Kehidupan yang pahit di saat remaja, sungguh membuat Keyra sering menangis. Hidup dengan ibu yang sendirian. Karena menolong seorang teman yang dirundung, Keyra menjadi target selanjutnya.
Pertemuan yang tidak sengaja dengan seorang berandalan geng motor, membuat Keyra semakin kewalahan. Ia tidak tahu, dia dengan lelaki itu menjadi semakin dekat. Ternyata, Aprilio sama sakitnya seperti Keyra.
Keyra mau membantu masalah Aprilio, dengan syarat lelaki itu harus sedia melindungi Keyra, selalu.
Bagaimana kisah keduanya melewati kehidupan remaja mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Rumor itu ternyata ....
...HALOOO...
"Nanti gak perlu jemput gue!" ucap Keyra, sebelum melenggang pergi. Dia melangkah menjauh dari Aprilio yang masih berada di sana, menatapnya bingung.
Tentu saja Aprilio bingung dengan Keyra. Kemarin malam, gadis itu memaksa agar Aprilio tidak perlu mengantarnya, tetapi tentu saja Aprilio menolak.
Juga saat ini, Keyra mengucapkan hal itu kembali. Dan, wajah gadis itu terlihat gelisah.
Bukan tanpa sebab Keyra melakukan hal tersebut, dia takut rumor yang tersebar di sekolah adalah untuk dirinya. Bisa dibilang, Keyra juga tinggal bersama seorang laki-laki dewasa atau om-om itu. Meski Aprilio tidak terlalu tua, tetap umurnya sudah matang.
Keyra berjalan di antara teman-temannya yang masih berada di luar kelas, dan mereka masih membicarakan rumor itu.
"Guru belum tahu! Kalau mereka tahu, pasti udah dipanggil itu anak," ucap salah seorang siswi.
"Masa? Pasti itu ketua osis lagi nyelidikin sendiri secara diam-diam," jawab temannya.
Perasaan Keyra semakin tidak karuan. Telinga dan kepalanya ramai kala itu, membuat langkah kakinya memelan saat melewati mereka. Apalagi, melihat ekspresi para siswi ketika bergosip, semakin menakuti Keyra.
Lagi pula, siapa lagi yang dekat dengan om-om di sekolah ini? Keyra tidak tahu. Maka dari itu, dia curiga bahwa gosip itu benar dirinya.
Hari ini ada pekerjaan rumah yang harus dikumpul. Karena ceroboh, tidur sebelum menyelesaikannya tugas, Keyra harus mengerjakannya di kelas. Dia segera mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai bekerja.
Masih pagi, tetapi otaknya harus bekerja keras untuk mengingat rumus dan menemukan jawaban tugas matematika. Sulit, tetapi perlu diselesaikan. Meski suka, Keyra juga pernah merasa kesal ketika mengerjakan soal. Tidak, bukan pernah lagi, melainkan jarang sekali mengeluh.
Helaan napas lega keluar dari bibir gadis itu. Waktu yang tepat, dia menyelesaikan dengan cepat. Bersamaan ketika menutup buku, bel masuk berbunyi dan para siswa-siswi berlari ke dalam kelas.
Keyra terkejut, Antonio berhenti di depan bangkunya dan meletakkan kedua tangan di atas meja. Lelaki itu hampir membuat jantung Keyra lepas. Terlebih wajah Antonio seperti tegang. "Fotoin tugas matematika! Kirim ke gue!" serunya. Lalu, dia pergi dari hadapan Keyra.
Demi apapun, Keyra sangat terkejut. Jantungnya berdetak kencang, terasa hentakan keras itu. Dia pikir, terjadi sesuatu yang berkaitan dengan rumor di sekolah.
Panas membakar kulit Keyra, dia harus pergi ke tempat sampah sekolah di tengah hari seperti ini karena piketnya. Keyra pergi ke sana secepatnya, membawa kantong plastik di tangan. "Ini matahari lagi bad mood, ya? Panas banget perasaan," gerutu Keyra.
Seseorang menabrak tubuh Keyra, dia berlari dengan tidak berhati-hati. "Maaf," kata gadis itu.
Keyra menatapnya datar, sebab gadis itu masih menunduk. Lalu, dia pergi dengan berlari kencang seperti orang ketakutan.
Keyra tidak pernah melihat siswi itu. Sepetinya, gadis tadi datang dari tempat sampah sekolah. Keyra hendak melangkah, tetapi dia malah melihat Antonio datang dari tempat itu. Keyra mematung, mengamati Antonio yang sedang membenarkan celana.
Antonio mengangkat wajah, bibirnya yang awalnya tersenyum kian memudar saat mengetahui Keyra melihatnya. "Nio, lo abis ngapain?" tanya Keyra, memasang ekspresi ambigu.
Seorang gadis berlari ketakutan, kemudian muncul sosok Antonio yang datang sambil merapikan celana.
Antonio membulatkan mata, dia tahu bahwa Keyra pasti berpikir yang tidak-tidak tentangnya. "Keyra, ini gak kayak yang lo pikirin, kok!" ujarnya. "Bu--bukan gitu!"
"Apalagi? Tadi ada anak cewek lari dari tempat itu, terus lo ...."
Keyra menggantung kalimatnya, sambil menggelengkan kepala.
"Keyra, dengerin gue dulu, tolong!" Antonio terlihat panik, dia berusaha meyakinkan Keyra dengan ekspresi melasnya. "Bukan kayak yang lo pikirin. Gue gak sekotor itu!" ucapnya.
Keyra mengangguk pelan. "Jelasin jujur!" pinta Keyra.
Lelaki di hadapan Keyra itu menghembuskan napas panjang.
"Gue tadi lagi kencing di belakang sana," ucapnya, sambil menunjuk ke arah belakang bak sampah. "Gue pikir sepi gak ada orang. Ternyata ... itu cewek entah siapa gue gak kenal, dateng ke sana dan lihat gue lagi kencing, Key!"
"Gue awalnya gak sadar. Tapi, dia jatuhin sampah yang dia bawa dan gue refleks noleh. Itu cewek kabur!"
"Gue lihat mukanya merah! Malu banget pasti itu cewek. Hahaha!" katanya, kemudian tergelak tawa.
Keyra menggelengkan kepala melihat Antonio tertawa kencang sambil menepuk-nepuk pundak Keyra. "Harusnya lo yang malu," celetuk Keyra. "Dia berarti lihat kelakuan buruk lo." Antonio seketika terdiam.
Antonio melihat bawah, matanya melotot ke arah Keyra. "Itu artinya, dia lihat ...."
"ASET BERHARGA GUE!" pekiknya kencang.
Entah, Keyra semakin pusing melihat kelakuan Antonio. Dia melenggang pergi meninggalkan Antonio yang masih histeris sendiri.
Tugas Keyra sudah selesai, dia telah membuang sampah itu. Antonio berlari menghampirinya, menggoyangkan pundak Keyra. "RA! Gimana ini? Dia lihat!" teriaknya.
"Dia murid kelas berapa, sih? Gue kayaknya gak pernah lihat!"
"Siapa, sih! Sialan!" gerutu Antonio dengan hebohnya.
Keyra menepis kasar tangan Antonio darinya. "Salah lo sendiri. Ada toilet sekolah, kenapa sembarangan?" tegurnya.
"Gue udah di luar. Males kalau ke dalem lagi," keluh Antonio. "Duh! Malu banget gue, sial!"
.....
Keyra meminta untuk diantar pulang Antonio. Jika siang tidak sepanas hari ini, Keyra masih bisa kalau harus berjalan kaki.
Antonio menghentikan Keyra yang hendak naik ke boncengan motornya. Lelaki itu menunjuk ke suatu arah, di depan toko kue. "Itu bukannya Lio?" tanya Antonio.
Keyra mengikuti arah pandangan Antonio. "Iya. Tapi, gue mau pulang bareng lo," ucap Keyra, naik ke boncengan Antonio tanpa mendengarkan laki-laki itu.
"Lagi berantem?"
"Gak."
"Jangan berantem karena gue, tolong! Gue masih mau hidup," seloroh Antonio.
"Jalan aja, Nio! Nanti gue jelasin kalau sampai rumah," seru Keyra.
Mengikuti perintah Keyra, Antonio juga melakukannya karena dari jauh sana Aprilio memberikan suatu isyarat agar Antonio menuruti Keyra saja.
Sesuai dugaan Keyra. Sesampainya di rumah, Keyra langsung diinterogasi oleh dua kaki itu.
Aprilio tidak memperbolehkan Antonio pulang, sedangkan Antonio sudah ketakutan hingga berkeringat.
Di ruang tengah, dengan cuaca yang sangat gerah. Tiga pemuda itu duduk lesehan. Aprilio menyuruh Keyra untuk mulai berbicara, sambil menatapnya intens.
Keyra melihat ke arah Antonio, membuat lelaki itu langsung membulatkan mata. "Nio, lo tahu rumor di sekolah, kan?" ungkap Keyra.
Antonio langsung kebingungan. "Siswi pendiem yang diem-diem tinggal sama om-om?" tanya Antonio, memastikan.
Keyra mengangguk cepat, sedangkan Aprilio terkejut dan mengira berita itu tertuju pada Keyra.
"Kenapa?" tanya Antonio kemudian. Melihat Keyra yang hanya diam dan Aprilio menatap gadis itu, Antonio mulai paham. "Lo ngira, berita itu lo sebagai subjek?"
Keyra mengangguk pelan. "Buat gue, kan?"
"Siswi pendiem yang tinggal sama om-om," ucap Keyra, sambil perlahan melihat ke arah Aprilio.
"Emang lo pendiem?" celetuk Aprilio.
"Bukan buat lo, Key," ujar Antonio, membuat Keyra menoleh cepat. "Itu anak kelas sebelah."
"Besok gue mau kasih tahu mereka, kalau sebenarnya om-om itu papa tirinya karena ibunya baru nikah sama berondong."
"Ibunya jarang kelihatan karena sakit," ungkap Antonio. "Dia tetangga gue."
Keyra mengangguk cepat, sambil mengelus dada karena merasa lega. Namun, lengan tangannya tiba-tiba ditarik Aprilio. "Jadi, itu alasan lo nolak gue anter jemput?" tanya Aprilio.
Gadis itu cengengesan. "Ya, gue gak mau image gue di sekolah hancur." Dia menggaruk kepala. "Wajar gue ngiranya itu buat gue. Kan, lo juga om-om," katanya.
Aprilio tidak berekspresi. "Gue masih muda."
"20 TAHUN! GUE SAMA KEYRA MASIH 18! ITU ARTINYA LO TUA!" pekik Antonio, kemudian terkikik geli dengan candaannya sendiri.