Buku Merah Maroon seolah menebar kutukan kebencian bagi siapapun yang membacanya. Kali ini buku itu menginspirasi kasus kejahatan yang terjadi di sebuah kegiatan perkemahan yang dilakukan oleh komunitas pecinta alam.
Kisah lanjutan dari Rumah Tepi Sungai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku yang membakarnya!
Suara napas tersengal nyaris serupa dengan seekor anjing yang kelelahan. Langkah kakinya terseok-seok. Pada akhirnya tubuh tegap itu terjerembab pada kubangan air di tepi jalan becek berlumpur.
Aldo merasakan betis kanannya mengeras. Ia mengerang, menyerah pada kram yang mencengkeram otot. Lidahnya terjulur, menjilat rintik gerimis yang tentu saja tidak mampu mengobati dahaga.
"Mbokne Ancuk!" umpat Aldo. Dia menepuk-nepuk betisnya sendiri.
Sambil mengatur napas, Aldo menyandarkan punggungnya pada pohon besar di tepi jalan. Pohon bendo yang dilihat Anggoro saat datang ke hutan pagi tadi. Aldo sudah separuh perjalanan untuk sampai ke jalanan besar menuju ke kota.
Setelah melihat kematian Pak Nafi' dan Yuzi, Aldo memutuskan untuk berjalan kaki keluar dari hutan. Baginya keputusan terbaik adalah secepat mungkin untuk menjauh dari hutan yang membawa kematian pada teman-temannya. Ia masih belum bisa memastikan siapa musuh yang sedang dihadapi.
Bukankah menakutkan melawan sesuatu yang tidak diketahui? Siapa yang sangat mendendam pada Aldo dan gerombolannya, hingga tega membalas dengan cara demikian keji? Sambil mengatur napas, Aldo kembali memilin ingatannya.
Pertama, Aldo mengingat kesalahannya pada Anggoro. Semua berawal karena rasa dikalahkan oleh Anggoro. Perhatian Ayah yang sangat dia hormati beberapa kali tertuju pada kepintaran Anggoro. Bahkan Ayah Aldo cukup sering membicarakan Anggoro saat berada di rumah.
Aldo yang merasa kasih sayang Ayahnya terbagi, mulai mengerjai Anggoro. Dia pernah mengisi tas ransel Anggoro dengan air seninya. Meludahi, menampar, ataupun menyikut perut Anggoro nyaris setiap hari. Namun, rasanya mustahil Anggoro mendendam hingga berniat menghabisi Aldo dan semua temannya.
Aldo menggeleng perlahan. Ia mengalihkan dugaannya pada orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Banyak sekali orang yang sudah ia sakiti baik secara fisik ataupun verbal. Namun sekali lagi ia merasa ragu ada yang mendendam padanya sedemikian mengerikan.
"Mustahil," gumam Aldo lirih.
Pikirannya kembali berputar, kemudian teringat saputangan bertuliskan Iik yang dibawa Pak Dollah.
"Iik, gadis bisu itu. . ."
Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari semak belukar di belakang Aldo. Remaja berwajah tampan itu terkesiap. Segera berdiri dan mengarahkan lampu flash handphone ke sekeliling. Bulu kuduk langsung berdiri. Entah bagaimana, yang terbayang di pelupuk mata Aldo adalah gadis berambut panjang bermata sayu, Iik.
Kesunyian mulai terasa menyiksa Aldo. Waktu seakan berhenti. Oksigen terasa menipis. Sesak, dada terasa berdebar-debar. Hingga akhirnya semak belukar kembali bergerak, dan sesuatu muncul dari kegelapan.
"Mbokne ancuk!" umpat Aldo kesal, kala seekor luwak melompat menyeberangi jalan.
Belum sempat rasa terkejutnya mereda, terdengar bunyi berdesis dari arah belakang Aldo. Bunyi yang mirip siulan lirih. Sebuah hentakan menghantam punggung Aldo sebelah kanan. Cairan merah terciprat ke wajah Aldo. Otak untuk sesaat membeku, seperti telat mengirimkan sinyal rasa sakit. Beberapa detik setelahnya barulah terasa, tubuh Aldo terdorong dengan rasa nyeri tak terperi.
Aldo mengerang kesakitan. Ia ambruk di tanah, dengan sebuah anak panah menembus tulang belikat. Bahu kanan tidak bisa digerakkan. Meski tidak mengenai organ penting, tetap saja darah yang mengalir sangat banyak.
Derap langkah kaki mendekat. Seseorang muncul dari kegelapan. Di bawah pohon mahoni, menggenggam sebuah bow gun dan mengenakan jas hujan berwarna hitam. Mulutnya menyeringai seperti hewan buas. Pun bola matanya tampak liar, pupil menyipit di antara bayangan dedaunan.
