Tak disangka-sangka nasib buruk menimpa Putri Isnari, gadis belia yang baru berumur 21 tahun, ia harus menikah dengan pria arogan dan sombong. Pernikahan tersebut baginya adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Ia harus menikahi seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya!
Pernikahan itu sama sekali tak ada landasan cinta dan juga kasih sayang.
Mampukah ia menjalani rumah tangga yang teramat rumit itu, mampukah dia membuat pondasi rumah dengan cinta dan kasih sayang?
Yuk bareng-bareng baca kisahnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktavia Ellisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
Setelah kejadian di pesta tadi, duo sejoli itu saling diam, tak ada yang ingin memulai pembicaraan, kejadian di pesta tadi masih terekam jelas diotak mereka, dimana Putri disebut seorang ******.
"Perempuan itu siapa ya, kenapa dia seakan-akan orang yang paling khusus bagi Tuan Ridho, dan kenapa dia percaya diri sekali mengakui sebagai calon Istri Tuan Ridho, siapa sebenarnya dia," batin Putri.
"Ehmm.. besok aku akan cari tahu, tanya sama Rilli atau Keila, pasti dia tau siapa perempuan itu," pikir Putri.
"Putri kenapa diem aja sih, biasanya aja kayak bebek, ngoceh mulu, apa dia masih kepikiran soal yang tadi ya," batin Ridho.
"Put," akhirnya Ridho buka suara juga.
"Iya," jawab Putri masih linglung
"Saya lihat dari tadi kau diam saja, biasanya mulutmu itu nganga terus,ada apa?" tanya Ridho yang sudah penasaran.
"Tidak apa-apa Tuan, lagian Tuan aneh, dulu Tuan tidak suka saya banyak bicara sekarang giliran saya jadi pendiem, Tuan heran, gimana sih," ucap Putri.
"Ya bukan begitu, kau bukan pendiam tapi kau sedang melamun," jelas Ridho.
"Darimana Tuan tau, kalau saya melamun?" tanya Putri balik.
"Sayakan peramal Put, saya juga tau loh, kalo kamu itu sering puji ketampanan saya," sombong Ridho.
Putri dibuat gelapan dengan ucapan Ridho, ia jadi salah tingkah sendiri.
"Ti.. tidak.. saya tidak pernah memuji Tuan," jawab Putri gugup dengan wajah yang sudah memerah.
"Terus kenapa wajahmu merah," Ridho tambah menyudutkan Putri
"Blushh..." wajah Putri sudah seperti tomat busuk
"Ha ha ha ha... muka mu lucu sekali, seperti kepiting rebus," Ridho tertawa terbahak-bahak.
"He he.. ehm.. anu," Putri jadi gugup sendiri.
"Apa?"
"Ehm anu, itu anu," entah apa yang akan dikatakan Putri.
"Ngomong yang jelas dong Put, anu anu apa?" Ridho greget sekali.
"Ehm itu, saya mau tidur Tuan," ucap Putri kikuk.
"Ya Allah Put, saya kira kenapa, Ridho menepuk jidatnya sendiri, padahal ia sudah penasaran sekali dengan apa yang akan diucapkan Putri, ternyata hanya untuk membuat pulau.
"He he... selamat malam Tuan," Putri mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur, lalu berjalan kearah sofa, ia hendak merebahkan tubuhnya namun gagal karena Ridho.
"Kau mau tidur dimana?" ucap Ridho tiba-tiba.
"Ya disofa lah Tuan, masa dikamar mandi," jawab Putri ngelantur
"Sekarang kamu tidur disini (menepuk kasur disebelahnya), kau tidur bersamaku, jelas Ridho enteng.
"Apa.. saya gak salah denger kan Tuan!" seru Putri terkejut.
"Suaramu Putri...i udah kayak emak-emak nonton bola aja, teriak-teriak terus, bisa kan bicara pelan-pelan, enggak ngegas gitu," kesal Ridho.
"Ya abisnya Tuan tiba-tiba nyuruh saya tidur disitu, kan saya terkejut Tuan, untung saja saya tidak tidak melempar sesuatu pada Tuan," ucap Putri cengengesan
"Jawab aja terus, udah gitu suka nyalahin orang lagi," ketus Ridho.
"Udah cepetan, sini tidur," sambung Ridho.
"Ta.. tapi Tuan," tolak Putri
"Cepat kesini, atau kau mau aku yang menyeretmu kesini," tegas Ridho.
"Ba.. baik lah, saya akan kesitu sendiri," walaupun ragu, mau tidak mau Putri harus menuruti apa yang diperintahkan Ridho.
Dengan langkah yang berat ia menuju kasur, ia mulai merebahkan tubuhnya dengan dihantui rasa takut.
"Tuan tidak akan ngapa-ngapain saya kan?" tanya Putri memastikan.
"Kamu pikir saya mau ngapain, dasar otak mesum."
