"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri
Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.
Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.
Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merindukanmu
Gadis itu segera mengunci pintu selepas kepergian Tina. Saat ini, ia masih bersandar pada pintu yang tertutup karena tidak ada tenaga yang bisa ia gunakan untuk berjalan.
Yuri terus bersandar dan ia pun kembali menangis. Ia sangat ketakutan memikirkan bahwa Awan hampir saja memperkosanya tadi. Yuri sungguh tidak tahu harus berbuat apa sekarang, sebab ia menyadari bahwa jika ia masih selamat hari ini, itu hanyalah sebuah keberuntungan.
Yuri masih menangis hingga ia mendengar suara mobil yang cukup familiar. Yuri tahu siapa yang datang mengunjunginya sekarang.
Dengan cepat gadis itu membuka pintu. Laki-laki yang hendak mengetuk pintu itu pun cukup terkejut melihat Yuri sudah membuka pintu rumahnya dan berdiri di hadapannya dengan wajah yang pucat.
"Kak Radit. kaukah itu?"Yuri berucap sambil menangis.
"Yuri? Ada apa denganmu?" Radit menyentuh pundak gadis yang berwajah pucat itu
"Hiks.. Hikss... Hiks.. Bawa aku pergi dari sini. Kumohon bawa aku pergi sekarang kak," tutur Yuri seraya memeluk Radit dengan erat.
"Hei.. Hei.. Apa yang terjadi?" Radit mengusap punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.
"Dia datang kak. Dia marah dan hampir... hiks.. hiks.." Gadis itu tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Siapa? Hampir apa?" Radit tidak sabar mendengar penjelasan Yuri.
"Maaf, Dokter Radit. Telapak kaki nona sepertinya terluka. Ada noda darah di perbannya." Perawat yang disewa Radit untuk merawat Yuri itu melihat ada yang aneh di kaki gadis itu.
Radit melonggarkan pelukannya untuk mengambil jarak. Ia langsung memperhatikan kaki Yuri dengan saksama.
Laki-laki itu terkejut saat ia menemukan ada luka-luka lebam di sekitar lutut dan betis Yuri. Selain itu ada juga perban yang dibebatkan menyelubungi telapak kaki gadis itu, yang terlihat kotor karena terkena darah.
"Apa ini Yuri? Siapa yang melakukan ini padamu?" Raditya mengeraskan rahangnya. Laki-laki itu terlihat sangat emosi sekarang.
"Dia.... Dia yang.. hiks.. hiks" Yuri seperti enggan menyebutkan nama Awan.
"Dokter, sebaiknya kita bawa dulu nona ke Rumah Sakit. Saya rasa lukanya cukup parah. Darahnya terus keluar." Perawat itu bergidik ngeri melihat Yuri yang masih kuat berdiri padahal kakinya sedang terluka.
"Suster tolong buka pintu mobilnya. Ayo kita pergi sekarang juga," seru Raditya dengan nada panik. Laki-laki itu kemudian menggendong Yuri dan membawanya masuk ke dalam mobil untuk segera melaju ke Rumah Sakit.
----‐‐-----------
*Keesokan harinya: Di Rumah Sakit*
"Bagaimana kondisimu Yuri? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Radit langsung bertanya saat melihat kelopak mata Yuri terbuka.
Semalam, setelah membawa Yuri masuk dan duduk dengan baik di kursi bagian depan mobilnya, Radit kembali ke rumah gadis itu untuk menutup pintu dan memastikan semua akses keluar-masuk telah terkunci dengan sempurna. Laki-laki itu pun segera menempati kursi di bagian kemudi dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan Yuri tidak banyak bicara. Gadis itu hanya menangis. Berkali-kali Radit menyentuh pundak Yuri untuk menenangkannya. Yuri terus menangis hingga ia tertidur karena kelelahan. Hal itu membuat Radit harus menunda rasa penasarannya lagi.
Melihat bagaimana pucat dan takutnya gadis itu tadi, Radit menduga bahwa ini mungkin ada hubungannya dengan laki-laki yang bernama Awan.
