Aruna gadis sederhana dari keluarga biasa mendadak harus menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal.
Karena kesalahan informasi dari temannya ia harus bertemu dengan Raka yang akan melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih tetapi karena kekasih Raka yang ditunggu tak kunjung datang keluarga Raka mendesak Aruna untuk menjadi pengganti pengantin wanitanya. Aruna tak bisa untuk menolak dan kabur dari tempat tersebut karena kedua orang tuanya pun merestui pernikahan mereka berdua. Aruna tak menyangka ia bisa menjadi istri seorang Raka yang ternyata seorang Ceo sebuah perusahaan besar dan ternama.
Bagaimana kehidupan mereka berdua setelah menjalani pernikahan mendadak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Aruna melangkah masuk ke tempat pesta yang digelar di sebuah rumah—meski baginya, rumah itu lebih tepat disebut istana karena begitu besar dan megah. Ia berjalan sambil menggandeng tangan Raka, takut terjatuh dengan sepatu hak tinggi yang ia kenakan.
Di dalam ruangan, Aruna menatap kagum pada nuansa pesta yang mewah, dihiasi dengan sentuhan putih yang memberi kesan hangat. Namun, rasa gugup ikut menyelimutinya saat melihat begitu banyak tamu penting hadir malam itu.
"Selamat malam Pak Raka." Sapa Yusman, salah satu rekan bisnis Raka saat melihatnya masuk.
"Apa ini istri Pak Raka ?" lanjutnya, saat melihat seorang wanita menggandeng tangan Raka.
"Iya ini istri saya." balas Raka datar
"Selamat malam. Saya Yusman, salah satu rekan bisnis Pak Raka." ucapnya
Aruna mengangguk tersenyum tipis, "Selamat malam juga Pak."
"Oh iya. Maaf Pak Raka, waktu itu saya sedang ada rapat mendadak di luar kota. Jadinya tidak bisa menghadiri pesta pernikahan anda. Saya ucapkan selamat untuk pernikahannya Pak Raka, ya walaupun sudah terlambat."
Raka mengangguk, "Iya, terimakasih. Sepertinya saya belum melihat Tuan Johanes dan istrinya?"
"Beliau ada di dalam. Ayo kita kesana saja." Raka mengangguk setuju.
"Tunggu.."
Raka menghentikan langkahnya menoleh menatap Aruna. "Kenapa ?"
"Em.. Tiba-tiba aku kebelet, mungkin karena gugup. Aku ketoilet bentar, kamu ketemu Tuan Johanes duluan aja. Nanti aku nyusul."
"Ayo saya antar saja."
Aruna menggeleng, "Nggak usah, cuma sebentar kok. Aku nggak apa-apa."
"Hm.. Baiklah. Hati-hati, saya tunggu disana." Kata Raka sembari menunjuk tempat dimana Tuan Johanes dan istrinya berada.
Aruna mengangguk, lalu meninggalkan Raka untuk mencari toilet. Sedangkan Raka, berlalu melangkah ke dalam tempat sang pemilik pesta tersebut.
* *
Sherly berdiri bersama teman-temannya sosialitanya, yang kebetulan juga mendapat undangan pesta anniversary pernikahan Tuan Johanes. Ia meneguk minuman yang ada di tangannya, sembari mendengarkan perkataan teman-temannya.
“Gaunmu indah sekali malam ini, kelihatannya dari koleksi terbaru, bukan?”
“Kalian memang selalu tahu tren. Aku sendiri baru pulang dari Paris minggu lalu, koleksi musim gugur di sana benar-benar menawan. Kalau kalian ada waktu, kita harus pergi bersama musim depan.”
“Wah, menarik sekali. Oh iya, aku dengar suamimu baru buka investasi properti di Bali?”
“Ya, benar. Kami lihat potensinya besar sekali. Banyak rekan dari luar negeri yang tertarik."
Ya.. Begitulah kira-kira percakapan antara teman sosialitanya.
"Tumben, gue diam aja sher ?" tanya salah satu temannya menyenggol Sherly
"Lagi nggak mood aja. Suami gue lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Selalu aja cari alasan kalau gue ajak kemana-mana." Sherly menghela nafasnya, lalu meneguk lagi minuman ditangannya.
Sesaat kemudian, Sherly menangkap sosok seorang wanita berjalan dari arah toilet. Tatapannya langsung mengeras, jemarinya mencengkeram kuat gelas di tangannya hingga nyaris bergetar. Rasa geram membuncah di dadanya begitu melihat Aruna datang ke pesta yang sama dengannya.
"Gue pergi dulu, ada seseorang yang harus gue urus." ucapnya, sembari menyerahkan gelas ditangannya kepada teman di sampingnya.
Aruna melangkah keluar dari toilet, matanya sempat menyapu sekeliling sebelum mencari keberadaan Raka. Namun rasa haus lebih dulu menyerangnya, membuatnya memilih menuju meja minuman untuk mengambil segelas pelepas dahaga.
"Wah.. Ternyata lo datang juga. Cewek kaya lo itu nggak pantas ada di pesta seperti ini!."
