Apakah anda mengalami hal-hal tak wajar disekitar anda?
Seperti suara anak ayam di malam hari yang berubah menjadi suara wanita cekikikan? Bau singkong bakar meskipun tidak ada yang sedang membakar singkong? Buah kelapa yang tertawa sambil bergulir kesana-kemari? Atau kepala berserta organnya melayang-layang di rumah orang lahiran?
Apakah anda merasa terganggu atau terancam dengan hal-hal itu?
Jangan risau!
Segera hubungi nomor Agensi Detektif Hantu di bawah ini.
Kami senantiasa sigap membantu anda menghadapi hal-hal yang tak kasat mata. Demi menjaga persatuan, kesatuan, dan kenyaman.
Agensi Detektif Hantu selalu siap menemani dan membantu anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eko Arifin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Masalah IV
Setelah keluar dari rumah pak Bakhri, Ardian nampak diam saat berjalan ke arah motornya yang di ikuti oleh Nur dari belakang, sangat nampak sekali bahwa dia sengaja tidak berbicara dengan gadis itu.
Nur hanya bisa menunduk, seakan tahu alasannya. Pria di depannya ini selalu mengajaknya berbicara agar bisa merasa nyaman di Agensi, namun sekarang, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Ardian.
"Apa... kakak masih marah? Karena Nur ngambil kasus ini sendirian?"
Tak mau menjawab, Ardian tetap berjalan ke arah motornya, yang kemudian ia naiki sebelum menatap Nur dengan tatapan datar.
"Naik... Gue tahu elu belum di bolehin pake motor sendiri. Gue anter sampai ke rumah."
"Gak mau ah kalau kak Ardian masih marah sama Nur..." ujar gadis belia itu sambil menyilangkan tangannya dan membuang muka.
"Naik..."
"Gak mau!" jawab Nur manyun.
"Jangan bikin gue nanya sampai ketiga kali ya..."
"Iya deh iya..." ujar Nur menyerah sebelum naik ke bagian jok belakang motor supra milik Ardian.
Di kantor Agensi Detektif Hantu sangat kental dengan cerita sifat Ardian yang jika dia memberi peringatan atau meminta sesuatu, tidak boleh di abaikan lebih dari panggilan ketiga.
Karena jika ketiga kalinya Ardian memanggil dan tidak di dengar, dia akan marah besar. Dan kemarahannya itu sangat menakutkan.
Ardian menancap gas, melajukan motornya dengan kecepatan sedang ke arah jalan utama, melewati gang sepi dan gelapnya malam tak membuatnya dan Nur merasa takut karena karunia yang membiasakan mereka melihat makhluk-makhluk ghaib.
Di tengah jalan utama, Ardian berhenti di sebuah restauran dan memarkikan motornya sebelum turun dari kendaran roda dua itu bersama dengan Nur.
"Kita makan di sini dulu, sekalian buat bapak sama ibu..."
"Iya kak..." ujar Nur menuruti keinginan pemuda ini sebelum memperhatikan area restauran itu dengan seksama dan tingkahnya terlihat oleh Ardian.
"Tenang saja, restoran ini gak ada pesugihan atau semacamnya. Gila aja kalau elu mikir gue bakal makan ke tempat kayak gituan... apalagi buat bapak sama ibu."
"Hehehe... namanya juga waspada kak." balas Nur dengan cengiran kuda.
"Kalau sama orang biasa wajar elu punya pikiran seperti itu, tapi ini kan sama gue, Nur. Gue juga tahu mana warung yang pake gituan mana yang enggak." sahut Ardian menjelaskan.
"Iya juga ya..."
Ardian hanya geleng-geleng kepala sebelum melewati beberapa mobil dan motor yang terparkir di depan, tanda warung makan ini sedang ramai pengunjung sebelum masuk ke dalam bersama dengan Nur.
Saat masuk ke restoran, mereka sudah di sambut oleh pelayan wanita saat melewati pintu depan.
"Selamat malam kak, mau pesan ruangan yang biasa, VIP atau VVIP?" tanya pelayan resto dengan sopan.
Ardian melihat di lantai satu semua meja sudah hampir penuh, di tambah hiruk priuk suara para pengunjung yang masih nongkrong setelah makan.
Dia berpikir, bahwa lebih baik memilih ruangan yang tenang karena ada hal penting yang harus di sampaikan kepada Nur.
"Saya milih VIP yang biasa aja mbak dan non-smoking area." jawab Ardian.
"Untuk berapa jam?"
"Setengah jam saja."
"Baik kak. Silahkan ikuti saya."
Nur berpikir kenapa Ardian memesan ruangan yang non-smoking meski dia itu perokok dan sadar alasannya apa setelah beberapa saat.
"Ya elah kak, kalau mau merokok mah gak usah mikirin Nur. Toh, Nur juga gak ada masalah sama asepnya..."
"Biarin..." jawab Ardian pendek.
Di sisi lain, Nur merasa sangat senang karena Ardian memikirkannya, memutuskan untuk tidak merokok saat bersama dengan dirinya.
Tak di sangka, senyuman kecil pun terbentuk di bibir Nur.
"Kak... ini ruangannya."
Ardian dan Nur di suguhi ruangan 4x4 berlapis dinding kaca tembus pandang, terdapat sofa dan meja seperti tempat nongkrong yang sangat asyik, terdapat beberapa CCTV di setiap sudut, demi merekam kejadian yang tidak bermoral.
"Kakak mau pesan sekalian atau menunggu?"
"Langsung aja mbak. Mau pesen apa Nur?" tanya Ardian.