Radit mengepalkan tangannya seketika karena kesal. Seharusnya Yuri menunggunya kemarin dan tidak pulang sendirian.
Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Yuri saat itu. Apakah Awan sudah melakukan sesuatu yang tidak pantas padanya? Radit mulai membayangkan yang tidak-tidak.
"Dimana aku kak?" Yuri bertanya dengan suara serak karena baru saja terbangun dari tidurnya.
"Kamu aman bersamaku. Kita ada di Rumah Sakit sekarang." Radit menggenggam tangan Yuri.
"Syukurlah nona Yuri sudah sadar," ucap perawat yang disewa Radit itu.
"Oya, aku ingin mengenalkan padamu. Ini suster Tiara. Dia akan menemanimu dan membantumu mulai sekarang." Raditya mengenalkan perawat itu kepada Yuri.
"Suster Tiara?" Yuri menjulurkan tangannya.
"Nona, saya akan melayani nona mulai sekarang. Semoga kehadiran saya bisa membantu nona." Suster Tiara menerima tangan Yuri dan menggenggamnya dengan lembut.
"Yuri, kamu akan tinggal di Rumah Sakit selama seminggu sampai jahitan di telapak kakimu kering. Ada satu luka yang cukup lebar, sehingga harus dijahit. Sementara luka itu belum mengering, kamu harus membatasi pergerakanmu. Suster Tiara akan menemani dan membantumu setiap hari di sini. Jangan sungkan untuk meminta bantuannya. Setelah kamu pulih, aku akan mengantarmu....." Radit menjeda ucapannya karena Yuri tiba-tiba menyelanya sambil terisak.
"Kak. Aku tidak ingin pulang lagi. Bawa aku pergi keluar dari desa itu. Tolong kak. Hiks...hiks..." Radit mendekat dan memeluk Yuri dari samping. Ia terus mengusap pundak gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Apa kau bertemu dengan Awan kemarin?" Radit bertanya untuk memastikan dugaannya, sementara Yuri hanya membalas dengan menganggukkan kepala.
"Apa dia mengancammu? Apa dia bertindak kurang ajar padamu?" Yuri kembali menangis mengingat kejadian malam itu.
"Dia hampir memperkosaku, kak. Hiks.. hiks..." Raditya mengepalkan sebelah tangannya untuk menahan amarah saat mendengar ucapan Yuri.
"Dia bilang tidak perlu menikahiku untuk memilikiku. Dia hanya ingin tubuhku. Hiks.. Hiks.. Untung Budhe Tina datang sehingga ia tidak memiliki kesempatan menjalankan niatnya." Yuri melingkarkan lengannya ke pinggang Radit. Saat ini, hanya Raditya satu-satunya yang ia miliki untuk membantunya. Laki-laki itu sudah seperti kakaknya sendiri.
"Kalau begitu tinggalah di kota bersamaku setelah ini. Aku akan menyewa sebuah unit apartemen untukmu dan Suster Tiara. Kau mau kan?" Radit memberi penawaran dan Yuri mengangguk cepat, tanda setuju.
"Istirahatlah sekarang! Setelah kondisimu pulih, kita akan langsung pindah." Radit dan Yuri saling melepaskan pelukan mereka. Laki-laki itu kemudian menghapus sisa-sisa air mata yang masih melekat di pipi gadis itu.
"Terima kasih kak. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikanmu," ucap Yuri dengan lirih.
"Jika ingin membalas kebaikanku, cukup jaga dirimu baik-baik. Hmm? Sekarang tersenyumlah!" Radit mengusap kepala perempuan yang sudah seperti adiknya sendiri itu. Yuri pun menyunggingkan sebuah senyum yang manis untuk Raditya.
Ya, setidaknya saat ini, gadis itu sudah merasa aman. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang akan selalu melindunginya.
"Kak, bagaimana keadaan Mas Bram?" Yuri mencoba mencari tahu kabar Bram dari Radit.
"Jika kau ingin tahu apakah dia bahagia sekarang, maka jawabannya adalah iya. Dia bahagia Yuri. Dia bahagia tanpa tahu bahwa kamu yang memberikan kebahagiaan itu." Raditya merasa iba kepada gadis itu. Hidup Bram dan hidup Yuri berbanding terbalik sekarang.
"Kapan mereka akan menikah?" Yuri tersenyum tulus saat menanyakan hal itu.
Raditya cukup terkejut mendengar pertanyaan Yuri. Apalagi ketika melihat ekspresi gadis itu yang nampak tegar, itu benar-benar di luar dugaannya.
"Kau benar-benar ingin tahu?" Yuri menganggukkan kepala sambil tetap tersenyum.
"Segera setelah Bram benar-benar pulih. Mungkin enam bulan lagi mereka akan menikah." Raditya mengatakan yang sebenarnya.
"Aku mendoakan kebahagiaan mereka dengan tulus setiap hari. Aku senang mendengarnya kak." Yuri mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh. Tidak ada air mata dan tidak ada kesedihan dalam ekspresinya.
"Seperti mereka, aku pun berharap kamu akan menemukan kebahagiaanmu." Radit berucap dengan tulus sambil menyentuh pundak Yuri.
-------------------
*Bandung: Tiga Bulan Kemudian*
🎵🎶🎵🎶
The falling leaves drift by the window
The Autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I use too hold
"Anda ingin saya menganti lagunya dengan yang lebih modern, Pak?" Seorang ajudan yang juga berperan sebagai supir menanyakan pendapat seorang perwira yang duduk di kabin bagian belakang mobil.
"Biarkan saja. Aku menyukainya." Perwira itu menjawab sambil melihat ke arah jalan melalui kaca di sebelahnya.
"Anda penggemar Nat King Cole?" Ajudan itu kembali bertanya.
"Bukan penyanyinya. Aku menyukai hampir semua lagu oldies, siapapun penyanyinya," balas laki-laki itu kembali.
"Lagu-lagu seperti ini biasanya cocok didengar sambil mengingat orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupan kita. Apalagi jika orang itu adalah orang yang kita sayangi dan rindukan." Ajudan itu menyambung kembali ucapannya. Sementara perwira yang duduk di belakang itu hanya diam dan tenggelam dalam lamunannya sendiri.
🎵🎶🎵🎶
Since you went away
The days grow long
And soon I'll hear the winter's song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall
Tiga bulan sudah berlalu sejak kegelapan meninggalkan dirinya di meja operasi waktu itu. Setelah matanya pulih seperti sedia kala, Laksamana Pertama itu kini telah menerima pangkat barunya sebagai Laksamana Muda.
Pasca operasi transplantasi kornea itu, satu per satu kepingan kebahagiaan dan kesuksesan kembali menghampiri hidupnya yang sudah sempurna. Namun, dibalik semua kebahagiaan itu, tetap saja ada satu kekosongan yang masih ia rasakan di dalam hatinya.
Kekosongan yang muncul karena ia merindukan kehadiran seseorang yang sudah lama menghilang dari hidupnya. Seseorang yang mungkin saja terkesan sangat dibenci oleh mulutnya, namun tidak oleh hatinya.
"Aku merindukanmu Yuri. Apa kamu merindukanku?" Perwira itu bergumam di dalam hati.
🎵🎶🎵🎶
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall
--------------------------
Selamat membaca! Maaf telat up. Dari tadi belum yakin sama plotnya. Jangan lupa support terus cerita ini ya.
Wah ternyata rate cerita ini turun cukup banyak ya. Dari 4.9 ke 4.6. Itu tandanya saya masih harus bekerja keras lagi.
Jika ada saran atau masukan, saya menerima dengan terbuka lo teman-teman. Saya sebenarnya lebih suka apabila teman-teman bukan hanya sekadar menilai tapi juga memberi masukan supaya saya bisa menjadi lebih baik. But over all thank you so much. Saya menerima semua dengan hati yang lapang.
Sampai jumpa di episode berikutnya.