Aruna menghentikan tangannya yang berniat untuk mengambil segelas jus di meja saat mendengar suara yang tak asing dari belakangnya. Ia pun menoleh, dan mendapatkan Sherly yang sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam.
Aruna menaikkan sudut bibirnya, "Maksud lo apa ? Lo pikir cuma lo aja yang bisa datang ke pesta seperti ini ? lihat ? Gue juga bisa kan?"
Sherly mengepalkan tangan, "Heh.. Walaupun lo memakai pakaian mahal sekalipun kalau udah kampung tetap saja kampungan nggak akan merubah status ko, okey.."
"Woy.. Jaga mulut lo ya. Katanya orang berkelas, tapi punya mulut kaya nggak pernah di sekolahin aja. Yang kampungan disini itu lo, bukan gue. Udah gue nggak mau ribut disini, gue pergi dulu. Bye.." ucap Aruna, mencoba untuk menahan emosinya.
Aruna berusaha untuk tidak terpancing lagi dengan sikap Sherly yang semena-mena, ia tidak mau kalau sampai mempermalukan Raka saat di pesta kolega bisnisnya.
Merasa geram dengan sikap Aruna. Sherly melangkah maju menyusul Aruna dengan membawa segelas minuman jus berwarna merah. Menarik tangan Aruna dan...
Byuuuurrr !
"Ahhhkh." pekik Aruna saat tiba-tiba Sherly menyiramnya dengan segelas minuman. Membuat baju Aruna kotor dan basah.
Sherly tersenyum sinis menatap Aruna, karena merasa sukses mempermalukan Aruna di depan banyak orang.
Aruna mendongak, matanya langsung bertemu dengan tatapan tajam Sherly yang membuat dadanya menghangat oleh rasa geram. Sementara itu, suasana pesta perlahan terasa menekan—orang-orang di sekitarnya mulai menoleh, saling berbisik dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Kenapa ? Nggak terima ? Heh.. Lo itu cocok nya memang seperti ini. Lo nggak pantas berada di tempat ini. Dan ingat satu hal, jangan pernah lagi ganggu Yogi suami gue!"
"Heh.." Aruna menyunggingkan bibirnya "Nggak ada yang mau memungut sampah setelah dibuang, karena memang sampah cocoknya dengan sampah. Kalau lo merasa takut, tenang aja. Gue udah nggak minat dengan suami lo itu." Aruna mengambil segelas minuman lalu..
Byuuur !
Aruna menyiram Sherly tepat di mukanya.
* *
Disisi lain. Raka berdiri di antara rekan-rekan bisnisnya, berbincang dengan tenang bersama sang pemilik pesta yang menjadi tuan rumah malam itu.
"Selamat atas ulang tahun pernikahannya dengan Nyonya Paramita, Tuan Yohanes. Semoga kehidupan pernikahan kalian semakin langgeng sampai maut memisahkan." ucap Raka sembari menjabat tangan Tuan Yohanes.
"Wah.. Makasih Pak Raka. Loh sendiri saja ? Bukannya kemarin saya meminta kamu untuk membawa istrimu?"
"Iya.. Saya bersama istri. Tapi dia ingin ketoilet dulu, nanti juga dia nyusul kesini."
Tuan Yohanes mengangguk, "Hm.. Baiklah. kamu nikmati dulu acaranya, jangan lupa nikmati juga hidangannya." ucapnya menepuk bahu Raka
Raka tersenyum, lalu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aruna. Sudah lama sejak ia pergi ke toilet namun sampai sekarang belum juga datang menghampirinya. Apa mungkin nyasar ? pikir Raka.
Saat berjalan dengan menoleh kanan dan kiri, ia tak sengaja berpapasan dengan Yogi.
"Pak Raka ? Wah.. Dari tadi pak ?" sapa Yogi
Raka mengangguk, "Kamu sendiri ?"
"Tidak, saya datang bersama istri. Tetapi dia sedang bergabung dengan teman-temannya di ujung sana." Raka mengangguk, dengan pandangan masih mengedar mencari istrinya.
"Pak Raka sendiri ? Apa tidak bersama istri Bapak ?"
"Saya datang dengan istri. Tetapi dia pergi ke toilet dan sampai sekarang belum juga kembali. Apa mungkin dia nyasar."
Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat, disertai bisikan tegang yang saling bertukar di antara tamu. Di tengah kerumunan, dua wanita tampak bersitegang, tubuh mereka saling dorong dan wajah memerah karena amarah. Seketika, pesta yang tadinya hangat berubah penuh ketegangan; beberapa tamu menatap dengan mata melebar, ada yang saling berbisik, ada pula yang mundur pelan, mencoba menjauh dari pusat konflik.
Merasa penasaran, Raka berjalan bersama Yogi menuju kerumunan yang mulai berkumpul, mata mereka menyapu apa yang tengah terjadi di tengah pesta.
Mata mereka membelalak kaget saat menyadari, dua wanita yang tengah berkelahi itu ternyata adalah istri mereka sendiri.
"Aruna..!!"
"Sherly..!!"
"Berhenti!!!"
* * * *