"Kenapa kau pergi, Al? Bagaimana nasib anak kita yang sebentar lagi akan lahir? Kenapa semesta sangat tega! Kenapa kau meninggalkan kami, Alan!" Angelina Blaire menangis histeris sembari memeluk kemeja yang biasa dipakai oleh suaminya.
Angelina yang terpukul mengalami gangguan mental di penghujung kehamilannya. Ia selalu menganggap bahwa Alan masih hidup. Bahkan, salah mengira jika Adam adalah suaminya.
Hal itu membuat Damian Jackson, menganjurkan agar putra pertamanya itu menikahi istri dari mendiang putra keduanya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya, setelah Angelina menyadari bahwa selama ini suaminya bukanlah Alan, melainkan Adam?
Sekuel dari novel Salah Kamar ( Adik iparku, Istri ku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35. Kehidupan Baru Dua Orang.
Adam dan Angelina menikmati hari-hari mereka penuh suka cita. Tak ada lagi agenda mengamuk karena depresi yang Angelina alami. Karena pada saat ini tak ada lagi alasan bagi wanita itu untuk merasakan kepahitan dalam hidupnya.
Adam sukses, mendatangkan berbagai kebahagiaan dan berjuta warna cerita dalam hidup Angelina juga putranya yang tampan. Bahkan, Angelina sudah bisa di bawa keluar rumah. Menurut Laura sang psikiater. Angelina telah menutup total ingatannya.
Satu hal aneh yang terjadi adalah, ketika suatu malam Angelina memanggil suaminya dengan sebutan nama yang benar. Pada saat itulah, Adam terkesiap kaget. Pria itu sampai menjatuhkan raganya dari kursi putar di ruang kerjanya.
Angelina hanya bisa memiringkan kepalanya dengan alis yang terangkat. Wanita itu bingung kenapa suaminya bisa terjatuh hanya karena mendengar panggilan darinya saja.
Hingga, Adam langsung konsultasi dengan Laura Kiehl yang merupakan psikiater khusus Istrinya itu. Setelah melalui pemeriksaan yang di kamuflase, karena pada saat itu, Laura hanya mengaku sebagai temen dari Mommy Katie. Pada saat itulah, Laura mengungkapkan bahwa, entah kapan di mulainya. Angelina ternyata telah menutup ingatan mengenai segala macam hal yang terakhir kali menyebabkan dirinya sedih dan terpuruk.
Semua itu karena, Adam. Pria yang beberapa waktu belakangan ini mengisi hari-harinya. Mendatangkan berjuta kebahagiaan untuknya. Entah itu kesenangan kecil maupun besar. Akan tetapi, semua itu bagi Angelina adalah sebuah hal yang ingin dia kenang selamanya. Karena itulah, secara spontan dia membuang segala kenangan buruk yang masih tersimpan di dalam memorinya.
Hingga, kebiasaan itu, mendatangkan kesadaran secara tidak langsung. Secara alami dah tanpa Angelina sadari bahwa, wanita itu pada akhirnya menerima semua hal yang terjadi pada dirinya saat ini.
Pada akhirnya semua memutuskan untuk tidak pernah mengungkit lagi perihal kepergian Alan. Sebelum, Angelina sendiri yang menanyakannya. Kebetulan, golongan darah dari baby Argon sama dengan tipe darah milik Adam. Sehingga, jika mereka berdua melakukan tes DNA maka akan memiliki sekian persen kecocokan.
Hari berganti hari, begitu juga dengan bulan.
Tiba waktunya, keluarga Jackson di sibukkan dengan segala persiapan untuk mengadakan acara peringatan hari lahir dari putra kecil yang akan meneruskan kejayaan dari keluarga Jackson itu sendiri.
Calon pewaris, yang akan menerima berbagai jenis aset keluarga. Dialah, Argon Jackson.
Ulangtahun pertama, baby Ar akan di rayakan dengan sangat meriah. Karena Katie telah mempersiapkan acara ini sebulan lamanya.
Angelina nampak begitu antusias mempersiapkan segalanya. Termasuk ketika akan mendandani putra semata wayangnya itu.
"Sayang, ini dasi kupu-kupu untuk Argon!" teriak Angelina dari balik walk on closet. Sementara, Adam masih asik di atas tempat tidur bercanda dengan putranya itu.
Lama-kelamaan wanita itu pun kesal karena tidak mendapat jawaban dari suaminya. Pria itu justru terdengar tengah tertawa geli dengan putranya yang belum mengenakan pakaian.
"Adam!" teriak Angelina lagi. Wanita itu berkacak pinggang dengan sebuah dasi kupu-kupu imut di tangan kanannya. Kedua iris matanya yang berwarna almond menatap tajam kearah dua sosok laki-laki beda generasi yang sedang berpelukan di atas tempat tidur.
Adam dan Argon sama-sama belum mengenakan pakaian. Ujung saja suaminya itu mengenakan celana boxer tidak seperti putra kecilnya yang sama sekali tidak mengenakan apapun .
"Hei, Mama sudah marah," bisik Adam kepada putranya itu. Ya, dia telah menganggap keponakannya itu sebagai putranya sendiri. Balita berusia satu tahun itu pun seolah mengerti dan dia pun terkekeh mendengar ucapan sang papa.
"Kenapa main-main terus. Para tamu sebentar lagi pasti akan datang. Tapi, kalian berdua masih--" Angelina memijat pelipisnya lantaran pusing meladeni tingkah suami dan putranya itu. Mereka selalu senang bercanda apapun situasi dan juga kondisinya.
Adam selalu bisa diandalkan untuk momong putra mereka. Bahkan baby Argon selalu tenang dan hampir tak pernah menangis ketika bersama sang papa. Pria yang sangat lembut dan hangat memperlakukan istri dan juga anaknya itu.
Tetapi, Adam selalu mengajarkan hal-hal yang nyeleneh kepada putra satu-satunya itu. Terkadang hal itu yang membuat Angelina gemas akan kelakuan sang suami.
Adam langsung mengajak anaknya untuk berdiri dan menundukkan kepala tanda sebagai permohonan maaf kepada wanita yang berada di hadapan mereka.
"Ayo minta maaf pada Mama," titah Adam pada nany Ar. Bahkan, tangan pria itu agak menekuk punggung balita tampan berkulit putih bersih itu perlahan.
Baby Ar selalu menurut apapun perintah sang papa. Sayangnya, pria itu selalu mengajak anaknya berbuat hal yang lucu-lucu. Meksipun, bagi Angelina itu adalah sikap yang absurd. Sejak memiliki putra Adam mendadak bertingkah polos macam anak kecil apalagi jika sudah bermain dengan baby Ar.
Adam pun tersenyum, agar amarah istrinya itu mereda Ia pun langsung mengambil seragam yang telah di siapkan untuk di pakai putranya.
"Jangan marah lagi sayang. Tuh, putra kita sudah tampan seperti papanya," ucap Adam berupaya membujuk Angelina. Pria itu menunjuk ke arah di mana Sang putra duduk dengan tenang. Tawa di wajah polos balita tampan dengan rambutnya yang berwarna coklat berkilau itu, membuat Angelina kehilangan energi marahnya seketika.
Wanita itu pun meriah tubuh anaknya yang telah tapi dan wangi ke dalam gendongannya. Angelina lantas menghirup aroma khas bayi di badan putranya itu dalam-dalam. Ternyata, suaminya itu memang pintar dalam mengurus bayi.
"Baiklah. Mama sudah tidak marah pada kalian berdua. Tapi, cium dulu!" pinta Angelina seraya menunjuk ke arah pipinya yang putih kemerahan itu.
Seakan mengerti, balita itu pun memajukan wajahnya dan memonyongkan bibirnya yang bagaikan buah plum. Menyosor ke arah pipi sang mama yang mana kemudian di susul oleh sang papa, Adam.
"Kalian paling bisa memang!" celetuk Angelina.
Akhirnya mereka bertiga pun turun ke bawah. Damian juga Katie menunggu kehadiran sang pangeran dengan rasa tak sabaran lagi. Karena, ternyata sudah banyak tamu yang datang serta menanyakan bagaimana rupa pangeran Argon Jackson itu.
Ya, balita laki-laki yang suatu saat akan mewarisi dinasti keluarga Jackson yang terhormat.
Bay Argon yang berada di dalam gendongan Adam pun tersenyum pada setiap orang yang menyapanya. Balita itu sejak kecil saja sudah mengerti bagaimana attitude ketika berhadapan dengan para relasi bisnis.
Sekalipun, Damian memiliki sikap dingin dan keras. Akan tetapi, pria itu tidak mau sang cucu mewarisi sifatnya. Ia ingin Argon seperti Adam yang mudah bergaul dengan siapapun.
"Tampannya cucumu, Kat. Kau pasti adalah seorang nenek yang paling bahagia di muka bumi ini," seloroh salah satu tamu yang berusaha menjilat dengan menggunakan ketampanan serta kelucuan dari baby Ar.
"Bukan paling. Tapi mungkin aku adalah salah satunya," kilah Katie membuat wanita yang melempar pujian tersenyum kecut.
"Setelah ini kita akan berlibur." Adam berbisik di telinga istrinya. Dimana hal itu membuat Angelina menyunggingkan senyumnya dengan sangat lebar.
"Kemana?"
"Manchester!"
Sontak ucapan Adam membuat kedua mata Angelia berbinar.
Sementara itu, disebuah bandara pesawat dari negara xxx mendarat. Beberapa orang keluar dengan teratur, begitu juga dengan seorang manusia bersama kehidupan barunya.
Dua orang pria dan wanita baru saja turun dari pesawat dengan bergandengan tangan.
...Bersambung ...