"Rana?!" pekik Aldo dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Hallo. Ternyata aku cukup jitu mengincar bagian tubuhmu yang tidak vital. Padahal jarak bidikku cukup jauh," gumam Rana terkikik.
"Tunggu dulu. Tunggu dulu sebentar. Apapun masalahmu denganku, dengarkan aku dulu," pekik Aldo hendak bernegosiasi. Ia merasa yakin informasi yang dia miliki akan menyelamatkan nyawanya.
Sosok Rana menghentikan langkah beberapa jengkal dari tubuh Aldo yang terbaring di tanah. Sosok yang diduga oleh Pak Nafi' tewas di sungai dengan wajah hancur itu nyatanya kini sedang berdiri di hadapan Aldo. Bagaikan iblis, deru napasnya terdengar menggelegar.
"Rumahmu. . .rumahmu terbakar Rana. Aku ingin cepat-cepat pulang untuk melihat kondisi Rina, saudaramu," ucap Aldo sambil meringis menahan sakit. Rana diam saja tak menyahut.
"Aku tidak berbohong. Aku berani bersumpah. Kamu tidak bisa melihat di media lokal karena tidak ada sinyal kan? Aku tadi sempat dapat sinyal di rumah tengah hutan itu. Kita harus segera pulang, Rana," bujuk Aldo memelas. Ia merasa yakin Rana akan menurutinya saat ini. Aldo mengabaikan pertanyaan di hati kenapa Rana hendak menghabisinya. Yang paling penting bagi Aldo sekarang adalah selamat dari maut.
"Jika kamu mendendam padaku soal apapun, aku bersumpah kamu boleh melakukan apapun nanti. Yang penting kita harus pulang dulu. Kumohon," pinta Aldo menunjukkan ekspresi memelas. Meskipun perkataannya tersebut mengandung dusta.
Rana menghela napas panjang. Dia berjongkok tak jauh dari Aldo. Tangan kanannya masih erat menggenggam bow gun milik Anggoro.
"Aku sudah tahu semua itu," balas Rana lirih. Nyaris seperti berbisik.
"Hah?" Aldo mengernyit.
"Aku tahu kalau rumah itu terbakar. Bahkan aku juga tahu kalau semua keluargaku tidak selamat, Aldo. Aku tahu bahkan sejak kita berangkat ke hutan ini tadi." Rana menyeringai. Aldo tampak kebingungan.
"Apa yang kamu katakan? Apa maksudmu?"
"Aku yang membakarnya, Aldo. Aku yang memasukkan saudara kembarku yang cantik, pintar itu ke dalam kobaran api," jelas Rana. Bahunya tampak berguncang. Ia tertawa perlahan memecah kesunyian hutan.
"Bagaimana mungkin? Apa yang kamu katakan? Hutan telah membuatmu gila Rana!" Bola mata Aldo bergetar.
"Kamu adalah pacar yang buruk. Bagaimana mungkin kamu tidak bisa membedakan pacarmu sendiri dengan saudara kembarnya yang laki-laki? Sungguh menggelikan," ejek Rana.
Aldo terperangah. Ia teringat saat hendak berangkat ke perkemahan, Rina menemuinya mengenakan hoodie dan riasan tipis. Saat itu entah kenapa tiba-tiba Rina membatalkan janji untuk ikut ke perkemahan tanpa alasan yang jelas.
"Jadi, tadi? Itu bukan Rina? Itu kamu?" sergah Aldo tidak percaya. Rana mengangguk meyakinkan.
"Sebuah kondisi langka kembar beda gender tetapi memiliki wajah, dan postur yang mirip. Aku cukup memakai bedak dan parfum milik Rina. Menemui kamu dengan wajah masam, seolah sedang tidak enak badan. Dan kamu tertipu mentah-mentah." Rana terkekeh.
"Jangan main-main asuw!" Umpat Aldo tiba-tiba.
"Jadi, saat kalian menjemputku tadi, Rina sudah tidak bernyawa di kamarnya. Kupotong nadinya. Dan tentu saja sekarang sudah menjadi arang," ucap Rana. Matanya berubah memerah, seperti hendak menangis. Aldo tertunduk lesu. Ucapan Rana seperti sebuah pukulan yang telak mengenai ulu hati. Ada sensasi mual dan tidak nyaman di dalam perutnya. Aldo benar-benar menyukai Rina dan tidak terbayangkan saat ini kekasihnya itu sudah tak bernyawa.
"Sepertinya kenyataan jika saudara kembarku sudah mati cukup menyiksamu. Namun sayangnya, aku pun merasakan sisi sentimentil yang serupa. Bagaimanapun dia saudara kembarku. Kami sudah berbagi banyak hal hingga sekarang. Hal baik untuknya dan hal buruk untukku. Sial, kenapa aku menangis?" Rana mengusap sudut matanya menggunakan ujung siku.
terima kasih banyak atas karyanya.