masih butuh banyak revisi
Gea seorang gadis wolf lemah yang di reject oleh matenya tepat saat hari pengangkatannya menjadi alpha di silver moon pack.
Penolakan yang diterimanya, membuat sisi lain dari dirinya terbangun setelah sekian lama tertidur, ia mewakili Gea menerima penolakan itu.
Setelah persetujuan atas penolakan itu telah ia setujui, Gea berubah menjadi serigala putih dengan mata silver, dengan dikelilingi cahaya silver.
Orang-orang berdecak kagum melihat rupa serigala Gea, termasuk Kevin, alpha yang baru diangkat beberapa menit yang lalu.
Hingga Luna terdahulu pun menceritakan segala kebenaran dan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan, suatu kebenaran yang membuat Andre menyesali segala perbuatannya pada adiknya itu.
Bisakah semuanya kembali membaik?!
Bisakah Alpha membawa kembali Luna packnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angelica Maria Vianney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medan perang
Gea kini berada di tempat berlatih para Warrior , tujuan pertamanya setelah tiba di pack adalah memasang perisai untuk melindungi setiap lokasi yang masuk dalam jangkauannya. Leon, Justin, Aaron, Arnold dan Caramel sudah mengelilingi tubuh Gea, mereka kemudian mengambil posisi yang pas lalu mulai merapalkan sebuah mantra kuno.
Dengan perahan, tubuh mereka berenam mulai terangkat ke atas udara, hal itu menyita perhatian setiap Warrior yang sedang berlatih disana. Hal ini mereka lakukan agar bisa melindungi dunia imortal ketika perang besar itu terjadi, waktunya sudah semakin singkat, jadi ada banyak hal yang harus ia persiapkan.
"Hapalkan terus mantra itu, jangan sampai terputus" ucap Gea melalui telepati.
"Baik, Queen" balas mereka.
Untuk lebih aman lagi, Gea membentuk perisai silver disekelilingnya agar tidak ada satu makhluk pun yang bisa mengganggu atau menghentikan mereka, termasuk Belahan jiwanya mungkin.
Dilain sisi, Kevin kembali khawatir, sambil memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam mansionnya. Ia takut jika sampai hal itu terjadi lagi. Kevin melangkahkan kakinya berkeliling mansion mencari sosok seorang wanita yang begitu ia rindukan selama ini, sejak tadi ia tidak bisa melihat siluetnya padahal sudah tak terhitung seberapa banyak ruangan yang sudah ia masuki namun tidak menemukan apa yang ia cari.
"Kemana perginya, Gea!?" tanyanya sendiri
"Mengapa kau tidak bertanya pada para Warrior atau orang-orang yang datang bersamanya tadi" jawab Evan.
"Kau pikir mereka akan memberitahu kita?"
"Mana tahu, kalau belum coba"
komunikasi mereka terputus secara sepihak, Kevin berjalan keluar dari ruangan itu dan memilih untuk menuju ke tempat pelatihan Warrior, untuk memantau latihan mereka sekaligus untuk mencari Lunangannya di sana.
"Dimana, Gea?" tanyanya
"Maaf alpha, kami belum bertemu dengan Luna sejak tadi"
"Benar alpha, sepertinya Luna sedang melakukan sesuatu di suatu tempat" jawab Warrior lainnya.
Sekarang kemana lagi ia harus mencari padahal belum cukup 15 menit ia melihat Gea memasuki mansion dan belahan jiwanya itu sudah HILANG entah kemana lagi perginya padahal ia sangat ingin sekali melepas rindu yang sudah lama ia pendam. hal yang dirasakan oleh dirinya juga diraakan oleh jiwa serigalanya. evan yang duduk termenung dan terus saja menatap kesatu arah yang sama selama berjam-jam lamanya.
Ketika Kevin memandang langit siang maka saat itu juga matanya melotot, ia memberikan tatapan tajam teppat kearah beberapa orang yang sedang membentuk pola segi tiga dengan Gea yang berada di tengah-tengah mereka. dapat Kevin lihat dengan jelas bibir Gea sedang merapalkan mantra dan orang-orang yang ikut dengannya tadi juga melakukan hal yang sama.
"Apa yang sudah terjadi? apa yang mereka lakukan di atas sana" ucapnya sambil memandang langit.
Terlihat tubuh Gea semakin memancarkan cahaya silver, sedikit menyilaukan namun tidak merusak Indra penglihatannya. Kevin semakin fokus pada mereka, dilihatnya Kedua lelaki lain yang datang bersama Gea, perlahan berubah.
"Hei, bodoh. Kenapa kau diam saja dan tidak menghampiri mereka?" komunikasi Evan
"Ah, sial. Sebenarnya apa yang aku lakukan di bawah sini" kesalnya tiba-tiba.
"Hei, itu bukannya Phoenix dan singa berbulu emas, mereka adalah makhluk dalam legenda"
"Yah, legenda mengatakan jika keduanya akan menjadi tunggangan dan senjata sang ratu perdamaian"
"Aku masih sedikit tidak percaya, bahwa Luna kita adalah orang yang ada dalam ramalan itu"
Para warrior yang lain mengangguk tanda setuju dengan pertanyaaan seorang dari mereka, mengingat seperti apa warga pack dulu memperlakukan Gea.
"Hei, bisa kalian diam dan lanjutkan latihannya, kalian seperti manusia saja suka bergosip" ucap Kevin agak keras, ia masih memandang kearah Gea dan beberapa orang yang datang bersamanya tadi.
Semakin lama mereka melakukannya, maka semakin jelas pula Kevin bisa melihatnya. Dari diri Gea muncullah perisai tak kasat mata yang merambat ke seluruh penjuru pack, ah tidak. Bukan hanya itu, perisai itu justru semakin.cepat menutupi seluruh pelosok dunia Immortal.
"Mate ku memiliki kekuatan sebesar ini? Apa tenaganya tidak habis, yah?" Pikir Kevin
"Heh, bodoh. Tadi aku menyuruhmu untuk menghampiri mate Kitakan?" tanya Evan, serigala berbulu hitam itu sedikit kesal dengan jiwa manusianya.
"Nanti saja, apa kau tidak lihat. Di sekeliling Gea terdapat perisai yang tidak akan bisa di tembus oleh siapapun. Bahkan aku sebagai belahan jiwanya"
"Tolong, ralat ucapan mu. Gea bukan hanya pasanganmu, dia juga mateku"
"Ck, dasar serigala menyebalkan"
"Aku dengar itu, dasar bodoh"
"Hei!!!"
Evan memutuskan sambungan mereka secara sepihak, mengganggu jiwa manusianya juga merupakan hiburan tersendiri untuknya saat ia lelah memandangi kabut hitam pekat yang ada di hadapannya ini.
"Bagaimana caranya, agar kabut ini bisa hilang. Aku sangat yakin, Dea berada di seberang sana"
...🐺...
Disisi lain dari dunia imortal yang di kelilingi cahaya, terdapat dunia kegelapan yang semakin suram, bahkan untuk satu penerangan pun mereka tidak pernah memiliki. Banyak hal yang memicu timbulnya perang, selain karena ingin balas dendam, mereka yang disana juga ingin mencari keadilan atas apa yang selama ini mereka hadapi.
Terdapat sebuah legenda yang tertulis di batu besar di dalam ruangan mansion kegelapan itu yang menuliskan bahwa Ratu kedamaian berabad-abad tahun yang lalu sengaja melupakan lokasi mereka, sehingga ketika perang usai hanya lokasi mereka yang tidak terkena Cahaya.
Dikatakan dalam sejarah bahwa sang ratu melupakan mereka karena rasa sakit yang ia derita selama bertahun-tahun di tempat itu, ada pula yang mengatakan bahwa mate sang ratu dibunuh di tempat itu, sehingga sang ratu tidak ingin mengingat kenangan buruk itu lagi.
"Apa dia sudah kembali?" Tanya seseorang
"Iya, tuan. Siang tadi slash salah satu dari prajurit mendapati mereka berada di gerbang utama silver moon pack"
"Ck, lalu bagaimana pergerakan mereka sekarang?"
"Maaf tuan tidak diketahui, kami seperti terhalang oleh sesuatu Di sana"
"Hmn, perisai kah? Cepat panggilkan Agatha kemari"
"Baik tuan"
Prajurit itu keluar, menjalankan perintah dari tuannya. Tidak lama menunggu Agatha memasuki aula gelap itu dengan langkah anggun, sembari memainkan setiap kuku-kuku panjangnya.
"Ada apa kak?"
"Kau harus segera menuju ke Silver moon pack, gadis itu sudah kembali"
"Apa yang harus aku lakukan disana?"
"Tetap pada peranmu, jangan biarkan mereka bersatu"
"Ck, kakak seperti tidak percaya padaku saja. Aku pergi dulu"
Wussh....
Angin tiba-tiba berhembus kencang didalam ruangan itu saat gadis itu pergi, disertai dengan seringai jahat dari pria berjubah hitam itu. Dendam dan rasa sakitnya di masa lalu harus segera ia balasan secepat mungkin.
"Ini semua salahmu, Queen Benedict sehingga keturunanmu lah yang akan menanggung semuanya" ucapnya lalu, tersenyum sumringah.
...Tbc...