Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Waktu berlalu begitu cepat hari ini adalah hari terakhir di mana sekolahnya mengadakan ujian semester. Dan selama ini juga dia sudah belajar mati-matian dibantu oleh kedua sahabatnya.
"Sayang kamu udah siapa belum ayah udah nungguin kamu di garasi!"teriak Laura dari bawah.
"Iya Bunda ini Alleta udah siap." Alleta mengambil tas sekolahnya dan menyampirkan di bahu. Karena dia masih tinggal di rumah kakek Alleta biasanya di antar oleh supir, tapi sekarang dia berangkat di antar oleh ayah. Tidak mungkin kan dia naik sepeda dengan jarak yang begitu jauh, bisa-bisa entar kesiangan.
"Ayah selamat pagi,"sapa Alleta setelah tiba di teras rumah.
"Selamat pagi princess, mau berangkat sekarang?"
"En… karena hari ini ujian terakhir aku gak mau telat lagi, jadi ayah harus ngebut bawa mobilnya,"ucap Alleta.
"Siap Tuan putri, soal di jalanan serahkan pada Ayah. Gini-gini juga Ayah dulu pembalap,"ujar Luke menyombongkan diri.
"Eleh pembalap abal-abal. Awas ya kalau bawa putriku kebut-kebutan aku suruh kamu tidur di luar,"ancam Laura.
"Loh kok gitu aku kan sebagai ayah yang baik harus menuruti permintaan putri kita."
"Gak ya, gak usah pake kebut-kebutan. Jalan aja seperti biasa yang penting selamat. Udah gih sana pergi nanti Alleta telat."
"Iya-iya, kami pergi dulu,"pamit Luke lalu mencium kening istrinya.
"Bye Bunda." Sebelum menyusul ayahnya Alleta mencium pipi Laura terlebih dulu.
"Bye sayang semoga ujian kamu lancar ya jangan terlalu memaksakan diri."
"Iya, makasih Bunda. Dah Kakek!" Alleta melambaikan tangannya ke arah James yang sedang berjemur di taman.
"Dah semangat!"
"Hati-hati jangan ngebut!"
"Iya!"
°°°°
"Kamu yakin mau turun di sini? Padahal kan sebentar lagi kita sampai loh,"ucap Luke kepada putrinya.
"Iya Ayah, karena aku gak ingin semua orang tahu identitasku."
"Loh kenapa? Kamu malu?"
"Enggak, masa Alleta malu memiliki keluarga seperti kalian. Udah ya Ayah aku pergi dulu, dah Ayah hati-hati di jalan." Alleta langsung kabur karena takut ayahnya akan melontarkan pertanyaan selanjutnya.
"Anak itu." Luke tersenyum tak berdaya.
.
.
.
Sejak dia datang sampai tiba di kelas Alleta merasa tatapan semua orang yang mengarah padanya terlihat aneh, padahal kemarin baik-baik saja tapi kenapa sekarang seperti ini. Setiap kali dia berpapasan dengan mereka, orang-orang pasti akan berbisik membicarakannya.
"Eh lo liat informasi yang ada di grup sekolah?"
"Lihat, sebenarnya gue gak percaya dia seperti itu. Tapi dengan adanya barang bukti itu sekarang gue percaya."
"Ya kan. Gue kira dia anak baik tapi ternyata simpanan lelaki tua."
"Jadi desas-desus yang dulu itu benar. Ck bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta dan masih bertindak sok polos."
"Sekarang kan hidupnya jatuh miskin setelah kabur dari rumah Camila.
"Pantas saja dia jadi simpanan ternyata untuk bertahan hidup. Berarti dia bisa masuk ke sekolah ini berkat sugar daddy nya dong."
"Iya lah hahahaha…."
Mendengar mereka sedang membicarakannya Alleta mengerutkan keningnya. Dia hendak menegur mereka ketika sebuah tangan menutup telinganya.
"Gak usah dengerin omongan mereka." Austin menutup kedua telinga Alleta. Para murid yang tadi membicarakan Alleta seketika terdiam ketika pandangan mereka bertemu dengan tatapan tajam milik Austin.
"Ayo ke kelas." Austin menarik tangan Alleta menuju kelas mereka.
Karena sekarang ujian semester para murid dibagi secara acak dan dimasukkan ke dalam ruangan yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Dan kebetulan Austin berada di ruang yang sama dengan saudara kembarnya! Rasanya dia masih belum percaya kalau Alleta adalah kembarannya.
