PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Dewi Sakit?
Rupanya beberapa langkah Dewi berjalan, Rena mengikutinya di belakang. Yang diikuti tahu Rena pasti begitu, temannya yang satu itu memang gak bisa dipanas-panasin. Segera dia mempercepat langkahnya biar cepat bergabung dengan Laras dan Teguh di meja kerja. Biar musuhnya itu kesulitan mengajaknya mengobrol.
Dari kejauhan Rena mendengus, mau nggak mau ikut bergabung. Dengan sabar dia menunggu. Hingga Dewi beranjak ke ruang pasien bersama Laras. Lalu balik lagi, dan pergi lagi ke brankas bersama Teguh. Terus orang yang membuatnya panas akhirnya pergi sendiri ke ruang pasien. Namun sayang saat ada kesempatan dia ingin mencegat, Dewi sudah keburu masuk ruangan.
Di dalam, Dewi curi-curi mata melihat musuhnya di luar bersembunyi di jendela. Asli, dia ingin ketawa. Enaknya juga ya ngerjain Rena. Tentu, temannya satu itu nggak bisa mendekatinnya karena dia lagi bersama pasien.
Namun karena merasa ini nggak benar. Rena lebih mementingkan urusan pribadi dari pada kerjaan. Selepas itu, dia keluar ruangan menegur.
“Ngapain elo ngikutin gue?”
“Sudah tahu diikutin malah sengaja elo lama-lamain.”
“Emang elo nggak ada kerjaan apa?”
“Kerjaan gue bisa ditunda. Ayo, kita selesaikan urusan kita.”
“Selesain apaan?”
“Sudah, elo nggak usah banyak omong. Gue tahu elo tadi manas-manasin gue, 'kan? Apa elo mau kita bicara di sini saja?”
Sialan nih anak, pakai segala ngancam. Sudah tentu Dewi gak mau, nanti terdengar orang.
“Elo mau bicara dimana?”
“Ikut gue.”
Dewi mengikuti di belakang. Rena berjalan hingga ke ujung lorong. Tepatnya di area dekat lift barang. Jadi sangat jarang ada orang di sana.
“Maksud elo apa, Wi?” Rena tolak pinggang.
“Maksud apaan?”
“Alah, dari tadi nggak usah ngeles deh elo.”
“Gue nggak ada maksud apa-apa. Gue hanya mau kasih informasi aja kok.”
“Buat apa elo ngasih tahu gue? Oh! Biar gue merasa saingan gue berat gitu?”
Berdecih. "Cih!"
“Jujur saja, Wi. Eh, tapi kalau begini, berarti elo menyatakan mundur dong dari pertarungan ini. Kan elo akrab tuh sama mantan Bang Kris. Berarti elo sudah ngerelain Bang Kris dong didekatin sama mantannya. Eh, tunggu dulu, apa jangan-jangan elo mundur karena nggak pede lawan elo sekarang berat? Perwira kan dia?”
Tertawa dibarengin geleng-geleng kepala. “Haha... Ngarang elo, emang elo paling jago kalau menduga-duga."
“Eh, gue kasih tahu elo ya, Wi. Gue gak takut lawan tuh cewek. Emang kenapa tuh cewek, Perwira? Apa karena itu, tuh cewek jadi udah merasa hebat? Emang kenapa juga dia pernah pacaran sama Bang Kris? Belum tentu juga dia bisa memikat hati Bang Kris lagi. Mantan ya mantan!” kesal Rena karena diketawain.
“Tapi kan mantan pernah dicintai, Ren. Kayak gue gitu. iya, 'kan...? Jadi tentu kita berdua masih punya peluang sama Mas Kris." Dewi meledek.
Tertawa terbahak-bahak. "Huahuahuahuahua... Oh ya, gue lupa hal ini. Jadi sekarang elo manggil Bang Kris, Mas ya?”
Sebenarnya Rena ingat ucapan Dewi tadi di receptionist. Cuman karena amarahnya lebih dominan, dia jadi tidak memfokuskan hal itu. Jadi teman-teman Dewi nggak ada yang tahu kalau Dewi sudah ganti manggil Mas Kris.
“Terus masalah?”
“Ciee... Yang supaya makin dekat,” sindir Rena.
“Nah, kalau gitu elo tahu kan gue nggak akan mundur.”
