Calya Lawson, menerima uluran tangan sang ayah untuk pulang bersamanya dan tinggal dikediaman Lawson. Bukan semata karena membutuhkan kasih sayang sang ayah. Melainkan ada niat yang tersembunyi, yaitu...
Balas dendam!
Membalas berkali-kali lipat pada orang yang telah membuat ibunya menderita. itulah tujuannya.
But--
Setiap langkah balas dendamnya ternyata ada seorang senior tampan di sekolahnya yang mengejarnya. Dengan sifatnya yang pemaksa dan tidak boleh dibantah.
Menurut kalian!!
Apakah Calya bisa berhasil dengan rencana balas dendamnya? Dan bagaimana dengan cinta senior tampan menyebalkan yang mengejarnya?
Penasaran???
Yuk baca kisah lengkapnya!! dan jangan lupa berikan dukungan kalian yaa!!!!
Salam penulis_Reina
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina♡´・ᴗ・`♡, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Happy Reading...
Di depan gerbang kediaman Lawson, terdengar suara mesin mobil yang berhenti. Pintu pun terbuka, menampakkan sosok Calya yang turun. Setelah itu disusul oleh Nathan.
Mereka berdua telah menghabiskan waktu sampai malam. Selesai menonton, ternyata Nathan tak langsung mengantarkan Calya pulang. Melainkan pergi makan malam ke sebuah restoran, lalu jalan-jalan menikmati keindahan kota.
Nathan benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bersama Calya. Tak membiarkan Calya celah sedikitpun untuk menolak. Beberapa kali terdengar helaan nafas dari Calya, namun Nathan pura-pura tidak tahu. Dia tetap menggeret Calya ke tempat bagus yang ada di kota. Membuat mereka terlihat pasangan yang sedang berkencan.
Bahkan saat mereka berdua berjalan kaki di tengah keramaian, banyak yang mengatakan mereka adalah pasangan yang sempurna. Tampan dan cantik, dua perpaduan yang sangat cocok. Nathan sampai tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya dikala mendengar pujian orang-orang.
Namun berbanding terbalik dengan Calya yang justru tidak senang, dia lebih memasang muka cemberut. Apalagi saat Nathan dengan terang-terangan menggandeng tangannya di depan umum. Dasar penjahat licik, makinya dalam hati. Dia juga terpaksa tidak melepaskan karena dia masih berhutang janji untuk menuruti kemauannya. Jadi, dia membiarkan cowok menyebalkan ini mengambil kesempatan pada dirinya.
"Kita sudah pulang, mau sampai kapan kau akan mengerutkan dahi seperti itu?"Tanya Nathan sambil terkekeh geli melihat Calya yang masih kesal.
"Sampai aku puas"jawab Calya dengan datar. Semakin menunjukkan kekesalannya.
Maka tawa Nathan semakin lepas. Entah yang ke berapa kalinya dia tertawa hari ini. Tapi yang pasti dia banyak mengekspresikan wajahnya dengan tertawa. Selain itu, dia tidak menyangka kehidupan yang biasanya monoton akan sedikit berwarna saat mengenal Calya.
"Sudah pulang sana!"Usir Calya kembali berujar. Menatap dengan sorot mata yang tajam. Seakan tidak mengharapkan Nathan berlama-lama disana.
"Baik, baik aku pulang. Tapi lain kali kita bisa pergi lagi. Masih banyak tempat bagus di kota ini"
"Jangan percaya diri. Siapa yang mau pergi denganmu?"
"Kota ini ada taman hiburan yang bagus, pekan nanti kita bisa pergi ke sana" Nathan pura-pura tidak mendengar penolakan dari Calya. Bahkan dengan santainya dia tersenyum dan menyarankan tempat yang bagus untuk dikunjungi. Juga, tidak peduli dengan raut Calya yang sudah menahan kesal.
"Ya sudah aku pulang dulu,"Lanjut Nathan dengan ringannya sambil berjalan ke mobil. Saat baru saja membuka pintu, dia menoleh kembali untuk menatap Calya. Dengan tatapan yang menurutkan Calya menjengkelkan, "Jangan terlalu lama mengerutkan dahi, nanti bisa keriput kayak nenek-nenek"godanya, setelah itu buru-buru masuk ke dalam mobil sebelum mendapat amukan dari orangnya.
Sementara itu, Calya berusaha tidak terpengaruh saat mendengar suara tawa keras dari dalam mobil. Meski kedaannya saat ini benar-benar ingin memukul Nathan sampai babak belur. Namun dia berusaha menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Tenanglah Calya! Orang waras selalu mengalah, oke" Gumam Calya menyemangati diri sendiri sambil menatap kepergian mobil Nathan dengan datar. Setelah itu dia masuk ke dalam.
Pada saat yang sama, tidak ada yang menyadari bahwa daritadi ada sepasang mata lain yang terus memantau interaksi keduanya dari kamar yang ada di lantai tiga. Disana, Rihanna berdiri dengan terus memperhatikan interaksi Calya dengan Nathan yang menurutnya sangat intens. Bahkan dia tidak percaya jika Calya ternyata sedang pergi bersama cowok incarannya. Cowok yang sudah lama dia harapkan saat pertama kali masuk National School, namun sayangnya dia tidak pernah mendapatkan balasan. Jangankan mendapatkan balasan, berinteraksi sedekat itu aja mereka tidak pernah.
Laki-laki itu seolah membuat benteng tebal diantara kami. Jadi sekeras apapun dia mencoba untuk mendekat, dia selalu mendapat tatapan dingin dan menusuk yang membuat nyalinya ciut seketika. Sekarang, melihat bagaimana Nathan bisa tertawa dan berbicara dengan Calya membuatnya tidak senang, marah, dan benci secara bersamaan.
"Kau memang keturunan seorang penggoda Calya, tidak hanya berebut kasih sayang papa denganku tapi kau juga mau merebut pria denganku" desisnya dengan tatapan tajam sambil terus mengikuti setiap langkah Calya dari jendela.
***
Calya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri beberapa menit. Ketika sudah keluar, secara tidak langsung dia merasakan seseorang ada di dalam kamarnya. Dia pun segera mengangkat kepala dan mengedarkan tatapannya ke penjuru kamar. Dan benar saja, disana sudah duduk Nyonya tua dengan angkuhnya di ujung ranjangnya. Sedangkan Rihanna berdiri disampingnya.
Calya mendengus dingin lalu berkata dengan sindiran, "Masuk ke kamar orang tanpa izin adalah sebuah kejahatan"
Senyum sinis terbit dari bibir Nyonya tua disertai pandangan remeh, "Ini adalah rumah putraku, bagaimana mungkin dikatakan kejahatan? Justru kau yang hanya menumpang di rumah ini bukankah ucapanmu terlalu berani?" tanyanya.
Pada titik ini, Rihanna tersenyum puas mendengar serangan balik neneknya. Dia ikut memberikan pandangan meremehkan terhadap Calya. Untuk menunjukkan bahwa posisinya Calya dirumah ini seperti yang dikatakan neneknya.
"Sekarang sebagai seorang yang menumpang, kau harus menunjukkan kepatuhan mu pada pemilik rumah ini. Berikan padaku alat perekam yang kamu gunakan untuk menjebak cucuku!" Lanjut Nyonya tua dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah.
Dalam menanggapi hal tersebut, Calya tetap berdiri tenang dengan ekspresi tembok. Lalu detik berikutnya dia berjalan ke sofa yang tak jauh dari posisi keduanya. Setelah itu duduk dengan tak kalah angkuh layaknya atasan yang sedang menunjukkan kekuasannya kepada para bawahannya. Sambil menatap tajam keduanya, bibirnya melengkung menjadi senyum mengejek, "Kalian jelas tau jika aku punya bukti yang bisa membuat kalian hancur kapan saja, bukankah kalian yang seharusnya menunjukkan kepatuhan padaku? Bukan sebaliknya?"
"Dasar perempuan tidak tau malu! kau pikir siapa dirimu?" bentak Rihanna dengan suara tinggi. Mengambil kesempatan untuk bicara. Serta memperlihatkan ketidaksukaannya atas perkataan Calya.
"Tidak penting siapa diriku! Kedatangan kalian kesini seharusnya untuk memohon padaku. Atau kalian mau aku menyerahkan perekam itu pada papa, hm?" Calya semakin memperlebar senyumnya melihat kepanikan yang terlintas di wajah keduanya.
"Kami pasti tak akan membiarkan itu terjadi. Sekarang putraku sedang menghadiri makan malam dengan kolega bisnisnya. Jadi, sebelum dia pulang kami akan merebut perekam itu darimu!" balas Nyonya tua berusaha mengendalikan diri untuk tidak memperlihatkan ketakutannya. Dia tidak bisa membiarkan dirinya berkali-kali dikalahkan oleh bocah ini.
"Benar. Jangan terlalu berharap bahwa kami akan tinggal diam saja. Kami pasti akan mengambilnya darimu, sekalipun harus mengobrak-abrik kamar ini" Rihanna yang sudah emosi mulai bergerak mencari barang tersebut. Tidak memperdulikan jika pemilik kamarnya akan marah. Sebab perioritasnya saat ini adalah mengambil alat perekam itu dari tangan Calya.
Nyonya tua pun tidak hanya dia diam menyaksikan cucunya, dia ikut mencari dengan tidak sabaran. Mengobrak-abrik setiap sudut kamar Calya. Barang-barang yang tertata rapi kini berhamburan di atas lantai.
Dan reaksi Calya masih tetap tenang meski keadaan kamarnya sudah berantakan. Dia juga tidak takut jika alat perekam itu akan jatuh ke tangan dua orang itu. Dengan santai dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil melihat keduanya dengan datar. Seperti sedang menonton pertunjukan seru.
Bersambung~
Maaf lama update, author lagi kurang sehat akhir2 ini ditambah tugas kuliah semakin banyak. Jadi para readers harap dimaklumi jika telat up ya,,,setelah ini author bakalan berusaha buat up terus.. Jadi harap sabar ya semuanya...
Dan jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya supaya bisa jadi asupan semangat buat author dalam up ceritanya😊