Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegalauan White
Semenjak terbongkarnya hubungan Nancy dan Dirga beberapa hari yang lalu, pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka berdua benar-benar membuat White terpuruk. Hingga rasa penyesalan dalam diri White yang merasa dirinya begitu bodoh, dapat dimanfaatkan oleh keduanya. Mengingatkan dirinya dengan apa yang sudah dilakukannya pada Irene.
Seperti inilah yang dirasakan oleh Irene, pikir White. Pria itu sudah mengurung dirinya di dalam kamar apartemennya. Merutuki dan menyesali atas apa yang telah terjadi. Karma yang menghampirinya begitu cepat, membuat White tidak bersemangat lagi dalam menjalani hari-harinya.
Clarissa yang melihat sikap White sedikit berubah membuatnya sangat khawatir. Ya, kemarin wanita itu sengaja datang ke apartemen White untuk melihat kondisinya. Namun betapa terkejutnya Clarissa saat melihat White dengan tampang yang kusut dan tidak bersemangat.
Tambah lagi, kondisi apartemen yang sangat berantakan. Membuat Clarissa mencoba cari tahu apa yang terjadi pada White. Clarissa sempat menginterogasi White, namun pria itu hanya bungkam dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Clarissa yang sangat mengenal putranya itu, akhirnya meminta Max untuk mencari tahu apa yang telah terjadi pada putra bungsunya itu. Bahkan ia juga sempat menghubungi Venus dan Nathan.
Setelah mengetahui apa yang terjadi pada putra bungsunya itu, dengan cepat Clarissa meminta putra pertama mereka yang sedang berada di luar negeri untuk kembali ke Indonesia. Tidak lupa Clarissa memberitahukan apa yang terjadi pada White.
Angkasa Joseph Grisham, putra pertama dari keluarga Grisham baru saja tiba semalam. Pagi ini ia berniat menemui White di apartemen sang adik. Angkasa yang sudah mengetahui kode kunci apartemen sang adik pun dengan mudahnya masuk ke dalam.
Angkasa menghela nafasnya saat memasuki apartemen itu. Ia mengedarkan pandangannya, lalu berjalan ke arah jendela. Disibaknya gorden itu dan juga dibukanya pintu balkon, agar udara segar dan cahaya matahari pagi masuk ke dalam.
Angkasa mengetuk pintu kamar White berkali-kali, namun belum ada tanda White membuka pintu kamarnya. Ia melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Ia yakin kalau White sudah bangun dari tidurnya. Angkasa kembali mengetuk pintu kamar itu.
“White, ini Kakak. Tolong buka pintunya, apakah kamu tidak merindukan Kakak?” teriak Angkasa sengaja menggoda adiknya itu.
Angkasa menempelkan telinganya di pintu, berharap ia mendengar ada suara kehidupan dari dalam sana.
Angkasa tersenyum tipis saat merasakan White membuka kunci pintu kamarnya. Angkasa terkejut melihat penampilan sang adik yang berantakan. Persis dengan apa yang sang mommy katakan.
Angkasa melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mengamati dalam-dalam raut wajah White yang terlihat jelas kalau pria itu kurang tidur. Karena Angkasa dapat melihat lingkar hitam di kantung mata White.
“Kapan Kakak tiba di Jakarta?” tanya White dengan suara serak.
Angkasa menghela nafasnya. “Semalam,” jawabnya singkat.
Angkasa menepuk pundak White. “Mandilah, Kakak akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua!” titah Angkasa dan hanya dibalas anggukan kepala oleh White.
White pun melakukan apa yang diperintahkan oleh sang kakak. Sementara Angkasa segera menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka yang sengaja dibawa oleh pria itu, karena Clarissa yang memintanya.
Sambil menunggu White, Angkasa membuat kopi untuknya dan susu untuk White. Selang beberapa menit berlalu, White pun sudah terlihat segar dan wangi. White menghampiri Angkasa yang sejak tadi duduk di kursi meja makan.
“Duduklah!” titah Angkasa.
Lagi-lagi White hanya menuruti apa yang dipinta Angkasa.
“Makan dan jangan lupa semuanya dihabiskan,”
“Galau juga butuh tenaga,” gumam Angkasa dengan suara pelan.
White mendongakkan kepalanya dan mengerutkan dahinya. “Kau bilang apa tadi?” tanya White.
Angkasa menaikkan satu alisnya. “Aku hanya bilang habiskan makanan itu. Karena Mommy membuatnya dengan cinta,” bohong Angkasa yang langsung menyuap makanan ke dalam mulutnya.
White bergeming, lalu kembali menyentuh makanannya. Mungkin dia juga salah dengar, pikirnya.
Setelah menikmati sarapan mereka keduanya pun duduk bersisian di balkon apartemen sambil menikmati teh hijau.
“Jadi ada apa dengan adik bungsuku ini, hmm?” tanya Angkasa seraya mengulum senyumnya.
White berdecak kesal, “nggak ada apa-apa.” Jawabnya ngasal.
Angkasa tertawa kecil seakan mengejek jawaban White. “Jangan coba-coba berbohong padaku, White. Aku ini Kakak kandungmu, dan aku sangat mengenal adikku ini!” Angkasa menepuk pelan pundak White.
White mengelikkan matanya serta menghembuskan nafas kasarnya. Angkasa masih terkekeh dan kembali menatap lurus ke arah langit pagi ini.
“Seseorang itu kalau sudah menyangkut tentang perasaan akan sangat berbeda. Orang yang sedang patah hati biasanya akan kehilangan arah untuk melakukan segala sesuatu, bahkan untuk hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari.” Ungkap Angkasa seraya menoleh ke arah White.
Sementara White masih diam, dan membiarkan Angkasa melanjutkan apa yang ingin diungkapkan oleh sang kakak.
“Aku tahu apa yang saat ini sedang kamu rasakan. Bukan karena hati kamu menangis. Tapi, karena kesakitan yang sangat pedih yng saat ini kamu rasakan. Karena kesedihan itu sendiri merupakan hasil dari masa lalumu, penyesalan adalah rasa pedih dari ingatan."
“Seberapa besar cintamu padanya, dan sebesar itulah kamu harus rela melepaskannya. Walau dengan perasaan sulit, sakit dan kecewa. Namun, kamu harus tetap menerima kenyataan pahit itu.”
Dengan santainya Angkasa mengambil cangkir teh hijaunya. “Daripada kamu galau terus lebih baik kerja keras memperbaiki diri. Karena kesuksesan adalah bentuk balas dendam terbaik,” tutup pidato Angkasa sambil menyeruput teh hijau hangat yang sangat menenangkan.
Mendengar apa yang dikatakan sang kakak, membuat White terdiam dan menundukkan sedikit kepalanya. White berpikir dengan apa yang dikatakan sang kakak ada benarnya.
Tidak seharusnya ia terus terpuruk dalam kesedihan dan penyesalannya. Ia harus bangkit untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Disela renungannya, ia kembali teringat dengan Irene. Gadis yang pernah ia lukai hatinya. Dengan cepat White berdiri dan berlari menuju kamar, membuat Angkasa terkejut dan ikut menyusul sang adik yang sudah terlebih dahulu ke kamarnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Angkasa saat melihat White sudah berganti pakaian.
“Menemui seseorang,” jawab White yang sedang memakai kaos hitamnya.
“Siapa?”
White menghentikan pergerakannya, dan melirik sekilas ke arah Angkasa.
“Irene,’’
Dagi Angkasa berkerut saat mendengar nama yang sedikit asing di telinganya. Karena ia sangat tahu kalau adiknya itu hanya dengan dengan Nancy dan ia juga tahu tentang hubungan keduanya.
“Anak mana?” tanya Angkasa yang masih penasaran.
“Anak Bapak dan Emaknya,” celetuk White.
Angkasa mendengus kesal mendengar jawaban sang adik. Sambil berkacak pinggang, ia terus mengamati White yang terlihat rapi dan wangi. Hingga timbul rasa penasaran yang semakin tinggi, dengan sosok Irene itu.
“Aku akan mengantarkanmu!”
White langsung menatap tajam ke arah Angkasa. “Nggak usah!” tolak White.
“Kenapa?”
White menghela nafasnya. “Apakah perlu aku memberitahukan juga dirimu siapa Irene, heoh?” bentak White.
Mendengar White membentaknya dirinya. Bukannya marah atau kesal, tapi Angkasa malah tertawa. Sepertinya ia memang sangat suka melihat White kesal dengan dirinya.
“Ya, memang sepertinya aku harus tahu siapa Irene itu? Apakah dia gadis yang sudah membuatmu galau selama beberapa hari ini atau bukan? Aku kan tidak tahu, karena setahuku itu kamu sangat mencintai Nancy,” sahut Angkasa dengan begitu santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
White mendengus kesal. “Sudahlah, Kak. Kau cukup menasehatiku saja, tidak perlu terlalu ikut campur dan harus tahu siapa Irene.”
White memakai jaketnya. “Aku pergi dulu,” ucapnya seraya berlalu begitu saja melewati Angkasa.
“Aish, anak itu!” gumam Angkasa yang terlihat pasrah dengan sikap White.
“Pulangnya jangan terlalu larut malam!” teriak Angkasa yang entah didengar oleh White atau tidak.
Karena sosok sang adik sudah menghilang di balik pintu apartemennya. Angkasa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu ia merogoh kantong celananya, mengambil ponsel miliknya.
“Ikuti dia!” titah Angkasa pada salah satu orang kepercayaannya.
Sementara itu White langsung mengendarai motornya menuju rumah Irene. Ya, pria itu sangat ingin bertemu dengan Irene. Dalam hati White, dirinya berharap kalau hubungannya dengan gadis itu bisa kembali seperti semula.
White akan terus berusaha untuk mendapatkan kembali hati dan cinta Irene. Karena ia sangat tahu, kalau Irene memiliki hati yang sangat tulus dalam mencintai seseorang.
Di tempat lain, Irene saat ini sedang bersiap untuk melamar pekerjaan. Zef sudah menghubunginya, kalau si pemilik cafe tempatnya melamar pekerjaan memintanya untuk datang sebelum cafe tersebut dibuka. Ya, pagi ini Irene akan melakukan interview.
Di luar kamar, Reksa sudah menunggunya sambil melipat kedua tangannya di dada. Saat Irene membuka pintu kamar, ia cukup terkejut melihat Reksa yang sudah berdiri menatap tajam padanya.
“Mau interview saja lama sekali dandannya,” keluh Reksa.
Irene mengelikkan matanya. “Setidaknya kesan pertama itu harus terlihat menarik. Biar bisa langsung keterima kerja,” sahut Irene yang langsung memasang wajah datarnya pada Reksa.
Reksa menghela nafasnya. “Ayo, nanti keburu siang!” ajak Reksa yang langsung meninggalkan Irene.
Irene menghentakkan kakinya pelan. “Kalau bukan karena permintaan Bunda buat bareng dia, gue juga ogah. Mendingan naik angkot atau naik ojek online,” gerutu Irene sangat pelan.
Irene pun segera menyusul di belakang Reksa. Setelah berpamitan dengan Anita dan Cala, Irene pun segera masuk kedalam mobil Reksa.