Sebelum lanjut membaca di sarankan membaca (Terjebak pernikahan dingin) kali ini menceritakan pasal pernikahan kedua yang mangakibatkan banyaknya prahara dalam rumah tangga Raditya bersama kedua istri. Memiliki dua wanita sekaligus tidak lantas membuat Raditya bahagia, justru akan membuatnya terjerat benang mereh. Dan bagaimana proses yang harus di lewati Liona selaku istri pertama? lalu sikap apa yang akan Zahra perlihatkan sebagai istri kedua Raditya? ikuti terus kelanjutkan kisah mereka, jangan sampai lupa like and tanda hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Happy Ending
Setelah melalui proses panjang, akhirnya Zahra di nyatakan bersalah, akan tetapi pihak berwajib tidak bisa manahannya karena dia mengalami ganguan kejiwaan. Pihak keluarga juga sudah merelakan jika Zahra harus menjalani hukuman di rumah sakit jiwa. Pihak keluarga sudah mencurigai gelagat kurang baik dari Zahra ketika baru saja siuman dari komanya. Dia menjadi sosok pendiam dan jarang sekali berinteraksi dengam sesama, tapi lebih suka berinteraksi dengan foto almarhum Raditya. Setiap malam Zahra selalu bicara sendiri hingga terkadang tertawa sendiri. Mereka mengira bahwa itu hanya wujud kekecewaannya atas kepergian Raditya.
Kedua orang tua Zahra mengunjungi rumah Ibu Rohaya untuk memohon maaf atas segela perbuatan Zahra.
"Saya sudah maafkan putri ibu lahir batin, biar bagiamanapun dia pernah dekat dengan saya (Menghela nafas berat). Kami sekeluarga ikut prihatin dengan kondisi Zahra sekarang, semoga saja dengan semua yang terjadi padanya bisa memberikan pelajaran kedepannya, saya yakin suatu hari nanti dia akan menjadi orang baik dan bisa menemukan hidup barunya" Menyentuh tangan ibu kandung Zahra berusaha menguatkan hatinya. Anak mereka harus menerima karma berat dari perbuatannya sendiri.
Dari jauh terlihat sosok Ridwan terpaku "Semoga dengan semua ini dia bisa banyak belajar atas semua kesalahannya" Lirih Ridwan. Biar bagaimana dulu Ridwan pernah mencintai Zahra, meski cinta itu hanya di balas luka.
"Nak Ridwan...." Ayah kandung Zahra melihat mantan menantunya hanya terpaku di samping pintu dapur arah menuju ruang tamu. Baru saja Ridwan hendak menyuguhi mereka minum, namun terhenti ketika mendengar nama Zahra. Jika mengingat semua kejahatnya tentubkata maaf saja tidak cukup, saking banyaknya kejahatan yang talah Zahra perbuat.
Ridwan lalu mengehmpiri mereka dengan senyum tipis mengembang. Setelah menyajikan minum ia ikut serta duduk. Kedua orang tua Zahra juga meminta maaf padanya jika selama ini sang putri kerap menyusahkan dan menyakitinya.
"Saya sudah memaafkan dia" Ucapnya.
Setelah bercakap cakap sejenak akhirnya mereka pamit pulang.
Dari dalam kamar Liona melihat kedua orang tua Zahra perlahan berjalan meninggalkan pekarangan rumah. "Terkadang anak yang punya salah tapi orang tua ikut kena imbasnya" Sembari memberi asi kepada putranya.
Radenta Aditama, nama putra Liona. Wajah mungil nan lucu, hampir semua yang melekat padanya sama persis seperti Raditya. Sekarang kebahagian Liona mulai kembali seiring berjalannya waktu.
Beberapa bulan kemudian, Bramantio mempersunting Liona dengan membawa rombongan keluarga. Mereka nampak menerima status Liona sebagai seorang janda beranak satu, keluarga Bramantio membuka tangan untuknya. Meski hati tidak bisa memungkiri bahwa cintanya masih tabu dan hanya mencintai Raditya seorang. Akan tetapi ia mengingat pesan terakhir suaminya yang meminta dia menikah dengan Bramantio. Dengan sepenuh hati Liona menerima lamaran tersebut.
"Baiklah sudah kami tentukan pernikahan mereka akan di gelar satu minggu lagi" ucap Ayah Bramantio selaku ayah kandungnya.
Liona nampak terkejut, bahkan dia tidak menyangka akan secepat itu menikah dengan Bramantio. Keputusan itu sudah di sepakatinokeh pihak keluarga Likna beserta ibu Rohaya.
Sepukangnya keluarga Bramantio, Ibu Rohaya menyentuh wajah menantunya "Meskipun kamu tidak lagi menjadi menantuku, tapi kamu akan menjadi putriku. Sampai kapanpun jangan pernah lupakan ibu...." Air matanya berjatuhan.
Liona menyeka aor mata sang ibu dengan menggendong buah hatinya "Sampai kapanpun Liona tidak akan melupakan ibu, ibu sudah Liona anggap seperti ibu kandung Liona sendiri. Meski nanti Liona menikah dengan Bram tapi Liona janji akan sering sering datang ke sini untuk ibu"
Ibu Rohaya sangat terharu dan akhirnya mereka saling berpelukan.
"Bukalah lembaran barumu nak, kamu berhak bahagia"
Hari hari terasa begitu cepat, samoai tiba hari di mana pernikahan terlaksana. Saat ini di hadapan para tamu undangan pengantin wanita nan cantik anggun menawan menapaki permadani merah menuju panggung pelaminan. Dengan di iringi kedua orang tua beserta ibu Rohaya yang berada di belakang Liona tengah menggendong sang cucu, ikut tersenyum bahagia. Akhirnya Liona bisa menemukan hidup barunya.
Bramantio sudah duduk lebih dulu di pelaminan lalu bangkit menyambut sang mempelai wanita "Begitu cantik ciptaan Tuhan yang satu ini" bisiknya sembari memecah ketegangan mereka.
Seketika saja Liona tersipu malu. Bram mengulurkan tangan lalu di sambut oleh Liona. Mereka duduk di pelaminan setelah kad nikah terlaksana beberapa waktu lalu.
Kedua orang terlihat melebarkan senyum di atas pelaminan.
"Ternyata benar setelah hujan reda akan ada pelangi indah" Ridwan beserta keluarga lain ikut bahagia atas pernikahan Liona.
Tamat
sekarang wanita tangguh2 sentil buang😏