JIKA TIDAK TERTARIK, AUTHOR MOHON DENGAN SANGAT UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
SILAHKAN SKIP SEJAK SAAT INI JUGA, KARENA AUTHOR TAK MEMAKSA KALIAN BACA.
TAPI JIKA KALIAN MENIKMATI ISI DARI CERITA INI, AUTHOR SANGAT BAHAGIA.
Pendaratan darurat membuat Daniel terpaksa menikahi seorang gadis.
Padahal niat hati masih ingin menanti cinta pertamanya, yang menghilang tanpa jejak.
Tabir misteri yang telah lama terkunci rapat, mulai terbuka perlahan, dan satu demi satu teka-teki mulai terpecahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
#35
Dengan cekatan, orang orang berpakaian putih mengambil sampel darah dari lengan Nick dan Naya hingga ampul jarum suntik tersebut penuh, kemudian menuangkan kedua sampel darah tersebut di tabung.
Cairan darah tersebut, kemudian dicampur dengan beberapa tetes bahan kimia, sungguh mencengangkan karena secara ajaib cairan kental kemerahan itu kehilangan warnanya, berubah menjadi jernih sebening kristal. “Hahaha … hahaha … “ Profesor Hardiman tertawa keras, wajahnya berbinar seakan-akan melihat sesuatu yang sangat menakjubkan.
“Luar biasa … Kejeniusan kedua orang tua kalian memang sangat layak diberi penghargaan hahaha …” Masih dengan tawa yang melengking keras, profesor Hardiman berputar putar bahagia menatap tabung berisi cairan bening yang ada di tangannya.
Tiba-tiba …
Brak !!
Pintu Laboratorium terbuka paksa dengan dua tubuh penjaga pintu yang ambruk menabrak pintu, siapa lagi pelakunya jika bukan sang Kapten kesayangan mak othor. Dibelakang Danesh ada Daniel, Papa Dika dan para pengawalnya.
Hal itu mengalihkan pandangan semua orang yang ada di dalam Laboratorium.
Para pengawal segera membuat formasi melingkar menjadi tameng pelindung bagi Profesor Hardiman dan kedua sanderanya.
Pandangan Daniel seketika berkeliling mencari cari keberadaan sang istri, dadanya berdesir ngilu ketika melihat kondisi Naya yang berantakan, bahkan ada memar di salah satu pipinya. Hampir saja Daniel menerjang Profesor Hardiman, jika Danesh tak menahannya, “Lepaskan Danesh, biarkan aku menghajar tua bangka itu.”
“Tenangkan dirimu Bang, Profesor Hardiman tidak sendiri,” bisik Danesh, “Salah langkah sedikit saja, istrimu bisa dalam bahaya.”
“Tapi …” Ujar Daniel tak sabar.
“Lihat Naya juga menatapmu, aku yakin ia pun tak ingin kamu terluka.”
Naya menatap wajah cemas sang suami, nampak sekali kusut karena sudah 2 hari mencari cari istrinya yang tiba-tiba hilang tanpa jejak.
“Waaaaahhh … kita kedatangan tamu rupanya, selamat datang calon menantuku.”
“Jangan MIMPI !! … Sampai kapanpun aku tak akan menjadi menantu anda.”
Profesor hardiman hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, “Oh yah … bagaimana kalau aku membantumu menjadi duda, bukankah setelah itu akan lebih mudah.” Profesor Hardiman mengusap kepala Naya.
“SINGKIRKAN TANGANMU DARI ADIKKU !! tangan kotormu tak layak menyentuhnya.” Teriak Nick tak terima, kali ini ia akan berjuang melindungi keluarganya, setelah bertahun tahun melakukan pekerjaan sia-sia menjadi pesuruh orang jahat.
Orang-orang yang baru datang tentu terkejut mendengar teriakan Nick, tak terkecuali Daniel dan Papa Dika yang bahkan kini mulai mengenali betapa mirip wajah Nick dengan wajah Profesor Ricky. “Kiki …” Gumam Papa Dika tanpa sadar, bahkan ia tak mampu menahan haru, ternyata keponakan kecil yang ia kira sudah meninggal ternyata sudah jadi pria dewasa.
“Baiklah … karena kalian semua sudah hadir di sini, maka aku akan memperlihatkan sebuah pertunjukan menarik untuk kalian, bagaimana sebuah ilmu pengetahuan berkolaborasi dengan cinta dan kasih sayang penciptanya.” Profesor Hardiman berjalan menuju meja dengan deretan tabung kaca berisi cairan biru kehijauan.
Tanpa ragu, Profesor Hardiman meneteskan cairan bening yang berasal dari Darah Nick dan Naya kedalam cairan berwarna biru kehijauan, hanya beberapa tetes saja ke masing-masing tabung kaca. Beberapa saat kemudian cairan-cairan tersebut bereaksi, awalnya hanya buih kecil, lama kelamaan buihnya semakin besar bahkan berbusa hebat seperti cucian yang terlalu banyak detergen. Namun reaksi tersebut hanya berlangsung sesaat, karena beberapa saat kemudian cairan tersebut kembali bersih dari buih dan tenang seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Profesor Hardiman mengangkat salah satu tabung, “inilah yang membuatku bersabar selama 20 tahun.” ungkap nya bangga. “Cara Ayah kalian menyelamatkan nyawa kalian sungguh brilian, hingga bahan pemantik yang aku cari-cari selama ini berasal dari darah kalian sendiri.”
Nick sama sekali tak menghiraukan perkataan Profesor Hardiman, saat ini kepalanya mendidih menahan amarah yang ingin segera ia ledakkan, Pria yang selama ini memperlakukannya bak hewan peliharaan, ternyata pria yang sama yang sudah tega memporak porandakan kebahagiaan keluarganya.
Profesor Hardiman melangkah menaiki tangga sambil membawa tabung berisi racun yang sudah sempurna tersebut ke tepi gelas raksasa berisi ikan.
Dan secara otomatis pandangan orang orang terus mengikuti semua yang ia lakukan, ia mulai menuang cairan racun yang ada di tangannya ke dalam kolam berisi ratusan ekor ikan tersebut. Lagi-lagi terjadi reaksi, ikan yang semula berenang dengan tenang di dalam kolam, tiba-tiba riuh berkecipak secara agresif seakan akan sedang berebut sesuatu untuk dimakan.
Beberapa saat kemudian kolam kembali tenang, karena ikan ikan yang berada didalamnya sudah mengapung kaku tak bergerak, pertanda racun yang diinginkan profesor Hardiman telah sempurna 100%.
“Hahahaha … akhirnya aku berhasil … tak ada seorangpun yang bisa menghentikan aku.” Profesor Hardiman tergelak, jumawa dengan semua yang sudah ia usahakan selama ini, tak peduli dengan banyak orang yang tersakiti.
Kala semua mata tengah fokus memperhatikan pertunjukan yang dibuat oleh Profesor Hardiman, Danesh dan Daniel saling mengirim aba-aba untuk melakukan penyerangan, Danesh yang tak sabar ingin menghajar orang, dan Daniel yang sudah sangat khawatir dengan keselamatan sang istri.
Tanpa dikomando dua kali, Zaki langsung mengerti bahasa tubuh Danesh dan Daniel, ia berbisik meminta Papa Dika menyingkir, agar tak perlu ikut terlibat perkelahian yang mungkin akan membahayakan dirinya.
Daniel mengendap ke sisi kanan, Danesh ks sisi kiri, sementara Zaki memberi aba aba dari tengah.
Gerakan ketiganya begitu cepat, hingga dalam beberapa gerakan saja tiga orang sekaligus roboh akibat pukulan mereka.
Menyadari kawan mereka sudah dijatuhkan, para anak buah Profesor Hardiman beramai ramai melakukan penyerangan, suasana di dalam Laboratorium sangat kacau, suara teriakan, rintih kesakitan, serta pukulan, sahut menyahut entak berasal dari pihak siapa.
Masing masing sibuk melakukan perlawanan, bahkan Profesor Hardiman yang tengah berdiri di bibir kolam ikan mendadak panik ketakutan, sementata Nick hanya bisa meronta mencoba melepaskan ikatan yang membelenggu tubuh, tangan dan kakinya. Tak disangka Papa Dika memberanikan diri masuk ke arena perkelahian, setidaknya ia pun ingin ikut andil menyelamatkan kedua keponakannya.
Dengan tangan kosong ia melepaskan simpul tambang yang mengikat tubuh Nick, kedua matanya tak lepas memandang wajah sang keponakan yang sungguh mirip dengan wajah kakak kandungnya. “Om sangat senang, ternyata selama ini kamu selamat Nak,” Bisiknya ketika tangannya berhasil melepaskan simpul yang membelenggu Nick.
Setelah terlepas Nick berlutut di depan Naya, pandangannya menatap sepasang mata Naya, ia merapikan rambut Naya yang berantakan menutupi wajah, tangannya gemetar ketika mengusap pipi Naya yang lebam akibat tamparan Profesor Hardiman.
“Maafkan Kakak, karena tak bisa melindungimu selama ini, Kakak janji akan membalas semua perbuatan pria kep arat yang sudah merampas kebahagiaan kita.” Kalimat yang singkat namun sarat akan penyesalan, dan air mata Naya mengalir deras, haru bagai mendengar ungkapan cinta mendalam seorang Kakak pada adiknya.
Papa Dika ikut menangis haru mendengar kalimat yang terucap dari bibir Nick, untuk sesaat mereka merasa sedang larut dalam dunia mereka, tenang, sunyi, penuh kedamaian, tak ada suara ribut perkelahian. Nick bergegas melepas belenggu yang mengikat tubuh Naya.
Setelah tali yang mengikat tubuh Naya terlepas, Papa Dika segera memeluk erat tubuh Naya, “Papa…”
“Om … siapapun anda, tolong jaga Naya,”
Naya menahan lengan Nick yang hendak berbalik, “Kakak mau kemana?”
“Aku akan menghabisi kep arat itu.”
“Jangan Kak, bagaimana nanti kalau Kakak di penjara?”
“Tak masalah, yang penting Kakak sudah berhasil membalaskan sakit hati kedua orang tua kita.”
Nick bergerak lincah, menghajar siapapun yang menghalangi langkahnya mendekati Profesor Hardiman.
eehh tapi jangan² pamannya Mila /Naya itu Profesor Hardiman ya Papahnya Clarissa lagi setelah mendapatkan semua harta Ortunya Mila/Naya dia di buang waktu kecil dan Lupa semuanya.🤔