NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Rumah yang Tidak Pernah Benar-Benar Kosong

“Orang yang masuk ke sana… jarang keluar hidup-hidup.”

Kalimat Rey membuat ruangan langsung sunyi.

Tidak ada yang bicara.

Tidak ada yang bergerak.

Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan.

Namun justru kesunyian itu terasa menyesakkan.

Karena semua tahu—

Rey bukan tipe orang yang melebih-lebihkan sesuatu.

Kalau dia bilang tempat itu berbahaya...

Maka kenyataannya pasti jauh lebih buruk.

Nadira langsung mengambil foto gerbang batu tua itu.

Matanya menyipit.

Berusaha menghafal setiap detail.

“Aku nggak peduli.”

Suaranya dingin.

“Aku tetap ke sana.”

Deg.

Semua langsung menoleh.

“Nadira.”

Arsen berdiri.

Tatapannya serius.

“Kita nggak tahu ada berapa orang di sana.”

“Aku juga nggak tahu.”

balas Nadira cepat.

“Tapi Raka ada di sana.”

Sunyi.

Dan tidak ada yang bisa membantah itu.

“Aku ikut.”

kata Arsen.

“Gue juga.”

sahut Damar.

Nayla langsung mengangkat tangan.

“Kalau kalian pergi, aku ikut.”

“Jangan.”

Damar langsung memotong.

“Kenapa?”

“Karena tempat itu berbahaya.”

“Dan kalian pikir aku bakal diam di sini?”

Nayla menatap tajam.

“Lupakan.”

Deg.

Damar langsung menghela napas panjang.

Karena ia tahu.

Persis seperti Nadira.

Nayla juga keras kepala.

Sementara itu...

Raka sedang berdiri di depan jendela besar.

Rumah itu terlalu sepi.

Terlalu besar.

Terlalu dingin.

Dan membuatnya tidak nyaman.

Di luar jendela terlihat taman luas.

Air mancur.

Patung-patung batu.

Pohon besar yang sudah tua.

Namun entah kenapa...

Semuanya terasa menyeramkan.

“Bagus kan?”

Suara Mahendra muncul dari belakang.

Raka langsung menegang.

“Aku nggak suka.”

jawabnya jujur.

Mahendra tertawa kecil.

“Kamu mirip ibumu.”

Deg.

Raka langsung menoleh.

“Aku ingat Mama.”

Untuk pertama kalinya—

Ekspresi Mahendra berubah sedikit.

“Sedikit.”

lanjut Raka.

“Dia suka nyanyi.”

Sunyi.

Mahendra menatap keluar jendela.

Lama.

Sangat lama.

Seolah sedang mengingat sesuatu.

“Aku juga ingat dia.”

katanya pelan.

Deg.

Raka mengernyit.

“Kamu kenal Mama?”

Mahendra tersenyum kecil.

Senyum yang kali ini tidak terlihat menyeramkan.

Hanya sedih.

“Lebih dari yang kamu kira.”

Namun sebelum Raka sempat bertanya lagi—

Pintu ruangan terbuka.

Seorang pria masuk.

Tinggi.

Berjas hitam.

Wajahnya dingin.

“Pak.”

katanya.

“Tim pencari belum menemukan mereka.”

Mahendra langsung kembali seperti biasa.

Dingin.

Tanpa emosi.

“Cari lebih keras.”

“Baik.”

Pria itu pergi.

Dan suasana kembali sunyi.

Raka memperhatikan semuanya diam-diam.

Lalu bertanya pelan,

“Om takut sama Kak Nadira ya?”

Deg.

Mahendra langsung menoleh.

“Apa?”

“Kalau nggak takut...”

Raka menunduk.

“Kenapa Om selalu nyoba pisahin aku dari Kakak?”

Sunyi.

Untuk pertama kalinya—

Mahendra tidak punya jawaban cepat.

Karena jauh di dalam dirinya...

Ia tahu anak itu benar.

Bukan Raka yang ia takutkan.

Melainkan Nadira.

Karena Nadira mengubah sesuatu yang selama ini berhasil ia kendalikan.

Harapan.

Di sisi lain—

Perjalanan menuju rumah lama Mahendra akhirnya dimulai.

Mereka menggunakan dua mobil.

Tanpa sirene.

Tanpa tanda polisi.

Tanpa keramaian.

Karena semakin sedikit orang yang tahu...

Semakin besar peluang mereka berhasil.

Nadira duduk di kursi depan.

Diam.

Tatapannya terus ke luar jendela.

“Kamu belum tidur.”

kata Arsen pelan.

“Gimana caranya?”

balas Nadira.

Sunyi.

Karena pertanyaan itu tidak butuh jawaban.

Adiknya diculik.

Musuh mereka masih bebas.

Dan nyawa semua orang sedang dipertaruhkan.

Tidur adalah kemewahan yang bahkan tidak terpikirkan.

“Kita bakal nemuin dia.”

kata Arsen.

