"Kalau dia sudah tidak ingin hidup maka biarkan saja dia mati!"
Samar-samar aku mendengar suara bariton dari sampingku. "Brengsek, dokter macam apa yang menginginkan pasien nya mati" gumamku sambil meringis menahan sakit.
Cerita ini berkisah tentang seorang gadis muda berusia 19 tahun yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang sudah cukup berumur. Dia, Kirana Nindya Prasetyo memilih bunuh diri daripada menikah dengan pria yang tak dikenalnya.
Lalu, sosok seperti apakah yang akan menjadi suaminya kelak, sehingga dia begitu keras kepala menolak perjodohan ini?
Akankah pria misterius itu memaksa untuk menikahi nya atau malah bekerjasama dengan nya untuk membatalkan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika Surya Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 35 Malam pertama yang palsu
Kiran masih enggan melangkahkan kakinya menuju kamar tidur Elang. Ia masih berusaha menolak untuk tidur dengannya. Tapi dalam sekejap Kiran mengubah sikapnya menjadi manja saat ia tau bahwa kakek Segara sedang mengawasi mereka.
"Mas ayo dong kita tidur, aku sudah lelah."
Kiran bertingkah manja dan memeluk lengan Elang dengan hangat. Elang yang memahami situasi pun mengambil kesempatan yang ada.
Dengan sigap ia menggendong tubuh Kiran dan membawanya ke kamar.
"Baiklah sayang, sepertinya tidurmu tidak akan nyenyak malam ini. Kau harus bekerja keras untuk melahirkan keturunan Segara!" jawab Elang sambil menutup pintu kamar dengan kakinya.
Klik...
Elang mengunci pintunya dan mendengar suara langkah kaki yang mendekati kamarnya. Elang mendekati Kiran yang berusaha menghindar.
"Kau brengsek! Menjauh....!" saat Kiran menjerit Elang langsung menutup mulut Kiran dengan bibirnya.
Uhmm...uhmmm..hmmm
Kiran memukul-mukul punggung Elang yang terus menekan nya hingga terbaring di atas ranjang. Namun Elang tak melepaskan ciumannya. Ia malah menggerayangi bagian-bagian tubuh Kiran dan membuat Kiran mendesah.
Elang semakin buas dan tak terkendali ia terus menciumi Kiran. Kali ini ia menggigiti leher dan dada Kiran hingga meninggalkan bekas merah yang cukup banyak. Suara rintihan dan desahan Kiran pun terdengar semakin kuat.
"Ehmmm..ehmm... Mas kamu brengsek! Itu sangat sakit!" desahnya kuat.
Elang menghentikan cumbuannya setelah ia merasa suara langkah kaki menjauh dari kamarnya. Ia melepaskan pelukannya dan tercengang melihat tubuh Kiran yang setengah telanjang dan terlihat berantakan. Elang menarik selimut dan menutupi tubuh Kiran yang terbuka. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Kiran yang memakinya.
*****
Pagi itu suasana terasa lebih meriah dari sebelumnya. Kepala pelayan dikediaman Segara meminta koki untuk menyiapkan sup untuk menambah stamina pria dan wanita. Semua orang sudah berkumpul kecuali Elang dan Kiran. Meysa yang tak sabar pun langsung menuju kamar Elang dan menggedor nya.
"Paman! Paman! Bangunlah kita harus sarapan!"
Elang membuka pintu dan langsung menggendong Meysa, sebelum pintu ditutup Meysia melihat Kiran yang meringkuk di pinggir ranjang dengan tubuh setengah telanjang. Meysa pun berteriak.
"Kak cantik kenapa tidak pakai baju? Dan kenapa bisa tidur dikamar paman?" ujarnya polos.
"Ah gadisku, pakaian kakak cantik robek tadi malam. Sekarang dia tidak punya pakaian untuk dipakai." sahut Elang dan cepat-cepat menutup pintu.
Mereka pun menuju meja makan yang sudah penuh dengan hidangan istimewa. Tiba-tiba Meysa nyeletuk.
"Mami, boleh tidak pinjamkan baju mami untuk kakak cantik? Kasihan kakak cantik tidak pakai baju karena robek!" celoteh Meysa dengan polosnya.
Orang-orang yang mendengar itupun senyum-senyum dan saling tatap penuh arti. Bahkan kakek Segara mengacungkan jempolnya pada Elang.
"Kerja bagus cucuku!" ujarnya senang.
Elang hanya tersenyum dan meminta kakaknya untuk mengambil pakaian buat Kiran.
"Ah baiklah Mami ambilkan dulu pakaian untuk Bibimu. Meysa sarapanlah yang banyak."
Nuri menyerahkan beberapa potong pakaian pada Elang dan meminta Elang untuk mengantarnya. Tapi Elang menolak nya ia takut Kiran akan semakin marah padanya. Ia masih ingat bagaimana dengan ganas Kiran menyerangnya bahkan mencakar punggung dan dadanya tanpa mau mendengarkan penjelasan Elang.
Huh, Nuri menghembuskan nafas berat, ia pun menuju kamar Elang.
