Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Kecerobohan Elzan
"Ke sini lagi?" Tanya Beena begitu Elzan menghentikan mobilnya di pelataran rumah.
Rumah yang pertama kali ia pijaki untuk menyerahkan jiwa raganya pada Elzan, suaminya. Kejadian yang tidak pernah terlupakan.
Berharap tidak ada pertemuan setelahnya namun apa daya ternyata suaminya menepati janjinya untuk bisa melindunginya.
Beena mendadak diam ada rasa nyeri manakala Elzan tidak menanggapi pertanyaan yang mungkin menurut Elzan pertanyaan Beena tidak penting untuk dijawab, namun bagi Beena hal itu harus dijawab sebagai bentuk rasa kepeduliannya pada istri.
Elzan turun untuk membuka pintu penumpang. Wajahnya masih terlihat masam. Hal ini membuat Beena tambah kesal.
"Aku juga bisa buka pintu sendiri!" Kata Beena jutek.
Hanya masalah sepele, suaminya begitu terlihat marah. Padahal ia sudah meminta maaf. Apakah ini karakter Elzan yang sebenarnya?
Beena cemberut.
"Oh ya? Kalau begitu diulang ya!" Elzan menutup pintu kembali, lalu ngeloyor ke dalam dengan raut wajah yang kesal.
"Iiish dasar es balooook!" Teriak Beena kesal sambil berusaha membuka pintu itu kembali.
Beena mencoba membuka pintunya berulang-ulang namun ternyata gagal. Alternatif terakhir ia menggedor jendela sambil berteriak memanggil suaminya namun nihil suaminya tidak mendengarnya karena sudah masuk ke dalam rumah. Berusaha membuka kaca jendela mobil pun tidak bisa, semuanya terkunci secara otomatis.
"Ya ampun kenapa pintunya jadi terkunci begini? Kaca jendela juga engga bisa dibuka, Mas Elzan bukain pintunya!" Beena mulai resah.
Beena berteriak memanggil satpam yang melewati mobilnya begitu saja. Satpam tersebut tidak mendengar, dia terlihat hendak masuk ke dalam rumah. Biasanya dialah yang akan memasukkan mobil ke garasi.
Bulir peluh mulai membasahi keningnya, badannya pun mulai terasa gerah.
"Ya Allah kuatkan aku..."
Pun kalau hidupnya berakhir di sini ia berharap tidak menjadi arwah penasaran karena ulah suaminya.
Beena mencari apa pun yang bisa buat dijadikan kipas manual. Dia hanya menemukan buku STNK dari dalam dashboard. Ternyata buku tersebut tidak bisa membantu memulihkan kondisi tubuhnya yang mulai melemah.
Kepalanya perlahan mulai berdenyut. Ia berusaha menghirup udara melalui hidung dan mulutnya yang terbuka untuk membantu mengambil oksigen, namun tubuhnya sudah mulai melemah dan akhirnya...
...****************...
Cukup lama satpam tersebut menunggu Elzan yang sedang mandi. Begitu selesai, Elzan menyerahkan kunci tersebut sambil mengedar pandangan ke ruang tamu.
"Cari siapa Mas?" Tanya Satpam heran melihat Tuannya celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang.
"Pak Bono lihat Rully?" Tanya Elzan pada satpam yang bernama Bono.
"Rully siapa Mas?" Bono balik bertanya.
"Wanita yang pernah kubawa ke sini seminggu yang lalu. Apa Bapak melihatnya?"
"Engga ada siapa-siapa sejak tadi Mas." Mata satpam tersebut memindai ruangan.
Elzan terdiam beberapa saat.
"Ya Allah, Pak buka pintu mobilnya cepat!" Elzan berlari ke luar setelah menyadari istrinya masih di dalam mobil.
Tutut
Elzan segera membuka pintu mobil dengan hati yang gusar.
"Ya Allah Rully...kamu kenapa? Bangun Rully...Bangun!" Elzan menepuk-nepuk kedua pipi Beena, namun tidak ada respon.
"Mas apa tidak sebaiknya Mbak Rully dibawa ke rumah sakit." Usul Bono.
"Tidak usah. Rully dibawa ke dalam saja. Denyut nadinya masih normal. Pak Bono tolong hubungi dokter Indra untuk datang ke sini, sekarang!"
"Siap Mas!"
"Rully bangun, kumohon Rully bangunlah! Maafkan aku." Elzan mendekap istrinya. Seraya mencium kepala yang berbalut hijab.
Elzan membopong istrinya ke dalam rumah. Seraya membaringkannya di atas sofa ruang tamu.
Sebagai pertolongan pertama ia mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan di area hidung. Elzan menepuk-nepuk pipi Beena dengan hati khawatir.
"Rully bangun...bangun sayang. Maafkan Masmu. Ya Allah jangan ambil Rully selamatkan Rully. Mas janji hal itu engga terulang lagi. Bangun Rully...bangun sayang!" Elzan mengusap wajah ayu itu dengan lembut.
"Mmmh..." Gumaman halus terdengar jelas di telinga Elzan.
"Alhamdulillah. Rully bertahan ya! Sebentar lagi dokter datang. Sebentar Mas buatkan teh hangat." Elzan tersenyum haru.
Elzan setengah berlari menuju dapur. Ia dengan cekatan membuatnya. Setelah itu ia langsung ke kamarnya dan meletakkan segelas teh di atas meja. Ia tidak menyangka keegoisannya membuat istrinya tidak berdaya.
Tidak lama kemudian seorang laki-laki berjas putih masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang terjadi El?"
Elzan menceritakan kejadian yang ia alami bersama istrinya. Dokter Indra hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Untung saja kamu cepat menyadarinya, kalau tidak wanita ini bisa pergi untuk selamanya karena kehabisan oksigen. Lagian kamu sih ada-ada saja. Kuharap hal itu tidak terjadi lagi!"
"Iya dok. Bagaimana keadaannya?"
"Semuanya normal. Hanya butuh istirahat saja. Kuharap kamu bisa menjaganya lebih baik lagi. Oiya dia istrimu? Bukankah kamu akan menikah beberapa minggu ke depan?" Tanya dokter Indra bingung.
"Iya dia istriku. Terima kasih ya dok!" Jawab Elzan mantap berharap dokter Indra tidak bertanya lagi.
"Oh ya sama-sama. Kalau istrimu sudah sadar secepatnya diminum obatnya jangan lupa diminum sesudah makan ya!" Kata dokter Indra sekaligus berpamitan.
"Baik dok. Pak Bono tolong antarkan dokter Andre ke depan!"
"Siap Mas!"
Elzan menatap istrinya penuh haru. Ia memindahkan istrinya ke kamarnya agar lebih nyaman untuk beristirahat.
Rasa sakit di wajahnya bekas perkelahian dengan preman semalam tidak ia indahkan. Berawal keinginannya untuk dirawat istrinya, ini malah sebaliknya. Dia harus merawat istrinya yang hampir celaka karena ulahnya.
Rasa kantuk Elzan yang luar biasa membuatnya harus memejamkan matanya, berbaring di samping istrinya yang masih terpejam. Berharap mentari akan mempertemukannya kembali dengan senyuman istrinya yang membuatnya candu.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..