana pria itu sedang duduk di sebuah meja, dan terdapat banyak orang didepannya mereka mengobrol dan tertawa bersama, jelas bahwa mereka adalah sahabat dekat.
Pemandangan berganti lagi, dan terus berganti, Jiang Chen seperti sedang melihat ringkasan hidup seseorang dan orang itu tidak lain adalah kehidupan Jiu Long, lalu dari ingatan ini Jiang Chen bisa mengetahui perjalanan hidup Jiu Long.
Jiu Long berasal dari latar belakang yang sederhana, dia tidak memiliki orang tua karena sebuah kecelakaan dan hanya mempunyai satu orang guru dalam hidupnya, dia adalah orang yang telah merawatnya sejak dia berusia 5 tahun, tapi dia pun harus meninggal untuk menyelamatkan Jiu Long dari sergapan musuhnya.
Sejak saat itu Jiu Long pun mulai berkultivasi dengan gila, karena ingin membalas dendam pada musuhnya.
Pada usia 16 tahun, Jiu Long menciptakan tekniknya sendiri yang disebut Asura Wrath, teknik ini sendiri dia ciptakan dengan terinspirasi dari sebuah legenda kuno tentang dewa perang yang bernama Sura atau lebih dikenal Asura, tapi teknik ini belum sempurna dan masih harus di kembangkan lagi.
(Asura Wrath \= Murka Asura)
Pada usia 18 tahun, Jiu Long akhirnya berhasil dalam membalaskan dendamnya, dia pun membantai semua orang yang terlibat dan berusaha menghalanginya, tapi setelah melakukan itu dia pun merasa kehilangan dan ada kekosongan di dalam dirinya, JiuLong sempat mencoba bunuh diri, tapi saat dia memikirkan pengorbanan gurunya, dia merasa bahwa yang dia lakukan hanya kan mengecewakannya.
Jiu Long pun memutuskan untuk berkeliling dunia dan menyempurnakan tekniknya, dalam pejalanannya ini Jiu Long menemui banyak orang dan juga membantu beberapa dari mereka, sehingga beberapa dari mereka ingin mengikutinya, Jiu Long tidak menghalanginya dan menggapnya sebagai saudaranya sendiri.
Pada usinya yang ke 20, Jiu Long pun membuat namanya sendiri di dunia persilatan dengan dikenal sebagai genius nomor 1 di dunia, dan yang membuatnya lebih bahagia adalah fakta bahwa dia telah menemukan belahan jiwanya, seorang wanita yang pernah membantunya saat dia terluka dan selalu menemaninya setelah itu.
Pada usinya yang ke 25, Jiu Long menjadi salah satu tokoh yang sangat di segani didunia kultivasi, lalu dia juga memililiki banyak tentara di bawah kendalinya dan memiliki banyak saudara yang bisa di andalkan, Jiu Long juga membuat masing-masing dari mereka berlatih teknik asura dasar.
Namun, nama yang besar selalu membawa kesombongan yang besar pula, Jiu Long melihat bahwa saudara-saudaranya mulai berubah dan menjadi semena-mena kepada orang lain, bahkan beberapa dari prajuritnya mulai menggunakan indentitasnya untuk menindas orang lain.
Jiu Long yang awalnya menutup mata, sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya, sehingga dia pun memanggil semua saudaranya dan membicarakan tentang semua kekesalannya, tapi bukannya tersadar mereka bahkan mulai mengabaikan perintah Jiu Long.
Melihat itu semua Jiu Long marah dan menyerang semua saudaranya, sehingga membuat masing-masing dari mereka terluka berat.
Setelah kejadian itu semua pun kembali normal dan tentram, tidak ada lagi yang berani melakukan hal buruk, apalagi menggunakan namanya.