NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Api Es Penempa Fondasi

​Selama dua minggu berikutnya, Puncak Awan Ungu benar-benar tertutup dari dunia luar. Formasi pelindung di sekeliling paviliun diaktifkan secara maksimal, mencegah siapa pun untuk mengintip ke dalam.

​Di ruang kultivasi bawah tanah yang terbuat dari batu dingin, Lin Chen duduk bersila tanpa mengenakan baju atasan. Di depannya, melayang empat material tingkat tinggi yang memancarkan energi ekstrem: Darah Kera Iblis Gunung yang mendidih merah, Teratai Tulang Putih yang memancarkan aura kematian, Kristal Es Sumsum Bumi yang sedingin es abadi, dan Akar Teratai Es Berusia Tiga Ratus Tahun hasil rampasan dari Gu Tian.

​"Material ini sangat tidak stabil jika digabungkan," gumam Lin Chen. "Kultivator biasa akan membutuhkan bantuan Alkemis Tingkat 5 untuk menetralisir racun beryin ekstrem ini menjadi pil yang aman. Tapi bagiku..."

​Mata Lin Chen berkilat tajam. "Rasa sakit dari racun adalah katalis terbaik untuk memperluas Dantian."

​Ia membuka mulutnya dan menyedot napas dalam-dalam.

​WUSH!

​Keempat material berharga itu seketika hancur menjadi kabut energi berwarna merah dan biru es, lalu tersedot langsung ke dalam mulut Lin Chen layaknya paus menelan lautan.

​Seketika, kulit Lin Chen berubah menjadi biru pucat, disusul oleh warna merah darah yang mendidih. Urat-urat di lehernya menonjol hingga nyaris meledak. Suhu di dalam ruangan itu bergantian antara panas yang bisa melelehkan baja dan dingin yang membekukan jiwa.

​Di dalam Dantian-nya, Qi Tingkat 7 miliknya meronta-ronta menahan gempuran energi liar tersebut.

​"Sutra Pedang Kehampaan, telan dan hancurkan!"

​Lin Chen membentuk segel tangan kuno. Pusaran Qi berbentuk pedang di dalam Dantian-nya berputar dengan kecepatan gila-gilaan, menggiling energi yin yang korosif itu menjadi Qi murni.

​Proses ini seperti membangun istana di atas gunung berapi yang sedang meletus. Setiap serat otot dan meridiannya dihancurkan oleh energi es dan api, lalu dibangun kembali berkat khasiat pemulihan dari pil-pil tingkat tinggi yang sesekali ia telan.

​Satu hari... lima hari... sepuluh hari berlalu.

​KRAK! DUAAR!

​Pada hari ke-14, sebuah ledakan energi teredam terjadi di dalam tubuh Lin Chen.

​Aura yang memancar dari tubuhnya merobek batas Tingkat 7, melesat ke Tingkat 8, dan terus mendaki dengan kecepatan mengerikan hingga akhirnya berhenti di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak!

​Udara di ruang kultivasi itu bergetar hebat. Jika bukan karena formasi pelindung ruangan, ledakan auranya pasti sudah menghancurkan paviliun ini berkeping-keping.

​Lin Chen perlahan membuka matanya. Tatapannya sedalam lautan es dan setajam pedang ilahi.

​Ia mengangkat tangannya dan melihat cairan emas samar yang mengalir di bawah kulitnya. Itu bukan lagi Qi berbentuk gas, melainkan Qi yang telah mencair dan memadat—tanda bahwa fondasi untuk Ranah Pembentukan Fondasi telah terbangun sempurna.

​"Tingkat 9 Puncak. Hanya butuh satu pemicu lagi untuk mengubah lautan Dantian ini menjadi Fondasi Spiritual sejati," ucap Lin Chen sambil tersenyum puas. "Namun, menerobos ke Pembentukan Fondasi akan memicu fenomena alam yang besar. Melakukannya di akademi ini hanya akan mengundang perhatian mata-mata yang merepotkan. Makam Pedang adalah tempat yang sempurna untuk menembus batas itu."