“Jadi, elo mau manas-manasin gue doang? Apa untungnya buat elo, Wi? Oo... Elo mau berbagi sama gue ya, biar elo nggak ngerasa sendiri diserang 2 kubu?”
Mendengus. “Huh! Elo tuh jadi cewek pede banget ya, Ren. Udah elo nggak usah takut. Iya, gue hanya iseng saja ngerjain elo. Tuh cewek lusa udah balik ke Surabaya. Dia dinas di sana. Dia hanya lagi dapat tugas di sini. Dan dia nggak mungkin balik lagi sama Mas Kris. Tenang, musuh elo cuman gue doang. Puas?"
"Alah, sekarang elo sok jujur. Palingan juga..."
Memotong sembari berjalan. "Terserah elo deh, Ren. Udah ah, gue mau kerja."
Mencekal. "Belum. Gue ngajak elo bicara, karena ada hal lain."
"Apaan?"
"Besok gue mau jalan sama Bang Kris.”
Melotot. "..... "
“Gue sama Bang Kris nggak ada jalan untuk ketemu teman-teman kita. Murni mau jalan berdua!” Menyunggingkan bibir tipis, sembari berjalan. “Huh! Emang elo doang yang bisa. Malah kabar gue lebih panas, 'kan?”
Dewi memandangi dengan hati teriris. 'Murni mau jalan berdua?' Jadi semalam bagi Kris tiada arti? Bukankah selama di mall Kris begitu perhatian padanya? Bukankah semalam juga, sebelum pergi Kris berdiri di depan rumahnya? Dan menatap jendela kamarnya? Berarti semalam dugaannya salah, kalau Kris masih mencintainya?
“Tenang, tenang, aku gak boleh salah paham. Aku sudah beberapa kali salah paham dengan Kris. Tapi, benarkah kali ini aku benar-benar tidak salah paham?” Dewi bergumam sendiri, menenangkan hatinya.
Sementara itu di tempat lain.
Kris di ruangan kedatangan tamu yaitu Tasya. Pas banget di ruangan hanya ada orang itu seorang diri, Bagas lagi tidak ada. Jadi meleluasakan Tasya berbicara dengan orang yang mau ditemuinya. Tasya duduk di sofa, disusul Kris setelah mempersilahkan.
“Aku tidak ganggu kan, Mas?”
“Tidak. Ada apa?”
“Aku hanya mau pamit. Lusa kan aku udan pulang.”
“Oh iya.” Kris tersadar.
“Aku juga ke sini mau beri tahu. Aku nggak akan nelpon-nelpon Mas lagi. Ganggu-ganggu Mas lagi. Dengan tulus aku doa kan semoga Mas bahagia dengan Dewi.”
Kris mendesah kecil. Sebenarnya bukan karena itu. Lebih tepatnya dia capek menjelaskan untuk bisa menerima kenyataan hubungan mereka sudah berakhir.
“Aku sebenarnya tidak merasa terganggu. Tapi aku senang, akhirnya kamu mengerti.”
“Maafkan aku ya Mas, kalau selama ini aku seperti meneror, Mas.”
“Jangan bilang begitu... Maafkan aku juga ya, saat itu aku nggak mau menjelaskan padamu.”
“Tidak... Aku yang salah. Dari awal Mas kan sudah bilang jangan pernah bohongi Mas.”
“Biar bagaimanapun aku salah. Aku terlalu marah saat itu. Jadi, aku tetap meminta maaf.”
“Ya, maaf Mas aku terima. Dan menanggapi ucapan Mas tadi. Lagi pula, jika saat itu Mas kasih tahu, Mas nggak mungkin balik lagi samaku, 'kan?” goda Tasya.
Kris hanya membalas lewat senyuman. Pada dasarnya Tasya tahu karena dari awal dia telah memegang apa yang tidak disukai Kris. Jadi sebenarnya percuma dia berharap. Namun karena cintalah buat nalarnya kadang tidak jalan.
“Kalau begitu aku pamit Mas." Tasya berdiri.
“Iya." Kris turut berdiri.
“Oh ya, bulan depan pacar Mas ikut, 'kan?”
Bingung. “Ikut?”
“Ke acara nikahan Mas Dewo.”
“Oh iya,” angguk Kris, baru paham.
Dia memang berencana mau mengajak Dewi. Karena si Dewo temannya itu ngancam-ngancam terus minta kenalan.
