Sequel DIA HANTU
Yoona ingin menemukan ayahnya sejak kecil. Akhirnya, ketika dewasa, Yoona memulai perjalanan panjang untuk menemukan ayahnya.
Tapi entah kenapa, Yoona malah terjerat oleh pria asing.
Ke mana pun dia pergi, pria itu ada di sana. Yoona tidak dapat melarikan diri.
Teknik membaca pikiran yang dibanggakan oleh Yoona juga tidak berhasil untuk pria itu!
Yoona melarikan diri dengan segala cara yang mungkin namun hanya untuk tersudut oleh perangkap pria itu lagi. Pria itu menatapnya dengan muram, "Jangan lari!"
Yoona menghela nafas dalam-dalam, karena dia tidak dapat melarikan diri, itu adalah takdirnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEVANARU
Narura merajut sebuah syal berwarna biru tua. Devano menghampiri nya.
"Kenapa kau merajut? " tanya Devano. "Karena aku mau" jawab Narura enteng. "Sebentar lagi musim dingin kan" sambung Narura.
"Apa Yoona sudah kembali? " tanya Devano. "Iya, dia sedang bersama Angelo di taman belakang " jawab Narura.
"Angelo? " tanya Devano. "Iya" jawab Narura. "Apa ada masalah? " tanya Narura. "Tidak " jawab Devano kemudian membelai kepala Narura.
Narura menatap Devano. "Kau semakin cantik saja" kata Devano. Narura tersenyum geli. "Jangan merayu ku, kita sudah cukup tua" kata Narura.
Devano tertawa. "Tidak, kita masih muda dan bukankah semalam.. " Devano tidak melanjutkan kata-kata nya karena mendapatkan tatapan kesal dari istrinya itu.
"Baiklah, aku tidak akan menceritakan hal menyenangkan itu " goda Devano. Pipi Narura merona.
Narura menghentikan aktifitas nya kemudian memeluk erat Devano. Devano juga memeluk Narura.
"Ku pikir aku akan kehilanganmu" kata Narura pelan. "Aku tidak akan pergi" kata Devano.
"Aku takut kehilanganmu atau mungkin.. Aku yang akan pergi dari hidupmu" kata Narura pelan namun terdengar begitu menyayat hati.
"Suutttss jangan katakan itu " kata Devano sambil mencium kening Narura.
"Kau tahu, saat pertama aku bertemu dengan mu, aku benar-benar takut, ku pikir setelah kau menyakiti ku, aku akan mati" kata Narura.
Devano tersenyum. "Aku tidak mungkin menyakiti gadis secantik dirimu, yang ada aku ingin terus bersamamu" kata Devano.
Narura mencubit perut Devano. "Aw, kau ini apa-apaan " gerutu Devano. "Kau benar-benar genit" gerutu Narura.
"Jika aku tidak genit, kau tidak akan mencintai ku Naru" kata Devano.
Narura tersenyum. "Hal yang tidak akan pernah membuatku menyesal adalah memasuki mansion itu saat aku melihat mu tertidur terlentang di sofa, kau tahu, kau begitu seksi" kata Devano.
Narura mendengus kesal. "Dasar mesum" gerutu Narura. "Memang nya apa lagi yang bisa aku lakukan selain berbuat mesum" kata Devano.
"Seandainya waktu itu aku pergi meninggalkan mansion, mungkin kita tidak akan menikah, kita tidak akan memiliki Alex dan Yoona " kata Narura.
"Jadi kau tidak menyesal menikah dengan ku? " tanya Devano. "Aku sempat menyesal saat Bianca menghancurkan hidupku" kata Narura.
Devano mengeratkan pelukannya. "Aku benar-benar putus asa saat Bianca bilang kalau dia sudah membunuh Alex. Dan kau tahu? Aku benar-benar sakit melihat nya menggendong bayi kecil yang tak lain adalah Samuel, bayi manis itu terlihat sangat polos.. " Narura tidak melanjutkan kata-kata nya.
Dia tertawa mengingat hari itu. Hari dimana Bianca mendatangi toko bunga milik Narura. Bianca menggendong Sam di pangkuannya. Dia sengaja membuat Narura merasa cemburu.