"Nuri, jika dia masih lelah biarkan dia beristirahat dulu. Nanti biar pelayan yang mengantar sarapan ke kamarnya." ujar Tuan Besar Segara tersenyum puas.
Nuri hanya mengangguk, ia faham situasi ini pasti tidak seperti yang dibayangkan oleh keluarganya. Nuri mengetuk pintu dan langsung masuk ke kamar saat tak mendengar jawaban. Ia melihat Kiran tertelungkup dengan tubuh tertutupi selimut hingga lehernya. Pakaiannya yang robek berserakan di lantai.
"Kiran, apa yang terjadi? Ceritakan pada Mbak, jika Elang menindasmu." ujarnya lembut.
Kiran membalikkan badannya dan menatap Nuri.
"Gak perlu Mbak, biar Kiran sendiri yang bales perlakuan gila Mas Elang!" sahutnya marah.
"Dia memaksamu tadi malam?"
Kiran mengangguk, " Tapi dia tak melakukan itu Mbak, dia hanya menciumku dan Mbak lihatlah ini!" Kiran membuka selimut yang menutupi bagian atas tubuhnya.
Nuri membelalakkan matanya, ia sangat terkejut melihat leher dan dada Kiran penuh dengan bekas kecupan.
"Ah Kiran sebaiknya pakai dulu pakaian ini. Baju-baju ini masih baru, Mbak baru membelinya kemarin."
"Terimakasih Mbak."
Kiran pun langsung memakai pakaian yang diberikan Nuri. Ia sedikit kesal karena tanda merah dilehernya tidak bisa ia tutupi.
"Kiran sepertinya Elang sengaja melakukan itu. Ia ingin seluruh keluarga percaya bahwa kalian pasangan suami istri."
Kiran terdiam, ia mengingat kembali kejadian malam itu. Bagaimana buasnya Elang mencium dan menyentuh seluruh tubuhnya.
Ah, malam itu memang kakek sedang mengawasi kami. Mungkinkah aku salah paham padanya? Aku bahkan sudah mencakar, memukul dan menggigit nya karena marah.
Tok...tok...tok...
"Nyonya Muda maaf mengganggu, saya mengantarkan sarapan untukmu." seorang pelayan menunggu jawaban dari dalam.
Hmmm karena ini bagian dari kerja sama, baiklah kali ini aku akan memainkan peran hingga akhir.
Kiran membuka pintu dan mengajak Nuri untuk sarapan bersama dimeja makan.
"Tidak usah pak, saya sarapan bersama suami dan keluarga lainnya."
Dengan senyum Kiran menghampiri keluarga yang ada dimeja makan.
"Selamat pagi Tuan Besar, Nyonya Besar dan Kakek Segara, selamat pagi Meysa cantik. Maaf saya terlambat."
"Hahaha gadis bodoh! Apa yang kau ucapkan? Kau menantuku, panggil aku Papa!"
"Baiklah Pa."
"Ayo duduklah, kita sarapan bersama." Kakek Segara menimpali.
"Selamat pagi kakak cantik. Ah kakak kenapa lehermu ada banyak merah-merah?" Meysa ikut berbicara. Elang tersipu malu mendengar pertanyaan Meysa.
"Oh ini... emmm.. tadi malam kakak digigit nyamuk." jawab Kiran gugup.
"Apakah itu sakit? Apakah nyamuknya banyak dan besar?" tanyanya lagi.
"Enggak sayang, nyamuknya cuma satu, tapi dia sangat rakus!" sahut Kiran seraya menoleh ke arah Elang.
"Paman apakah kau juga digigit nyamuk yang rakus itu?"
Jleb! Pertanyaan Meysa itu seperti membunuh Elang.
Kau gadis bodoh beraninya menyebutku nyamuk yang rakus!
"Tidak sayang, nyamuk itu tidak menggigit paman."
"Huh nyamuk yang aneh! Kenapa dia hanya menggigit kakak cantik?"
"Sudah... sudah ayo dihabiskan sarapannya!" Nuri mencoba menutup pembicaraan yang sensitif itu.
Nyonya Besar Segara masih saja bersikap dingin, ia tak menyapa ataupun membalas sapaan Kiran. Ia bangkit dari duduknya, mengambil sebuah mangkuk dan menuangkan beberapa centong sup kedalamnya. Lalu memberikan nya kepada Kiran. Hal itu membuat semua orang terkejut termasuk Kiran.
"Minumlah sup itu agar tubuhmu lebih segar dan tidak lelah. Sup ini baik untuk kesehatan!" ujarnya pelan.
"Mama!" Elang berteriak kaget.
"Kenapa kau meneriakiku? Apa aku salah memberikan sup kepada istrimu?" jawabnya tenang.
"Terimakasih Nyonya!"
"Ah anak bodoh, aku ibu mertuamu sekarang. Apa kau pantas memanggilku Nyonya?"
"Oh terimakasih Mama."
"Ya minumlah dan habiskan!"
Elang tersenyum senang melihat Mamanya yang mulai menerima kehadiran Kiran.