Kehidupan Nadira semakin menderita sejak kejadian malam itu. Mulai dirinya yang ternyata hamil di luar nikah, di keluarkan dari kampus secara tidak hormat. Semua orang mengecapnya sebagai wanita tidak baik. Pupus sudah impiannya selama ini untuk bisa lulus kuliah dan bekerja kantoran. Yang ada dirinya harus hidup penuh penderitaan. Leon yang merupakan ayah dari anak yang di kandungnya pun tak mau bertanggung jawab.
Hingga pada akhirnya kedua orang tua Leon tahu kelakuan anaknya. Mereka terpaksa menikahkan Leon dengan Nadira. Setelah menikah pun kehidupan Nadira jauh lebih menderita dari sebelumnya, karena Leon memperlakukannya dengan buruk.
Suatu hari mantan kekasih Leon yang bernama Vanesa meminta kembali menjalin hubungan dengannya. Hampir setiap hari Leon dan Vanesa bermalam bersama di rumah yang sama dengan Nadira. Hati Nadira semakin sakit saat melihat kemesraan mereka. Biar bagaimana pun Leon adalah suaminya dan tak pantas berselingkuh di depan matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.35
Leon mengikuti Asila pergi entah kemana. Bocah kecil itu tak memberitahukan arah tujuannya. Hingga kini keduanya berhenti di dekat sawah dimana banyak anak kecil yang sedang bermain.
"Hai Sila cantik," ucap anak kecil berumur sepuluh tahun yang bernama Abi. Dia memang tertarik kepada Asila.
"Hai juga Abi danteng." Asila mengedipkan sebelah mata genitnya.
Leon terbelalak melihat kelakuan anaknya dan anak lelaki itu. Bisa-bisanya anak sekecil itu genit. Apalagi anak laki-laki itu meraih tangan Asila dan menciumnya.
"Apa yang kamu lakukan kepada anak saya?" tanya Leon menatapnya tajam.
"Kita itu pacaran jadi wajar kalau pegang tangan," jawab Abi.
"Apa?" Leon terkejut mendengar penuturan anak di bawah umur itu. Lalu beralih menatap Asila yang sedang cengengesan. "Apa maksudnya Sila? Kamu bicara saja masih nggak lancar kok udah pacaran?"
Asila memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ya walaupun ia masih berumur empat tahun tetapi giginya putih rapi karena selalu dirawat. Asila memang lebih dewasa dari pada bocah seusianya.
"Mulai saat ini tidak ada pacar-pacaran diantara kalian. Lagian kalian masih kecil. Mau apa jadinya kalau sekecil gini pacaran? “tegur Leon sambil menatap keduanya.
"Iya iya Daddy, sekalang Cila nda pacalan dulu, tapi nanti kalau sudah besal Cila mau nikah sama Abi," ucap Asila.
Leon memijat pelipisnya yang tak sakit. Mempunyai satu anak saja kelakuannya sungguh ajaib, apalagi jika nambah anak. Di umurnya yang baru empat tahun sangat tak wajar jika membicarakan hal pacaran.
"Udah jangan bahas hal-hal yang tak penting! Lebih baik sekarang kalian main saja. Tapi ingat ya nggak boleh pegang-pegangan kayak tadi."
"Baik, Om," jawab Abi dengan tegas.
Leon mengawasi putrinya yang sedang bermain di pinggir sawah. Beberapa dari mereka ada yang bermain lumpur. Tiba-tiba ada sesuatu mengenai kepala Leon. Leon mengusap kepalanya dan melihat lumpur ditangannya.
"Astaga siapa yang berani melempar lumpur ini?" Leon mengedarkan pandangannya.
Abi berlari ke arah Leon untuk meminta maaf. Memang dirinya yang tadi tak sengaja melempar lumpur. Sasarannya adalah temannya tetapi ia melemparnya kejauhan sehingga mengenai Leon.
"Maafkan saya, Om," kata Abi tampak tulus.
"Kamu ya dasar nakal." Lalu Leon beralih menatap Asila. "Sila, ayo kita pulang! “ajaknya.
"Yah Daddy nda asyik. Cila masih betah main." Asila mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sila, kamu pulang saja ke rumah Bude Ningsih. Nanti malam aku main kesana sama ibu," ucap Abi.
"Baiklah, kalau gitu Cila pulang dulu." Asila mengikuti Leon yang sudah melangkah duluan. Tetapi Asila berbalik, dengan cepat ia mencium singkat pipi Abi. Itu membuat Leon murka.
"Sila, apa yang kamu lakukan?" Leon langsung menggendong anaknya lalu membawanya pergi dari sana. Sepanjang jalan Leon menasihatinya, memintanya untuk berhati-hati dengan lawan jenis. Biar bagaimana pun Asila anak perempuan dan sudah sepantasnya mampu menjaga diri, apalagi kehormatan.
...
...
Sejak tadi Asila cemberut karena Daddy-nya tak mau menuruti keinginannya. Asila ingin berlama-lama di kampung, tetapi Daddy-nya melarangnya. Malam ini juga mereka kembali pulang ke kota.
"Sayang, tidur dulu yuk! Nanti kalau udah sampai pasti Mommy bangunkan kamu," ucap Nadira kepada anaknya yang duduk di jok depan sebelah sopir. Asila memang sedang mendiami orang tuanya karena mereka tak mau menuruti keinginannya.
"Nda mau, Cila nda ngantuk," ucap Asila sambil memanyunkan bibirnya.
"Sudahlah, sayang. Biarkan saja anak kita duduk sendirian disana. Mending kita saja yang tidur," ucap Leon kepada istrinya.
Asila yang mendengar itu mengumpat dalam hatinya. Dalam pikirannya ia merencanakan sesuatu. Asila tersenyum penuh arti. Ia akan melaksanakan rencananya setelah nanti sampai di kota.
'Lihat saja Daddy, nanti Cila balas Daddy bawel,' batin Asila.
Asila mulai memejamkan matanya. Tak lama ia pun tertidur. Nadira menaruh bantal kecil di pinggir Asila agar tak terbentur pinggir mobil. Sebenarnya ia berniat memindahkan Asila ke belakang. Tetapi Leon melarangnya dengan alasan tak mau jika nantinya Asila semakin ngambek.
Mobil yang mereka naiki berhenti di depan restoran. Nadira membangunkan Asila, mengajaknya untuk beristirahat sejenak. Apalagi mereka masih harus menempuh setengah perjalanan lagi, pastinya perutnya harus diisi agar bertenaga.
"Sila mau makan apa, Nak?" tanya Nadira kepada Asila yang berada di gendongannya.
"Em mau ayam goleng," jawabnya.
"Wah Sila sukanya ayam goreng macam upin ipin saja," sahut Leon menimpali.
"Apa sih Daddy ikut-ikutan aja." Asila kembali memanyunkan bibirnya menunjukkan kekesalannya.
"Sudahlah, sayang. Kamu jangan dengarkan Daddy-mu," ucap Nadira.
"Hahaha itu bibir kayaknya harus di ikat pakai tali biar nggak manyun lagi," ucap Leon sambil tertawa.
"Daddy .... "Asila berteriak karena kekesalannya.
"Mas Leon jangan gangguin anak kita. Lihat tuh dia semakin ngambek." Nadira menegur suaminya.
"Biarin, salah siapa masih kecil pacaran," sindir Leon.
"Apa?" Nadira yang tak tahu tentu saja terkejut. Memang Leon belum menceritakan kepadanya.
"Nanti Mas cerita ke kamu kalau kita sudah sampai rumah. Kalau cerita sekarang di hadapan Asila, takutnya dia makin ngambek," ucap Leon.
Nadira menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya memasuki restoran.
hrs Leon yg minta maaf ma nadira krn bohong
g suka bila lelaki yg sudah selingkuh tetap diterima istrinya