".. Yoona menyukai bayi tampan itu. Dan bayi itu juga senang di goda oleh Yoona. Bianca bilang Yoona dan Sam cocok.. Dan itu benar, setelah Yoona dan Sam dewasa mereka sangat cocok. Bahkan Yoona lebih dekat dengan Sam di bandingkan dengan Alex" kata Narura.
Devano tersenyum. "Alex memang pendiam. Ya dia mirip sekali dengan Refano, selalu tenang tapi di balik itu, dia sangat baik " kata Devano.
"Aku sangat bahagia mengetahui Alex masih hidup, aku merasa hidupku lebih berarti saat bertemu Alex, betapa aku merindukannya" kata Narura "Aku juga.. Aku sangat meridukan Yoona.. Gadis kecilku.. Aku tidak mengira dia akan secantik dirimu Narura.. Aku pernah berpikir kalau sampai terjadi sesuatu padamu dan Yoona yang masih dalam kandunganmu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri " kata Devano.
"Jangan membahas masa lalu, aku hanya ingin membahas masa depan kita " kata Narura.
Devano mencium bibir Narura dengan lembut. Narura membalas ciuman Devano.
Beberapa detik kemudian, mereka melepaskan ciuman mereka. "Masa depan kita pasti akan menyenangkan " kata Devano.
"Kenapa kau begitu yakin? " tanya Narura. "Karena, aku ingin cerita ini berakhir happy ending" jawab Devano.
Narura tersenyum. "Apa itu bisa terjadi hanya karena keinginanmu? " tanya Narura.
"Tentu saja, aku raja, aku bisa melakukan apapun " jawab Devano dengan ekspresi jenakan nya.
"Masa depan kita di tentukan dengan tekad kita saat ini" kata Narura. "Darimana kau belajar kata-kata bijak seperti itu? " tanya Devano.
"Ahaha, dari Samuel, kau tahu, anak bungsu mu itu sangat bijak dan kurasa dia anakmu yang paling peka" kata Narura sambil tertawa renyah.
Devano tersenyum. "Meski dia bukan anakmu, kau selalu menganggapnya sama dengan anakmu yang lain" kata Devano.
"Aku menyayangi Sam seperti anakku sendiri. Dia sangat baik.. Tapi aku yakin tidak akan ada yang lebih menyayangi Sam selain Yukari " kata Narura.
"Hmm.. Iya, aku sangat berterimakasih pada Refano dan Yukari.. Mereka telah menjadi orang tua terbaik bahkan sangat baik jika di bandingkan dengan ku dan Bianca " kata Devano.
Narura tersenyum. Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita yang melengking.
Narura menatap Devano dengan ekspresi ketakutan. Dia memeluk Devano dengan erat.
"Aku takut" kata Narura. "Akan ku cek" kata Devano kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati jendela.
Dia menyingkap tirai dan melihat pohon besar itu begitu mencekam. Pohon besar hasil karya putrinya itu menjulang tinggi di tengah- tengah danau.
Teriakan itu terdengar lagi. Jelas suara itu berasal dari sana. Itu suara Bianca. Devano menautkan alisnya.
Apa Bianca masih hidup? Tiba-tiba tangan lembut itu membuyarkan lamunan Devano. Tangan itu memegang bahunya.
Devano menoleh ternyata Narura. "Aku takut" kata Narura. "Ada aku" Devano memeluk Narura.
Teriakan itu terdengar makin melengking. Sekali lagi Devano melirik pohon itu, namun kemudian dia menutup kembali tirainya.
Sementara itu, di dekat pohon raksasa itu terlihat sesuatu yang mengapung diatas permukaan air danau. Benda bulat berambut itu pun masuk kedalam air.
♡♥♡♥♡♥♡
IG : ucu_irna_marhamah
By
Ucu Irna Marhamah
jd enak di bacanya
semangat thor💪💪💪🙏
aq juga mau klau punya kk seperti Alex🤭🙏
semoga bgus ceritanya🙏💪💪💪