"Ada nasi goreng seafood gak?" sahut Nur yang ingin tahu apakah restoran ini menyediakan makanan kesukaannya.
"Oh, tentu ada kak. Di sini memang menu paling favorit adalah nasi goreng seafood. Juga, termasuk best sellernya."
Nur terkejut saat mendengar itu, seakan Ardian sengaja mengajaknya kesini karena ada makanan kesukaannya.
"Saya pesen dua nasi goreng seafood makan disini, satu pedes, satu sedeng, terus dua lagi nanti di bungkus sedeng semua. Minumnya, saya air putih panas sama kopi item tanpa gula."
"Kalau kakak?" tanya pelayan kepada Nur.
"Um... saya es jeruk saja." jawabnya.
"Baik kak. Pesanan sudah saya terima. Silahkan duduk dan tunggu dulu ya..." ujar pelayan itu sebelum beranjak pergi.
Nur kembali terseyum saat tahu Ardian ingat bahwa dia suka makanan pedas sebelum memasuki ruangan yang di pesan secara bersamaan, dan duduk di sofa secara berdampingan.
"Ini kencan atau apa ya? Bikin baper aja nih kak Ardian." pikir Nur dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Namun... seketika lamunannya pun hancur berkeping-keping saat mendengar...
"Oke... Apa alasan elu ngambil kasus tanpa seizin gue atau Rendy? Apa Putri juga ikut andil dalam hal ini?" tanya Ardian dengan tatapan tajam dan mimik wajah serius.
"Yah elah... ini mah bukan kencan tapi introgasi." ucap Nur dalam hati.
"Jawab..." tukas Ardian tanpa meninggikan nadanya namun tersimpan kemarahan yang masih tertahan.
"E-eh, iya kak. Jadi begini... Saya merasa kalau saya tidak akan berkembang tanpa bekerja di lapangan langsung. Di tambah, kak Ardian terlihat sangat letih dan capek beberapa hari ini. Jadi, saya ambil satu kasus tanpa sepengetahuan kak Ardian dan kak Rendy..."
"Kalau Putriani? Apa tanggapannya?"
"Kak Putriani setuju usulan saya. Jadi ya... begitu deh." lanjut Nur yang membuat Ardian terlihat menghela nafas panjang, dan memijat dahinya.
"Lagipula, kasus anaknya pak Bakhri juga termasuk kasus yang mudah kan, kak?"
Nur secara tidak langsung, telah meremehkan kasus sebelumnya.
Dia tidak menyadari bahwa dia telah membuat suatu kesalahan yang besar karena kurangnya pengalaman dalam merumuskan masalah sebuah kasus yang berhubungan dengan dunia ghaib.
"Tapi kenapa anaknya pak Bakhri masih kesurupan lagi ya? Padahal sudah tak pagarin juga kamarnya."
"Ya itu alasannya, kamu belum bisa merumuskan masalah utamanya dan beberapa faktornya untuk solusi jangka panjang." jelas Ardian.
"Maksud kakak?"
"Tidak semua problematika masyarakat itu alasan utamanya itu adalah mistis, contoh saja kasus anaknya pak Bakhri."
Ardian mencoba menjelaskan logikanya dengan cara yang mudah di pahami.
"Dia kesurupan bukan karena gangguan dari makhluk ghaib tetapi karena kondisi mental dan pikirannya sedang tergoncang, dan kedua faktor itulah yang menjadikan dia sasaran empuk para makhluk ghaib."
Ardian melanjutkan lagi, "Jika mental dan pikirannya membaik dan kembali normal, maka anaknya pak Bakhri pun tidak akan kesurupan lagi... sampai sini paham?"
Nur pun hanya bisa diam dalam seribu bahasa, apa yang di jelaskan Ardian perihal sumber masalah dari kasus anaknya pak Bakhri tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Karena itu, kamu masih harus di dampingi sama gue atau Rendy dalam mengambil sebuah kasus dan belajar cara merumuskan masalah dan merumuskan solusi jangka panjangnya..."
"Tapi kak..."
"Tidak ada tapi-tapi! Apa yang kamu lakukan sebelumnya itu berbahaya! Bisa mencelakai orang lain dan dirimu sendiri. Kasus yang kita terima pun bisa jadi jebakan dari orang lain!"
Lagi dan lagi, Nur hanya bisa diam saat mata air perlahan ingin keluar, namun terperangkap saat Nur menahannya.
Ardian pun merasa bersalah karena menggunakan nada tingginya, dia tidak ingin menyakiti perasaan Nur yang telah memikirkan kesehatannya.
Tetapi...
Nur harus menyadari bahwa yang dia lakukan itu sangat berbahaya, karena kasus yang mereka terima bisa jadi kasus bodong atau jebakan yang dapat membahayakan Agensi Detektif Hantu.
Di tambah kurangnya pengalaman dalam memahami bahaya di dalam sebuah kasus, membuatnya dapat terjerumus kedalam lubang buaya.
Ini bukan masalah popularitas, namun masalah keselamatan, karena sebagai CEO, Ardian bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya.
Dalam ranah ini... Nur dan Putriani telah melanggar peraturan yang telah Ardian buat.
"Permisi kak... makanan dan minum-"
Mbak pelayan masuk ke ruangan saat membawa pesanan, namun terhenti saat melihat Ardian dengan muka bersalah dan Nur yang menahan tangisnya.
"Eh, buset... Gue gak di kasih duit lemburan buat nonton drama kayak gini ya..." pikir mbak pelayan dalam hati.