NovelToon NovelToon
Kenapa Menikahiku, Gus?

Kenapa Menikahiku, Gus?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Konflik etika
Popularitas:176k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danie A

Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.

Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Huda tersenyum-senyum sendiri sembari memandangi istrinya yang menampakan kecemburuan. Pria itu benar-benar tidak menyangka, wanita yang dulu menolak mentah-mentah lamaran darinya, kini justru berubah menjadi istri yang cemburuan dan posesif.

"Kenapa Mas senyum-senyum kaya gitu? Aku lagi nggak bercanda, ya! Mas boleh pergi, tapi Mas gak boleh deket-deket sama Novi!" ujar Arin kembali menegaskan syarat yang ia ajukan pada sang suami sebelum pergi ke desa Moyudan.

"Ternyata kamu cemburuan banget ya," goda Huda sembari tersenyum geli di depan sang istri.

Arin mulai salah tingkah begitu mendapatkan tuduhan cemburu oleh sang suami. "C-cemburu apanya? Aku cuma nggak suka aja lihat Novi yang terlalu berusaha buat deketin Mas. Mas itu udah punya istri. Apa salahnya kalau aku ngingetin Mas buat nggak deket-deket sama cewek lain? Aku cuma nggak pengen suamiku terlibat fitnah," seru Arin.

Apa pun alasannya, Huda tetap senang melihat kecemburuan istrinya. Itu tandanya, Arin sudah mulai membuka hati untuk Huda dan menumbuhkan benih cinta untuknya.

"Ngaku aja, deh! Kamu emang cemburu, kan?" celetuk Huda lagi.

"Apaan sih, Mas? Aku nggak cemburu kok!" elak Arin.

Huda makin gemas melihat sang istri yang menggerutu. "Iya, deh! Mas terima syarat dari kamu. Mas nggak akan deket-deket sama Novi selama di sana," seru Huda.

"Terima kasih banyak ya, Arin!" ucap Huda kemudian.

"Terima kasih buat apa?" tanya Arin bingung.

Huda hanya tersenyum tanpa menjawab Arin. Ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh Huda adalah ucapan terima kasih untuk Arin yang sudah mau membuka hati untuknya dan mau belajar untuk mencintainya.

"Pokoknya terima kasih buat semuanya!" ujar Huda dengan penuh syukur.

Setelah ditolak oleh Arin berkali-kali dan melewati perjuangan yang panjang untuk menikahi Arin, akhirnya Huda berhasil mendapatkan cinta dari istri kesayangannya itu. Huda pun menghadiahkan kecupan untuk sang istri sebelum dirinya berangkat pergi ke desa Moyudan.

Pipi Arin langsung memerah begitu ia mendapatkan ciuman dadakan dari suaminya. Keduanya menikmati waktu bermesraan bersama di kamar sebelum mereka berpisah.

"Udah nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Arin sebelum keluar dari kamar bersama dengan sang suami.

"Nggak ada," ucap Huda sembari melempar senyum tipis pada Arin.

Pasangan suami istri itu pun keluar dari kamar tanpa membawa charger maupun benda lainnya. Memang sebenarnya sejak awal tidak ada barang Huda yang tertinggal di kamar. Pria itu hanya membuat-buat alasan agar ia bisa berbicara berdua dengan sang istri di kamar.

"Mas berangkat ya, Arin? Assalamualaikum!" pamit Huda.

"Waalaikumsalam, Mas! Hati-hati!"

Arin dan Riski melambaikan tangan pada Huda yang berangkat bersama dengan teman-temannya. Berat rasanya saat melepaskan sang suami, tapi Arin tetap berusaha untuk tidak berburuk sangka pada Huda dan mendoakan keselamatan suaminya.

"Cepat pulang ya, Mas? Aku tunggu kamu di rumah!" gumam Arin lirih.

****

Malam harinya, kampung Tubansari diguyur oleh hujan yang cukup deras. Arin berdiri di depan pintu sembari memandangi rintik hujan yang membasahi halaman rumah mertuanya.

Wanita itu mendadak merasa gelisah. Arin mulai mencemaskan suaminya yang saat ini tengah berada di desa Moyudan.

"Di sana hujan nggak, ya? Mana di sana juga nggak ada listrik," gumam Arin mengkhawatirkan sang suami yang saat ini tengah tinggal di daerah yang tidak memiliki penerangan.

Semua akses di desa Moyudan terputus akibat tanah longsor yang terjadi. Namun, untungnya Huda Masih sempat memberi kabar pada Arin, dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja selama di desa Moyudan. Suami Arin saat ini juga mulai sibuk membantu para warga yang terdampak tanah longsor di desa terpencil tersebut.

"Semoga aja Mas Huda baik-baik aja di sana," gumam Arin tidak ingin berpikiran buruk mengenai suaminya yang saat ini berada jauh darinya.

Hari berikutnya, hujan masih mengguyur dengan derasnya. Sudah dua hari berturut-turut, hujan turun tanpa henti.

"Hari ini hujannya deres banget ya, Umi?" ujar Arin pada Nyai Rosyidah.

"Iya, nih. Dari kemarin hujannya nggak berhenti juga," timpal Nyai Rosyidah.

"Di desa Moyudan hujan deras nggak, ya?" gumam Arin.

Nyai Rosyidah melihat dengan jelas ekspresi cemas menantunya. "Kamu cemas sama Huda? Coba kamu hubungi dia," tukas Nyai Rosyidah.

Arin bergegas mengambil ponselnya dan mencoba mencari tahu kabar suaminya. Tapi sayangnya, Huda tak juga membalas pesan dari Arin.