"Ya kan saya takut Tuan, tiba-tiba saja Tuan menyuruh saya yang sangat mustahil ini, apala.. hoammhh," ucapan Putri terpotong karena dia menguap.
"Makannya langsung tidur, enggak ngoceh terus," sahut Ridho
"Tuan tidur disitu, saya disini, jangan melewati batas ini," P.utri memberi batas bantal guling ditengah-tengah mereka
"Kenapa jadi kau ngatur-ngatur saya, disini saya Tuannya," ketus Ridho tak terima..
"Pokoknya Tuan gak boleh melebihi batas ini, titikk," tegas Putri langsung membelakangi Ridho.
"Dasar gadis nakal, seenak jidatnya saja dia ngatur-ngatur aku," batin Ridho.
Ridho mulai ikut memejamkan matanya, memasuki dunia mimpinya.
Pagi hari
Matahari sudah menampakkan sinarnya, dua pasutri itu masih asik dibawah selimutnya, mereka masih sibuk menjelajahi alam mimpinya.
"Hoamh..." Putri mulai terusik dari tidur nya.
Ia merasa ada yang menindih perutnya, ia meraba-raba benda tersebut, dan betapa terkejutnya ia saat membuka matanya, pangeran tampan berada tepat didepan mukanya, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan, Putri menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia masih belum mengerti siapa yang ada didepannya, ia kira pangeran jatuh dari langit, padahal Suaminya sendiri.
"Aaaaa...." teriak Putri sekencang-kencangnya setelah sadar dengan apa yang dilihatnya
Membuat si empu jadi terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Ada apa sih Putri, teriak-teriak terus, kemasukan kecoa baru tau rasa," Ridho sangat kesal dengan Putri keran sudah mengganggu tidurnya, ia juga sama saja masih belum mengerti dengan situasi.
"Kenapa tuan ada disini, jangan-jangan Tuan.." ucap Putri menggantung
"Gak usah mesum, masih pagi juga, cuci tuh otakmu, biar beres, kecil-kecil pikirannya ngeres," jawab Ridho.
"Sembarangan, udah lepasin tangan Tuan," ucap Putri kembali.
Ridho yang baru paham kalo tangannya berada diatas perut Putri, segera ia mengangkat tangannya.
"Ha ha ha... aku suka sekali melihat wajahnya yang kesal seperti itu," ucap Ridho riang setelah Putri pergi.
Mereka berdua mandi secara bergantian, Putri masih saja kesal dengan tingkah Ridho yang berubah-ubah seperti bunglon.
"Cepetan Tuan, saya sudah lapar," ketus Putri berani.
"Makan selimut sana, biar keyang," jawab Ridho ngawur.
"Huhh..." desah Putri kesal.
"Ngeselin banget sih jadi orang, sifatnya itu loh, berubah-ubah, udah kayak bunglon aja," gerutu Putri lirih saat menuruni tangga.
"Saya dengar Lo Putri, kamu memaki saya," sahut Ridho
"Siapa yang memaki Tuan, orang saya bernyanyi," elak Putri.
"Kamu kira saya tuli, mana ada orang nyanyi nggerutu gitu," jawab Ridho.
"Ya adalah contohnya saya," jawab Purti tak mau kalah.
"Pinter jawab ya sekarang, ingin sekali aku menyumpal mulutmu dengan sandal," ketus Ridho.
"Tuan kira mulut saya apa, main sumpal-sumpal aja," geram Putri.
"Siapa yang menyumpal mulutmu, aku kan bilangnya ingin menyumpal, belum aku sumpal, dasar pikun," cerocos Ridho.
Mereka terus saja berdebat hingga sampai dimeja makan.
"Kalian ini kenapa sih, ribut mulu, gak capek apa adu mulut," ucap Wira.
"Itu tu, menantu Ayah yang mulai duluan," jawab Ridho santai.
"Yeahh, kok nyalahin Putri, Tuan lah yang salah," saut Putri tak terima.
"Jelas-jelas kamu yang salah," ketus Ridho.
"Tuan yang salah," Putri terus saja ngotot.
"Ya Allah ya Robbi, kalian ini sudah menikah loh, masih aja berantem, apasih yang kalian ributin," Ayu sudah mulai jengah dengan menantu dan Putranya.
"He he maaf Ma," jawab Putri kikuk.
"Udah ya sekarang kalian makan aja, daripada tu mulut kebuka terus," ajak Ayu memulai sarapannya.
Seusai sarapan, para penghuni rumah sudah kabur untuk memulai aktivitasnya.
Seperti biasa Rilli kekampus, Keila ke sekolah, Putri ke toko, dan Ridho ke kantor.
Hening sudah rumah Wira dan Ayu, tanpa keberadaan tuyul-tuyul nya yang selalu membuat suasana rumah hidup, yang bisa mewarnai kadamaian keluarga Wira.
Dimohon bantu Like dan Vote ya temen-temen, kalo bisa komen juga boleh, kalo udah semuanya Big Thanks ♥️♥️