Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
“Aiyyaa, kenapa hari ini banyak sekali hal-hal tak terduga, aku sampai bingung memikirkannya.”
Isabella menghela nafas sambil menopang tangannya di kepala, dia tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan baju kerja yang masih melekat.
Isabella memandang langit-langit kamarnya seolah menjadi teman bicaranya dalam diam, dia memainkan telunjuknya di udara sambil membuat pola garis yang tak beraturan.
Otaknya benar-benar kacau karena menerima terlalu banyak kejutan. Mulai dari ciuman, seseorang yang tak asing bagi dirinya, bahkan sampai bertemu dengan mantan suami. Dia benar-benar bingung dengan hari yang melelahkan ini, ditambah lagi pertemuannya dengan Justin setelah sekian lama tidak berakhir dengan begitu baik.
Isabella bangkit dari kasurnya dan mulai melucuti pakaiannya, ia mengambil pakaian lain dari dalam lemari dan segera mengenakannya.
Isabella berjalan keluar kamar untuk menghampiri sang putra, pria kecil itu tengah asyik bermain dengan Frank. Bahkan ada Rissa di dekat mereka yang tengah memperhatikan kegiatan dua bocah itu, Isabella mendekat dan duduk di samping wanita tersebut.
Dia menyentuh tangan wanita itu dan sontak membuatnya menoleh, Rissa tersenyum, entah mengapa dia merasa bahwa sahabatnya itu tengah memiliki suasana hati yang kurang baik.
“Ada apa Isabella?” tanya Rissa dengan suara lembut.
“Tak ada... hanya sedikit kelelahan saja.”
Rissa kembali tersenyum dan menarik tangan Isabella agar wanita itu mendekat, mereka hanya memiliki satu sama lain. Jadi saat hal seperti ini terjadi, mereka berdua hanya bisa saling menyemangati satu sama lain.
Rissa mendekap Isabella dan dia hanya menurut, Rissa sedikit mengelus pundak sahabatnya dengan perasaan hangat. Isabella pun merasa nyaman saat ada di dalam pelukan Rissa, dia benar-benar bersyukur memiliki sahabat sepertinya.
Rissa adalah orang yang selalu menjadi penyemangat di saat-saat gusar ataupun sedih, begitu pula sebaliknya, jika Rissa merasakan hal yang sama maka Isabella adalah orang pertama yang akan mendukungnya.
Selang beberapa saat, Isabella maupun Rissa melepaskan pelukan itu dengan sebuah senyuman. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan penuh makna, sekarang perasaan Isabella menjadi lebih tenang.
Perusahaan baru akan membuat name tag karyawan untuk Isabella dan juga menyiapkan divisi tempat dia bekerja besok. Jadi dia di perbolehkan untuk pulang lebih awal oleh Zay, dengan anggapan sebagian permintaan maaf darinya.
“David... Frank... kita makan siang dulu yuk, permainannya bisa di lanjutkan lagi nanti,” kata Isabella dengan suara lembut.
Kedua bocah itu tak menolak, perut mereka memang terasa sedikit lapar karena memang sudah waktunya jam makan siang. Setelah itu Isabella, Rissa, David, dan Frank beranjak dari tempat itu menuju ruang makan.
Rissa berjalan mendahului mereka dan mengambil makanan yang sudah di siapkan-nya di lemari, ia menyuguhkan makanan tersebut di atas meja beserta perlengkapan makan lainnya. David dan Frank berjalan menuju dapur untuk mencuci tangan, Isabella pun ikut melakukan hal yang sama dan kembali ke meja makan.
Setelah Rissa selesai menyuguhkan makanan di atas meja, dia pun duduk di sana karena sudah terlebih dahulu mencuci tangannya sebelum menyiapkan makanan tersebut.
Rissa segera mengambil piring untuk Isabella, David, dan Frank secara bergiliran. Kemudian tak lupa pula ia mengambilkan nasi dan juga beberapa lauk-pauk yang tersaji di meja tersebut.
“Yeee... ayam goreng!!” seru David gembira.
-
-
-
-
-
***
Jangan lupa like dan komen di setiap bab
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??