"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
"Hukumannya adalah kau harus tetap berdiri di tempatmu sampai aku selesai bermain piano," kata Lennox yang lantas membuat Serena mengernyit.
Benarkah itu saja hukumannya? Serena merasa hukuman yang diberikan Lennox kali ini terdengar enteng sekali.
"Aku hanya berdiri saja?" tanya Serena heran.
Lennox mengangguk. "Ya. Dan kau tidak boleh duduk sebelum aku mengizinkanmu!"
"Baiklah. Aku setuju. Aku akan terima hukumannya." Serena mengangguk-anggukkan kepala meskipun ia sama sekali tidak bersalah.
Karena meski mulutnya menjelaskan sampai berbusa, Lennox sepertinya akan tetap percaya pada Kathleen.
Kini Lennox mulai menggerakkan jemarinya di atas tuts piano. Ketika jemari Lennox bergerak, saat itu pula terdengar alunan musik yang merdu di penjuru ruangan tersebut.
Serena berdiri dan memperhatikannya. Telinganya mendengarkan dengan seksama. Matanya menatap wajah Lennox yang menunduk sambil memainkan alat musik tersebut.
"Aku tidak menyangka iblis sepertinya bisa memainkan piano sehebat ini," gumam Serena dalam hati.
Yang Serena tidak tahu, hukumannya tidak semudah itu. Tentu saja Lennox tidak akan memberikan hukuman yang ringan pada Serena yang dianggapnya sudah menghancurkan piano kesayangannya.
Satu jam berlalu, Lennox masih belum berhenti main piano. Sementara kedua lutut Serena mulai pegal dan lelah menopang tubuhnya.
"Sampai kapan dia akan terus memainkan pianonya? Aku mulai lelah berdiri," batin Serena.
Ingin sekali menghentikan Lennox atau bertanya kapan pria itu akan berhenti. Namun, takut jika Lennox akan marah dan menambah hukumannya lagi.
Maka dari itu, Serena memilih diam dan mencoba menguatkan kakinya untuk berdiri lebih lama lagi.
Dua jam berlalu, keringat dingin mulai mengucur di pelipis Serena. Tangannya pun mulai meremas dengan gelisah di sisi tubuh.
"Lennox, sampai kapan kau akan terus bermain piano?" akhirnya Serena memberanikan bertanya.
Persetan jika pria itu marah padanya. Saat ini Serena lelah dan tidak sanggup lagi berdiri lebih lama.
"Kakiku mulai pegal. Bolehkah aku duduk sebentar?"
"Jangan coba beranjak dari tempatmu! Tetaplah berdiri dengan tegap karena aku masih belum puas bermain piano," perintah Lennox tanpa menoleh pada Serena.
Serena terhenyak. Bahkan Lennox tidak peduli pada kakinya yang mulai lemas.
Empat jam berlalu, Serena merasa kepalanya pusing. Tiba-tiba saja kakinya goyah dan tubuhnya pun ambruk ke lantai.
Napas Serena naik turun dengan cepat sambil memijit kakinya yang kram.
"Aku belum membolehkan mu duduk! Cepat berdiri lagi!" masih memainkan pianonya, Lennox memerintah dengan suaranya yang dalam.
"Di mana hati nuranimu? Kau membuatku berdiri di tempat yang sama, dalam posisi yang sama selama empat jam lebih. Kakiku tidak sanggup berdiri lagi. Ini sudah hampir pagi," balas Serena dengan keras.
Sebentar Lennox memicingkan matanya pada Serena. Kemudian pria itu meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
"Jika begitu hukumanmu ku ganti saja. Aku akan menyerahkan mu pada bawahanku. Mereka pasti akan senang mendapat mangsa baru," kata Lennox sambil menempelkan ponselnya ke telinga kanan dan menunggu panggilannya terjawab.
Sontak saja bola mata Serena terbelalak mendengar Lennox akan memberikannya pada bawahan pria itu.
Serena menggeleng cepat, lantas berteriak. "Tidak! Jangan lakukan itu! Baik, aku akan kembali berdiri! Kau bisa teruskan permainan piano mu." Dengan susah payah Serena kembali bangkit berdiri dan menghadap Lennox.
Senyum miring tersungging di bibir Lennox. Panggilan itu pun lantas dimatikan dan Lennox menaruh ponselnya di atas pianonya.
Selanjutnya, Lennox kembali menarikan jemari di atas tuts pianonya dan instrumen musik merdu pun kembali terdengar mengalun di penjuru ruangan.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor