Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fokus
Di kontrakan yang kini berubah fungsi menjadi dapur dadakan, aroma mentega dan vanili menguar kuat, mengalahkan bau tanah basah pasca-hujan. Xarena, dengan rambut dicepol seadanya, tampak sangat sibuk. Di depannya, loyang-loyang berisi adonan kue kering sudah berbaris rapi.
"Mbak, itu suhu ovennya jangan kegedean, nanti gosong kayak hati yang dikhianatin, loh!" canda Satria sambil tertawa kecil, tangannya cekatan membantu mengemas kue yang sudah dingin ke dalam toples bening.
Xarena terkekeh, meski ada sedikit gurat lelah di wajahnya. "Bisa aja kamu, Sat. Udah, jangan ngeledek terus. Ini pesanan dari teman kantor kamu itu beneran mau diambil besok pagi, kan?"
"Beneran, Mbak. Tenang aja, mereka udah pada nungguin. Resep rahasia Mbak Xarena ini emang juara. Saya aja yang tiap hari nyicipin nggak pernah bosen," sahut Satria meyakinkan.
Bi Inah yang sedang merapikan label di setiap toples menimpali, "Iya, Mbak. Tadi Budhe Sum juga bilang, kalau usaha ini lancar, bulan depan kita bisa sewa gerobak atau sewa tempat di depan pasar. Biar makin banyak yang tahu kue kering kita."
Xarena tersenyum tulus. "Makasih ya, Sat, Bi Inah. Kalau nggak ada kalian, mungkin aku masih ngurung diri di kamar sambil nangis tiap malem."
"Ya jangan dong, Mbak," Satria berhenti sejenak, menatap Xarena serius. "Masa lalu mah dijadiin pelajaran aja. Sekarang kita fokus ke masa depan. Lagian, saya lebih suka liat Mbak Xarena sibuk cari cuan kayak gini daripada sibuk galauin orang yang nggak jelas keberadaannya."
Xarena mengangguk, hatinya terasa lebih ringan. Bunga lily pemberian Alan kemarin sudah ia letakkan di vas kecil di sudut meja. Ia tidak membuangnya, tapi ia juga tidak menjadikannya pusat perhatian. Bunga itu hanya pengingat bahwa masa lalu pernah ada, namun tidak untuk menghambat langkahnya hari ini.
Sementara itu, di sebuah mansion megah di pinggiran Jakarta, suasana justru terasa mencekam. Monique duduk di kursi kerjanya yang berlapis kulit asli, menyesap wine dengan gerakan anggun namun matanya menyiratkan kemarahan yang tertahan.
Di depannya, Riko—kaki tangan setianya—menunduk dalam.
"Jadi, kamu bilang dia ada di desa itu?" suara Monique dingin, nyaris berbisik namun menusuk.
"Iya, Nyonya. Dia terlihat sangat keras kepala. Dia bahkan mulai menata hidupnya sendiri di sana. Sepertinya dia sudah tidak butuh fasilitas kita lagi," jawab Riko hati-hati.
Monique tertawa sinis, suara tawanya menggema di ruangan luas itu. "Tidak butuh? Alan itu milikku. Dia hanyalah mainan yang aku buat agar terlihat seperti pria terhormat. Kalau dia mau bermain menjadi 'pria mandiri', maka aku akan tunjukkan padanya bahwa dia tidak bisa lepas dariku begitu saja."
Monique bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
"Riko," panggilnya.
"Ya, Nyonya?"
"Bawa dia kembali. Aku tidak peduli dengan cara apa pun. Mau itu dengan bujukan, atau... dengan paksaan. Kalau dia masih membangkang, buat dia sadar bahwa keluarganya di sana tidak akan pernah aman selama dia masih mencoba untuk bersembunyi."
Riko terdiam sejenak. "Apa tidak sebaiknya kita bicara baik-baik dulu, Nyonya? Alan sepertinya kali ini benar-benar serius dengan perempuan itu."
Monique berbalik, matanya menatap tajam ke arah Riko. "Kamu mulai membantahku? Sejak kapan kamu jadi penasihat pribadinya? Lakukan apa yang aku perintahkan! Dan ingat, bawa dia pulang dalam kondisi utuh, karena dia masih harus menandatangani beberapa berkas perusahaan."
"Baik, Nyonya. Saya akan berangkat besok pagi."
"Bagus," Monique kembali duduk, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang tidak sabaran. "Oh, dan satu lagi. Pastikan dia tidak lagi membawa-bawa nama 'keluarga' itu sebagai alasan untuk tidak pulang. Hancurkan harapannya kalau perlu."
Kembali ke desa, malam itu Alan dan Kris sedang duduk di teras sebuah bengkel kecil di kota kecamatan. Alan baru saja diterima bekerja sebagai mekanik lepas, meski gajinya tidak seberapa, setidaknya itu adalah langkah awal untuk menunjukkan bahwa ia mampu berdiri di atas kaki sendiri.
"Mas, kopi lagi?" tanya Kris sambil menyodorkan segelas kopi hitam.
Alan menerima kopi itu, wajahnya tampak lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya. "Makasih, Kris. Ternyata capek juga ya kerja jujur, tapi tidurnya jadi lebih nyenyak."
"Nah, gitu dong! Mas Alan yang dulu emang pantesnya jadi mekanik, bukan jadi 'peliharaan' di rumah mewah," canda Kris.
Alan tertawa lepas. "Bener juga kamu. Eh, Kris. Tadi aku sempat kepikiran soal Xarena. Kira-kira kalau usahanya lancar, dia bakal bisa lupain aku selamanya nggak ya?"
Kris menghela napas, menepuk pundak Alan. "Mas, denger ya. Xarena itu wanita hebat. Dia mungkin bisa memaafkan, tapi untuk melupakan? Itu proses panjang. Kalau Mas emang mau serius, ya buktiin terus. Jangan cuma sekali kasih bunga terus pergi. Perjuangan itu nggak ada garis finish-nya, apalagi kalau mau dapetin hati perempuan yang udah pernah disakiti dalam-dalam."
Alan terdiam, menatap kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. "Kamu bener. Aku bakal buktiin kalau aku pantas. Aku bakal kumpulin uang, aku bakal bangun rumah yang lebih layak, dan aku bakal pastikan nggak ada lagi ancaman yang datang ke hidup mereka."
Tiba-tiba, firasat Alan tidak enak. Ia merasa ada yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Ia menoleh ke arah jalanan yang sepi, namun hanya ada kegelapan yang menyelimuti.
"Kenapa, Mas?" tanya Kris.
"Nggak tahu, Kris. Perasaanku kok nggak enak ya. Kayak ada yang lagi ngawasin kita," gumam Alan.
"Ah, Mas Alan kebanyakan nonton film detektif kali," Kris tertawa, mencoba mencairkan suasana. "Udah, santai aja. Kita kan di desa, bukan di Jakarta. Mana ada orang Monique yang berani ke sini?"
Alan hanya tersenyum tipis, namun di dalam hatinya, ia merasa badai besar sedang bersiap menerjang. Ia tahu Monique tidak akan membiarkannya pergi semudah itu. Dan ia pun tahu, untuk melindungi Xarena dan Ciara, ia harus menjadi jauh lebih kuat daripada pria yang dulu.
"Ayo, Kris. Besok kita mulai kerja beneran. Aku nggak mau ngecewain siapa pun lagi," ajak Alan sambil bangkit berdiri.
Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua orang yang saling mencintai sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Xarena berjuang membangun masa depan dengan ketulusan orang-orang di sekitarnya, sementara Alan berjuang memutus rantai masa lalu agar ia bisa kembali—bukan sebagai pria yang dulu, tapi sebagai pria yang layak untuk sekadar berdiri di samping Xarena. Dan di tengah-tengah itu semua, bayang-bayang Monique perlahan mulai merayap, membawa ancaman yang bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap.