Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Entah seberapa besar rasa cinta kakaknya pada Dwi hingga saat di duakan Ia bahkan tidak memperdulikan putrinya sama sekali. Bahkan Ia memutuskan pergi selama-lamanya meninggalkan Mutiara yang semakin jatuh dalam kekecewaan.
Bukankah seharusnya kasih ibu sepanjang masa bahkan tidak bisa tergantikan oleh apapun bahkan Rela menggadaikan nyawa demi melahirkan putra putrinya.
Namun nyatanya kekecewaan Tiana pada suaminya turut menjadikan putrinya kehilangan kasih sayangnya untuk selamanya
Mulya menghembuskan napas panjang. Ia melihat Rayden yang terus memandangi Mutiara.
"Tadi saat sadar apa Mutiara mengatakan sesuatu?" tanya Mulya yang kemudian lebih intens melihat Rayden karena tidak menjawab pertanyaannya.
"Rayden?" Rayden yang terkejut saat namanya di panggil segera mengalihkan atensinya. Seketika ia menoleh ke arah Mulya dengan raut wajah penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Mulya cemas.
"Mutiara baru saja tertidur" jawab Rayden seraya membenarkan selimut Mutiara lalu melangkah ke arah Mulya
"Maksudmu?" tanya Mulya kembali. "Bukankah Mutiara telah tidur sejak tadi."
"Maksudku dia baru saja tertidur pulas" balas Rayden sambil duduk disalah satu sofa single.
"Kamu sangat mengenal Mutiara?"
"Aku selalu bersamanya dari kecil sampai remaja sebelum kejadian itu" jawab Rayden. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit sesekali mengingat kebersamaannya dengan Mutiara membuatnya tersenyum.
Mulya melihat ada kemungkinan besar jika Mutiara akan sehat jika Rayden tetap memiliki perasaan yang sama. "Kamu bahkan memiliki insting yang kuat pada apa yang di alami oleh Mutiara yang bahkan tidak dimiliki oleh Ayahnya sekalipun"
"Aku menyayanginya" Rayden menjeda perkataannya. Ia memejamkan matanya dan kembali melanjutkan perkataannya. "Bahkan mencintainya"
"Sejak kapan kamu menyadari perasaanmu?" tanya Mulya dengan Atensi tetap berada pada Mutiara.
"Sejak aku tidak bisa menemui Mutiara lagi. Aku merasa ada sesuatu yang kurang dan lama-kelamaan perasaan itu semakin dalam"
Jawaban Rayden membuat kening Mulya berkerut.
"Kenapa kamu tidak menikahinya sejak lama?"
Rayden menghembuskan nafas panjang, membuka mata lalu merubah posisi duduk menjadi lebih tegak. "Aku pernah mengajaknya menikah tapi Mutiara menolak."
"Dia seperti trauma dengan pernikahan, tidak mempercayai pria dan saat itu aku juga melihat ketidaknyamanan Ara saat berdekatan denganku. Aku menghormati keputusannya dan mulai menjaga jarak tapi tentu saja Mutiara berada dalam pengawasanku"
"Lalu kenapa kamu mendekatinya lagi?"
Rayden menundukkan kepala dan tersenyum samar "Aku mendapat laporan kalau Ara berada dengan seorang pria di restauran. Aku pikir dia sudah mau membuka hatinya untuk pria jadi aku tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Untung saja restaurant yang dimaksud sama dengan restaurant tempatku bertemu klien, jadi aku langsung bergabung dan bertanya pada Ara tentang hubungannya dengan pria itu." Rayden mendongakkan kepala dan tersenyum melihat Mulya yang hanya bisa terbengong mendengar penjelasannya.
"Dia langsung menjawab?" tanya Mulya penasaran.
"Tentu! Kata Mutiara pria itu dikenalkan oleh Ayahnya"
Mulya mengingat foto yang beredar antara Rayden dan Mutiara disebuah restaurant. "Jadi kamu mengusir pria itu, dan saat pria itu pergi kalian jadi makan berdua lalu muncul foto dan gosip yang sempat Viral itu"
"Sebenarnya aku tidak mengusirnya secara langsung hanya saja mungkin pria itu sadar diri jadi langsung pergi" jawaban Rayden membuat Mulya mengelengkan kepalanya.
"Siapapun yang berada di posisinya pasti memutuskan untuk pergi. Hanya orang-orang yang tidak tahu siapa kamu tetap berada disana. Mereka akan menjadi pihak yang kalah sebelum bertanding"
Rayden tersenyum simpul saat mendengar ucapan Mulya yang menyiratkan pujian untuk dirinya namun sedetik kemudian wajahnya berubah serius.
"Tante!"
"Ya"
"Dulu saat sebelum Ara sakit....Apa Ara mengalami sesuatu yang terjadi?"
"Entahlah! Setelah kematian kak Tiana aku langsung kembali ke singapure karena ada kerjaan yang tak bisa ku tinggalkan lagi pula Mutiara tidak mau mengikuti Ibuku jadi aku pikir semua akan baik-baik saja. Tapi... Seperti yang aku ceritakan padanya pada Eyangmu. Aku tahu keadaan Mutiara seperti itu saat eyang meneleponku. Aku langsung pulang melihat keadaannya. "
Flassback on
"Ibu, ada apa dengan Mutiara?" tanya Mulya saat baru saja menginjakkan kakinya di rumah dan melihat Murti menyambut kedatangannya dengan raut wajah yang nampak khawatir.
"Ibu tidak tahu tapi dia seperti.... " Murti menghentikan perkataannya karena tidak sanggup untuk memberikan perumpamaan yang buruk untuk Mutiara. Murti mulai terisak merasa sedih atas nasib anak dan cucunya.
Mulya membawa tubuh Murti dalam pelukannya, berusaha menghibur agar wanita itu menjadi lebih kuat.
"Ibu!"
"Mutiara ada di kamar Tiana, cobalah lihat sendiri keadaannya!" ucap Mulya setelah perlahan keluar dari pelukan putri keduanya. Ia harus kuat dan kini yang lebih membutuhkan support bukan dia tapi cucunya, Mutiara.
Mulya menganggukan kepalanya melangkah menuju lantai 2, tempat dimana kamar Tiana berada sambil membawa tas kecil.
Di depan kamar Ia berpapasan dengan Bi Asi yang selama ini ditugaskan mengurus Mutiara saat Murti bekerja.
Di tinggalkan oleh sang suami mengharuskan Murti turun tangan untuk mengurus beberapa peninggalan suaminya. Tiana yang awalnya turut membantu harus berhenti dengan alasan ingin lebih berbakti suami dan menjaga putrinya dan Mulya yang memang sejak remaja tertarik pada dunia kejiwaan diizinkan untuk mencapai cita-citanya.
"Nona Mulya!" Bi Asi terkejut langsung menunduk sopan sebagaimana sikap seorang asisten rumah tangga pada majikannya. Mulya menoleh melihat piring kosong di nampan yang dipegang Bi Asi.
"Bagaimana keadaan Mutiara?" tanya Mulya sebelum membuka pintu kamar dimana Mutiara berada.
"Baik Nona" jawab Bi Asi dengan tetap menundukkan wajah.
Mulya masuk ke dalam kamar melihat Mutiara duduk diam didepan jendela.
"Mutiara!" panggil Mulya seraya mendekati Mutiara namun tidak ada respon hingga Mulya mendekati dan berada di samping Mutiara.
"Sayang ini tante. Tante ada oleh-oleh loh buat Mutiara, Mau lihat nggak?" ucap Mulya seperti biasa saat Ia pulang. Dulu setiap ingin pulang, Ia selalu memberi kabar pada Mutiara hingga gadis kecil itu selalu datang di rumah eyang sambil menunggunya pulang dan selalu bahagia saat Mulya memberikannya oleh-oleh. Tapi kini jangankan tersenyum, menoleh pun tidak sama sekali.
"Tiara" Mulya memeluk Mutiara sayang. Ia menangkup wajah Mutiara saat tidak mendapatkan respon apapun.
"Tiara, lihat Tante!" Mulya menautkan keningnya, wajahnya pias seketika saat melihat netra Mutiara yang nampak kosong
"Tiara sayang, ada apa? Jangan membuat Tante takut. Bicara sayang, Ayo katakan apa yang Tiara rasakan?" Mulya mengamati respon Mutiara dari gerakan matanya.
Ada kepanikan dalam diri Mulya. Ia menghela napas berusaha menenangkan dirinya. Mulya berusaha tersenyum di depan Mutiara. Di usapnya rambut Mutiara pelan sambil terus memperhatikan respon gadis kecil itu.
"Lihat Tante, katakan apa yang kamu rasakan. Jangan takut sayang. Tante suka kalau Mutiara bicara"
"Tiara ngantuk" lirih suara Mutiara terdengar.
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/