Nadira tidak langsung menjawab.

“Aku takut.”

bisiknya akhirnya.

Deg.

Arsen langsung menoleh.

Karena itu pertama kalinya sejak ledakan—

Nadira mengakui ketakutannya.

“Aku takut telat.”

Air mata mulai muncul lagi.

“Aku takut dia sendirian.”

“Sama kayak dulu.”

Jantung Arsen langsung terasa sesak.

Karena ia tahu.

Luka terbesar Nadira bukan kehilangan.

Melainkan gagal melindungi.

Dan sekarang...

Mimpi buruk itu kembali.

Tanpa berpikir panjang—

Arsen menggenggam tangannya.

“Dengerin gue.”

Nadira menoleh.

“Selama gue masih hidup...”

Tatapannya serius.

“Gue nggak bakal biarin sesuatu terjadi ke Raka.”

Deg.

Nadira menatapnya cukup lama.

Lalu perlahan mengangguk.

Untuk pertama kalinya malam itu...

Ia merasa tidak sendirian.

Beberapa jam kemudian—

Mereka tiba di daerah pegunungan.

Kabut mulai turun.

Udara semakin dingin.

Dan jalanan semakin sepi.

“Tempat ini bikin merinding.”

gumam Damar dari mobil belakang melalui radio komunikasi.

“Diam aja dan nyetir.”

balas Nayla.

“Galak banget.”

“Fokus.”

“Siap Bos.”

Meski situasi tegang...

Percakapan itu membuat semua orang sedikit bernapas.

Sedikit saja.

Lalu akhirnya—

Gerbang batu itu muncul.

Persis seperti di foto.

Berdiri megah di tengah kabut.

Dengan lambang tua yang mulai terkikis waktu.

Deg.

Mereka sampai.

“Jadi ini tempatnya.”

gumam Nadira.

Rey mengangguk pelan.

Wajahnya berubah tegang.

“Dulu aku pernah ke sini sekali.”

“Apa yang ada di dalam?”

tanya Arsen.

Sunyi beberapa detik.

Lalu Rey menjawab,

“Monster.”

Deg.

Tak ada yang tertawa.

Karena nada suaranya terlalu serius.

Mereka memarkir mobil cukup jauh.

Lalu berjalan kaki.

Kabut membuat jarak pandang pendek.

Pepohonan tinggi mengelilingi area.

Dan suasananya terasa seperti dunia yang berbeda.

Sampai akhirnya—

Mereka melihat rumah itu.

Bukan rumah.

Lebih tepatnya mansion tua.

Bangunan besar bergaya kolonial.

Tiga lantai.

Dengan jendela-jendela tinggi.

Dan cat yang mulai memudar.

Namun yang paling mengganggu—

Lampunya menyala.

Padahal tempat itu seharusnya kosong.

“Dia ada di sini.”

bisik Nadira.

Dan jantung semua orang langsung berdetak lebih cepat.

Karena untuk pertama kalinya...

Mereka benar-benar berada di sarang Mahendra.

Namun sebelum mereka sempat bergerak—

Sebuah suara kecil terdengar dari belakang.

Klik.

Suara pelatuk senjata.

Deg!

Semua langsung membeku.

“Jangan bergerak.”

Suara pria asing terdengar dingin.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Puluhan pria bersenjata muncul dari balik kabut.

Mengelilingi mereka.

Dan perlahan—

Seorang pria tua melangkah keluar dari antara mereka.

Rambut putih.

Tongkat hitam.

Senyum tipis.

Mahendra.

Namun yang membuat Nadira membeku bukan kehadirannya.

Melainkan seseorang yang berdiri di samping pria itu.

Seorang wanita.

Cantik.

Anggun.

Dan wajahnya...

Sangat mirip mamanya.

Deg.

Tubuh Nadira langsung kaku.

Karena wanita itu tersenyum padanya.

Lalu berkata pelan,

“Akhirnya kita bertemu juga, Nadira.”

“Aku bibimu.”

1
Noorjamilah Sulaiman
rumit
Noorjamilah Sulaiman
mungkin mama nadira ini org kaya
Noorjamilah Sulaiman
aku jd binggung, Adrian ini jahat atau papa arsen yg paling licik
Noorjamilah Sulaiman
apa ug sebenarnya berlaku?
Noorjamilah Sulaiman
mantap
Noorjamilah Sulaiman
terlalu rumit,knpa semua itu ada d dlm penjara tmpt Rafael
Noorjamilah Sulaiman
kerena sblm tu ada lelaki yg melihat mereka masa nadira mkn mlm drumah keluarga arsen
Noorjamilah Sulaiman
ceritanya rumit,siapa sebenarnya musuh mereka adakh keluarga arsen sendiri?
Noorjamilah Sulaiman
cerita ini menarik tp mungkin blm djumpai ole pembaca atau sbb cerita ini blm tamat
Noorjamilah Sulaiman
teka teki btl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!