Dia, lelaki yang kini menjadi ayah tiriku, adalah sosok yang takkan pernah ku lepaskan dari kehidupanku. Meskipun tindakan ini mungkin salah, aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala resikonya. Awalnya, dendamlah yang mendorongku mendekatinya, namun seiring waktu, cinta telah tumbuh di dalam hatiku. Tak ada satu pun pikiran untuk melepaskannya dari pelukanku.
Kini, ayah tiriku telah resmi menjadi kekasihku. Dia terus memanjakanku dengan penuh kasih sayang. Aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku. Meskipun posisinya masih terikat sebagai suami ibuku, aku tidak peduli. Yang penting, aku merasa bahagia, dan dia juga merasakannya. Mungkin ini dianggap sebagai dosa, namun tak ada api yang berkobar tanpa adanya asap yang mengiringinya.
"Ayah, aku mencintaimu," apakah kalimat ini pantas untuk aku ucapkan?
AKAN LANJUT DI SEASON 2 YAA, HAPPY READING AND HOPE YOU LIKE:))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35. Semua Pasti Tipuan
"Mati kutu kan, Jel? hahaha ... syukurin. Udah bagus jadi anaknya Widya, eh malah berani-beraninya rebut suaminya. Dasar, anak nggak tau di untung. Udah di baik-baikin, di rawat malah kayak gini balasannya ...,"
"Ya, memang aku udah jahat dengan bunuh mas Barata, udah bikin rem mobil dia blong. Tapi itu mas Barata, bukan Jelita. Lalu apa hubungannya dengannya? sejak dulu aku nggak sekalipun jahat sama dia. Tapi ini balasannya? baiklah ...,"
"Kalau kamu memang menginginkan peperangan di antara kita, maka akan bunda kabulkan itu, Jel. Bunda nggak akan respect lagi sama kamu. Bunda nggak akan segan-segan buat nampar kamu, meskipun bunda tau kamu anak bunda ...,"
"Huufftt ... oke, sekarang lakuin sesuai rencana. Pasti setelah ini mas Revan bakal balik lagi ke aku dan mutusin Jelita ...,"
"Dia kan dari dulu tergila-gila denganku. Nggak bisa berpaling dari perempuan lain selain aku." batin Widya sembari tersenyum dengan bangganya, memuji dirinya sendiri dan yakin bahwa semua rencananya hari ini akan berjalan dengan sempurna.
"Ini serius sayang? kamu hamil?" Revan tampak terkejut dengan isi lembaran kertas itu. Matanya membulat sempurna, dan tangannya bergetar tak terkendali.
Dia merasa sulit untuk mempercayai apa yang terpampang di hadapannya.
Segala sesuatu terasa begitu mendadak baginya, begitu tiba-tiba sehingga membuatnya bingung tentang bagaimana seharusnya dia bereaksi.
"Of course. I'm pregnant, one week pregnant. Gimana sayang, kamu senang kan? kita akan segera punya momongan ...,"
"Dari dulu hal ini kan yang kamu pengen? kamu berkali-kali bilang sama aku kalo pengen segera punya anak, dan sekarang aku hamil. Semua keinginan kamu akan terwujud." Widya terlihat begitu bahagia, wajahnya bersinar dengan kegembiraan seolah-olah menunjukkan bahwa dia benar-benar hamil. Namun, kenyataannya tidaklah demikian.
"Nggak, nggak mungkin. Itu pasti tipuan, sayang. Jangan percaya. Kamu tau kan apa yang udah kita lakuin? dengan semua itu nggak mungkin sekarang dia hamil. Pasti ini semua akal-akalannya dia aja buat gagalin pernikahan kita. Dasar licik!" Jelita dengan tegas menyampaikan protesnya.
Tanpa ragu, dia menuduh Widya licik dan melepaskan semua unek-unek yang ada dalam hatinya.
Rasanya Jelita sudah tidak bisa menahan diri lagi, keinginannya untuk mengungkapkan semuanya begitu kuat. Dia yakin bahwa kehamilan Widya hanyalah sebuah tipuan belaka.
Saat Widya mengetahui keberanian Jelita yang terlihat jelas, emosinya langsung memuncak. Dia merasa begitu tergoda untuk menampar wajah Jelita, seandainya saja Jelita bukanlah anaknya.
Namun, menyadari bahwa Jelita adalah darah dagingnya sendiri, Widya harus bermain dengan cerdik. Dia harus menggagalkan pernikahan mereka dan membuat Jelita menyesal seumur hidup.
"Tipuan apa sih, Jel? nggak. Itu semua asli. Bunda nggak nipu, nih kalau kamu masih nggak percaya. Lihat, hasilnya dua garis merah loh. Saya positif hamil." Widya dengan cepat mengambil testpack yang diberikan oleh Monica dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Jelita.
Dengan penuh kebanggaan, Widya menunjukkan hasilnya kepada Jelita. Begitu Jelita meraihnya, dia sangat terkejut. Di sana terlihat dua garis merah yang jelas. Widya memang benar-benar hamil.
"Sial, dia beneran hamil! gue harus gimana sekarang?!" batin Jelita setelah mengetahui adanya dua garis merah pada testpack yang Widya berikan.
"Jadi sayang, setelah aku ketahuan hamil begini, aku udah memutuskan kalau aku nggak bakal cerain kamu. Aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita demi anak yang lagi aku kandung." ucap Widya dengan mantap, membuat Jelita semakin meradang.
Sepertinya Jelita tidak bisa menahan amarahnya lagi. Semua kenyataan yang dirasakannya sebagai kepalsuan telah sangat menyiksanya.
"Selamat ya, selamat atas kehamilan bunda. Aku ikut senang, sebentar lagi aku bakal punya adik. Tapi Bun, bunda lupa ya, aku dan suami bunda itu juga pernah bermain, bermain setiap hari ...,"
"Apalagi itu nggak make pangaman sama sekali. Jadi kalau aku hamil, bunda siap-siap aja ya, ceraikan mas Revan dan pergi jauh-jauh dari kehidupan kita." ancam Jelita dengan tajam di depan wajah Widya, menunjukkan ekspresi emosi yang sangat kuat.
Tanpa ragu, dia langsung pergi ke dalam apartemennya, tanpa mempedulikan Widya dan Revan lagi.
"Bangs*t, sialan, anji*g!! berantakan udah rencana gue, aarrgghhh ... dasar perempuan gila!!" umpat Jelita dengan marah setelah dia tiba di dalam apartemennya, membanting segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Perasaannya kacau sekarang, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa dan bagaimana. Rencananya telah hancur dan berantakan.
Ia ingin mati saja rasanya, menyusul sang ayah ke alam baka. Namun, dia tahu bahwa semua kejahatan yang dilakukan oleh bundanya perlu mendapatkan pembalasan.
Maka, ia dengan kasar menjatuhkan tubuhnya ke lantai, kemudian meraih pecahan beling yang berserakan di hadapannya.
"Gue silet aja nadi gue, terus gue berdarah-darah dan bisa jadiin keadaan gue ini ancaman buat mereka. Gue nggak bisa biarin bunda menang gitu aja. Dikiranya dia hamil, terus dia menang gitu? nggak ...,"
"Ngalahin Jelita nggak semudah itu, gue adalah perempuan cerdik yang nggak gampang dikalahkan siapapun." tiba-tiba, sebuah ide muncul di benak Jelita. Meskipun ragu, dia dengan cepat mengikuti nalurinya dan memotong nadinya dengan pecahan kaca tersebut.
Dia meringis kesakitan saat darah mulai mengalir dari tangannya.
"Arg, ssshh ..," Jelita terus-menerus meringis menahan rasa sakit pada tangannya yang terus berdarah, hingga akhirnya dia pingsan sesaat setelah beberapa kali menahan perih yang tak tertahankan.
Beberapa saat kemudian, Widya dan Revan memasuki apartemen Jelita dengan niat untuk menyampaikan sesuatu padanya.
Namun, begitu mereka tiba di ruang tengah, mereka terkejut bukan kepalang saat melihat Jelita tergeletak tak sadarkan diri dengan tangan yang penuh luka dan berdarah.
"Jelita!!" seru Widya dengan panik, segera berlari mendekati Jelita yang tergeletak tak sadarkan diri. Hatinya berdegup kencang, penuh kekhawatiran dan cemas.
Dengan penuh kelembutan, Widya memegang tangan Jelita yang terasa dingin. Dia mencoba memanggil nama Jelita dengan lembut, berharap agar Jelita kembali ke kesadaran.
"Sayang, kita bawa saja Jelita ke rumah sakit. Itu darah dari tangannya mengalir terus loh, nanti kalau kehabisan darah kan bisa bahaya. Ayo kita buru-buru saja sebelum semuanya semakin parah." setelah mengatakan itu dengan langkah terburu-buru, Revan segera menggendong Jelita yang sudah tidak sadarkan diri dengan tangan penuh darah.
Bersama dengan Widya, mereka bergegas menuju rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan.
.........................................
Tap ...
Tap ...
Tap ...
"Aku memang kesal dengan Jelita, tapi aku tidak bisa melihatnya sakit seperti ini. Dia anakku satu-satunya, semoga dia tidak kenapa-napa." ucap Widya dengan penuh kekhawatiran saat mengetahui kondisi Jelita.
Langit sore yang mendung menjadi saksi dari perjalanan cepat mereka, menyinari langkah-langkah mereka yang tergesa-gesa. Detakan jantung Widya semakin cepat, mencerminkan kecemasan yang memenuhi pikirannya akan nasib Jelita yang terluka parah.
Revan, yang berada di sampingnya, mencoba memberikan semangat dengan meyakinkan bahwa Jelita akan baik-baik saja. Namun, kekhawatiran tetap menghantui pikiran mereka.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera membawa Jelita ke unit gawat darurat. Dokter dan perawat dengan sigap mengambil alih, memberikan perawatan yang diperlukan untuk luka parah Jelita.
Revan dan Widya duduk di ruang tunggu, menunggu dengan tegang, berharap mendapatkan kabar segera dari dokter.
Bersambung ...