Dunia persilatan ibarat lorong goa yang panjang.
Tempat ancaman kematian selalu datang dari balik kegelapan.
Pertarungan demi pertarungan yang selalu berakhir dengan kematian.
Itulah jalan para pendekar membunuh atau di bunuh.
Bagiku seorang pendekar mengusai ilmu beladiri bukan mencari kesempurnaan melainkan untuk membela mereka yang lemah dan tak berdaya.
Apakah arti kesempurnaan ilmu, jika tak di abadikan untuk kemanusiaan.
Namun dalam setiap pertarungan yang berakhir dalam kematian lawan, hanya kehilangan yang kurasakan.
Semakin lama semakin dalam.
Ada yang hilang dan ada yang ku temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizan Armand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap Segalanya
"Ya'er, apa kau sudah menyelesaikan belajarmu?" Tanya Hong Mingzhu sesaat setelah berada di hadapan Arya.
"Iya guru, tadinya aku ingin menyampaikan hal ini pada guru. Dan aku juga ingin minta izin untuk mencari hewan buruan untuk kita makan, Guru.." Kata Arya setelah memberi hormat pada Hong Mingzhu.
"Tak perlu repot-repot, gurumu ini sudah membawakan makanan untukmu." Hong Mingzhu lantas mengibaskan tangannya, sesaat kemudian muncullah seekor harimau yang telah mati.
Arya yang sudah tidak sabar ingin segera mengisi perutnya yang memang beberapa Minggu ini tidak pernah diisi makanan karena terus fokus belajar Kitab Seratus Racun di dalam goa, dengan bersemangat diapun meminta izin pada Hong Mingzhu untuk mengumpulkan kayu bakar.
Setelah mereka menyantap makanan. Hong Mingzhu lalu mengajak Arya ke arah lokasi bebatuan. Pria tua itu kemudian membuat sebuah tungku dari batu besar yang ada di hadapan mereka.
Arya nampak begitu antusias dan bahkan sedikit membuka mulutnya ketika melihat proses pembuatan tungku dari batu tersebut.
Menyadari hal itu, Hong Mingzhu menoleh dan tersenyum. "Kau ingin belajar membuat tungku seperti ini?"
Arya mengangguk cepat. Hal itu membuat Hong Mingzhu menggeleng pelan, dan lantas memberikan sebuah arahan bagaimana teknik cara pembuatan tungku.
****
"Sekarang saatnya kau mempraktekkan semua teknik yang kau pelajari dari Kitab Seratus Racun." Ucap Hong Mingzhu nampak tidak sabar melihat muridnya itu mempraktekkan teknik ciptaannya.
Arya mendekati beberapa bahan yang di perlukan dalam bab pertama Kitab Seratus Racun. Pemuda itu ingin mempraktekkan teknik kitab tersebut dari bab awal sampai akhir secara berurutan. Bagaimanapun Arya adalah seorang Alkemis tingkat 5, jadi pembelajaran tentang pembuatan racun lebih mudah baginya daripada teknik-teknik lainnya yang ada pada Kitab Seratus Racun.
Setelah memasukkan semua bahan-bahan yang diperlukan ke dalam tungku, Arya lalu menciptakan elemen api dan kayunya. Benar... Arya menggabungkan teknik pengobatan surgawi dengan teknik pembuatan racun yang ada pada Kitab Seratus Racun.
"Teknik ini... Luar biasa, jadi Ya'er juga adalah seorang Alkemis. Aku rasa dengan ini dia akan lebih mudah menciptakan racun dan mempelajari teknik milikku dalam waktu yang singkat." Pikir Hong Mingzhu dengan melebarkan mata, tidak henti-hentinya dia berdecak kagum melihat cara Arya membuat racun.
Racun pertama yang ada di Kitab Seratus Racun telah selesai di buat. Racun itu bernama racun kalajengking merah, racun itu berasal dari beberapa tanaman dan cairan kalajengking. Gunanya sendiri untuk melemahkan pernafasan dan detak jantung korbannya, sehingga akan membuat energi korbannya menjadi kacau. jika racun itu tidak segera di obati, maka racun itu akan menyebar merusak Dantian, melumpuhkan, bahkan merenggut nyawa korbannya.
"Racun ini lebih baik dari buatanku." Gumam Hong Mingzhu menggeleng pelan sambil menatap racun yang berada di tangannya.
"Ah ku rasa guru terlalu berlebihan.. sebagai pencipta racun ini, justru gurulah yang lebih hebat." Arya menundukkan kepalanya sungkan.
"Tidak Ya'er, aku berkata yang sebenarnya. Kau memang berbakat, aku sungguh berkali-kali di buat kagum dan bangga mempunyai murid sepertimu." Ucap Hong Mingzhu merangkul Arya dengan perasaan bangga.
Selama beberapa Minggu Arya terus mempraktekkan teknik-teknik yang ada di dalam Kitab Seratus Racun. Akhirnya diapun bisa menyelesaikan semua praktek latihannya pada seluruh teknik pembuatan racun yang ada di dalam Kitab tersebut.
"Kau benar-benar hebat Ya'er... Sekarang kau pelajarilah semua kitab-kitab ini. Mungkin umurku sudah tidak akan lama lagi." Ucap Hong Mingzhu yang sedang membakar daging untuk makan malam mereka berdua.
"Jangan berbicara seperti itu guru." Kata Arya dengan mata berkaca-kaca.
Hong Mingzhu hanya tersenyum dan menggeleng pelan, sambil mengelus-elus rambut Arya.
Tanpa banyak bertanya Arya dengan menunduk hormat menerima kitab-kitab tersebut. dia menyimpannya ke dalam cincin ruang miliknya.
Dalam waktu 5 bulan Arya sudah berhasil menguasai 4 dari 6 kitab yang di berikan Hong Mingzhu kepadanya. 2 kitab diantaranya adalah kitab racun, 1 kitab berpedang dan kitab Naga api.
"Kau memang murid yang benar-benar berbakat Ya'er, bahkan aku sendiri mempelajari kitab-kitab ini membutuhkan waktu ratusan tahun. tapi dirimu hanya butuh beberapa bulan saja." Ucap Hong Mingzhu sambil mengelus kepala Arya dengan kasih sayang seperti seorang kakek kepada cucunya.
"Melihat perkembanganmu, aku malah ingin hidup ratusan tahun kedepan. aku yakin kau pasti akan menjadi pendekar terhebat di alam ini." lanjutnya dengan ekspresi penuh keyakinan.
Satu bulan berlalu Arya sudah berhasil mencapai Pendekar Raja tingkat 8, dan Alkemis tingkat 6. tenaga dalampun sudah mencapai 700 lingkaran.
Pada malam hari disaat Arya sedang bermeditasi mengumpulkan energi alam, pemuda tersebut kembali seperti biasa menyempatkan waktunya untuk berlatih di alam jiwanya.
"Arya, sekarang kau sudah berhasil mempelajari seluruh teknik yang terdapat di Kitab Dewa Naga Emas. kitab tersebut adalah salah satu teknik tingkat dewa. Kitab itu sendiri dibagi menjadi 3, dan yang kau pelajari selama ini adalah tahap Dewa. aku pikir kau akan menyelesaikan Kitab Dewa Naga Emas ketika kau sudah berada di tahap Pendekar Bumi." ucap Dewa petir setelah menghentikan latihan Arya didalam alam jiwa.
"Jadi masih ada tahapan yang lainnya, guru.? bisakah guru jelaskan."
"Aku akan memberikan tahapan berikutnya dari Kitab Dewa Naga Emas yaitu tahapan Surgawi. Dan masih ada satu tahapan lagi yaitu tahapan Semesta. Kitab tersebut adalah jelmaan dari pecahan ruh dari Kaisar Naga Emas. Dan kitab itu sendiri hanya memilihmu untuk mempelajarinya karena jiwamu sendiri juga termasuk salah satu pecahan ruh Sang Naga Emas, jika ada yang mempelajari kitab ini maka tubuh dan ruh nya akan hancur." Dewa petir menjelaskan.
"Apa? aku adalah pecahan ruh Naga Emas." Arya melebarkan matanya begitu terkejut setengah tidak percaya.
"Ya... Itu memang benar dan itulah kenyataannya. Kau adalah reinkarnasi dari Kaisar Naga Emas. Jutaan tahun yang lalu alam surgawi di serang oleh pasukan bangsa iblis dan siluman. mereka semua berniat mengincar relik, batu matahari dan batu ruang dan waktu. Semua benda itu berada di puncak alam surgawi, yang di jaga oleh sang Naga Emas sendiri.
Kaisar Surga yang pada saat itu juga ikut dalam pertempuran, nyatanya tidak berhasil memukul mundur milyaran pasukan yang menyerang alam surga. Hingga akhirnya Kaisar Naga Emas terpaksa turun tangan untuk menghadapi seluruh pasukan tersebut dengan mengorbankan dirinya untuk terpecah ruhnya menjadi 7 bagian.
3 diantaranya adalah berwujud kitab, 1 adalah jiwamu, 1 lagi berwujud pedang dan yang lainnya masih belum di ketahui. itulah sebabnya kau di beri tugas oleh Kaisar surga untuk mengumpulkan semua pecahan ruh dari Sang Kaisar Naga Emas." Dewa petir menjelaskan panjang lebar.
****
2 bulan berlalu
Tubuh Hong Mingzhu mulai mengalami sakit-sakitan karena faktor umur. Memang pria tua itu telah berhasil memperpanjang umurnya ratusan tahun karena telah mencapai Pendekar Suci. tapi tingkat kultivasinya yang hanya berada pada tahap pendekar suci itu, tidak memungkinkan bagi pria tua itu untuk hidup lebih dari seribu tahun.
Dalam peningkatan tahapan Kultivasi maka akan memungkinkan bagi seseorang untuk memperpanjang umur mereka, dan jika mereka bisa mencapai tahapan Pendekar Abadi maka bisa di katakan orang itu bisa hidup abadi.
Arya berjalan mendekati sebuah batu yang di atasnya terbaring tubuh Hong Mingzhu yang nampak sudah tak berdaya.
"Guru... Maafkan muridmu ini... Aku tidak bisa mengobatimu, padahal aku sudah mencapai Alkemis tingkat 6. Namun kemampuanku ini tidaklah cukup untuk menyembuhkan guru." Ucap Arya meneteskan air mata dan berlutut di depan batu tempat Hong Mingzhu terbaring.
Arya sebenarnya sudah berkali-kali memberikan Pil Giok Suci, namun takdir memang tidak bisa di lawan. Penyakit tidak semuanya bisa di obati dengan ramuan atau obat-obatan.
"Kau bicara apa Ya'er,. Uhuk.. selama ini kau sudah memberikan obat untukku. Uhuk... Itu sudah cukup mengurangi rasa sakitku, penyakitku ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat-obatan. Sudah saatnya bagi yang tua ini di gantikan oleh yang muda." Kata Hong Mingzhu terbata-bata karena beberapa kali terbatuk-batuk.
"Tidak guru, seandainya saja aku berlatih lebih giat lagi. Aku pasti bisa menemukan cara untuk menyembuhkan guru. Tapi sekarang aku..." Ucap Arya terpotong.
"Ingatlah pesanku Ya'er... Jangan pernah ulangi kesalahan gurumu ini, lakukanlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Kalau pun kedamaian memang tidak bisa tercipta, setidaknya buatlah hidupmu bermanfaat bagi orang banyak. Guru pasrahkan semua pada.." Hong Mingzhu menggenggam tangan Arya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
_____
Hari ini aku up 3 chapter. karena kemarin-kemarin sempat libur.
terimakasih masih mengikuti cerita ini.
bantu vote kritik dan saran. 🙏
atur kembali alur ceritamu Thor biar pembaca ga salah menilai mu !!!
males ngebaca tingkah perempuan yg kyk gtu Thor !!! 😡