​Tepat pada saat itu, dari arah pusat akademi, terdengar suara dentangan lonceng perunggu raksasa yang menggema ke sembilan penjuru langit.

​TENG... TENG... TENG...

​Itu adalah Lonceng Pemanggilan. Tanda bahwa Ranah Rahasia Makam Pedang akan segera dibuka.

​Lin Chen berdiri. Ia mengenakan jubah hitam bersih, mengikat rambutnya dengan pita sederhana, dan menyarungkan Pedang Berat Penelan Bintang ke punggungnya. Ia melangkah keluar dari paviliun, menyongsong badai darah yang menunggunya di luar sana.

​Alun-alun Bintang Jatuh, pelataran terbesar di pusat akademi, kini dipenuhi oleh lautan manusia. Sekitar dua ribu Murid Dalam dan puluhan Murid Inti telah berkumpul.

​Di udara, enam Tetua tingkat tinggi melayang dalam formasi heksagram, menyalurkan Qi murni mereka ke sebuah monumen batu hitam raksasa di tengah alun-alun. Monumen itu perlahan membelah udara, menciptakan pusaran portal spasial yang memancarkan aura kuno, tajam, dan penuh dengan aroma karat darah.

​"Dengarkan baik-baik, anak-anak!" Suara Kepala Tetua Penegak Hukum menggema di atas kerumunan.

​"Ranah Rahasia Makam Pedang adalah medan perang peninggalan era kuno yang terikat oleh hukum ruang angkasa yang rusak. Di dalamnya terdapat ribuan pedang patah yang menyimpan niat pedang leluhur, serta harta karun dari mereka yang gugur di masa lalu. Namun, ingatlah tiga hal ini!"

​Tetua itu mengangkat tiga jarinya.

​"Pertama, hukum ruang di sana menolak siapa pun yang berada di atas Tingkat 5 Pembentukan Fondasi. Oleh karena itu, area ini adalah tempat pembuktian bagi kalian generasi muda."

"Kedua, di dalam ada Roh Pedang yang kehilangan akal sehat dan binatang buas mutasi. Mereka tidak akan ragu mencabik kalian."

"Ketiga, dan yang paling penting... Akademi tidak memiliki kendali di dalam sana. Kelangsungan hidup kalian adalah tanggung jawab kalian sendiri. Hukum rimba berlaku mutlak!"

​Peringatan terakhir itu memicu kilatan di mata para murid faksi.

​Di barisan depan, Jiang Wuya berdiri dengan jubah emas berlambang naga. Aura Tingkat 3 Pembentukan Fondasi miliknya ditahan dengan hati-hati. Di belakangnya, puluhan elit Perkumpulan Naga Sejati berdiri dengan tangan bertumpu pada gagang senjata.

​Mata Jiang Wuya menyapu kerumunan hingga akhirnya terkunci pada sesosok pemuda berjubah hitam bertopi bambu yang berdiri santai di tepi alun-alun.

​Jiang Wuya menyeringai dingin. Ia menyapukan jarinya di lehernya sendiri, memberikan isyarat kematian yang jelas kepada Lin Chen.

​Di sisi lain pelataran, Pangeran Xiao Tian mengibaskan kipasnya, dikawal oleh para ahli dari keluarga kerajaan. Ia melirik Lin Chen dan Jiang Wuya secara bergantian. "Biarkan anjing-anjing itu saling gigit," batin Xiao Tian. "Saat mereka melemah, aku yang akan mengambil warisan utama dari Makam Pedang."

​Mu Hongling, sang Iblis Merah, juga berdiri tak jauh dari sana. Ia menatap Lin Chen dengan tatapan penasaran. Mungkinkah pemuda brutal ini bisa selamat dari amukan faksi terbesar di akademi?

​Menanggapi tatapan membunuh dari Jiang Wuya, Lin Chen bahkan tidak repot-repot membalasnya dengan isyarat. Ia hanya menguap bosan, menatap pusaran portal itu seolah sedang mengantre untuk membeli teh di kedai jalanan.

​"Portal telah stabil! Masuklah, dan semoga surga memberkati kalian!" teriak Kepala Tetua.

​WUSH! WUSH! WUSH!

​Para murid melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya, melompat berhamburan ke dalam pusaran spasial tersebut. Jiang Wuya dan pasukannya masuk lebih dulu, berniat menyiapkan jebakan di sisi lain.

​Lin Chen melangkah dengan tenang. Ketika ia menginjakkan kakinya ke dalam pusaran, ia merasakan distorsi ruang yang familiar. Tubuhnya terasa ditarik melewati terowongan gelap selama beberapa detik, sebelum akhirnya kakinya kembali memijak tanah padat.

​Tap.

​Begitu pandangannya kembali jelas, Lin Chen disambut oleh pemandangan yang sangat suram.

​Langit di atasnya berwarna merah darah yang abadi, tanpa matahari maupun bintang. Tanah di bawah kakinya adalah gurun pasir kelabu yang tandus. Dan sejauh mata memandang, tertancap ribuan, bahkan jutaan pedang dengan berbagai ukuran. Ada pedang yang berkarat, ada yang patah menjadi dua, dan ada pula pedang raksasa seukuran gunung yang telah tertutup lumut darah.

​Angin yang berhembus membawa suara siulan tajam, menyerupai tangisan jutaan jiwa ahli pedang yang gugur.

​"Makam Pedang..." Lin Chen memejamkan matanya, menghirup aroma besi tua dan niat membunuh yang memenuhi udara. Di kehidupan masa lalunya, ia telah menghancurkan banyak dunia seperti ini.

​Namun, sebelum ia bisa menikmati nostalgia tersebut, niat membunuh yang nyata langsung menguncinya dari empat arah mata angin.

​"Mati kau, Bajingan Puncak Awan Ungu!"

​Dari balik gundukan pasir dan reruntuhan pedang raksasa, empat orang murid berpakaian seragam Perkumpulan Naga Sejati melompat keluar. Mereka semua berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9, dan formasi mereka telah direncanakan dengan sempurna untuk menyergap siapa pun yang baru saja keluar dari portal.

​Empat pedang memancarkan cahaya dingin, mengarah tepat ke leher, jantung, punggung, dan kaki Lin Chen secara bersamaan.

​"Penyergapan di titik masuk. Taktik murahan dari tikus yang ketakutan," ucap Lin Chen datar.

​Ia tidak bergerak untuk menghindar. Sebaliknya, tangan kanannya meraih ke belakang punggung.

​SRIIIING!

​Pedang Berat Penelan Bintang ditarik dalam satu gerakan melingkar yang kasar. Lin Chen menggunakan momentum berat pedang 500 kilogram itu, dipadukan dengan Qi Tingkat 9 Puncak miliknya, dan berputar tiga ratus enam puluh derajat.

​"Sapu Bersih Kekosongan!"

​Gelombang kejut berwarna hitam legam meledak dari bilah pedang raksasa itu, membentuk cincin kehancuran yang membelah udara.

​KRAK! KRAK! KRAK! KRAK!

​Keempat pedang milik anggota Perkumpulan Naga Sejati itu patah serentak sebelum ujungnya bisa menyentuh pakaian Lin Chen. Dan gelombang hitam itu tidak berhenti; ia melaju menembus pertahanan tubuh mereka.

​Dalam kedipan mata, empat tubuh terputus menjadi dua bagian di bagian pinggang. Darah segar menyembur, mewarnai pasir kelabu Makam Pedang dengan warna merah yang indah. Empat ahli Tingkat 9 tewas tanpa sempat menyadari bahwa mereka telah terpotong.

​Lin Chen menancapkan pedang raksasanya ke pasir, menyingkirkan darah dari bilahnya.

​Ia menatap ke kejauhan, ke arah sebuah gunung pedang raksasa di pusat dimensi ini yang memancarkan pendar energi paling kuat.

​"Jiang Wuya... perburuan resmi dimulai. Bersembunyilah yang baik, karena aku tidak akan memberimu kematian yang cepat."

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!