Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Satu-satunya Pria yang Tidak Kutakuti
Lova sibuk dengan pikirannya hingga tanpa sadar menabrak seorang pria yang memiliki postur yang sangat tinggi sedang serius berbicara dengan seseorang di telepon. Hingga membuat dirinya hampir jatuh terpental.
"Aah ..." ucapnya refleks menyadari sosok tersebut langsung disambut sang ibu dari belakang.
"Aku sudah sampai. Tunggu aku di ruanganmu," ucap pria itu sebelum memutus panggilan.
"Kau—??" ucapnya saat menyadari sosok wanita yang telah jauh mundur darinya.
"Maaf, Mas. Anak saya sedikit linglung," terang ibu Lova dan sedikit menunduk merangkul Lova meminta izin lewat.
Ia hanya memberi anggukan kecil dan membiarkan mereka lewat. Namun, entah kenapa terbesit olehnya untuk memotret sosok gadis yang aneh itu dan melanjutkan langkah menuju ruang kerja sahabat.
Melihat reaksi Lova yang memang 180 derajat berbeda dengan Dokter Arnold tadi, perlahan rangkaian ucapan Arnold kembali mengganggu pikirannya. Begitu juga dengan Lova, masih hening tanpa sepatah kata pun usai keluar dari ruang psikiaternya tadi.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Tak ada suara musik, maupun percakapan di antara ibu dan anak itu.
Lova duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela. Namun pikirannya dipenuhi segala hal yang baru saja ia lewati.
'Bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupmu … kamu merasa aman berada di sisi seorang laki-laki.'
Deg.
Lova langsung memejamkan mata kuat-kuat.
“Ah ... nggak mungkin harus seperti itu …” bisiknya lirih.
Namun, semakin batin menolak, semakin jelas bayangan itu muncul di kepalanya. Arnold yang berjalan di sampingnya. Arnold yang menarik tangannya. Arnold yang memintanya mengangkat kepala. Dan anehnya … selama bersama pria itu, dadanya tidak terasa sesak seperti biasanya.
Bahkan saat bertabrakan dengan pria tadi, refleks ketakutannya kembali bereaksi. "Bagaimana ini?" gumamnya sibuk pada pikirannya sendiri.
Entah kenapa ini semua membuat Lova merasa takut. Ketakutan pada hal yang sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Lova …”
Suara sang ibu membuat lamunannya buyar. Di balik kemudi, ternyata sang ibu turut memikirkan apa yang baru saja dialami putrinya.
“Mama tahu semua ini mendadak. Tapi … Saat bertabrakan dengan pria tadi, dan reaksimu saat bersama dokter Arnold, membuat Mama sadar, kamu kamu hanya bisa memerima dia.”
Lova menunduk.
“Tapi, ini terlalu aneh, Ma,” jawabnya pelan. “Mana mungkin terapi harus menikah? Dengannya?”
Sang ibu kembali bungkam. Jujur saja, baginya ini semua sungguh tak masuk akal.
Namun ... tak dapat dipungkiri, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat perubahan besar pada putrinya. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan dengan pria tadi dan juga bersama Teddy.
Mengingat nama itu, hati sang ibu mendadak terasa berat. Awalnya ia yakin Teddy adalah pria terbaik untuk Lova, bahkan ... masih menanyakan putrinya yang jelas-jelas telah menolak dengan mentah-mentah.
Kendaraan yang mereka tumpangi, perlahan memasuki halaman rumah. Akan tetapi, di saat baru saja berhenti, kedua mata Lova langsung terbelalak melihat seseorang yang berdiri di teras rumah mereka.
Di sana, tampak sosok yang tadinya sedang duduk, langsung berdiri saat menyadari kehadiran mereka.
"Teddy," gumamnya.
Pria itu mengenakan kemeja putih tulang. Rambutnya tertata rapi teroles pomade. Di meja kecil dekat kursi teras, terlihat sebuah buket berisi bermacam buah, yang memang sengaja ia siapkan untuk sekedar tahu perkembangan pengobatannya.
Teddy segera mendekati pintu kendaraan itu. Namun, raut wajah wanita yang ia tunggu, terlihat lebih muram dibanding beberapa waktu lalu.
“Hai, bagaimana dengan konsultasinya?" tanyanya berusaha untuk menanggapi dengan tenang.
Namun, ia tak mendapatkan jawaban.
Setelah turun sepenuhnya dari mobil, ia justru semakin membisu dan menggenggam tangan dengan kuat.
“Lova?” Teddy mencoba mendekat beberapa langkah.
Namun kali ini Lova hanya tertunduk. Isi kepalanya masih dipenuhi oleh penjelasan Arnold tadi.
Bagi Teddy, reaksi Lova ini sungguh berbeda. Biasanya, Lova pasti akan mundur panik saat pria termasuk dirinya datang mendekat.
“Bagaimana kata Psikiaternya?” tanyanya dengan hati-hati.
Lova menggenggam tasnya semakin erat. Kepalanya dipenuhi suara Arnold. 'Kamu nyaman bersamaku.'
Deg.
“Lova?” Teddy kembali memanggil karena tak mendapatkan respon darinya.
Wanita itu tersentak lalu buru-buru berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menjawab apa pun. Teddy tertegun memandang punggungnya. Ada sesuatu yang berubah.
Dan entah kenapa … perasaan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Di dalam kamar, Lova langsung menutup pintu dan bersandar lemah di baliknya. Entah kenapa, ada sesuatu yang berat kini tengah menggantung di dadanya.
Kedua tangan perlahan menyentuh dadanya sendiri.
Dug
Dug
Dug
Detak itu masih terasa kacau. Lova memejamkan mata dengan kuat. Namun bayangan hitam mulai muncul lagi. Karung hitam yang bersiap membungkus dirinya. Gudang gelap. Tangan besar. Suara pria menyeramkan.
Tubuh Lova langsung bergetar hebat.
“Ja-jangan…” bisiknya panik.
Ia memeluk lututnya sendiri di sudut ranjang.
Namun … di tengah ketakutan itu … Terdengar suara "Adik kecil ... Adik kecil? Kamu tidak apa-apa, Adik mecil?"
Seorang pria dengan jas putih, muncul begitu saja. Kulitnya bersih terawat. Bibir merah merekah.
Dan suara ringan yang terus mengganggunya. “Aku kan nggak semenakutkan itu…”
Ingatan bercampur aduk di kepala Lova, muncul bagai sengaja menyerang dirinya. Akhirnya, ia langsung membuka mata dengan lebar.
“Akh ... Akh …” napasnya terasa sesak.
Kenapa wajah dokter Arnold yang muncul. Kenapa bukan Teddy? Padahal, Teddy jauh lebih baik. Dia lelaki normal. Dia menerima kekurangannya. Teddy adalah pria yang selalu memberikan hadiah kecil di masa sekolahnya.
Tapi kenapa, yang membuat dirinya merasa aman justru pria aneh itu?
Tok
Tok
Tok
Pintu kamarnya diketuk perlahan.
“Lova?” suara ibunya terdengar dari luar. “Mama masuk ya?”
Lova buru-buru mengusap wajah.
Sang ibu masuk perlahan, lalu duduk di sisi ranjang. Beberapa saat, tak ada yang berbicara.
Hingga akhirnya, “Teddy masih di luar,” ucap sang ibu pelan.
Tubuh Lova sedikit menegang.
“Mama belum menceritakan apa pun,” lanjutnya. “Mama bingung harus mulai dari mana.”
Lova kembali menunduk. Rasa bersalah mulai memenuhi dadanya. Teddy sudah menunggunya selama itu.
Namun sekarang, hatinya malah kacau karena pria lain. Dan itu membuat dirinya membenci dirinya sendiri.
“Lova…” suara ibunya melemah. “Apa kamu… benar-benar merasa nyaman dengan Dokter Arnold?”
Pertanyaan itu membuat suasana kamar mendadak sunyi.
Lova hanya diam tak tahu harus berkata apa.
Akhirnya … untuk pertama kalinya … ia menjawab dengan jujur.
“Entah kenapa …” bisiknya pelan. “Aku nggak takut padanya.”
Deg.
Sang ibu langsung terdiam. Kalimat sederhana itu terasa begitu besar. Karena setelah dua puluh tahun, akhirnya putrinya mengatakan hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sementara itu, di tempat lain.
Ruangan praktik yang tadi, kini diisi oleh dua pria yang tampak serius dalam sebuah obrolan..
Arnold duduk di kursi kerjanya memegang map yang berisi lembar yang ia perlihatkan pada pasiennya.
"Bagaimana menurutmu? Aku telah menemukan seorang wanita yang tidak memandangku dengan sebelah mata," ucapnya dengan nada puas.
"Aku tak menyangka hal itu benar-benar terjadi. Jika memang begitu, akhirnya kamu bisa langsung mencobanya, bukan? Aku jadi tak perlu repot-repot mencarikan yang lain untukmu."
Tatapan mereka tertuju pada lembar surat pendaftaran pernikahan.
Perlahan … sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku tak menyangka, kejadian dulu mengantarkannya padaku ...."
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