15 tahun Saint dan Ae mengarungi biduk rumah tangga yang awalnya bahagia dan di penuhi dengan kehangatan kini justru berubah 130° di karenakan sang suami menemukan cinta baru dari wanita muda dengan paras menawan, bahkan suaminya dengan santai membawa wanita itu tinggal bersama sama tanpa adanya ikatan di antara mereka. Saint ingin menolak dan berontak, tapi Ae suaminya selalu mengancam dan akan memisahkan dirinya dengan sang anak jika tetap bersikeras, akhirnya Saint terperangkap dalam situasi yang benar-benar mengguncang dirinya di mana ia harus tetap bertahan mengingat ia hidup sebatang kara selama ini. Hingga kejadian yang tidak pernah di bayangkan menimpa mereka saat liburan, kegaduhan dan mencekam membawa hidup Saint ke lembah kesakitan berkepanjangan. Apakah Saint akan tetap bertahan demi anak-anaknya atau pergi mencari kebahagiaan lain di luar sana.
Silakan baca selengkapnya kakak😅🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nenet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali teringat
Ae mengusap pucuk kepala Nana lembut lalu memangku gadis kecil itu dengan hangat karena kudapan yang ia berikan pada Saint sudah habis tanpa sisa.
"Ada apa sayang, "lembut Ae saat wajah Nana seketika berubah sedih saat menatap sang ibu, karena kondisi Saint tidak menunjukkan perubahan apapun selama di rumah.
"Nana rindu moma."
Perth menghela nafas setelah mendengar suara parau sang adik karena dirinya juga merasakan hal yang sama selama ini.
"Nong(adik),"iba Perth karena air mata Nana dengan cepat mengalir membasahi pipinya.
"Heyy... Bukan kah kita selalu bersama moma." Ae mencoba menghibur Nana meski ia sadar dan tahu keadaan Saint benar-benar tidak menunjukkan kesembuhan dari depresi yang ia idap dan semua itu karena dirinya.
"Hiks... Nana ingin moma kembali seperti dulu popa. Saat Nana bisa melihat senyum manis moma, saat moma memeluk Nana, Nana ingin mendengar suara halus moma saat menasehati Nana, Nana rindu semuanya, Nana ingin semua nya kembali, hiks.. Hiks... Seperti dulu, hiks...hiks... "
Ae terdiam dalam rasa sesal karena keinginan sederhana dari sang anak begitu berat untuk ia wujudkan.
"Nong(adik),"suara Perth seketika parau setelah mendengar keinginan sang adik karena ia juga ingin semuanya kembali seperti dulu di mana ibu mereka selalu tersenyum ceria dan memanjakan mereka.
"Nana masih ingat saat gelombang itu datang. Moma dengan sekuat tenaga menjaga Nana dari gulungan ombak itu agar Nana tidak terhempas dan tenggelam. Saat itu Nana bisa melihat pengorbanan moma saat melindungi Nana. Jika waktu itu tidak ada moma, Nana tidak tahu apa Nana masih bisa berada di sini. "
Perth seketika tertunduk saat mengingat kejadian itu, di mana tsunami menghempas dan menggulung tubuh mereka hingga terseret beberapa kilometer dari bibir pantai karena dahsyatnya bencana alam itu.
"Maaf sayang maaf, "serak Ae lalu memeluk Nana dan Perth bersamaan hingga ia bisa merasakan kedua bocah itu tengah menangis di dalam dekapan nya dengan tubuh gemetar ketakutan, Ae kembali di serang rasa bersalah karena tidak bisa menjaga mereka bahkan semuanya di sebabkan oleh keegoisan dirinya.
"Andai nak, andai popa bisa mengembalikan semuanya, Popa akan melakukannya, akan popa berikan semuanya untuk kalian. Tapi popa tidak memiliki daya untuk itu nak. Maafkan popa ya... Ini semua karena kesalahan popa, andai popa menuruti keinginan Nana waktu itu, kejadian itu tidak akan pernah kalian alami. Seharusnya popa yang menjaga kalian dan melindungi kalian. Popa benar-benar menyesal. Maaf, maaf, maaf."
Nana dan Perth membalas pelukan Ae dengan erat saat mendengar suara serak penuh dengan rasa bersalah sang ayah, mereka mengerti karena semuanya tidak bisa kembali seperti keinginan mereka.
" Maaf ya, kalian bisa menghukum popa jika kalian ingin. Kalian bisa melakukan apapun pada popa karena semuanya berawal kesalahan popa. "
Perth dengan ringkas menggeleng lalu menatap mata sang ayah yang telah basah karena menangis.
"Popaa. " serak Perth saat Ae memandangi wajah anak sulungnya dengan rasa bersalah karena sudah membuat mereka kehilangan kasih sayang serta kehangatan dari sosok seorang ibu.
"Maafkan popa nak."
Perth tidak menanggapi karena ia tidak ingin melihat ayahnya bersedih di sebabkan sebuah kesalahan, meski ia mengerti kesalahan yang ayahnya lakukan sangat lah fatal hingga mengakibatkan keluarga mereka hampir hancur dan menyebabkan sang ibu mengalami depresi berat, tapi Perth tidak bisa menyalahkan Ae secara utuh, mungkin semua adalah takdir dan cobaan untuk keluarga mereka, tapi Perth begitu bersyukur mengingat kini sang ayah sudah kembali seperti dulu dan begitu menyayangi ibu mereka dan selalu sabar merawatnya.
"Cukup popa, popa adalah yang terbaik, Perth sangat bangga pada popa, karena popa begitu setia pada moma kini, terimakasih sudah kembali popa, Perth sangat bangga pada popa. "
Ae tidak menyangka dengan tanggapan anak sulungnya begitu bahkan ia tidak pernah menganggap dirinya seperti yang Perth katakan, yang ada di dalam pikiran Ae dirinya adalah suami yang jahat yang mencoba memperbaiki diri.
" Nana juga sangat sayang popa, hiks...hiks... terimakasih karena sudah memilih kami popa, Nana selalu mengidolakan popa karena popa yang terbaik, hiks ... hiks... jika Nana besar nanti, Nana sangat ingin memiliki pendamping hidup seperti popa yang memiliki sifat penyayang, popa selalu menjadi idola Nana. "
Ae tidak bisa menggambarkan rasa bahagianya dari awal pengakuan Nana polos, karena Ae tidak menyangka jika Nana begitu menyayangi dirinya bahkan menjadikan dirinya motivasi jika ia kelak dewasa.
" Tuhan nak, Popa benar-benar tidak menyangka jika kalian seperti ini pada popa, "haru Ae saat Nana dan Perth sama-sama merenggangkan pelukan mereka dari dirinya.
" Karena kami sangat menyayangi popa, terlebih kini popa begitu sabar menjaga dan merawat moma. Kami benar-benar salut dan kagum karena popa begitu setia pada moma, meski keadaan moma seperti ini, tapi popa selalu ada untuk moma. "
Ae tersenyum saat Perth mengungkapkan semua yang ia rasakan dan lagi lagi ia tidak mengerti bagaimana anak-anaknya begitu menyayangi dirinya setelah apa yang ia lakukan.
" Nak popa tidak sebaik itu. Popa sudah melakukan kesalahan besar hingga keadaan kita seperti ini. Jangan lupakan itu nak. "
Perth membalas senyuman Ae lalu mengusap air matanya sendiri lalu mengangguk karena ia tidak melupakannya.
" Perth tahu popa. Tapi kini popa sudah menepati janji.. Dan janji itu selalu popa lakukan. Itu sebabnya kami begitu menyayangimu. "
Ae menarik nafas lega sembari membalas senyuman Perth lalu mengusap air mata Nana yang berpangku padanya.
" Popa benar-benar tidak menyangka nak. Tapi popa benar-benar berterimakasih ya. Karena kalian semakin menyadarkan popa di mana popa harus menjadi yang lebih baik lagi. "
Nana mengangguk lalu membalas mengusap air mata sang ayah hingga sedikit terkikis .
" Yang jelas popa tetap menjadi idola Nana."
Ae tidak bisa menahan tawanya meski air matanya masih tersisa dari usapan Nana.
" Oiiih baiklah... Popa selalu mendo'akan mu nak, agar Nana selalu bahagia dan bisa mendapatkan pasangan yang selalu mencintai mu,"ucap Ae dalam doa hingga Perth yang mendengar nya mengusap pucuk kepala sang adik lalu menatap sang ibu yang terus menerus melamun tanpa terganggu dengan apa yang terjadi di antara mereka.
"Dan nong Nana jangan bersedih lagi ok. Bukan kah sebentar lagi moma akan memberikan kita dede bayi lucu."
Nana seketika girang saat mengingat jika ia sebentar lagi akan menjadi seorang kakak karena ia sempat melupakan jika ibu mereka tengah hamil besar.
"Kyaaa... Phi(kakak) benar, ya. Hahaha... Nana sudah tidak sabar, apa nong kecil nanti mirip seperti popa atau moma? "
Ae terkekeh saat gadis kecil nya menebak nebak seperti apa paras adiknya kelak sembari bermanja-manja di perut Saint lalu mengusap serta mencium perut buncit ibunya dengan sayang.