Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Misterius
Angga kini sudah sampai kediaman ibunya, disana Lia sedang menunggunya dengan suara tangis penuh kesedihan.
Angga mengernyitkan dahi, bertanya-tanya apa yang sudah terjadi. Apa Lia mengatakan kepada mamanya kalau minggu lalu ia tidur dengannya ataukah hal lain. Angga sudah dapat menebaknya.
"Angga." Bentak mama Lidia."Jelasin semuanya ke mama apa yang sudah terjadi antara kalian?"
"Angga gak tahu apa yang terjadi, Lia menjebakku ma."
"Tapi mau bagaimanapun kamu udah nidurin aku mas." sahut Lia menyeka.
"Kalau bukan karena ulahmu, aku gak mungkin nidurin kamu, itu salahmu sendiri."
"Cukup Angga!" bentak Lidia. "Kamu sudah nidurin anak orang dan buat dia hamil, kok bisa-bisanya kamu ngebentak dia."
Sontak Angga tercengang. "Ha..hamil?"
Lia langsung beranjak dari duduknya dan memeluk kaki Angga seraya memohon. "Iya mas, aku hamil anakmu. Aku sudah melakukan test dan aku ternyata hamil."
"Enggak! Gak mungkin." Angga menggelengkan kepala penuh keterkejutan.
"Apanya yang gak mungkin sih mas, aku ini tidak mandul seperti istrimu." sahut Lia menyeringai.
Angga memundurkan langkahnya agar Lia melepas pelukannya, ia berbalik dan mengusap rambutnya dengan kasar, frustasi.
"Kamu harus tanggung jawab, Ga! Kamu gak bisa bunuh cucu mama." pinta Lidia, dan membantu Lia untuk berdiri.
"Tapi aku gak mungkin ceraikan Sefia, ma. Angga sayang sama dia."
"Apa sih Ga yang kamu harapin dari perempuan mandul seperti dia, jelas-jelas Lia itu lebih baik dan lebih cantik dari istrimu yang mandul itu."
"Cukup ma! Cukup! Jangan hina Sefia lagi."
"Kenapa, hah? Istrimu itu memang gak berguna."
"Cukup Tante, biarkan mas Angga berpikir." sahut Lia menyeka, dan menghampiri Angga untuk merayu. "Aku gak apa-apa kok mas sementara jadi istri simpanan kamu, asal anak ini bisa lahir dengan kasih sayang seorang ayah." Lia menggapai jemari Angga untuk membawanya menyentuh perutnya.
Angga pun bisa menunduk dan pasrah. "Baik, aku akan nikahin kamu tapi kamu harus rahasikan hubungan kita dari isteriku."
Lia mengangguk senang. "Baik mas, aku tidak keberatan." ia pun memeluk Angga dengan penuh kemenangan.
Akhirnya, aku dapetin kamu mas.
****
Sefia kini masih menunggu suaminya dengan gelisah, karena hari sudah larut malam. Sampai akhirnya terdengar suara mobil sedang terparkir di samping rumahnya.
"Mas, kok sampe malem, sih? Tapi dijalan gak ada masalah apa-apa, kan?" tanya Sefia menghampiri suaminya yang baru saja masuk kedalam rumahnya.
"Gak ada, dek! Mas capek, mau tidur."
"Ah, iya mas."
Angga pun langsung melangkah mengganti pakaiannya dan langsung menuju tempat tidur tanpa menatap istrinya yang telah menunggunya.
"Dek." bisik Angga pada Sefia yang tidur memunggunginya.
Sefia pun berbalik, menatap suaminya. "Iya mas, ada apa?"
"Aku memutuskan untuk pindah ke perusahaan cabang."
"Tapi Sefia kan masih terikat pekerjaan disini mas." tuturnya.
"Iya, kamu gak apa-apa kok kalo masih mau kerja. Mas akan pulang seminggu sekali buat nemenin kamu."
"Janji ya, mas? Seminggu sekali jangan lama-lama?"
"Iya sayang." sahutnya mengelus rambut Sefia lalu mengecup keningnya. "Yuk tidur!"
Sefia mengangguk lalu memejamkan matanya, sementara Angga yang semula memejamkan mata kini bangun lalu memeluk istrinya dengan rasa penyesalan.
"Maafin aku, dek. Aku banyak salah sama kamu."
****
Kini hari sudah berjalan seperti biasanya tapi Sefia tak lagi harus merepotkan diri untuk membantu suaminya menyiapkan keperluan sebelum berangkat kerja karena Angga sudah tak ada dirumahnya.
Dalam pekerjaanpun Sefia sudah pindah kebagian divisi tak lagi menjadi sekretaris Dedi karena Nadin sudah datang untuk menggantikannya.
Dedi memang sengaja dulu menyuruh Nadin untuk pindah dengan alasan ada keperluan keluarga supaya Sefia mau menemaninya, tapi sekarang Dedi ingin membuat jarak dengan Sefia agar ia mampu melupakan perempuan yang dicintainya itu.
Sefia hari ini bekerja lembur sampai malam hari karena banyak tugas menumpuk dan harus ia selesaikan agar tidak terbengkalai.
"Sef, pulang bareng aku yuk?!" tawar Nana teman tim-nya.
"Gak Na, makasih. Lagian rumah kita berlawanan arah, kamu juga capek karena kerjaan tadi numpuk."
"Iya sih, Sef. Tapi beneran gak apa-apa kamu pulang sendirian?"
"Gak apa-apa kok, bus kearah rumahku masih ada jam segini."
"Yaudah, aku pulang dulu ya."
"Ya, hati-hati, Na."
Setelah lama menunggu, akhirnya Bus pun datang dan Sefia masuk.
Sepanjang perjalanan Sefia menatap lampu-lampu dijalan dengan pikiran kosong, sesekali memikirkan tentang hidupnya yang dirasa hampa dan kesepian.
Sefia sudah tak lagi bertemu dengan Dedi, terakhir kali saat ia menemaninya ke toko perhiasan sebelum memasuki akhir pekan dan pertunangan.
Ia masih tak berhenti memikirkan lelaki yang dicintainya itu tapi kini mereka sudah saling melepas, menjalani kehidupan masing-masing walau diri mereka hampa meski ditengah keramaian sekalipun.
Saat bus berhenti tepat dihalte dekat rumah Sefia, ia tak menyadari bahwa ada seseorang sedaritadi mengikutinya hingga Sefia memasuki lorong gelap dekat rumahnya.
Sefia merasakan ada langkah kaki tengah mengikutinya di belakang, dan ketika Sefia berbalik untuk melihat siapa orang itu. Seketika pula pria misterius itu membanting tubuh Sefia ketembok.
"Ka..kamu siapa?" tanya Sefia membelalak.
Pria itu menyeringai, senyum jahat terlukis dibibirnya. "Kamu gak perlu tahu." pria itu menggerakkan tangannya mengelus pipi Sefia yang sudah pucat dan gemetar. "Yang perlu kamu tahu sekarang adalah aku akan menyenangkanmu."
PLAK!
Sefia menampar pria itu dengan kasar hingga wajah pria itu berpaling. "Jangan kurang ajar denganku!"
Pria itu menolehkan wajahnya, menatap Sefia dengan wajah penuh kemarahan lalu mengangkat tangannya untuk membalas tamparan Sefia. Hendak tangan itu ia ayunkan, seketika itu pula tangannya tertahan.
BUGH
Sefia memejamkan matanya, takut akan pukulan yang akan ia terima tapi lama-lama ia berpikir dan tak merasakan apapun menyentuh kulitnya.
"Dedi." Sefia kaget setelah membuka mata dan menemukan bahwa Dedi tengah memukul pria misterius tadi.
"Fia, kamu gak apa-apa?" tanya Dedi panik, menghampiri Sefia, sedangkan pria misterius tadi sudah diurus oleh supir pribadinya.
Sefia mengangguk dan terisak, tak dapat berkata-kata lagi karena ketakutan.
Dedi lalu menarik Sefia kedalam dekapannya guna memberi! ketenangan untuknya.
"Tenang ya! Penjahat gak akan berani muncul disini lagi, supirku sudah membawanya ke kantor polisi."
Sefia hanya bisa mengangguk. "Aku takut, tadi kalau gak ada kamu, aku gak tahu apa yang bakal terjadi."
Dedi menghapus air mata Sefia. "Yang penting sekarang aku ada disini, dan kamu baik-baik saja kan. Tenang ya?!"
"Iya, terimakasih."
"Iya." Dedi tersenyum pilu. "Yuk aku antar kamu sampai kerumahmu."
Tanpa menunggu persetujuan, Dedi menarik tangan Sefia, menggenggamnya dan menuntunnya melangkah berjalan kerumah Sefia bersama.
"Ded, apa kamu mengikuti ku selama ini?" tanya Sefia kemudian, membuat Dedi menghentikan langkahnya.
Dedi berbalik lalu menoleh. "Iya, aku ingin kamu pulang dengan selamat dan baik-baik saja."
****
Dedi : Kita memang berpisah, tapi bukan berarti aku tak peduli, Fi. aku masih mencintaimu.
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..