“Ya udah, sampai ketemu di Surabaya ya, Mas.”
“Iya, kamu hati-hati ya. Salam dengan keluargamu.”
Kris kenal dengan keluarga Tasya, tentu hubungan mereka dulu bukanlah sebentar.
Mengangguk. “Iya.”
Tasya berjalan ke luar, Kris mengantarnya sampai depan pintu. Selanjutnya dia hanya memandangi hingga bayangan mantan kekasihnya itu menghilang. Akhirnya selesai sudah urusannya dengan Tasya.
Kembali ke Dewi.
Dewi kembali dengan kesibukannya. Meski otaknya dipenuhi pikiran nggak karuan. Tapi bukanlah Dewi kalau nggak profesional. Ditengah-tengah kesibukannya, perutnya keroncongan berbunyi terus. Ya! Dia belum ada makan siang akibat waktu istirahatnya habis dipakai ngobrol dengan Tasya.
Dewi mempercepat kerjaannya. Untuk pergi ke ruang ganti mengambil kotak makan siangnya yang tersimpan di locker.
Sayang, saat sudah di sana. Dia nggak bisa mengisi perutnya karena bekalnya sudah basi. Wajar, sudah sore.
Beberapa saat kemudian, di rumah. Sepulang kerja, Dewi tergolek lemas di kasur. Perutnya sakit sekali. Apakah sekarang dia terkena maag? Dia belum pernah sakit maag. Tentu selama ini dia tak pernah telat makan. Dari kecil juga makannya banyak, bagaimana dia bisa kena? Diet pun dia lakukan nggak pernah menelatkan makannya. Dia hanya mengganti konsumsi lemak yang disantapnya bukan menelentarkan jam makannya. Masa, baru kali ini dia telat bisa kena asam lambung?
“Dewi... Dewi..." Ibunya memanggil di luar.
“Iya.” Dewi menjawab lemas.
Karena suara anaknya begitu, ibunya jadi masuk.
“Loh! Mukamu kenapa pucat, Nak?"
“Kecapean kayaknya."
“Ya sudah, kamu istirahat. Nanti Ibu buatkan bubur. Sehabis itu kita ke dokter.”
Orang tuanya memang sangat cemas sekali jika dengar anaknya sakit. Maklum, Dewi anak satu-satunya.
“Nggak usah Bu. Dewi hanya kurang istirahat saja.”
“Nggak! Kamu harus ke dokter.”
“Sungguh! Dewi hanya kecapean saja, kurang istirahat. Mungkin semalam pulang terlalu larut jadi kurang istirahat, dan ditambah lagi hari ini banyak sekali pasien masuk. Dewi jadi kecapean.”
“Ya udah, kamu istirahat. Nanti Ibu balik lagi bawain bubur untuk kamu.”
Menggangguk. “Iya. Terima kasih ya, Bu.”
**********
Bubaran apel pagi, Kris dipanggil ayah Dewi. Setiba di ruangan, dia disuruh menutup pintu. Maklum, pembicaraan berbau hal pribadi.
“Anak saya sakit, kamu sudah tahu?”
Kaget. “Sakit? Sakit apa, Yah?”
“Hari ini dia gak masuk kerja. Saya hanya mau beri tahu itu saja. Siapa tahu, anak saya belum ngomong. Karena anak saya dari semalam tidur saja di kamar.”
“Oo... Baik Yah, nanti sepulang kerja saya ke rumah Ayah.”
Orang tua itu mengangguk kemudian menyuruh anak buahnya keluar. Sebenarnya ayah Dewi rada gengsi bilang itu ke Kris. Ya, biar bagaimanapun orang itu anak buahnya. Habis mau bagaimana lagi, dari pagi istrinya sudah repot saja bolak-balik mengingatkannya. Dari pada nanti ditelpon-telpon terus jika belum bilang.
Ya, maklum lah ya... Biasa, kan ada istilah 'suami boleh jadi komandan di markas, tapi kalau di rumah istri adalah komandan yang sesungguhnya'.
Kemudian setelah pria itu keluar ruangan, sepanjang jalan dia dirudung cemas. Sakit apa ya, Dewi?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
NOTE !
Ayo, Guys dibaca juga novelku "Matahari Terbit" Nanti kalian galau deh, antara pesona Kapten Kris di sini, sedangkan di sana ada pesona Sersan Dean. Yuhuuu... Promo
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku