"Kenapa kamu yang aku langitkan, tapi aku kamu hancurkan ?"
"Dan kenapa yang aku hancurkan, dia yang melangitkan aku ?"
Ini kisah cinta yang rumit, dimana semua masih terbelenggu akan masa lalu.
Siapa takdirnya Naya yang akan membawa kebahagiaannya ? Suami atau mantan kekasih ?
Ini kisahnya, ikuti yuk !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Setelah kejadian waktu itu Naya dan Fano sudah tidak bertemu lagi, yang lebih tepatnya dia yang menghindari Fano.
Dia takut hatinya akan benar benar goyah pada Fano, apa jadinya jika itu terjadi, itu akan jadi santapan lezat untuk mertuanya yang ingin mengusir dirinya dari kehidupan Rendra.
Waktupun berlalu dengan cepat sudah satu bulan berlalu, sikap Rendra semakin baik pada Naya, Perhatian, pengertian selalu Rendra tunjukan pada Naya. Walau itu memang hanya sebatas menyembunyikan kebohongannya.
Tapi Naya masih merasa hambar akan itu, apa karena hatinya sudah kembali terpaut pada Fano. Karena yang dia pikirkan sekarang adalah Fano.
"Sayang, ayo pergi" Pagi itu mereka berangkat bekerja bersama. Rendra masih melakukan hal itu.
Mereka tidak tau kalau badai sedang menghantui mereka dan bahkan sedang mencari aba aba untuk menghancurkan mereka. Semua bermula karena kesalahan Rendra waktu itu.
Aeri masih bekerja ditempat Rendra, namun sudah dua hari dia tidak masuk, karena sakit katanya. Rendra berusaha untuk tidak mengabaikannya. Meski secara diam diam dia mencari kabar tentangnya.
"Aku masuk dulu ya" Naya pamit untuk bekerja pada suaminya itu.
Setelah memastikan Naya masuk dengan baik, Rendra pun pergi untuk menuju kantornya. Karena Aeri tidak ada, pekerjaan dihandle oleh Andika.
Baru beberapa jam melakukan aktifitasnya dikantor dan sibuk dengan berkas berkas, Feli Mamanya menelepon. Rendra tidak bisa mengabaikan begitu saja, alhasil dia mengangkat telepon itu.
"Hallo, ada apa Ma ?"
"Rendra cepat kamu datang ke apartemen Aeri sekarang juga"
"Ada apa Ma ?"
"Rendra jangan banyak tanya !!" Feli nampak membentak Rendra dibalik telepon itu. "Mama bilang, kamu harus kesini ya kesini, sekarang juga !!!!"
Walaupun tidak mau, tapi mendengar Mamanya yang marah marah begitu, membuat Rendra terpaksa harus pergi dan dia mengalihkan pekerjaannya pada Andika.
Hanya butuh waktu sekitar 30 menitan, Rendra sampai digedung tempat tinggalnya Aeri.
Rendra masuk setelah sampai dilantai tempat Aeri tinggal, tapi baru saja melangkah dia sudah dapat tamparan dari Mamanya.
Plak
Rendra seketika membeku dapat tamparan tiba tiba dari Mamanya.
"Ma, kenapa nampar aku ?" pekik Rendra
"Kenapa kamu lakuin itu sama Aeri ? kenapa Rendra ?" Feli terlihat sangat murka ketika itu.
Dan Rendra menatap Aeri yang sedang menangis "Maksud Mama apa sih ? emang Rendra ngelakuin salah apa ?" sarkas Rendra.
"Sini kamu" Feli menarik Rendra sampai di dekat Aeri yang duduk di sofa "Kamu nanya, salah kamu apa ? kamu udah buat Aeri hancur, kamu udah rebut kehormatan dia, Rendra. Mama malu kamu kaya gini, bukan ini yang Mama mau" Feli kini terisak menangis.
Sedangkan Rendra kini ingat akan malam itu yang memang berbuat salah pada Aeri.
"Jawab jujur Rendra, benar kamu sudah lakuin itu sama Aeri ?" Feli kembali mendesak Rendra dan ingin Rendra jujur.
Tapi Rendra terdiam "Jawab Rendra !!" Feli membentak Rendra kini.
"Iya, Rendra memang sudah melakukan itu sama Aeri. Tapi itu juga bukan ingin Rendra, Ma. Rendra tidak dengan sengaja melakukan itu sama Aeri, Rendra sedang terpengaruh oleh obat. Jadi jauh dari kata kesadaran Rendra, Ma"
Feli masih menangis "Mama kecewa sama kamu Rendra, Mama memang pengen Aeri jadi mantu Mama, tapi tidak begini caranya, sekarang kamu harus nikahi dia" Feli menunjuk Aeri dan menyuruh Rendra untuk menikahinya.
Jelas itu membuat Rendra panik "Ma, kenapa Rendra harus nikahi dia ?"
"Kamu bilang kenapa, Rendra ? kamu sadar masa depan Aeri rusak gara gara kamu, dan terlebih kalau Aeri sedang hamil. Pokoknya kamu harus nikahi dia sekarang juga !!"
"Hamil ?" Rendra menatap Aeri, lalu mendekati Aeri "Kamu sungguh hamil, Ae ?"
"Iya Mas, waktu itu kan kita melakukannya tanpa pakai apa apa. Kemarin aku udah cek testpack dan hasilnya garis dua, terus karena kurang yakin, aku cek ke dokter, dan dari hasil USG aku benar benar hami. Aku harus gimana Rendra ?"
"Gak mungkin, mungkin itu salah" Rendra berusaha menyangkal itu semua.
"Gak mungkin bagaimana Mas ? ini anak kamu, kamu yang melakukan itu sama aku Mas" Aeri memukul mukul bahu Rendra.
Rendra langsung memeluk Aeri, dan menenangkannya.
"Jelas Rendra akan tanggung jawab Aeri, dia akan nikahi kamu" Final Feli.
"Tapi Ma"
"Apa ? tapi apa ? kamu sudah berbuat maka harus berani tanggung jawab Rendra. Dia anak kamu, dia darah daging kamu. Jadi kalian harus segera nikah"
"Ma" Rendra kembali menolak.
"Tidak ada penolakan Rendra, atau kamu ingin Naya tau akan hal ini ? Mama akan sembunyikan ini dari Naya, jadi kalian nikah diam diam dari Naya. Biar Naya tau nanti"
"Tapi Ma, Rendra gak bisa punya dua istri"
"Terus kamu mau bagaimana ? mau lari dari tanggung jawab yang sudah kamu lakukan Rendra ? Papa kamu akan malu kalau dia masih hidup"
Suara pintu terbuka dan menampilkan kedua orang tua Aeri datang dan sudah mengetahui perihal hamilnya Aeri.
*B*ngs*at" Papanya Aeri memukul Rendra.
Tapi Aeri mencoba menahan itu "Pa, jangan. Jangan lakuin ini, ini semua juga salahnya Aeri, Pa"
Papanya masih nampak emosi, tapi melihat Aeri di depannya, dia jadi luluh.
"Ae, Mama gak pernah ngajarin kamu kaya gini, kenapa kamu tidak bisa jaga diri kamu ? kamu tau kan kalau Rendra itu pria beristri ?" Mamanya memarahi Aeri, bagaimana pun ini juga salah Aeri.
"Maaf, Ma. Maafin Aeri" Aeri memeluk kaki Mamanya dan meminta maaf penuh.
"Om, Tante. Saya akan bertanggung jawab, saya akan nikahi Aeri"
Semua orang menatap Rendra yang sedang berlutut di depan kedua orang tua Aeri.
Kedua orang tua Aeri bingung harus bagaimana, sisi lain Aeri sudah hamil, tapi disisi lain Rendra sudah punya istri.
"Tapi bagaimana dengan status dia nanti ? apa selamanya akan jadi istri kedua kamu ?" itu Papa Aeri yang bertanya.
"Saya tidak bisa berbuat apa apa lagi, Om. Karena saya tidak bisa menceraikan istri saya Naya"
Jawaban itu membuat Papa Aeri tertawa "Saya sebenarnya sangat tidak ikhlas, tapi bagaimana masa depan cucu saya nanti"
"Saya janji Om akan jaga mereka sebisa saya, saya akan bertanggung jawab pada Aeri dan calon anak aku"
"Baiklah kalian menikah sekarang juga secara agama"
Dan pernikahan itu terjadi hari itu juga, hanya mereka yang hadir, tidak ada perayaan tidak ada pesta, hanya sebuah ijab qobul saja.
Rendra memejamkan matanya, kala kata SAH sudah berkumandang, semuanya sudah terjadi, dia tidak bisa untuk mundur dari situasi itu. Maka dengan berat hati dia harus menjalani itu semua. Menjalani hidupnya dengan dua istri, dia akan berusaha untuk berbuat adil.
aku yg cuma baca aj udah g sabar
mending cari laki yg punya kuasa sendiri saja Naya biar gk ada yg berani menginjak harga dri u