Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Bening memakai kemeja Surya dan bersila di lantai, sementara Surya berbaring menyamping pinggangnya hanya dengan mengenakan celana pendeknya. Ada sepiring biskuit di antara mereka, namun tehnya sudah dingin sehingga mereka memilih untuk meminum anggur.
Bening merasa seperti baru keluar dari hutan, karena sudah berhasil meraih pria misterius ini, dan ia merasa kelaparan sekarang sampai-sampai ia menghabiskan setengah piring biskuit seorang diri. "Kau tidak lapar?" tanya Bening pada Surya dengan memainkan biskuit di bibir Surya.
Pria itu tersenyum mengelus pipi istrinya dengan lembut, ia merasakan kehangatan pada pancaran mata Bening. Bening mencondongkan badan, kemudian mengecup ringan bibir pria itu.
Surya meraih seuntai rambut Bening yang terkena madu, kemudian menciumnya. "Rambutku bau madu ya?" tanya Bening.
"Sedikit."
"Aku lumayan menyukai bau madu," ucap Bening sambil tersenyum malu. "Aku tidak merasa jijik, jadi kau tidak perlu khawatir sayangku."
"Aku harap bayang-bayang ini segera berakhir dan tidak lagi datang di pikiranku," Surya mendesah, ia menautkan jemarinya di jemari Bening dan mengelus ibu jarinya.
Surya tampak tak terbaca saat ini, dan Bening merasa pria itu kembali menarik diri dan menjaga jarak dengannya. Bening begitu ingin Surya tak seperti itu, ia mencondongkan tubuhnya hingga mereka tak berjarak dan menatap mata pria itu. "Ku mohon jangan pergi, Sayang." Bening memohon.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Surya.
"Maksudku jangan pergi dari moment ini, Sayang. Bukankah tadi kau lihat aku sama sekali tidak takut padamu?"
Surya tersenyum lebar. "Kau memang wanita tangguh."
"Apa ada hal yang kau takuti dariku?" tanya Bening.
Surya menyelipkan seuntai rambut ke belakang telinga Bening. "Satu-satunya yang aku takutkan darimu adalah ketika kau bermain piano."
Mata Bening melebar terkejut, kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Apakah telingaku tak salah dengar? Benarkah suamiku ini sedang bercanda?"
Surya mencium Bening. "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, dan terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk berterus terang. Tapi tolong, jangan beri tahu siapa pun mengenai kelainanku hingga aku harus minum obat."
Kelopak mata Bening sedikit bergetar, ia merasa dirinya juga harus menceritakan jika dulu ibunya pernah meminum obat yang sama seperti yang Surya lakukan, namun Bening bingung harus bercerita mulai dari mana.
"Jika rahasia ini sampai bocor, tentu akan semakin mencoreng nama baik keluarga Magenta," ucapnya seraya menyusurkan jemarinya di bibir Bening.
Bening hanya terdiam, ia tengah memikirkan cara untuk berterus terang seperti yang Surya lakukan. Namun sebelum Bening menemukan caranya, Surya sudah terlebih dahulu menciumnya, pria itu membenamkan jemarinya di rambut Bening dan menarik tubuhnya mendekat.
Surya melentangkan tubuh Bening, meraih payud*ra istrinya. Bening meregangkan tangannya di atas kepala, bibirnya tersenyum karena kenikmatan ketika mulut dan tangan Surya bergerak di tubuhnya.
...****************...
Mereka kembali ke Bandung keesokan harinya, kali ini Surya melakukan perjalanan darat bersama Bening, Cinta dan juga si anak anjing kesayangan Bening. Bening terlihat riang berceloteh sepanjang perjalanan, dan Surya nampaknya mulai terbiasa dengan celotehan istrinya, hal itu bisa di lihat dari cara Surya menyimak dan menanggapinya.
Sementara Cinta duduk di bangku depan bersama supir dan Milo yang duduk di pangkuannya. Merek berdu menempelkan wajahnya di kaca jendela mobil, melihat gedung-gedung pencakar langit yang di lalui.
Bening bertekad untuk tidak membiarkan keheningan muncul di antara mereka. Wanita itu bicara tentang cuaca, tentang pesta, dan mengomentari apa saja yang di kenakan oleh orang-orang yang datang di pesta tersebut.
