Terakhir aku merasakan kehadiranmu, saat dia menolong aku dari angin puting beliung di sawah yang sedang ku tanami cabai rawit.
Aku tergapar di sela-sela bedeng tanaman cabai bergelut dengan bedengan yang basah habis diairi air sungai.
Sedang adik keponakanku bergulung-gulung dibawa angin itu hingga ke tepian barisan sawah terakhir di bawah sana.
Ketika itu muncul sekawanan kuntilanak dan pocong dalam gelapnya awan mendung. Hanya keponakanku itu yang bisa melihat. Aku hanya bisa merasakan dari mata batinku.
Terima kasih Pangeran... Kamu selalu menolong, membantu, mengawasi, mengawal dimana saja keberadaanku. Seperti suami tapi bukan suami. Masak iya bersuamikan Pangeran ghaib.
Tampan sih wajahmu dengan mahkota itu, tapi engkau hanya amongku. Among penolong yang dikirim eyang buyutku yang tak lain adalah sunan Lawu.
Amongku Kuwi ULO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deasy desiant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Sama Hantu
Magisnya terasa banget. Horornya sebuah kampus terasa hidup. Merindingnya di balik bulu-bulu penakut menyeruak. Aura batin ini tak berhenti memasang jejak kamera di setiap sudut kampus tua ini. MasyaaAllah sangat-sangat mistis.
Terasa begitu dingin menyapa dengan netra batinku. Pandangan netra batinku menangkap Yaa Allah mengerikan. Ini benar-benar di luar dugaan. Alam pembuka pintu ghoib terlihat begitu jelas di sudut batinku.
Para cenayang, dayang-dayangnistana ghoib, makhluk-makhluk berbagai wujud bergentayangan keluar masuk dari pintu ghoib itu. Ada yang bermuka penuh darah semua wajahnya, lidah menjulur merah panjang, ada yang cuma pakai kolor ijo berbadan genderuwo, ada para suster perawat dan masih banyak lagi yang ku tangkap di menit terakhir sebelum Agus membuat aku tersadar bahwa aku memandangi mereka sangat lama.
Kampus tua dengan kepingan-kepingan tulang manusia yang masih tertanam di setiap lokasi ini. Konon dulu area kampus ini adalah bekas makam tua dimana banyak penduduk setempat berjuang melawan penjajah. Entah kenapa dibangunlah sebuah Kampus yang sangat megah disini.
Ku lihat dibalik patung simbol kampus ada anak kecil bermain bersama temannya berlarian dengan suka cita dan diasuh oleh perawat berbaju suster sedang duduk menenggelamkan kepalanya ke arah anak-anak itu.
Belum lagi aku lihat kampusnya Agus penuh dengan dramatisasi makhluk berhantu di setiap sudut bangunannya. Hei aku melihatnya, cowok bergentayangan di loteng kos yang ku tempati. Ternyata ia anak teknik yang bunuh diri di kampus ini.
"Dik...kamu kenapa ? Kok terdiam disitu. Ayo masuk !"
"Oh Astaghfirullah hal'adzim. Maaf mas. Aku takjub sama kampusmu. Ternyata kalau malam vibesnya lebih hidup ya." Aku mengalihkan apa yang sudah ku lihat. Karena aku takut, Agus tau aku bisa meraba alam ghoib dengan netra batinku.
"Emangnya apa yang kamu lihat ?" Agus sambil menggandeng tangan kananku erat banget.
"Eh...ini apaan kok main gandeng tangan ?"
"Supaya kamu ndak takut."
"Takut apa ?"
"Udah Ndak usah tahu. Nanti kamu takut. Pokoknya kamu nemenin aku saja pasti ndak ada yang ganggu kamu."
"Aish....masak iya. Disini ada hantu ?"
"Kalau aku bilang iya kamu takut minta dianterin ke kos. Jadi aku bilang tidak ada saja lah. Biar kamu bisa jadi semangatku buat nggambar desain tata kota." Dia mengajakku masuk ke ruang gambarnya di lantai dua.
Ngeri sih lewat lorong. Iya bener sih emang ada lampu penerangannya. Cuma aku masih bisa melihat bayangan hitam putih berkelebat menghantui gerak gerik anak manusia yang notabene anak teknik sipil dan arsitektur ini.
Malam ini ramai sekali yang menggambar di studio gambar. Berbekalkan kertas kanvas yang mereka miliki, mereka mengerjakan tugas mereka ditemani pacar dan teman mereka. Banyak juga anak-anak cewek di fakultas teknik ini.
"Hei Gus, ini cewek anak Faperta kan semester tiga. Kok sudah jadian aja nih ?" Seru teman Agus, si Danial. Yang dulu pernah main di kos menemui Yeyen.
"Oh iya, Nial. Aku ajakin kesini biar tau studio gambar tuh kayak gimana."
"Okey deh, dik. Aku tinggal dulu ya. Gus, pulangin sebelum jam 20.00. Bisa berabe musuh Ibu kos nya si Evi anak Ekonomi itu. Hihihi.." Danial memberi somasi ke Agus untuk memulangkan aku sebelum pagar kos ditutup.
"Kak Danial kemana itu ? Enggak satu tempat disini ?"
"Enggak dia sukanya di kelas yang lain yang ada bangku panjang buat istirahat anak-anak."
"Oh gitu. Kenapa Mas Agus ndak kesana ?"
"Suka disini saja."
"Kenapa emang ?"
"Mmmh.."
"Disini banyak ceweknya, iya kan ?"
"Whah nadanya cemburu nih."
"Ayo jawab saja iya." aku mendekat dengan dia saat menggambar di depan kertas kanvasnya dengan garis-garis koordinat entahlah aku tak memahaminya.
"Endak dik. Aku setia sama kamu."
"Apa, mas ? Sejak kapan kita jadian ?"
"Sejak aku mengenalmu dan namanya jatuh cinta tak perlu aku mengatakan kepadamu kan ?"
"Oh iya kah ?" Jadi bingung dibuat nih anak.
"Pokoknya aku sudah nganggap kamu bagian dari hidupku. Meski kita beda agama ya."
"Kita jalani dulu saja lah."
"Okay fine. Thanks, Dik. Sudah jadi motivatorku."
"Emangnya kenapa kamu suka disini ?"
"Nanti saja ya. Aku selesaikan dulu tugasku. Sudah hampir jam 20.00. Aku harus nganter kamu ke kos."
"Habis nganter aku. Kamu balik kesini ?"
"Iya, paling malam pulangku nanti. Tenang saja. Ndak papa kok. Banyak yang tidur di kampus ini."
"Disini ?" aku terkejut mendengarnya. Tidur sama para hantu ????
terusin sampai tamat Thor..🙏
Mampir juga ya😊