Di dalam kelas semua pandangan tertuju pada Alleta, tampak semua orang menatapnya dengan jijik seperti melihat kotoran.
"Ternyata dia orangnya."
"Kenapa pihak sekolah masih membiarkan dia tetap di sini?"
"Bisa-bisa reputasi sekolah kita jadi jelek."
Alleta terus berjalan menuju kursinya menghiraukan bisikan-bisikan teman sekelas. Dia tidak memiliki energi untuk memperdulikan omongan mereka, karena energinya akan dia gunakan untuk ujian nanti.
"Fokus saja pada ujianmu jangan dengarkan omongan mereka,"ucap Austin mengelus kepala Alleta dengan lembut.
"Ah adiknya sangat imut! Tidak, sadarlah Austin ini bukan waktunya seperti ini, aku harus mencari tahu siapa pelaku yang sudah menyebarkan foto-foto itu."
"En… Aku tahu."
"Kalau begitu kak- ehm maksudku, aku pergi ke mejaku,"ucapnya gugup, dia hampir keceplosan menyebut dirinya kakak.
"Iya."
Alleta mengambil earphone dari tas lalu memakainya di telinga, suara-suara berisik tadi seketika lenyap digantikan oleh keheningan yang menenangkan. Dia mulai membaca materi pelajaran.
Di meja depan Camila menundukkan kepala, menyeringai puas mendengar semua orang membenci Alleta.
"Ah gue udah gak sabar liat lo dikeluarkan, Alleta."
Kring… kring… kring….
Bel kelas berbunyi semua murid yang tadi berisik seketika hening. Suasana yang tadi santai menjadi tegang saat pengawas kelas membagikan kertas ujian.
"Semuanya kerjakan soal dengan benar jangan ada yang mencontek. Kalau ada yang ketahuan menyontek Ibu akan mengeluarkannya dari kelas dan memberi nilai nol, paham!"
"Paham Bu."
Semua murid mulai mengerjakan kertas soal dengan tenang termasuk Alleta. Dia sangat fokus sampai tidak menyadari kalau pengawas kelas berdiri di sisinya.
Pengawas kelas mengangguk melihat jawaban Alleta kemudian pergi menyusuri murid lainnya.
Waktu terus berjalan setiap detik, setiap menit dan tanpa terasa kini sudah satu jam Alleta berkutat dengan soal ujiannya masih ada beberapa soal yang belum dia isi.
"Waktu hanya tersisa 5 menit lagi,"ucap guru pengawas membuat suasana kelas menjadi lebih tegang.
Tring… tring… tring…
"Waktu habis, silakan kumpulkan kertas ujian kalian ke depan."
"Hah… akhirnya selesai juga." Setelah memberikan kertas ujian kepada guru Alleta bisa bernafas lega, dia mengambil ponsel lalu menyalakannya. Sudah lama dia tidak membuka ponselnya karena dia sengaja agar tidak ada yang mengganggunya saat dia sedang fokus belajar.
Begitu ponsel menyala banyak sekali notifikasi memenuhi layar ponselnya. Alleta masuk ke dalam grup sekolah karena hanya ini yang memiliki banyak pesan masuk, namun saat melihat foto dirinya Alleta meremas ponselnya dengan erat.
"Alleta, guru memanggilmu ke kantor."
Alleta mengangkat kepalanya, menatap orang yang memanggilnya kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku, dan berjalan pergi meninggalkan kelas.
Suasana kelas menjadi ricuh begitu Alleta keluar.
"Sial, apa dia akan dikeluarkan dari sekolah?"
"Baguslah buat apa murid seperti itu dipertahankan, malu-maluin tahu."
"Diam!"bentak Austin.
"Jangan asal bicara kalau kalian gak tau kebenarannya!"
"Kebenaran apa, buktinya juga masih ada."
"Lo pasti udah termakan rayuan gadis j****g itu makanya lo bela-belain dia."
"Apa! Lo bilang apa barusan, hah?!" Austin menarik kasar kerah orang yang tadi menjelekkan Alleta.
"Apa! Bener kok ucapan gue dia kan jalang!"
Bugh!
"Austin!" Nathan berlari masuk menarik Austin menjauh.
"Lepasin gue! Dia harus diberi pelajaran karena udah ngehina Alleta!"
"Ini bukan waktunya menghajar mereka, ayo ikut gue." Nathan menarik Austin keluar dari kelas.
"Hah sial sakit banget, gila!"
Camila tersenyum kesenangan, sebentar lagi anak itu akan keluar dari sekolah ini.
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg