[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35. Chat, Nggak?
"Jika gue nggak buat ulah. Bu Siti pasti nggak ada kerjaan dan gue sebagai murid yang bersikeras dengan keadilan tidak ingin jika Bu Siti makan gaji buta," tutur Verrel sebelum memutar knop pintu.
Farhan dan Martin hanya melongo mendengar ucapan Verrel yang terkesan ngawur.
Ternyata masalah itu tak berhenti sampai disini. Setelah Farhan ikut keluar menyusul Verrel. Martin tersenyum miring, lalu meraih ponselnya.
Setelah menelfon. Martin kembali meletakkan ponsel itu. "Papa tau kalian berdua berbohong!" gumam Martin.
Martin tetaplah Martin. Tidak mudah untuk membuatnya percaya, pria parubaya itu tidak akan berhenti sampai di sini. Bisa di bilang Martin akan menelusuri masalah ini sampai akarnya. Tidak terlalu penting memang, tapi cukup membuatnya penasaran.
Farhan anak yang di bangga-baggakannya membuat onar di sekolah pasti ada penyebabnya. Tidak mungkin hanya itu! Martin tak sebodoh itu. Mengurus perusaahan saja sudah menjadi hobinya bahkan kehidupannya, mana mungkin ia tidak bisa menyelesaikan kasus kecil ini.
####
Farhan dan Verrel bernafas lega, berfikir ini sudah benar-benar berakhir. Mereka berjalan beriringan menuju kamar mereka masing-masing.
Verrel berjalan melewati kamarnya dan masih mengikuti Farhan yang berjalan di sampingnya, yang mampu membuat kening Farhan berkerut bingung.
"Lo ngapain ngikutin gue?" sewot Farhan. Memutar bola matanya malas. "Kamar lo dah lewat! Tuhh ... kamar lo jangan bilang setelah pura-pura bisu lo mau pura-pura lupa juga?" timpalnya lagi menunjuk kamar Verrel dengan dagunya.
Verrel hanya menaikkan sebelah alisnya, semakin membuat kening Farhan berkerut bingung.
Farhan kembali melanjutkan langkahnya. Dan saat tinggal selangkah lagi Farhan menyentuh knop pintu kamarnya dan memutarnya ...
BRUG!
"Sialan lo Adik Durhaka. Mati aja sana lo," teriak Farhan kesal. Mengelus jidatnya yang sempurna mencium pintu.
Verrel mendorong tubuh pemuda itu hingga menghantam pintu yang masih tertutup.
"AHAHAHAHA ..." Verrel tertawa memegangi perutnya lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur kingsize miliknya.
Anggap aja ini sebagai balasan Verrel untuk Farhan.
DRRTT! DRRRT!
Benda pipih milik Verrel bergetar, dengan cepat Verrel meraih benda itu yang tergeletak tak jauh di kasurnya.
Verrel mengerutkan keningnya saat nomor tak di kenal tertera di layar ponselnya.
Notifikasi WhatsApp ... Verrel membuka room chat itu dengan malasnya.
+6285xxxxxxxxx
|Assalamu'alaikum ...
Verrel tak menjawab notifikasi itu, lagian itu dari nomor yang tak di kenalnya. Verrel berfikir itu nomor salah satu gadis yang tergila-gila dengannya, Verrel sudah biasa mendapat pesan seperti itu. Entahlah, siapa yang menyebar nomor ponselnya, bodo amat! Verrel tidak peduli.
Verrel menaruh ponsel itu asal. Dan memilih berkelana memasuki dunia mimpinya.
####
FLASHBACK ON
"Audy, Zahra boleh minjem ponsel Audy?" tanya Zahra hati-hati, menggigit bibir bawahnya untuk menahan kegugupan. Setelah dari kantin kedua gadis itu memilih kembali ke kelas.
Zahra menyusuri kelasnya mencari keberadaan Verrel dan kedua sahabat pemuda itu. Zahra hanya ingin menanyakan alasan pemuda itu melayangkan kepalan tangannya ke arah Farhan. Yang Zahra ketahui, ketua OSIS ramah dan berkharisma dan juga saudara pemuda itu tidak mungkin memulai duluan, pasti si cowok muka datar itu yang memulai duluan.
Pikir Zahra.
"Lo mau ngapain emang?" tanya Audy mengintimidasi, memicingkan matanya menatap Zahra curiga.
Zahra menggeleng, kemudian menyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Nggak kok cuman minjem bentar doang," ucapnya memohon. Menatap melas Audy.
Audy merogoh sakunya menyerahkan ponselnya ke arah Zahra yang di sambut berbinar oleh gadis itu. Zahra menerimanya dengan senang hati. Setelah itu, Audy tak tau lagi apa yang Zahra lakukan dengan ponselnya.
Zahra dengan cepat mengetikkan sesuatu pada ponsel itu.
Cari kontak!
Zahra mengetik cowok muka datar kemudian menepuk jidatnya, kemudian beralih mengetik Verrel Aryanka dan ketemulah kontak pemuda itu.
Zahra mengambil ponselnya dan dengan cepat menyalin nomor itu, setelah itu mengembalikan ponsel milik Audy.
"Makasih," ucapnya dan Audy mengangguk.
"Ra, gue pengen minta nomor hp lo juga," ujar Audy lalu menyerahkan kembali ponselnya ke arah Zahra.
Zahra segera mengambilnya dan mengetik nomor ponselnya, setelah ter-save Zahra mengembalikan ponsel itu lagi.
Setelah itu, pelajaran pun di mulai karena Bu indah memasuki kelas mereka dengan beberapa buku di pelukannya. Guru kimia itu terlihat masih sangat cantik walaupun sudah berkepala tiga.
FLASHBACK OFF
"Ish ..." desis Zahra, menaruh kembali ponselnya.
Jantung Zahra hampir saja melompat keluar saking bimbangnya ingin mengirimkan pesan pada Verrel atau tidak. Hampir 2 jam lebih Zahra berfikir, menguras konsentrasi dan nyaris membuat Zahra jadi gadis bodoh sungguhan.
Bahkan, rumah Zahra pun kelewat lumayan jauh karena tidak fokus saat di atas angkutan umum yang di tumpanginya. Alhasil, Zahra berjalan kesal bertolak arah karena uang jajannya telah habis.
Kotak bekalnya pun terlempar saat jatuh tadi siang. Alhasil, Zahra membeli makanan dari kantin di tambah dengan ongkos angkutan umum yang berlipat ganda.
Zahra benar-benar sial hari ini.
Dengan nekad Zahra meraih ponselnya mengetik hapus, kemudian mengetik hapus. Sampai gadis itu lelah sendiri.
Fix!
Cowok Muka Datar, Kamprett👎
Assalamu'alaikum...
✔️✔️
Zahra menunggu dengan gugup, hingga terlihat jelas dua centang biru itu dan itu artinya Verrel sudah membaca pesannya.
Niatnya ingin bertanya alasan pemuda itu memukul Farhan. Tapi, cowok muka datar itu nyaris membuatnya kesal setengah mati.
Zahra bodoh!
Zahra menyimpan ponselnya asal, mencabik-cabik bantal yang sekarang ada di pangkuannya. Pasti cowok muka datar itu tertawa terpingkal-pingkal akibat kebodohan yang lagi-lagi di buatnya. Pikir Zahra.
Zahra menarik nafas gusar. Setelah itu, melepas hijab pink yang di kenakannya dan memilih tidur sambil memeluk bantal guling bergambar doraemon.
"Ish ... Kok nggak di bales?" Zahra bergumam, ia meraih kembali ponselnya dan nyatanya masih sama. Hanya terlihat dua centang biru tapi tak kunjung ada balasannya.
"Apa aku chat lagi aja yah?" Zahra bermonolog sendiri sambil mengubah posisi tidurnya.
"Chat nggak yah?"
Zahra menghitung jari tangannya sambil terus bergumam tidak jelas. "Chat, nggak, chat, nggak, chat, nggak, chat, nggak, chat, nggak."
"Yahh kok enggak sih?" Zahra mencebikkan bibirnya saat hitungan terakhirnya berhenti di kata nggak.
"Eh, ngapain aku bingung gini? Itukan bukan masalah aku. Iya yah, ngapain yah aku bingung." Zahra masih saja bermonolog sendiri.
Di rumah yang hanya terdapat dirinya, tapi ia merasa aman karena semua jendela dan pintu sudah terkunci, itu karena Raihan yang menganjurkan. Lagi pula, Raihan membawa kunci cadangan.
Setelah lelah bermonolog, Zahra pun terlelap dengan ponsel yang masih berada di pegangannya.