"Belum dibalas juga, Umi. Tadi pagi Arin sempet chat Mas Huda, tapi belum dibalas juga sampai sekarang," ungkap Arin dengan wajah muram.

"Tunggu aja, Rin. Mungkin Huda lagi sibuk. Nanti kalau lagi senggang, pesan kamu pasti dibalas," seru Nyai Rosyidah menghibur sang menantu.

Arin mengangguk dan menepis semua pikiran buruk yang memenuhi kepalanya. Wanita itu terus menunggu pesan balasan dari suaminya.

Tapi sampai malam tiba, Arin tak kunjung mendapatkan balasan. Wanita itu juga berusaha menelepon Huda, tapi sayangnya tidak tersambung.

"Mas Huda ke mana, sih? Kok nggak bisa dihubungi?" gerutu Arin mulai gusar dan panik.

Berulang kali Arin mencoba menghubungi Huda, tapi sayangnya tak bisa. Arin mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai suaminya dan mencemaskan keselamatan Huda.

"Arin, kamu kenapa?" tegur Nyai Rosyidah pada sang menantu yang terlihat panik.

Arin segera meletakkan ponselnya begitu ia dihampiri oleh sang ibu mertua. "Umi? Arin nggak kenapa-napa kok."

"Ayo kita makan malam! Abi sama Riski udah nunggu di meja makan," ajak Nyai Rosyidah.

Arin mengangguk dan melahap makan malam bersama mertuanya. Tapi sepertinya Arin sedang tidak berselera. Wanita itu tak sanggup menelan makanan enak, disaat dirinya sendiri tak tahu makanan apa yang dimakan oleh suaminya saat ini.

Setelah makan malam, Arin pun menemani Riski menggambar di ruang tengah, ditemani oleh Ustadz Wahab dan juga Nyai Rosyidah.

"Arin, kamu kenapa melamun terus dari tadi?" tegur Ustadz Wahab.

Arin menundukkan kepala. Wanita itu tak dapat menyembunyikan kesedihannya di depan Ustadz Wahab.

"Kamu kenapa, Rin? Lagi nggak enak badan?" sahut Nyai Rosyidah.

Arin menggeleng pelan. "Bukan itu, Umi. Arin lagi mikirin Mas Huda," jawab Arin. "Mas Huda nggak bisa dihubungi. Dari kemarin juga hujan deres. Arin takut terjadi apa-apa sama Mas Huda," ungkap Arin.

Ustadz Wahab mengulas senyum. Beliau paham betul rasa cemas Arin saat ini. "Kamu nggak perlu cemas, Rin. Abi yakin, Huda pasti baik-baik aja."

"Iya, Rin. Huda udah biasa jadi relawan. Huda pasti bisa jaga diri," timpal Nyai Rosyidah.

Tidak hanya Ustadz Wahab dan Nyai Rosyidah saja yang mencoba menghibur Arin, tapi Riski juga ikut menimpali. "Abi pasti baik-baik aja. Abi udah biasa kaya gini," imbuh Riski.

Bocah kecil yang tengah sibuk menggambar itu masih sempat-sempatnya menenangkan sang ibu yang gelisah. "Riski pinter banget ya hibur Umi?" cetus Arin.

Meski keluarganya sudah berusaha meyakinkan Arin untuk tidak khawatir, tapi tetap saja kegelisahan yang hinggap di dirinya tidak mau berkurang. Arin mengalihkan pandangan ke televisi dan tanpa sengaja melihat siaran berita yang membawa kabar mengejutkan.

"Desa Moyudan kembali dilanda longsor, korban yang berjatuhan bertambah banyak ...." Suara penyiar berita membuat Arin membelalakkan mata.

"Berapa warga dan relawan ikut menjadi korban akibat longsor susulan yang terjadi."

Deg! Jantung Arin hampir berhenti berdetak. Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan berita buruk disaat suaminya tak dapat dihubungi.

"Mas Huda ...."

****

1
Sur Yanti
ayo thor knpa Lama sekali up nya? semangat lah thor nulis nya 💪💪
Sur Yanti
semangat up thore 💪💪
Lukman Suyanto
welcome back...
Sur Yanti
setelah 2thn akhir nya up lagi thore
semangat up nya thor 💪💪💪
Dek Raraaa
uplagi 2th kakkk ..
Danie a: bisa ae.
total 1 replies
JandaQueen
lha....kalo gini, ga bener ni si wirda. ada gejala mo nikung sptnya...
JandaQueen
lanjut baca, penasaran
JandaQueen
lha itu...
JandaQueen
lanjut baca
JandaQueen
simpan jejak dl
Ade Hadijah
semoga Arin selamat sampai tujuan. Nekad juga
Riza Umi Nurjannah
lama up nya thot
Danie a: hahahh, iya, othor nya lagi ngk jelas nih🤭
total 1 replies
Bayu Priyadi
arin baper
Raudatul zahra
heehhh??? kupikir sudah tamat, karna novel author yg lain yg kubaca episode nya pendek².. ini udah 60 bab belum tamat.. yaa nggak pp siih.. seneng² aja aku.. tp kok lama banget nggak update lg yaa thor????
Raudatul zahra
aku ikut sakit hati mikirin perasaan nya Arin😭😭😭
Raudatul zahra
Arin mendengar isakan novi
Raudatul zahra
menyingkirkan Novi thoorr
Raudatul zahra
maafin yaa mas Huda.. nama nya istri nya baru beranjak dewasa.. masih suka tantrum² gitu dehh.. masih cemburuan..
Raudatul zahra
lanjooootttt
Raudatul zahra
ada yang ngarepin suami orang doonnggg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!