Surya mendapati istrinya memiliki ketertarikan pada dunia fashion, ia berpikir jika nanti istrinya bertemu dengan kakaknya pasti mereka akan langsung cocok.
Tiga jam kemudian mereka tiba di kediaman Surya, kelihatannya Bening sudah membuat dirinya sendiri kelelahan dan celotehannya, sementara Cinta terlihat mabok dengan celotehannya sebab gadis itu langsung berlari keluar ketika mobil mereka berhenti.
"Selamat datang Tuan Magenta," sapa Toto ketika Surya keluar dari mobil. Ia melarang siapa pun membantu istrinya keluar dari mobil sebab ia sendiri yang ingin melakukannya.
"Ayo, Nyonya Magenta." surya mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya berada di atap mobil agar kepala Bening tidak terbentur. Bening tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
"Senang rasanya Anda kembali," sambung Toto. "Tuan Alan, staff Accounting Anda sudah menunggu di ruang kerja Anda."
"Di rumah ini?" tanya Surya memastikan.
"Ya Tuan, katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Tuan Magenta."
Surya melayangkan pandangannya pada Bening. Bening tersenyum manis. "Ini hari yang indah, kurasa aku ingin bersepeda di sekitar perkebunan. Kita bertemu saat makan malam bagaimana?"
"Ya," sahut Surya, meraih tangan Bening kemudian menciumnya.
"Apa Alan sudah lama menunggu?" tanya Surya pada Toto.
"Ya, sekitar dua jam yang lalu."
Surya langsung tahu apa yang membuat Alan datang mengunjungi kediamannya, yang pasti bukan berita yang menyenangkan jika melihat wajah Toto yang terlihat muram dan gugup pria itu ketika menyerahkan sebuah surat kepada Surya.
Surat tersebut berasal dari kantor pajak, ternyata proyek yang di bangunnya bersama Aksara memiliki hutang pajak sembilan miliar rupiah. Surya melipat surat tersebut ketika ia tiba di ruang kerjanya. "Sembilan miliar adalah angka yang cukup besar," ucapnya sembari menahan desakan untuk tidak meremas surat itu karena kemarahannya mulai mengaliri pembuluh darahnya.
"Itu adalah jumlah yang cukup besar, Tuan. Jadi selama ini Tuan Aksara tidak menyetor pajak project ini."
Surya menghela napas beratnya, bagaimana bisa seorang Aksara yang notabennya seorang pembisnis besar hingga melakukan perbuatan ini? Ia nyaris tak sanggup bicara, kemarahannya sudah menjalar di seluruh tubuhnya, tapi ia harus segera membereskan masalah ini.
Surya duduk di meja kerjanya, ia menuliskan sembilan miliar di atas cek miliknya sembari membayangkan Aksara tengah mabuk bersama para wanita. Itulah dugaan Surya kepada Aksara yang telah menggelapkan uang pajak projectnya.
Surya menyerahkan cek itu pada Alan, dan memintanya utuk segera membayar dan membuat laporan pajak. Setelah menerima cek itu Alan beranjak dari tempat duduknya, namun ia berhenti di pintu. "Boleh saya bicara Tuan?"
Surya mengangguk, mempersilahkan Alan bicara dan segera pergi meninggalkan kediamannya. "Saya rasa Anda tidak tahu jika sekarang Tuan Aksara sudah memiliki anak," ucapnya dengan hati-hati.
"Benarkah?" Surya terperangah mendengar berita itu, sebab terakhir kali ia bertemu dengan Aksara pria itu masih mabuk dengan banyak wanita.
"Ini sudah menjadi rahasia umum di kantor, Tuan."
Tapi seharusnya Surya tidak perlu terkejut, mengingat tingkah Aksara yang sering kali bermain wanita tentu ada kemungkinan salah satu wanita yang ia tiduri akan hamil.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud untuk bergosip. Permisi," pria itu pun berlalu meninggalkan kediaman Surya.
Sementara Surya berpikir untuk segera bertemu dengan Aksara menyelesaikan masalah ini, ia tidak peduli pria itu memiliki anak atau masalah lainnya yang jelas dia harus mengganti uangnya.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka